The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Yang hamil siapa? Yang ngidam siapa?



***


Tok tok..


Suara ketukan pintu dari arah depan berhasil mengusik tidur Nayra yang lumayan puas pagi ini. Nayra membuka kelopak matanya dan segera berdiri untuk membukakan pintu kamar.


Cklek


"Selamat pagi kak, maaf menganggu tidurnya. Saya cuma mau mengantar makanan sesuai perintah dokter Rafael," ujar seorang gadis muda dengan nampan yang berada di tangannya.


"Jadi kamu datang kemari karena diminta oleh dokter Rafa?" tanya Nayra memastikan.


Gadis itu mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.


"Iya kak. Disini saya memang ditugaskan untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk rombongan para dokter dan anak koas lainnya. Dan apabila Kakak perlu bantuan, saya juga siap membantu," ujarnya lagi.


"Oh ya terima kasih, maaf sudah ngerepotin kamu. Nama kamu siapa?" tanya Nayra.


"Sama-sama kak, nama saya Berta, kak," ucapnya.


"Salam kenal Berta, nama aku Nayra," ucap Nayra mengulurkan tangan dan dibalas uluran tangan kembali oleh Berta.


"Ini makanannya mau taruh dimana kak?" tanya Berta.


"Oh iya saya lupa, taruh di dalam saja," ucap Nayra.


Berta pun diizinkan masuk oleh Nayra dan meletakkan makanan yang ia bawa di atas nakas kecil berwarna cokelat tua.


"Kalau boleh tau Kakak ini siapanya dokter Rafael yah? Apa kakak juga salah satu bagian dari mereka?" tanya Berta yang penasaran dengan sosok Nayra.


"Aku..."


"Atau kakak ini adiknya dokter Rafael yah? Atau kalau nggak asistennya yah? Wah pasti enak dong kak bisa dekat dengan dokter Rafael. Emm..saya boleh minta nomor hapenya nggak? Soalnya saya tertarik sama dokter Rafael, dia itu ganteng dan sangat berkharisma. Saya jadi um...ah jadi malu," ujar Berta tersipu malu saat selesai memuji Rafa di depan Nayra.


Nayra terdiam.


Ia mencoba untuk berfikir positif. Wajar saya Berta memuji Rafa dan langsung jatuh pada pesona Rafa, karena memang pesona Rafa tak bisa ditolak oleh wanita yang pernah melihatnya. Tak bisa dipungkiri jika Rafa itu memang tampan dilihat dari segi wajah dan berkharisma dari segi sikap dan pembawaannya. Tetapi apa Nayra rela jika ada wanita lain yang mencoba untuk mendekati suaminya itu? Jawabannya tentu saja tidak.


Nayra tersenyum mendengar ucapan Berta barusan. Ia mendadak punya ide.


"Emm..aku ini emang adiknya dokter Rafael kok. Aku punya nomor ponselnya, kamu serius ingin mendekati dokter Rafael?" tanya Nayra.


Berta mengangguk cepat, "Mau banget kak, siapa tau dokter Rafael mau kecantol sama saya," ujar Berta senang.


"Aku akan bantu kamu, tapi dengan satu syarat," ujar Nayra.


"Syarat?" ucap Berta.


"Iya syarat, gimana kamu mau kan?" tanya Nayra.


"Mau kak,asalkan syaratnya nggak susah-susah," ucap Berta.


"Syaratnya gampang kok, kamu cuma ikutin semua apa yang aku minta dan setelahnya kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau," ucap Nayra.


"Sekarang apa yang harus saya lakukan kak?" Tanya Berta.


"Sekarang lebih baik kamu pergi dulu, selesaikan tugas kamu sampai selesai. Nanti siang kita ketemu lagi," ucap Nayra.


"Baik kak kalau begitu saya permisi dulu kak, mari,"


Nayra mengangguk dan membiarkan Berta keluar dari dalam kamar.


Nayra duduk di tepian ranjang dan mengelus perutnya dengan pelan.


"Kamu laper nggak?" Tanya Nayra ke arah perutnya.


Hening.


"Pasti laper yah, yaudah kalau gitu kita makan dulu yah sayang, tapi makannya cuma berdua, Papa kamu hilang nggak tau kemana," ucap Nayra, pasalnya sejak bangun tadi Rafa tak ada lagi di dalam kamar padahal tadi malam Rafa memeluknya setelah perdebatan kecil mereka.


