The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Happy Them



Semoga part ini tidak mengecewakan


***


Hoek..hoek


Terdengar suara seseorang yang muntah dari arah kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan Rafa, kini mual dan morning sickness kerap melandanya sejak Nayra hamil.


Nayra terbangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Nayra berusaha bangkit dari atas ranjang meskipun itu membuat area pinggangya merasakan sedikit rasa sakit. Namun semuanya ia tahan demi Rafa.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Rafa dalam keadaan shirtless dengan wajah yang terlihat sayu dan lemas.


"Kakak ngga papa?" Tanya Nayra yang mendekati Rafa dan menyentuh lengan Rafa.


"Aku nggak papa." Ujar Rafa pelan menatap ke arah mata Nayra. Tangan Rafa terulur menyentuh permukaan perut Nayra dan memejamkan matanya sejenak kemudian membuka matanya lagi.


"Kakak ngapain?" Tanya Nayra saat tangan Rafa yang tadinya hanya menyentuh perut Nayra kini beralih mengangkat tanktop peach milik Nayra sehingga memperlihatkan kulit perutnya.


"Buka!" Ucap Rafa tiba-tiba.


"Buka?" Tanya Nayra yang awalnya ambigu. Namun wajahnya merona saat sadar jika Rafa meminta dirinya membuka tanktop miliknya di depan Rafa.


"Ak..."


"Pakaian ketat kaya gini nggak bagus kalau dipake sama ibu hamil, besok-besok jangan pakai yang begituan atau kalau perlu jangan pakai sama sekali sampai kamu lahiran. Ini demi keselamatan kamu dan anak kita." Ujar Rafa.


Nayra tersenyum mendengar ucapan Rafa barusan. Ini demi keselamatan kamu dan anak kita.


Nayra mengangkat tanktopnya dan menyisakan bra berwarna putih miliknya. Nayra melihat ekspresi Rafa yang hanya bersikap biasa. Apa jantungnya tidak berdetak melihat tubuh setengah telanjang milik Nayra.


Nayra menyilangkan kedua tangannya di depan dada menutup area dadanya. Hal ini mengundang senyuman Rafa di kedua sudut bibirnya. Namun Nayra tidak sadar akan hal itu.


Rafa mengambil handuk yang tergantung disana dan melilitkannya di tubuh Nayra. Rafa menarik tubuh Nayra dan menariknya sehingga tubuh keduanya saling bertubrukan. Nayra menutup matanya pelan. Rafa tersenyum dan,


Cup


Rafa mengecup pipi Nayra dan berbisik pelan.


"Kamu seksi." Ujarnya kemudian berlalu pergi.


Nayra membuka matanya dengan wajah yang sudah merona karena malu. Kedua telapak tangannya ia tempelkan di pipinya guna menyembunyikan rona di pipinya. Nayra serasa mengambang di udara mendengar ucapan Rafa barusan. Belum pernah dalam sejarahnya seorang Rafael memuji dirinya, dan entah kenapa hanya karena pujian singkat tersebut membuat Nayra senang, itu berarti Nayra punya nilai lebih dimata Rafa.


"Aku seksi yah, masa iya sih?" Tanya Nayra mendadak salting dan mengosok-gosok pipinya yang masih memanas.


Rafa kembali ke ranjang dan duduk disana. Memperhatikan Nayra yang masih membelakangi dirinya. Rafa beranjak  mengambil sebuah kaos hitam polos dari dalam koper dan memakainya dengan cepat.


"Mau sampe kapan kamu berdiri disitu terus?" Tanya Rafa.


"Eh, ngga kok. Ini mau..."


"Sini!" Panggil Rafa memanggil Nayra seraya menepuk tempat kosong di sampingnya. Nayrapun berjalan pelan dan bergerak mendekati Rafa di atas ranjang.


"Kamu tahu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku berjanji jika suatu saat aku menemukan tempat yang tepat maka aku akan memilih untuk tetap menetap. Dan jika aku belum menemukannya maka aku tidak akan pernah berhenti untuk mencarinya," jeda Rafa menatap ke arah depan.


