
***
Rafa berlutut di tanah begitu ia berhasil keluar dari tempat tersebut. Ia sama sekali tidak menemukan Nayra ada di dalam sana, usahanya untuk menyelamatkan Nayra menjadi sia-sia. Keringat sudah mengucur deras di kening dan pelipisnya.
Bantuan datang sedikit terlambat. Api baru bisa dipadamkan setelah setengah dari bangunan tersebut habis dilahap api.
Rafa meratapi nasib buruk yang sedang menimpanya. Ia merasa dirinya tak becus. Ia masih ingat jika tadi pagi Nayra masih ada bersamanya. Namun sekarang semua seolah sirna, tak ada Nayra lagi.
"Aku..." Rafa tak melanjutkan ucapannya lagi, air mata mulai keluar dari sudut matanya, untuk pertama kalinya seorang Rafael menangis karena seorang wanita.
"Maafkan aku," ujarnya.
"Bayi kita bahkan belum lahir, tapi kenapa kamu pergi, kamu belum mengijinkan aku untuk melihatnya. Kenapa Nayra? Kenapa?" tanya Rafa yang berbicara sendiri.
"Kakak..."
"Bahkan disaat kamu pergi pun suara itu masih ada,"
"Kakak, tolong...ini..ssakit..sekali.."
"Aku..."
"Ih, KAKAK..."
Rafa terkejut dan memutar tubuhnya ke arah belakang.
"Na..yra?"
"Pinggang Nayra sakit kak, darahnya makin banyak Akh..."
"Ini beneran kamu kan?" tanya Rafa menyentuh wajah Nayra.
Nayra mengangguk. Dengan cepat Rafa memeluk Nayra dengan erat, menghujaninya kecupan hangat di atas kepala Nayra.
"Jangan tinggalkan aku, tolong jangan lakukan itu lagi! Itu membuat aku ketakutan setengah mati," Uuar Rafa seraya kembali mengecup kepala Nayra. Ia lega saat mengetahui jika istri mungilnya sudah kembali. Kehilangan Nayra adalah suatu ketakutan untuk Rafa.
"Kak..ssakit.."
"Kenapa? Mana yang sakit?" Rafa melepas pelukannya dan memegang bahu Nayra.
"Hiks..hiks...dia..mau bunuh anak kita kak," ujar Nayra terisak di depan Rafa.
"Dia siapa? Nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu dan anak kita," ujar Rafa.
Nayra menggeleng dan membawa tangan Rafa menuju pinggangnya yang luka. Rafa terkejut saat mendapati luka tusuk yang berada di pinggang Nayra.
"Nayla. Dalang dibalik semua ini adalah Nayla, tapi itu nggak penting sekarang. Sekarang lo harus bawa Nayra dan obatin lukanya sebelum parah. Urusan Nayla biar gue yang urus," sela Rion yang berada tak jauh darisana. Pasalnya Rionlah yang telah menyelamatkan Nayra tadi. Dirinya juga nekat masuk ke dalam kobaran api dan beruntungnya menemukan Nayra lebih cepat.
Tanpa pikir panjang Rafa langsung menggendong Nayra dan membawanya menuju posko. Memberikan pertolongan yang bisa ia lakukan untuk menolong Nayra.
Setelah beberapa saat akhirnya Rafa selesai membersihkan dan mengobati luka Nayra. Untungnya hanya luka ringan dan tidak mengenai bagian yang bisa berakibat fatal.
"Sekarang kamu istirahat yah biar cepat sembuh. Jangan banyak gerak dulu!" ujar Rafa menarik selimut dan menutupi tubuh Nayra yang masih terbaring.
Perlahan Nayra mulai merasa tenang dan akhirnya menutup matanya. Rafa yang melihat itu menyentuh dan menggenggam sebelah tangan Nayra dengan erat.
***
"Apa alasan lo ngelakuin semua ini? Lo bener-bener gila. Lo sadar nggak sih tingkah lo barusan hampir menghilangkan nyawa seseorang," ucap Rion yang menemui Nayla yang malah mengelak, seolah ia tak pernah melakukan apa-apa.