Nayra mengambil sepiring nasi di atas nakas dan melahapnya sampai habis, tak lupa juga ia meminum air minumnya.


***


"Kak, Kak Rion.." panggil Nayra saat melihat Rion yang keluar dari dalam kamarnya.


"Iya, kenapa nay? Kamu butuh bantuan?" tanya Rion.


"Em..itu kak, Nayra cuma mau ambil koper punya Nayra, masih ada kan?" tanya Nayra.


"Ada kok didalam, bentar yah aku ambilin dulu," ujar Rion yang masuk kedalam kamarnya dan mengambil koper milik Nayra.


"Mau dibantuin nggak bawanya? Ini lumayan berat lho," ujar Rion saat menyeret koper Nayra keluar.


"Ngga usah, Nayra bisa sendiri kok," ucap Nayra tersenyum tipis.


"Kamu udah sarapan?" tanya Rion.


"Udah kok kak tadi."


"Oh, emm..kenapa nggak panggil Mas lagi?" tanya Rion.


"Eng..itu kak, nggak dibolehin sama Kak Rafa," ujar Nayra jujur.


"Iya gak papa, aku ngerti kok," jawab Rion.


"Kak.."


"Ya..."


"Masalah yang kemarin itu Nayra minta maaf yah, gara-gara aku Kakak jadi kena imbasnya," ucap Nayra.


"Iya gak papa nay, aku ngerti kok kenapa Rafa marah sampai segitunya, dia kan suami kamu sekarang," ucap Rion


"Makasih kak buat bantuannya," ucap Nayra.


"Sama-sama nay. Aku pergi dulu yah, mau bimbingan sama anak koas dulu," pamit Rion.


Nayra tersenyum lalu mengangguk. Nayra menyeret kopernya dan berbalik.


"Abis ngapain tadi?" tanya Rafa yang sudah berada di belakang Nayra sambil bersidekap dada.


"Ngagetin aja, Nayra cuma mau ambil koper punya Nayra," ucap Nayra.


"Oh," ucap Rafa lalu mengambil alih koper Nayra dan menariknya pelan.


"Kamu udah makan?"


"Udah tadi."


"Minum?"


"Udah juga."


"Kamar udah diberesin?"


"Ck, kamu punya sopan santun ngga sih? Kamu pikir kamu lagi bicara sama siapa hah?" Semprot Rafa menghentikan langkahnya.


Nayra terkejut dan juga menghentikan langkahnya. Ia tak tau letak kesalahannya dimana sehingga membuat Rafa kesal padanya.


"Giliran sama Rion kamu bersikap manis begitu, beda sama aku," ucap Rafa kesal dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Rafa langsung berlari masuk kedalam kamar mandi, perutnya terasa mual. Alhasil dirinya memuntahkan semua isi perutnya.


Hoek  hoek


Nayra yang mendengar itu langsung panik dan menghampiri Rafa.


"Kakak nggak papa?"


Rafa menggeleng pelan.


"Masa iya Nayra yang hamil kakak yang muntah-muntah sih?" tanya Nayra seraya membantu Rafa kembali ke atas ranjang.


Nayra meluruskan kaki Rafa dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Rafa. Nayra meraba kening Rafa yang tidak panas sama sekali.


"Kayanya kakak beneran kena sindrom ibu-ibu hamil deh hihihi..." ucap Nayra terkikik geli


"Nggak mungkin. Gimana bisa?"


"Ih bisa dong kak, Nayra juga pernah baca artikel yang bahas hal begituan. Kalau istrinya hamil bisa aja suaminya ngidam dan mual-mual," jelas Nayra.


Rafa diam dan mencerna maksud perkataan Nayra barusan. Bahkan setelah lama bergelut dengan dunia kedokteran Rafa tak pernah dengar jika seorang suami bisa saja terkena sindrom ibu hamil jika istrinya sedang mengandung.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Nayra baru teringat jika dia mempunyai janji dengan Berta-kenalan barunya, gadis muda yang katanya naksir pada Rafa.


Sejak kembali tadi Rafa masih berbaring di atas ranjang, sepertinya sebelum kembali ke penginapan dirinya sudah izin terlebih dahulu. Rafa mendadak terlihat lemas karena mual ditambah muntah.


