
***
"Mom, lihat kakak ipar nggak?" tanya Liora menghampiri Mommynya yang sedang memasak di dapur.
"Ada tadi di depan, Mommy minta tolong beliin sayur di tukang sayur keliling, soalnya kalau ke supermarket kelamaan," ujar Alea yang menghidupkan kompor gas.
"Mom, hari ini Lili boleh ajak kakak ipar keluar nggak? Soalnya bosen kalau dirumah seharian," ujar Lili.
"Kok tanya ke Mommy sih, tanya sama kakak kamu sana!" ujar Alea.
"Kalau nggak diizinin gimana dong? Kak Rafa pasti gak bakal kasi izin Lili buat ajak kakak ipar," ucap Liora
"Belum dicoba udah buat kesimpulan sendiri, tanya dulu sana," ujar Alea.
"Yaudah deh Lili cari kak Rafa dulu," ujar Liora yang hendak membalikkan badannya.
"Mom ini sayurannya mau taruh dimana?" tanya Nayra yang sudah kembali sembari menenteng bungkusan plastik berisi beberapa jenis sayuran.
"Taruh di atas meja aja nay," ujar Alea.
"Wah kebetulan nih kakak ipar ada disini, mumpung kak Rafa juga gak ada." ujar Liora mendekati Nayra dan akan melancarkan aksinya untuk merayu Nayra agar mau menemaninya hari ini.
"Nay," panggil Liora.
"Iyah kenapa li?" tanya Nayra.
"Hari ini temenin gue jalan yah, gue bosen dirumah terus, gue yang traktirin deh, gimana?" tanya Liora.
"Wah boleh tuh, aku juga udah lama gak pernah hangout lagi," ujar Nayra.
"Seriusan, yaudah kita berangkatnya siang aja gimana?" tanya Liora yang kesenangan.
"Nggak boleh, gak ada hangout-hangoutan. Nayra hari ini bareng sama gue, kalau lo mau jalan, jalan aja sendiri gak usah ngajak-ngajak Nayra," ujar Rafa yang tiba-tiba muncul.
"Ish.. tukan baru juga tadi diomongin udah muncul aja kaya jelangkung," gumam Liora yang kesal karena Rafa yang datang dan menggagalkan rencananya.
"Ayo lah kak sehari doang, masa kakak gak bolehin Nayra ikut. Nayra pasti bakal baik-baik aja," ujar Liora.
"Gue bilang nggak, ya enggak. Nayra istri gue jadi gue berhak kasih izin atau nggak sama sekali," ucap Rafa.
"Ish...nyebelin banget, punya kakak pelitnya minta ampun kaya rentenir," ujar Liora pergi seraya menghentak-hentakkan kakinya kesal dan pergi darisana.
Alea yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Rafa dan Liora selalu saja meributkan hal-hal yang sepele.
"Fa, jangan terlalu keras sama adik kamu. Mommy tahu kamu gak izinin Nayra ikut biar Liora gak jadi pergi. Liora udah dewasa dia udah bisa jaga dirinya sendiri," ucap Alea.
Rafa menghela nafas saat mendengar ucapan mommynya. Selama ini memang ia selalu membatasi pergerakan Liora diluar sana agar tak terjerumus kedalam pergaulan bebas, tetapi sepertinya mulai sekarang ia tak perlu khwatir lagi karena Liora sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.
"Yaudah aku ba...."
"Bakal kasih izin Nayra ikut sama Lili?" ujar Liora yang tiba-tiba muncul dari balik tembok.
"Kamu ini apa-apan sih li, ngagetin aja," ujar Alea.
"Hehehehe....abisnya seneng sih, jadi kakak izinin Nayra ikut sama Lili kan?" tanya Liora.
"Yaudah iya, tapi inget baliknya ngga boleh lewat dari jam 5 sore," ucap Rafa.
"Asyiap....ayo nay ikut gue bentar," ujar Liora menarik tangan Nayra untuk pergi darisana.
Liora membawa Nayra menuju kedalam kamar miliknya dan mendudukkan Nayra diatas kursi meja rias.
"Sebelum kita pergi, kita perlu make over penampilan dulu biar gak malu-maluin," ujar Liora mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Nayra dan memberikan sedikit sentuhan make up natural pada wajah Nayra.
Beberapa menit kemudian Liora sudah menyelesaikan tugasnya untuk make over sang kakak ipar. Ia tersenyum dengan hasil karyanya dan memilihkan outfit yang sesuai untuk Nayra. Setelahnya ia pun merias dirinya sendiri dan meminta Nayra untuk menunggunya diluar.
Nayra keluar dari kamar Liora dan berjalan kearah kamar untuk mencari keberadaan Rafa.
Rafa yang sedang duduk diatas ranjang mengalihkan pandangannya saat melihat Nayra yang membuka pintu dan masuk kedalam. Ia tercekat melihat penampilan Nayra yang sangat berbeda dari sebelumnya, terlihat lebih feminim dan anggun.