"Cih, jadi wanita itu belum mati juga? Sial..apa tusukannya kurang dalam?" tanya Nayla yang sedang berdiri membelakangi Rion.
"Dari awal gue emang udah tau kalau lo adalah dalang dibalik ini semua," ucap Rion.
"Ternyata otak lo lumayan cerdas juga dalam urusan tebak menebak. Iyah itu benar. Gue emang sengaja kurung wanita itu, gue juga yang udah bakar tempat itu, tapi kenapa wanita bodoh itu belum mati juga? KENAPA? Dari dulu gue nggak pernah ngerasain apa itu arti cinta yang sesungguhnya, gue nggak pernah ngerasain gimana rasanya disukai dan di cintai laki-laki yang bisa nerima gue apa adanya. Lo tahu kenapa? Itu karna gue jelek! Wajah gue buruk! Dan waktu itu gue mulai berpikir gimana caranya biar wajah gue bisa cantik dan gue berharap bakal bisa nemuin laki-laki yang bisa cinta dan nerima gue apa adanya. Dan setelah kenal sama Rafa, jujur gue langsung suka, gue jatuh cinta sama dia, tapi kenapa lagi-lagi gue harus patah hati, gue nggak terima kalau Rafa lebih memilih Nayra dibanding gue," ucap Nayla panjang kali lebar.
"Dan lo rela ngelakuin segala cara untuk mewujudkan obsesi lo itu? Lo nggak perlu menjadi sosok yang lain untuk mendapatkan semua itu,cukup jadi diri lo sendiri," ujar Rion.
"Nggak usah sok baik lo, nggak bakal ada yang mau nerima gue, gue udah tua ri, gue sadar sekarang, gue emang nggak pantes mendapatkan semua itu,' ujar Nayla tertunduk.
"Siapa bilang nggak ada yang mau sama lo? Pas..." Tanya Rion.
"Cih, gue nggak butuh dikasihani, gue benci itu," Ujar Nayla.
Rion tersenyum sinis ke arah Nayla. Lalu melangkah beberapa langkah.
"Lo sendiri gimana? Gue tau lo juga berada di posisi yang sama gue. Nggak usah sok kuat kalau keinginan nggak sesuai realita," ucap Nayla yang membuat Rion menghentikan langkahnya.
"Kita beda. Gue lebih pintar, nggak begok kaya lo," ujar Rion memasukkan kedua tangannya di saku celana kainnya.
"Bullshit, gue tau lo juga suka kan sama perempuan itu. Disini kita cuma beda cara untuk dapetin apa yang kita mau," ujar Nayla.
"Gue emang suka sama Nayra, tapi gue masih punya hati. Gue bahagia selama wanita yang gue cintai bahagia dan gue nggak mau ngerusak kebahagiaan dia," ujar Rion yang berlalu menjauhi Nayla, tanpa ia sadari tadi jika seseorang telah mendengar perkataannya barusan.
"Tarik lagi kata-kata lo sebelum gue habis kesabaran, lo nggak sadar sama yang lo bilang barusan. Wanita yang lo maksud itu istri gue," ujar Rafa yang keluar dari persembunyiannya. Niat awalnya adalah mencari Nayla, namun malah mendengar pengakuan Rion yang membuat darahnya mendidih.
"Jawab brengsek!" tekan Rafa yang sudah mengepalkan tangannya.
"Gue emang suka sama Nayra, kenapa? Apa lo merasa keberatan untuk itu?" jawab Rion menantang balik.
Bugh
Satu kepalan tinju mendarat di dagu Rion. Rafa yang tersulut emosi mendorong tubuh Rion hingga terjerembab ke tanah. Namun Rion hanya diam dan tidak memberikan perlawanan.
Nayla yang melihat itu hanya tersenyum sinis menyaksikan keduanya.
"Dasar pria-pria bodoh, memperebutkan wanita yang bodoh dan lemah. Ini kesempatanku untuk melanjutkan misi selanjutnya," ujar Nayla beranjak pergi darisana.