"Mau kemana?" tanya Rafa yang menyadari jika Nayra beranjak mendekati pintu kamar.


"Ngga kemana-mana, cuma mau lihat-lihat di depan," ucap Nayra ngeles.


"Jangan bohong. Mau ketemu Rion lagi? Jam segini dia lagi sibuk di posko," ujar Rafa yang  mengganti posisi tidurnya menjadi membelakangi Nayra.


"Iya-iya. Nggak jadi pergi," ucap Nayra yang menangkap nada tak suka dari perkataan Rafa barusan.


Nayra berjalan mendekati Rafa. Ia membenarkan letak bantal Rafa yang sedikit miring.


"Udah nggak usah, katanya mau keluarkan? Yaudah sana keburu sore," ujar Rafa.


"Kesal lagi? Kakak kenapa sih?" tanya Nayra menarik bahu Rafa.


"Aku mau muntah lagi, minggir!" Rafa menyingkap selimut dan berlari menuju kamar mandi lalu terjadilah drama mual ala bapak-bapak ngidam.


Mau tak mau Nayra segera menyusul Rafa dan membantunya kembali ke atas ranjang.


"Nay.."


"Iyah.."


"Aku lagi pengen,"


"Pengen? Pengen apa maksudnya?"


"Itu,"


Rafa mendekati Nayra dan memegang perut Nayra dan menyandarkan kepalanya di paha Nayra.


"Aku pengen lihat kamingsun. Siapa tau mualnya bisa ilang," ujar Rafa.


"Loh tapikan kamingsun masih kecil, mana bisa dilihat sih," ujar Nayra.


"Iya atau nggak?" tanya Rafa yang tak mau bertele-tele.


"Hmm.."


"Jawab yang bener!"


"Iya, terserah kakak maunya gimana," pasrah Nayra.


Setelah mendapat persetujuan Nayra, Rafa beringsut membuka baju Nayra yang bawahannya sedikit longgar. Memperhatikan bentuk perut Nayra yang mulai terlihat sedikit berbentuk. Rafa tersenyum dan menyentuh permukaan kulit Nayra yang putih.


"Kamu punya dendam apa sama Papa sampai tega buat Papa lemas tak berdaya kaya begini hum? Masih kecil aja kamu udah bandel, apalagi nanti kalau udah keluar," ujar Rafa pelan.


Nayra yang mendengar ucapan Rafa berusaha menahan tawanya agar tidak pecah. Yang ada nanti Rafa menjadi kesal dan sewot padanya.


"Nay...


"Hmm?"


"Ayo dong bantu aku ngomong sama kamingsun, bilang jangan siksa aku kaya gini," ujar Rafa menatap Nayra yang sedang berada di atasnya.


"Nggak ada yang bisa kita lakuin kak. Emang udah bawaanya kali," ujar Nayra.


Rafa pasrah dan memejamkan matanya. Nayra tersenyum dan mengelus kening Rafa dengan sangat pelan.


Cup


"Sayang kakak banyak-banyak. Maaf yah karena kamingsun Kakak harus menderita kaya gini,"


"Sayang kamu juga," ujar Rafa membuka matanya dan menarik wajah Nayra mendekat ke arahnya. Mencuri satu kecupan di bibir Nayra dan kembali memejamkan matanya.


Merona sudah wajah Nayra mendengar perkataan Rafa barusan. Tadinya sensian tapi masih sempet-sempetnya bikin manis di akhir.


Tok  tok


Nayra tersadar karena mendengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Nayra pun hendak menyingkirkan kepala Rafa dari pangkuannya. Namun dengan cepat Rafa menahan tangan Nayra.


"Bentar kak, itu ada orang di depan, takutnya penting," ujar Nayra.


"Mulut aku pahit, aku butuh pemanis sekarang," ujar Rafa.


"Iya, nanti Nayra sekalian nyari permen biar nggak pahit lagi," ujar Nayra.


"Aku maunya yang alami," ujar Rafa yang menarik wajah Nayra dan mengemut bibir Nayra sesuka hatinya tanpa mengindahkan suara pintu yang terus diketuk dari arah depan.


Cklek


"Rafa kam..."


Tbc.


Jangan lupa vomentnya slur. Semoga part ini bisa berkenan di hati kalian.