"Kak, Nayra boleh keluar kan hari ini?" tanya Nayra mendekati Rafa yang sedang membaca sesuatu di dalam tablet miliknya.
"Iya boleh," ujar Rafa kemudian meletakkan tablet miliknya dan membuka laci nakas, kemudian menarik sesuatu darisana.
"Pake ini buat beli keperluan kamu," ujar Rafa menyodorkan kartu kredit miliknya kearah Nayra.
"Tapi kak,"
"Aku gak suka ditolak, lagian ini udah kewajiban aku buat kasih kamu nafkah. Jadi ambil ini dan pergunakan seperlunya," ujar Rafa tak mau ditolak.
Nayra pun menerima sodoran tangan Rafa kemudian mengambil tas kecil miliknya.
"Inget jangan pulang dibawah jam 5 sore, kamu harus inget status kamu sekarang," ingatkan Rafa .
"Siap kita bakal balik tepat waktu kok kak. Dadah Nayra pergi dulu," ujar Nayra beranjak meninggalkan kamarnya dan Rafa.
***
Liora menggandeng tangan Nayra masuk kedalam pusat perbelanjaan terkenal. Senang rasanya bisa punya kakak ipar yang satu server. Keduanya terlihat seperti teman dekat karena memang usia keduanya hanya terpaut beberapa bulan saja, Nayra lebih tua 2 bulan dari Liora.
"Kita keliling-keliling yuk kayanya seru deh, abis itu nanti kita makan trus baru balik," usul Liora.
"Aku ikut aja li, asal baliknya jangan telat," ujar Nayra.
"Oh iya juga yah, tadi kan kak Rafa bilang baliknya gak boleh dibawah jam 5 sore. Yaudah gak papa, kita bisa atur semuanya,tenang aja." Ujar Liora.
Keduanya pun sepakat untuk berkeliling, berbelanja sepuasnya tanpa mereka sadari waktu terus berlalu dan jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya waktu mereka tersisa satu jam lagi.
"Cari makan dulu yuk! Gue laper nih," ujar Liora saat mereka sudah puas berkeliling dengan membawa paper bag di sisi kanan dan di sisi kiri.
Nayra yang juga memang sudah lapar akhirnya hanya menganggukkan kepalanya setuju, toh cuma makan, pikirnya.
Keduanya pun menuju food court dan memesan makanan untuk mengganjal rasa lapar. Keduanya makan cukup tenang dan menikmati makanan mereka masing-masing, tapi hanya sebentar sampai tiba-tiba seorang wanita berambut pirang dan berwajah bule datang menghampiri mereka dengan senyuman yang menawan.
" Hello, can I sit here? " (Hallo, bisakah saya duduk disini?"
Wanita tersebut berbicara dalam logat bahasa inggris begitu ia tiba di depan meja Liora dan Nayra.
"Ck, kenapa ada mak lampir sih disini? Nafsu makan gue jadi hilang. Udah deh gak usah sok inggris, eneg gue dengernya," ujar Liora menghentikan acara makannya.
"Calm down sister in law, I came all right " (Tenang adik ipar, aku datang secara baik-baik)
"Terserah, gue gak perduli, dan satu lagi gue bukan adik ipar lo!" ujar Liora.
Nayra memperhatikan baik-baik wajah wanita tersebut, ia rasa ia pernah melihat wajah itu.
Ah, ia baru ingat sekarang, wanita tersebut adalah wanita yang menyalim tangannya saat di resepsi pernikahannya, wanita yang dengan sengaja meremas tangannya saat tangan mereka bersalaman. Wanita yang dipanggil "Nay" oleh Rafa.
"Kamu masih ingat sama aku?" tanyanya pada Nayra.
"Yah aku ingat," jawab Nayra.
"Baguslah kalau begitu, kenalin nama aku Nayla," ujarnya mengulurkan tangan kearah Nayra.
"Udah gak usah. Ayo nay kita pergi aja, males gue ngurusin bule nyasar plus gila kaya dia," ujar Liora yang menarik tangan Nayra untuk pergi menjauh darisana.
"Gue saranin lain kali kalo entar lo ketemu sama dia jangan mau diajak ngobrol sama dia, dia itu gila," ujar Liora yang masih menarik tangan Nayra.
"Gila? Maksut kamu?" tanya Nayra yang bingung.
"Ya intinya dia gila, lo jangan pernah deket-deket sama dia, entar lo ketularan jadi gila!" pesan Liora.
Dalam hati Nayra bertanya-tanya mengapa Liora tampak tak suka dengan wanita itu dan apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan Rafa. Bukankah waktu itu wanita tersebut datang pada saat resepsi mereka.
"Kita mau langsung balik atau gimana nih?" tanya Liora meminta pendapat Nayra yang asyik dengan pikirannya sendiri.
"Nay, Nayra...." panggil Liora seraya mengayunkan tangannya di depan Nayra.