"Apa itu artinya Kakak bakalin ninggalin Nayra kalau kakak sendiri udah nemuin tempat yang tepat? Apa itu artinya semuanya akan berakhir?" Tanya Nayra menatap ke arah Rafa. Mendadak matanya menjadi berkaca-kaca. Kenapa disaat Nayra berharap keadaan sudah baik-baik saja, ia juga merasakan sakit saat memdengar ucapan Rafa barusan. Tidakkah cukup Nayra ada selama ini? Lalu apa maksud ucapan Rafa kemarin?.


"Beruntung yah wanita itu." Ucap Nayra tersenyum masam.


"Bukan dia, tapi aku yang beruntung karena dipertemukan dengan wanita spesial sepertinya, sosok yang tidak pernah aku temukan pada wanita manapun. Bodohnya aku baru menyadarinya sekarang, dia sangat berharga. Dia.."


"Hiks..hiks..udah stop! Nayra nggak mau dengar lagi. Nayra sadar sekarang, Nayra nggak akan bisa berada di posisi itu, menjadi tempat yang nyaman dan menjadi wanita spesial. Nayra tahu diri." Ucap Nayra terisak.


"Dan dia juga wanita cengeng." Ucap Rafa yang malah mengejek Nayra dan mengacak rambut Nayra. Dia terlihat menggemaskan saat menangis.


"Bahkan sekarang kamu nangis cuma karena ucapan aja, gimana kalau ketemu sama orangnya." Ujar Rafa yang mengusap air mata Nayra dengan ibu jarinya.


"Hiks.."


"Kamu ini sudah sarjana tapi kenapa bodoh sih? Kamu terlalu takut jadinya kamu nggak nyimak apa yang barusan aku bilang" Ujar Rafa mengambil tisu dari atas nakas dan menghapus air mata Nayra.


"Biar aku perjelas, dia memang wanita spesial. Wanita yang dipertemukan denganku lewat jalur nekat. Dan sekarang wanita itu sedang menangis dan dia juga sedang mengandung anak pertama kami. Sayangnya dia belum juga mengerti dengan apa yang aku ucapkan barusan." Ujar Rafa.


"Hiks, mak..sudnya?"


"Makanya bisanya jangan nangis terus! Gini kan jadinya." Ujar Rafa yang mengentikan kegiatannya menghapus air mata Nayra.


"Aku bukan pria romantis yang bisa mengungkapkan perasaan dengan hal-hal yang romantis, dan kuharap kamu mengerti itu. Bukankah Perasaan nggak harus diungkapkan dengan kata-kata, tapi bisa dengan perbuatan juga." Ucap Rafa.


Nayra mencerna kata-kata Rafa barusan. "Eum, Nayra juga nggak butuh pria yang romantis. Cukup pria yang bisa mencintai dan melindungi Nayra, itu saja sudah cukup." Ucap Nayra. Singkat dan jelas.


Rafa tersenyum kecil.


"Jadi kamu sudah tau siapa wanita spesial itu?" Tanya Rafa.


Nayra menggeleng. "Siapapun wanita itu, Nayra harap semoga Kakak bisa mencintainya dengan baik dan,"


Rafa diam dan menunggu Nayra melanjutkan kata-katanya lagi.


"Dan apa? Tanya Rafa sedikit kesal karena mendengar jawaban Nayra. Apa Nayra belum mengerti juga.


"Dan sekarang Nayra tahu siapa wanita." Ujar Nayra.


"Sudahlah. Aku mau keluar sebentar." Ucap Rafa beranjak berdiri. Ia tak berminat mendengar jawaban Nayra lagi. Moodnya berubah-ubah.


"Kakak nggak mau dengar jawaban Nayra dulu?" Tanya Nayra.


"Nggak." Ujar Rafa.


"Kok gitu?" Tanya Nayra ikutan berdiri.


