The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Akhirnya Sah



Maaf kalo feelnya gak kerasa ✌


***


Jantungan? Jelas, grogi ? Pasti, panik?Sangat, deg-degan? Banget.


Seperti yang tengah Nayra rasakan saat ini, semalaman ia tidak bisa tidur karena acara pernikahannya dengan Rafa akan di gelar besok pagi bersamaan dengan resepsinya. Seluruh sanak keluarganya sudah berdatangan baik dari yang jauh maupun dari yang terdekat. Semuanya tampak antusias saat mengetahui jika Nayra akan segera menikah, beberapa diantara mereka bahkan menggoda Nayra habis-habisan saat mengetahui jika pria yang meminang Nayra adalah seorang dokter.


"Nay sini duduk dulu!"  perintah seorang wanita yang memanggil Nayra. Nayra pun berjalan dan duduk disamping wanita tersebut.


"Ada apa tan?"  tanya Nayra.


"Eh Tante belum lihat secara langsung loh calon suami kamu itu tampangnya kaya gimana sih?Mama kamu bilang dia seorang dokter, benar begitu?" tanyanya.


"Iya Tante, Kak Rafa emang seorang dokter,"  ujar Nayra pada wanita tersebut yang merupakan saudara Papanya.


"Syukur deh kalau gitu, Nayra beruntung dong bisa punya calon suami seorang dokter, nanti kalau kamu sakit kan ada yang ngurusin," ujarnya.


Nayra hanya tersenyum membalas ucapan sang Tante.


"Wah enak dong kamunya Nay, punya calon suami seorang dokter. Pasien aja dirawat sampai sembuh apalagi istrinya yea kan?"  ujar yang lainnya .


"Bener banget. Mama sama Papa kamu pasti bakal bangga karna punya mantu seorang dokter dan masih muda lagi,"  celetuk seseorang.


"Wah seriusan nay masih muda?"


"Iya Tante, lebih tua 4 tahun dari Nayra," ucap Nayra.


"Wah hebat dong, masih muda udah jadi dokter aja, padahalkan proses jadi dokter itu gak mudah,"


Tiba-tiba


Dret....dret...


Perbincangan mereka tiba-tiba terhenti saat ponsel Nayra bergetar didalam saku celana miliknya. Ia pun merogoh saku celana miliknya dan mengeluarkan ponselnya.


"Siapa nay? Calon suaminya yah?" tanya Tantenya yang melihat Nayra tersenyum saat melihat layar ponselnya.


"Iya Tante, kalau gitu Nayra pamit keatas dulu yah, mau angkat telpon soalnya," ujar Nayra malu-malu.


"Iya yaudah sana! Langsung istirahat juga biar besok kamu gak kesiangan bangunnya,"  ujar sang Tante.


"Iya Tante, Nayra permisi dulu,"  ujar Nayra kemudian pamit meninggalkan sekelompok ibu-ibu tersebut. Ia juga merasa risih jika harus berlama-lama disana, mereka hanya akan menggoda Nayra habis-habisan.


Nayra pun berjalan menaiki tangga menuju kedalam kamarnya dan masuk kedalam.


"Halo,"


"Halo kak,"


"Kok lama banget ngangkatnya?"


"Maaf kak, tadi Nayra lagi di depan. Nayra gak enak kalau harus ngangkat telepon di depan mereka,"


"Barangnya udah nyampe kan?"


"Udah kak, sekarang udah ada di kamar Nayra,"


"Bagus kalau gitu,"


"Kakak cuma mau nanyain itu doang? Gak ada yang lain?"


"Gak ada, gue cuma mau nanyain itu doang. Udah malem nay! Tidur sana besok telat lagi,"


"Hmm iya.."


"Gue tutup dulu telponnya,"


Tut....tut...


Rafa memutus sambungan sepihak tanpa persetujuan Nayra, padahal ia sangat berharap jika mereka bisa mengobrol lebih banyak lagi, tetapi Rafa malah memutus sambungan telpon mereka begitu saja.


***


Pagi-pagi sekali Nayra sudah bangun lebih awal karena harus didandani oleh perias. Setelah selesai didandani akhirnya Nayra pun bisa bernafas lega seraya melihat pantulan dirinya di dalam cermin yang tampak berbeda dari sebelum dirias. Wajahnya yang terbiasa dengan kepolosan kini sudah berubah menjadi lebih berwarna dan tentunya lebih cantik ditambah hiasan mahkota dan veil yang tersemat  di rambutnya. Semuanya benar-benar membuat Nayra tampak seperti seorang ratu.


Cklek


"Bagaimana apa pengantin wanitanya sudah selesai?" tanya Dwi pada seorang perias yang  masih merapikan rambut Nayra.


"Sudah Nyonya," ujarnya.


Dwi pun berjalan mendekati Nayra dan memegang pundak Nayra dengan pelan seraya tersenyum. Ia turut bahagia saat melihat Nayra yang akan segera melepas masa lajangnya.


"Siap?" tanya Dwi.


Nayra pun tersenyum seraya menggenggam erat tangan mamanya yang berada di pundaknya lalu mengangguk pelan.


"Siap mah," ujar Nayra.


"Yaudah kalau gitu kita keluar, semuanya udah nungguin kamu. Rafa juga kayanya udah gak sabar mau ketemu sama kamu,"  goda Dwi dan sukses membuat Nayra menjadi tersipu.