"Kok bengong sih? Kita mau langsung balik aja atau gimana?" tanya Liora lagi.
"Kita langsung balik aja deh, lagian juga udah sore," ujar Nayra.
"Ok, yaudah kalau gitu,"
Sedangkan di lain tempat wanita berambut pirang tersebut tampak menelpon seseorang saat melihat Nayra dan Liora yang sudah pergi.
"Beri gadis itu pelajaran dan jangan sampai salah sasaran,"
Setelah mengucapkan itu wanita tersebut pun beranjak pergi darisana dengan senyuman yang masih tersungging di kedua sudut bibirnya.
***
"Loh kok berenti sih?" tanya Liora saat taksi yang mereka tumpangi mendadak berhenti di tengah perjalanan.
"Maaf mbak, di depan lagi ada macet," ujar si sopir.
"Kayanya macetnya bakal lama nih," ujar Liora yang melihat kearah depan.
"Li kamu haus ngga?" tanya Nayra yang duduk disamping Liora.
"Haus sih, tapi tadi lupa beli minum," ujar Liora yang fokus kearah ponselnya.
"Dek sini...." panggil Nayra kearah seorang anak remaja yang sedang menjajakan dagangannya di tepi jalan raya.
Anak remaja tersebut berjalan mendekati taksi yang ditompangi Nayra.
"Kakak mau beli minumnya dua botol yah," ujarnya.
"Wah boleh kak," ujarnya.
"Satu botol harganya berapaan?" tanya Nayra.
"Satu botol 5 ribu kak, kalau dua jadinya 10 ribu," ujarnya dan memberikan 2 botol air mineral kearah Nayra.
"Bentar yah, kakak ambil uangnya dulu," ucap Nayra membalikkan badannya seraya membuka tas miliknya dan mengeluarkan selembar uang.
Namun saat Nayra berbalik ia tak lagi melihat anak remaja tersebut. Nayra pun keluar dari dalam taksi dan berniat mencari anak penjual minuman tersebut, tapi anehnya tak terlihat lagi.
Tin....tin....
Cit.......
Brak...
Sebuah motor tiba-tiba datang dari belakang dan menyerempet Nayra yang sedang berdiri, Nayra terjatuh dan lengannya tergores hingga mengeluarkan darah.
"Aduh maaf mbak, saya buru-buru soalnya," ujarnya.
"Ya ampun Nayra....." Liora langsung keluar dari dalam taksi dan menghampiri Nayra.
"Kamu gak papa?" tanya seorang pria yang berjas putih seraya menghampiri Nayra. Ia keluar dari dalam mobilnya saat melihat Nayra yang terserempet.
"Kak Rion? Kebetulan banget kakak ada disini, tolong bantuin Nayra kak," ujar Liora pada pria berjas putih tersebut. Liora kenal dengan pria itu yang merupakan teman Rafa waktu koas dulu.
Pria tersebut dengan sigap menggendong Nayra masuk kedalam mobilnya, sedangkan Liora terlebih dahulu membayar tarif ongkos mereka dan menyusul Nayra yang sudah dibawa kedalam mobil.
Sesampainya disana Rion langsung mengambil kotak obat miliknya dan mulai mengobati luka lecet di tangan kanan Nayra, kemudian membalutnya dengan kain kasa.
"Gimana nay? Udah mendingan?" tanya Liora saat Rion selesai mengobati luka goresan ditangan Nayra.
"Udah kok," jawab Nayra meskipun ia merasa tangan kanannya sedikit sakit saat digerakkan.
"Gue minta maaf nay, gara-gara gue lo jadi celaka gini, coba aja kalau kita gak jadi pergi semua ini gak bakal terjadi," sesal Liora.
"Aku gak papa kok, lagian ini juga salah aku yang gak terlalu hati-hati," ujar Nayra.
"Gue jadi takut balik kerumah nay, gue takut kak Rafa bakal marah," ujar Liora.
"Kamu tenang aja, Kak Rafa gak mungkin marah sama kamu," ujar Nayra.
"Iyah semoga aja nay,"
Berkat pertolongan Rion akhirnya luka Nayra bisa terobati, pria itu juga menawarkan diri untuk mengantarkan keduanya pulang.
Beberapa saat kemudian mobil pajero milik Rion memasuki pekarangan rumah keluarga keano yang lumayan luas.
"Makasih kak udah mau bantuin kita hari ini," ujar Liora.
"Iya sama-sama. Gue langsung cabut yah, salam juga buat Rafa," ujarnya yang kembali melajukan mobilnya tersebut.
Nayra dan Liora pun membuka pelan pintu utama agar Rafa tak mengetahui kepulangan mereka.
"Aman nay, kayanya kak Rafa lagi dikamar atau nggak...."
"Atau apa?" sela Rafa yang tiba-tiba muncul
"Mampus kita nay,"
Tbc
Jangan lupa tinggalkan jejak😉