"Lo.." ucap Rafa
"Dokter Rafael, Kak Nayra sudah bangun dan memanggil nama dokter," ujar Berta yang datang dengan tergopoh-gopoh.
Mendengar nama Nayra, Rafa langsung membalikkan badannya ke arah Berta.
"Benarkah? Saya kesana sekarang," ujar Rafa yang bergegas kembali menuju posko.
Rafa berlari memasuki posko dan menemui Nayra. Betapa terkejutnya Rafa saat melihat pemandangan di depannya.
"Hiks...hiks...tolong..lepaskan.." Nayla berdiri disamping brankar Nayra dan sedang mencekik lehernya sehingga membuatnya kesakitan bercampur ketakutan. Wanita itu nekat ingin membunuhnya lagi.
Dengan sigap Rafa menarik Nayla dan menjauhkannya dari Nayra.
"Uhuk..uhuk.." Nayra terbatuk-batuk karena cekikan Nayla.
"Lo bener-bener keterlaluan!" ucap Rafa.
"Gue ngelakuin ini karena lo fa, karena lo lebih milih wanita bodoh itu dibanding gue, maka biarin gue singkirin wanita itu, dia nggak pantes buat lo," ucap Nayla yang hendak mendekati Nayra lagi.
"NAYLA!"
"Lo harus mati!" Nayla menerobos Rafa dan hampir kembali mencekik Nayra yang sudah ketakutan.
Rafa menahan kedua tangan Nayla dan menghempaskannya.
"Biarin gue bunuh dia, gue tau, gue tau lo nggak cinta kan sama wanita bodoh itu, iya kan? Jawab Rafa! Iya kan?" ucap Nayla.
Rafa diam sejenak.
"Diam, berarti itu artinya iya. Hahaha.." Nayla tertawa dan mendekati Rafa. Mengalungkan kedua tangannya di leher Rafa dengan lancang di depan mata Nayra.
Nayra menggeleng tak percaya, Rafa tak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Nayla barusan. Apa benar Rafa tak ada sedikitpun perasaan untuk dirinya.
Nayla menjulurkan kedua tangannya untuk mengelus kedua pipi Rafa secara bersamaan dan perlahan menarik tengkuk Rafa agar mendekat padanya. Bibir keduanya hanya berjarak tinggal beberapa centi lagi sedangkan Rafa hanya pasrah dan tak menolak.
Nayra merasa ulu hatinya bagai diremas-remas. Air matanya turun dengan derasnya, sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk mengelus perutnya. Sakit di pinggangnya taklah sebanding dengan sakit hatinya saat ini.
"Dia jahat, Mama benci dia," batin Nayra yang sudah tak tahan lagi.
Tiba-tiba.
Aw...
"Sakit..lepasin gue," ucap Nayla saat tiba-tiba tangan Rafa menarik kedua tangannya dan menyimpannya di belakang tubuh Nayla.
Rafa tersenyum miring.
"Kenapa? Berharap kalau gue bakal cium lo begitu? Sepertinya itu hanya akan menjadi mimpi lo. Dan satu lagi, denger baik-baik omongan gue, gue hanya akan bicara sekali dan tidak ada pengulangan. Gue hanya akan mencintai satu wanita yang bisa buat gue nyaman dan sudah dipastikan kalau wanita itu bukan lo," ujar Rafa di telinga Nayla.
"Cih, apa kau mencintai wanita bodoh itu?" tanya Nayla melirik ke arah Nayra.
"Yah dia wanita yang bodoh," ujar Rafa.
Air mata Nayra semakin banyak saat mendengar Rafa mengatainya bodoh. Nayra menyeka air matanya dengan kasar dan berniat turun dari atas brankar.
"Tapi aku mencintainya.." ujar Rafa pelan tapi masih bisa didengar jelas oleh Nayra.
Tbc.
Masukan buat part ini apa?
Masukan buat author apa?
Maaf menggantung😅, daripada ngga up sama sekali soalnya lagi sibuk😁.
Jangan lupa voment yah.