***


Nayra turun perlahan dari dalam mobil seraya memegang bunga tangan miliknya, jantungnya semakin berdebar saat sudah sampai di depan tempat  acara pernikahannya akan di gelar. Dengan berpegangan pada tangan sang papa, Nayra pun  masuk kedalam dan menapaki altar merah yang sudah digelar diatas lantai. Semua tamu undangan sudah berdiri menyambut kehadiran sang mempelai wanita dan itu semakin membuat Nayra semakin dilanda nervous.


Alex pun dengan setia menggandeng tangan putrinya dan menuntun langkahnya menuju Rafa yang sudah berdiri di depan sana dengan balutan tuxedo hitamnya. Setibanya di depan Alex langsung memberikan tangan Nayra pada Rafa, kemudian Rafa menerima uluran tangan Nayra. Keduanya pun sudah berdiri berdampingan dan acara pemberkatan pernikahan mereka akan segera dilakukan bersama seorang imam yang berada disana.


Setelah beberapa saat  pengucapan janji setia pernikahan mereka, maka keduanya pun diminta untuk segera bertukar cincin satu sama lain.


Rafa terlebih dahulu menyematkan cincin di jari manis Nayra begitupun sebaliknya. Detik selanjutnya tangan Rafa pun terulur untuk untuk membuka veil kepala Nayra dan merapatkan tubuh mereka. Rafa menatap kedua bola mata Nayra seolah meminta izin.


Nayra mengangguk pelan dan perlahan menutup matanya. Rafa pun perlahan mendekatkan wajahnya pada Nayra dan mengecup kening Nayra pelan. Suara tepuk tangan pun menggema bersamaan dengan Rafa yang mencium kening Nayra.


Nayra membuka matanya dan melihat kearah Rafa yang berada tepat di depannya, bolehkah ia merasa kecewa sekarang?


Rafa bisa melihat ada raut kekecawaan yang terpancar dari wajah Nayra, ia tahu apa yang Nayra inginkan, namun ia merasa ragu untuk  melakukan lebih dari itu. Beberapa detik kemudian Rafa akhirnya berubah pikiran, ia menarik tengkuk Nayra dan menyatukan mulut keduanya. Rafa benar-benar mencium Nayra tepat di depan ratusan pasang mata.


Suara riuh tepuk tangan semakin riuh mengiringi sakralnya acara itu. Perlahan Rafa menjauhkan wajahnya dari Nayra yang masih menutup matanya. Ia tersenyum saat mendapati Nayra yang masih menutup matanya.


Barulah saat mendengar suara MC, Nayra membuka matanya dan berhadapan langsung  dengan bola mata Rafa yang hitam turunan Mommynya. Rafa masih memperlihatkan senyumannya pada Nayra, ia tahu jika Nayra sedang gugup.


Setelah acara pemberkatan pernikahan yang berjalan dengan lancar, keduanya pun digiring menuju tempat resepsi akan dilakukan. Setelah sejenak berganti pakaian dan riasan, Rafa dan Nayra kini serasi mengenakan busana couple blue. Rafa dengan tuxedo birunya begitupun dengan Nayra yang mengenakan gaun birunya,.keduanya tampak sangat serasi.


Tamu undangan dari jam ke jam kian meningkat, mulai dari kolega bisnis orang tua mereka, rekan kerja Rafa begitupun sanak keluarga mereka. Mengingat kedua orang tua mereka merupakan dari kalangan orang terpandang.


Menyalami banyaknya tamu undangan membuat Nayra merasakan pegal di kakinya karena harus berdiri  menggunakan high heels di kakinya, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum kearah para tamu undangan.


Rafa yang berdiri di samping Naura bisa merasakan gerak-gerik Nayra yang sedikit gelisah.


"Kalau lo gak nyaman mending di buka aja,.jangan dipaksain!"  bisik Rafa di telinga Nayra.


"Tapi kan acaranya masih panjang, tamunya juga masih banyak kak. Nayra masih tahan kok sampai acaranya selesai," ujar Nayra.


"Lo yakin masih kuat sampai acara ini selesai?"  tanya Rafa.


"Yakin kok,"  ucap Nayra seraya mengangguk.


Tamu undangan yang datang tak henti untuk memberikan lontaran selamat untuk keduanya yang tampak begitu serasi. Sampai tiba pada saat seseorang wanita datang mengucapkan selamat kepada mereka.


"Hai, selamat yah buat kalian berdua. Gue gak nyangka kalau lo akhirnya nikah juga, gue kira lo bakal betah sendiri terus,"  ujarnya seraya menyalimi Rafa.


"Thanks nay,"  ujar Rafa.


"Sama-sama,"  ujarnya kemudian beralih mentap kearah Nayra yang berada di samping Rafa.


"Selamat yah, kamu beruntung banget bisa bersanding dengan Rafa,"  ujarnya menyalim tangan Nayra seraya menekan tangan Nayra dengan kukunya yang panjang. Nayra spontan melepas tangannya karena merasa kesakitan sedangkan wanita tersebut berlalu pergi bergabung kembali dengan tamu undangan yang lain. Dalam hati Nayra bertanya-tanya siapa wanita tersebut? Sepertinya ia kenal dengan Rafa.


Nayra pun tetap berfikir positif, bukankah Rafa pernah bilang jika dirinya  tak pernah berhubungan serius dengan wanita lain kecuali hanya sebatas teman atau rekan kerja. Namun tak bisa ia pungkiri juga jika wanita yang tadi itu auranya sangat berbeda. Nayra juga wanita, ia bisa merasakan dan melihat cara pandang wanita tersebut saat melihat Rafa yang berbeda, seperti ada yang ia sembunyikan.


Tbc.


Kayanya mulai tercium bau-bau konflik nih🤔


Stay terus