The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Dear



***


Satu kata malu . Nayra selalu berusaha untuk menghindari Rafa saat mereka berpapasan, sudah beberapa hari ini dia selalu tidur lebih awal dan bahkan melewatkan makan malamnya agar tidak bertemu dengan Rafa. Barulah saat Rafa sudah benar-benar terlelap, Nayra keluar dari kamar untuk mencari makanan.


"Udah tidur ternyata,"  gumam Nayra bangkit dari tidurnya dan beranjak keluar dari kamar. Perutnya sudah meronta minta diisi makanan.


Begitu Nayra keluar dari kamar, Rafa langsung membuka matanya dan menyusul Nayra yang pergi kedapur. Ia sengaja tak tidur karena menunggu Nayra bangun lebih dulu dan melihat apa yang Nayra lakukan malam-malam begini.


Nayra menuruni tangga dan beranjak menuju dapur, tak lupa ia menyalakan lampu dan membuka lemari pendingin untuk mencari makanan yang bisa dimakan.


Nayra membawa beberapa jenis makanan yang ia keluarkan dari lemari pendingin dan meletakkanya diatas meja.


Tiba-tiba


Tap


Lampu mati, Nayra yang sedang makan menjadi gelagapan karena semuanya menjadi gelap, ia tak bisa melihat apa-apa lagi.


Nayra pun menghentikan acara makannya dan mulai meraba kesegala sisi. Sampai sebuah tangan memeluk perut Nayra dari belakang ditambah hembusan nafas yang bisa Nayra rasakan di lehernya.


Nayra memejamkan matanya berharap jika tangan yang memeluknya itu bukanlah tangan hantu atau sejenisnya. Nayra memutar badannya dan meraba si pemilik tangan tersebut, mulai dari  wajah, hidung dan bibir.


"Tapi kalau setan kok baunya wangi sih, harusnya kan kalo setan bau kemenyan atau nggak bunga kantil?"  tanya Nayra dan mencubit kuat sesuatu yang ia pegang.


"Ah....sakit Nayra..."  ujarnya begitu Nayra mencubit yang ternyata adalah bibir Rafa.


Rafa melepas rengkuhan tangannya di pinggang Nayra dan menjauh darisana lalu menyalakan lampu.


"Sakit yah? Aduh maaf kak, Nayra kira tadi setan beneran,"  ujar Nayra yang ikutan menyentuh bibir Rafa yang  berdenyut nyeri. Ia sudah melupakan rasa malunya karena sibuk mengelus dan meniup bibir Rafa.


"Udah cukup!" ujar Rafa menahan pergelangan tangan Nayra yang mengelus bibirnya. Nayra langsung berhenti dan matanya bertatapan dengan Rafa yang juga menatapnya.


"Emmm...anu...Nayra ngantuk mau tidur,"  ujar Nayra menarik tangannya yang dipegang oleh Rafa.


"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan Nayra, kenapa? Masih malu sama kejadian yang kemarin hmm..?" tanya Rafa mendekati Nayra.


"Ngg..ak  kok,"  ujarnya gugup.


"Kenapa harus malu? Kamu lupa aku ini siapa?Bukankah aku bisa dapat lebih dari itu?" tanya Rafa dengan senyum miring.


Nayra diam dan mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain, agar wajahnya tak berhadapan dengan Rafa lagi.


Karena tak kunjung menjawab, Rafa pun mengangkat tubuh Nayra dan mendudukkanya di sisi meja makan dengan Rafa yang masih berada di depannya.


"Aku gak mau kejadian seperti ini terulang lagi, makan di malam hari itu tidak baik untuk kesehatan. Jadi mulai sekarang hilangkan kebiasaan kamu yang suka bangun dan makan di malam hari,"  ujar Rafa menasehati Nayra kemudian berlalu darisana untuk mengambil beberapa roti gandum dan memberikannya pada Nayra.


"Makan dan habiskan!" ujar Rafa.


Nayra pun mulai memakan roti yang Rafa berikan untuknya sedangkan Rafa hanya melihati Nayra yang memakan rotinya. Ia tak habis fikir dengan Nayra yang rela menahan lapar hanya karena ia merasa malu dengan kejadian beberapa hari yang lalu, padahal mereka adalah suami istri tetapi Nayra masih saja merasa malu.


Setelah menghabiskan makanannya Nayra dan Rafa pun berjalan berirangan masuk kedalam kamar dan naik keatas ranjang. Nayra menarik selimut dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang, hal yang sama juga Rafa lakukan, ia menarik selimut dan merebahkan tubuhnya di samping Nayra.


Nayra pun mengubah posisi tidurnya menghadap kearah Rafa, karena jika tidak suaminya itu akan protes apabila Nayra tidur membelakangi Rafa.


Rafa tersenyum saat melihat Nayra yang tidur menghadap kearahnya, tanpa diminta pun Nayra sudah paham dan mengerti. Seperi biasanya sebelum tidur Rafa pasti selalu menarik dan memeluk pinggang Nayra layaknya seperti guling, Rafa akui ia sangat suka memeluk Nayra karena menurutnya tubuh Nayra enak dan nyaman saat dipeluk.


Nayra hanya diam saat Rafa akan memeluknya, ia juga merasa nyaman saat dipeluk seperti itu. Wanita mana yang tak akan merasa senang jika pria yang memeluknya adalah pria yang ia cintai ditambah lagi jika pria itu adalah suaminya.