"Wanita spesial itu Nayra kan?" Tanya Nayra tersenyum lebar.


"Bukan. Ngga usah kePDan jadi orang." Jawab Rafa.


"Ya gak papa. Kalaupun wanita itu bukan Nayra, biarin Nayra yang gantiin posisi dia. Nayra lebih pantes." Ucap Nayra memeluk perut Rafa dari arah depan.


Rafa tersenyum dan balik memeluk Nayra, mengelus rambut Nayra dengan pelan.


Nayra mendongak ke atas untuk melihat wajah Rafa.


"Kak,"


"Apa?"


"I love you"


"Telat."


***


Rion tampak menyesap kopi miliknya seraya berdiri dengan arah pandangan yang tampak kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Rasa pahitnya kopi begitu terasa di tenggorokannya dan seolah mewakili pahitnya hati.


Sekalinya suka sama orang, eh ternyata istri orang. Rion sadar, mungkin ini yang dinamakan karma. Sedari dulu dirinya terlalu sering mempermainkan wanita-wanita yang mendekatinya dan sekarang disaat ia sudah merasa menemukan orang yang tepat, orang tersebut sudah milik orang lain.


Tiba-tiba.


Bruk


Seseorang menabraknya dari samping sehingga mengakibatkan kopi milik Rion tumpah dan membasahi baju kemeja miliknya.


"Aduh, m..aaf dokter, saya nggak sengaja, saya buru-buru soalnya. Sekali lagi saya minta maaf, punten." Ujarnya menunduk takut.


"Lo yang kemarin itu kan?" Tanya Rion melihat wajah gadis muda di depannya.


"Iy..a dokter." Cicitnya.


"Lo tahu kan ini kopi panas, kulit gue hampir melepuh gara-gara kecerobohan lo." Ucap Rion ketus.


"Maaf dokter, saya nggak sengaja. Biar saya bantu bersihin." Ujarnya seraya mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya dan melap area baju Rion yang terkena tumpahan kopi.


"Nggak perlu, biar gue bersihin sendiri." Ujar Rion menolak bantuan gadis tersebut.


"Nama lo siapa?" Tanya Rion.


"Nama saya Berta dokter." Jawabnya.


"Dengerin gue baik-baik. Urusan kita belum selesai sampai disini. Lo harus tanggung jawab." Ujar Rion menunjuk Berta.


"Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya dok? Kalau uang saya nggak punya." Ujar Berta.


"Gue nggak butuh uang. Gue cuma minta lo turutin apa yang gue mau, dengan begitu urusan kita selesai." Ucap Rion.


"Saya harus apa sekarang?"


"Lo harus bersedia nikah sama gue dan nggak ada penolakan sama sekali. Temuin gue malam ini untuk info lebih lanjut." Ujar Rion pergi meninggalkan Berta yang sudah terdiam.


Rion menyunggingkan senyuman di kedua sudut bibirnya. Jika Nayra memang tidak bisa ia dapatkan maka ijinkan dirinya untuk belajar mencintai wanita lain dan mungkin menikah adalah cara yang tepat, meskipun lewat jalur nekat seperti tadi. Meminta seorang gadis agar bersedia menikah dengannya walapun Rion belum terlalu kenal dengan Berta, tapi Rion yakin jika gadis itu adalah orang yang tepat.


***


Malam harinya seperti biasa Rafa dan Nayra   hanya berduaan di dalam kamar. Nayra yang hanya duduk manis menatap Rafa yang sedang mengepak semua barang-barang mereka ke dalam koper. Pasalnya besok mereka akan kembali ke kota.


"Kakak yakin mau ikutan balik juga? Nayra nggak papa kok kalau pulangnya sendirian. Nayra tau kalau mereka masih membutuhkan kakak disini?" Ucap Nayra.


"Tugas itu emang penting, tapi ada yang lebih penting sekarang, yaitu kamu dan anak kita. Kamu pikir aku bisa tenang biarin kamu pulang sendirian? Hanya seorang suami yang bodoh yang akan membiarkan istrinya dalam bahaya. Aku juga rela kehilangan pekerjaan aku demi kalian asalkan kamu baik-baik saja." Ucap Rafa yang duduk di samping Nayra.


Nayra tersenyum mendengar ucapan Rafa. Terdengar begitu manis di telinganya.


"Makasih kak untuk semuanya. Makasih karena udah mau bertahan dan memilih untuk menetap disini. Ini udah lebih dari cukup untuk buat Nayra dan kamingsun bahagia." Ujar Nayra menyenderkan kepalanya di bahu Rafa.


"Gimana keadaan kamingsun didalam sana?" Tanya Rafa menyentuh perut Nayra.


"Kamingsun baik kok, sejauh ini ngga ada yang aneh-aneh. Tapi Nayra hamil ngga kaya ibu hamil yang lain, ngga ada mual-mual dan nggak ada morning sickness sama sekali, padahal Nayra pengen ngerasain semua itu. Nayra mau jadi ibu yang sempurna buat kamingsun." Ujar Nayra menatap perutnya.


Rafa mengecup kepala Nayra dan menangkup wajahnya.


"Kamu pasti bisa jadi Ibu yang sempurna buat kamingsun. Mungkin kamingsun maunya yang ngidam itu Papanya bukan Mamanya, karena dia nggak mau buat kamu kecapean." Ujar Rafa.


"Heum, Kakak bener." Jawab Nayra.


"Sekarang kita istirahat, kamingsun juga butuh istirahat." Ucap Rafa.


Nayra mengangguk. Keduanya pun berbaring bersamaan di atas ranjang dengan posisi Rafa yang memeluk perut Nayra.


"Kak,"


"Hmm..kenapa?


"Nayra mau tanya sesuatu, boleh?" Tanya Nayra.


"Mau tanya apa?"


"Emm..Kakak udah kenal lama sama Nayla?" Tanya Nayra.


"Heum, aku kenal dia waktu masa-masa koas dulu, tapi aku nggak tahu kedoknya selama ini." Ujar Rafa.


"Kakak pernah suka nggak sama Nayla?"


"Enggak."


"Kenapa?"


"Ya karna emang nggak suka, cinta nggak bisa dipaksa. Udah jangan bahas dia lagi, lebih baik sekarang kamu istirahat." Ucap Rafa.


"Tapi Nayra masih penasaran kak. Emm..ada satu lagi yang mau Nayra tanyain ke Kakak." Ucap Nayra.


"Apa lagi?"


"Kakak tahu darimana kalau Nayla itu phobia ciuman? Kakak pernah gituan yang sama Nayla?" Tanya Nayra curiga.


"Dulu dia pernah bilang kalau dia phobia ciuman."


"Owh, trus Kakak pernah ituan nggak sama Nayla?" Tanya Nayra menyatukan ujung jari telunjuknya.


Rafa terkekeh kecil mendengar ucapan Nayra.


"Pernah," jawab Rafa.


"Hah, jadi?"


"Sama Nayla nggak pernah tapi samu kamu pernah, buktinya udah sampe melendung kaya gini." Ujar Rafa menyentuh perut Nayra.


"Ih apasih."


"Kalau sama kamu bikin nagih." Ujar Rafa.


"Jangan bahas itu, Nayra malu." Ucap Nayra.


"Yaudah makanya bobok." Ujar Rafa.


"Yaudah Nayra tidur dulu. Selamat malam." Ujar Nayra menutup matanya dan menyembunyikan kepalanya di balik dada Rafa.


"Good night my wife." Ujar Rafa dan mengecup pipi Nayra sekilas, kemudian ikut memejamkan matanya.


Tbc.


Hai, gimana sama part ini?


Kayanya sudah mau mendekati end nih.☺


Tim hapend ato sadend?


Jangan lupa tinggalkan banyak jejak. Sekian dan terima gaji😘


Bonus picture.