Entah angin darimana tiba-tiba Rafa mendekatkan wajahnya kearah Nayra dan mengecup keningnya dengan pelan sebagai bentuk tanda rasa sayangnya pada Nayra. Rafa tak tahu rasa sayang seperti apa yang  tengah ia berikan untuk Nayra. Mungkinkah rasa sayang seorang pria untuk wanita atau hanya sekedar rasa sayang seorang kakak untuk adiknya? Entahlah Rafa masih bingung dengan semua itu, ia tak ambil pusing dengan semua itu karena ia yakin waktu pasti akan menjawab semuanya.


***


Setelah beberapa hari cuti, kini Rafa harus kembali bekerja dan melaksanakan kewajibannya menjadi seorang dokter. Itu artinya ia harus meninggalkan Nayra di rumah sampai nanti ia kembali lagi.


"Nay," panggil Rafa yang sedang mengancingkan kemeja berwarna biru miliknya.


"Iya kak," sahut Nayra yang sedang merapikan tempat tidur mereka.


"Hari ini aku ada jam praktek di rumah sakit, kamu gak papakan aku tinggal dulu,"  ujar Rafa.


"Gak papa kok kak, nanti Nayra boleh datang yah?"  tanya Nayra.


"Iya boleh, lagian hari ini aku praktek cuma sampai jam 12,"  jawab Rafa yang mengizinkan Nayra untuk datang kerumah sakit.


Setelah selesai mengancingkan kemejanya, Rafa pun mengelurkan jas putih kebanggaanya dari dalam lemari.


"Boleh Nayra yang pakeiin?" tanya Nayra saat Rafa hendak memaki jas putihnya. Sedari dulu Nayra bercita-cita  bisa punya suami seorang dokter dan kini cita-citanya tersebut diwujudkan oleh Rafa.


Rafa pun menghentikan kegiatannya memakai jas miliknya lalu menyodorkannya kearah Nayra.


Nayra mengambil jas tersebut dan membantu Rafa memakai jas dokternya setelahnya Nayra pun bergerak memperbaiki kerah kemeja milik Rafa, sekarang ia terlihat lebih tampan dari biasanya meskipun sebenarnya Rafa sudah tampan sejak lahir.


"Selesai," ujar Nayra menepuk pelan jas milik Rafa. Sekarang ia sudah merasa tak malu lagi, Rafa benar jika tak ada yang harus dimalukan lagi, toh Rafa adalah suaminya sekarang.


Cup


Rafa menghadiahi satu kecupan di pipi kiri Nayra, tepat di lesung pipi miliknya.


Nayra kaget dan reflek melihat kearah Rafa yang tiba-tiba mengecup pipinya,


Rafa terkekeh melihat wajah kaget Nayra, ia pun mengacak rambut Nayra dengan pelan seraya berucap "anggap aja itu bonus buat kamu." Ujar Rafa.


Blush


Memerah sudah pipi Nayra saat mendapat perlakuan tak terduga dari Rafa. Nayra tak menduga jika Rafa bisa bersikap manis juga seperti sekarang ini.


***


Nayra tersenyum saat dirinya sudah sampai di rumah sakit tempat Rafa bekerja. Nayra melirik kearah jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.


Nayra pun masuk dan berjalan kedalam rumah sakit seraya menenteng paperbag berisi makanan,   susah payah ia masak dengan dibantu oleh ibu mertuanya, bahkan beberapa kali tangannya sempat teriris pisau dapur.


"Permisi sus," ujar Nayra saat ia tiba di depan meja resepsionis.


"Iya, apa ada yang bisa kami bantu?"  ujarnya.


"Saya mau bertanya apakah dokter Rafa sudah selesai praktek hari ini?" tanya Nayra.


"Dokter Rafael Reinhard bukan?" tanyanya.


"Yah benar sus,"  ujar Nayra.


"Sudah mbak, dokter Rafa hari ini selesai praktek sampai jam 12 siang, tapi sepertinya jika anda mau berkonsultasi sebaiknya kembali saja lusa karena jam praktek dokter Rafa sudah selesai,"  ujarnya.


"Tidak sus, saya tidak mau konsultasi, saya hanya ada urusan pribadi," ucap Nayra.


"Anda bisa duduk disana sembari menunggu dokter Rafa keluar" ujarnya.


"Terima kasih sus,"


"Iya sama-sama,"


Nayra pun duduk dikursi dan menunggu Rafa.


"Hai...."  ujar seorang pria dan mengambil tempat duduk di samping Nayra.


Nayra melihat wajah orang tersebut, ia ingat siapa pria tersebut, pria yang pernah menolongnya saat terluka beberapa hari yang lalu.


"Hei, kamu masih kenal denganku? Namaku Rion,"  ujarnya mengajak Nayra kenalan.


"Nayra,"


"Emmm....bagaimana dengan lukamu apa sudah sembuh?" tanyanya.


"Sudah lebih baik,"  jawab Nayra.


"Kamu mau menunggu dokter Rafa?"


"Iya benar"


"Dokter Rafa sedang  ada urusan dengan dokter Nayla, mereka sangat dekat akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?"  ujarnya menawari Nayra untuk ikut dengannya.


Rafa yang berjalan bersama Nayla melihat Rion yang berusaha untuk mendekati Nayra. Rafa menatap tak suka kearah Rion.


Rafa pun meninggalkan Nayla lalu beranjak menghampiri Nayra.


"Nayra..."  panggilnya saat ia sudah tiba di depan Nayra.


"Kak Rafa?"


"Ikut aku!"  ujar Rafa menarik Nayra menjauh darisana meninggalkan Rion.


Tbc


Aa Rafa cemburu yah sama neng Nayra?🤭


Jangan lupa vote dan coment guys