The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Together



***


   Nayra sudah duduk selama 2 jam di sebuah kafe untuk menunggu Rafa, pria itu meminta Nayra untuk menunggu disana karena ia tak bisa menjemput Nayra di rumah. Padahal kemarin Rafa yang berjanji akan menjemputnya, namun nyatanya pria itu tak bisa menjemputnya dikarenakan kesibukan dirinya yang tak Nayra ketahui


Ping


Sebuah notifikasi chat  via WhatsApp  masuk  di ponsel milik Nayra. Nayra langsung mengusap layar ponselnya dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Rafa.


"Lo dimana? Gue udah di depan kafe," 


Nayra pun mengetikkan balasan untuk Rafa.


"Nayra didalem, di meja pojok," 


Nayra melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 siang, ia kecewa karena Rafa telat untuk menjemputnya, ia rela menahan rasa bosan demi Rafa.


"Sorry udah nunggu lama,"  ujar Rafa yang datang dan duduk di depan Nayra.


"Iya gak papa, Nayra tau kok,"  ujar Nayra.


"Lo marah sama gue?" tanya Rafa seraya melepas jas miliknya dan meletakkannya diatas meja.


"Nggak kok, Nayra gak marah. Cuma capek aja nunggu sampai lumutan,"  ujar Nayra seraya menyendok cake cokelat ke dalam mulutnya.


Rafa terkekeh mendengar ucapan Nayra yang terkesan menyindir, ia tahu jika gadis di depannya ini kesal padanya karena ia telat datang.


"Gue minta maaf, lain kali kalau kita jalan kaya gini bakalan tepat waktu kok,"  ujar Rafa  seraya mengambil sembarang minuman milik Nayra dan menyeruputnya sampai habis, perjalanannya kesini cukup membuat tenggorokannya panas, apalagi keadaan di luar sedang panas terik.


"Ish, kak Rafa. Itu minuman Nayra kok dihabisin sih?" ujar Nayra protes.


Rafa nyengir watados kearah Nayra lalu meletakkan gelas minuman milik Nayra.


"Gue haus nay. Jadi cewek jangan pelit-pelit banget, baru juga minuman doang, entar gue gantiin kalau perlu sekalin sama kafe ini gue taruhin buat lo," ujar Rafa.


"Ya tapi Nayra belum sempet minum tadi,"  ujar Nayra.


"Iya bentar gue pesanin lagi,"  ujar Rafa yang melambaikan tangan kearah pelayan dan memesan hidangan makan siang untuk mereka berdua. Nayra langsung tersenyum senang saat Rafa memesan makanan yang baru, itu artinya dia masih punya banyak waktu untuk dekat dan mengobrol dengan Rafa hari ini.


Beberapa saat kemudian pesanan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Nayra dengan semangatnya langsung menyantap hidangan makan siang mereka, sedangkan Rafa  sedari tadi terus memperhatikan cara makan Nayra yang sangat lahap sampai belepotan disana-sini. Spontan kedua sudut bibirnya terangkat karena melihat Nayra yang sedang makan, baginya Nayra tak pernah berubah sejak pertama kali dirinya mengenal sosok Nayra. Rafa memang sudah kenal lama dengan Nayra yang merupakan anak Dwi sahabat mommnya  sejak SMA. Sejujurnya Rafa menyayangi Nayra yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sama seperti posisi Liora.


"Kakak gak makan juga? Kok malah lihatin Nayra makan?" tanya Nayra yang melap sudut bibirnya dengan selembar tissue yang tersedia diatas meja.


"Gak laper gue, lihat lo makan lahap kaya gitu bikin gue kenyang,"  ujar Rafa menyeruput jus miliknya lalu menarik selembar tissue lagi dan menyerahkannya kearah Nayra. Nayra menatap kearah sodoran tissue yang diberikan Rafa padanya.


"Itu bibir lo belum bersih semua,"  ujar Rafa.


Nayra pun tersenyum malu dan menerima sodoran tangan Rafa dan dengan cepat melap sudut bibirnya yang kata Rafa belum bersih.


"Bukan disitu tapi disini," ujar Rafa menggerakkan tangan Nayra dan melap sudut bibirnya yang masih ada noda makan, otomatis badan Rafa sedikit condong kearah depan dan Nayra bisa mencium bau nafas Rafa yang beraroma mint. Rafa memang bukan tipe pria perokok, hal ini merupakan nilai plus dimata Nayra mengapa ia menyukai sosok Rafa, karena Nayra suka tipe pria yang sehat dan tidak perokok seperti Rafa.


Mata Nayra melotot saat Rafa sangat dekat dengan wajahnya, jantungnya sudah dag dig dug ser sedari tadi. Rasa-rasanya ia mau meleleh saja sekarang, ternyata berdekatan dengan Rafa tak baik untuk kesehatan jantungnya, tapi ia bertekad dalam hati akan membiasakan dirinya agar tidak grogi lagi saat berdekatan dengan Rafa. Masih begini saja sudah grogi setengah mati belum lagi nanti saat udah benar-benar sah.


Rafa pun menjauhkan wajahnya dari Nayra dan kembali duduk dengan benar, sedangkan Nayra langsung meminum jus miliknya tanpa menoleh lagi kearah Rafa yang masih saja terus memandangnya.


"Muka lo merah nay,"  ujar Rafa seraya memangku tangan dan terus memandang Nayra yang sudah blushing dengan sendirinya, Rafa sangat menyukai itu.Nayra berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ia temui dari dulu, ia juga masih tak percaya jika gadis di depannya ini akan berganti status menjadi istrinya. Entah dorongan darimana ia langsung terpikir untuk memilih Nayra saat orang tuanya mendesaknya agar segera menikah ditambah ia juga ingin menepis perkataan Nayra bahwa dirinya bukanlah seorang pria gay.


"Jangan diliatin terus, aku malu," ujar Nayra seraya meraba kedua pipinya yang sudah memanas.


"Iya-iya, yaudah abisin makanan lo, habis ini kita jalan!"  ucap Rafa yang juga menyantap makanannya dan sesekali melirik kearah Nayra yang masih malu.


***


"Kita mau kemana kak?" tanya Nayra saat mereka sedang di perjalan ke sebuah tempat yang tidak Nayra ketahui, hanya Rafa sendiri lah yang tahu.


"Bentar lagi lo juga tahu,"  ujar Rafa yang masih fokus menyetir mobilnya.


"Mmm....kak,"  panggil Nayra sedikir ragu, ia ingin menanyakan sesuatu yang sedari tadi sudah mengganjal di dalam hatinya.


"Kenapa?" tanya Rafa melihat sebentar kearah Nayra yang duduk disampingnya.


"Nayra mau tanya sesuatu,"  ujar Nayra.


"Mau nanya apa?"


"Mmm...kriteria wanita idaman kakak sebenernya kaya gimana sih? Tante Alea bilang kak Rafa gak pernah deket sama cewek lain?" tanya Nayra.


"Gue bukannya gak pernah deket sama cewek, cuman gue malas  aja buat memulai hubungan yang lebih serius lebih dari sekedar dekat,"  jawab Rafa.


"Ya deket sewajarnya aja, gue orangnya welcome. Gue bisa aja deket, tapi cuma sekedar kenalan atau rekan kerja doang gak lebih,"  ujar Rafa.


Nayra akhirnya bisa lega saat mendengar jawaban Rafa langsung, sepertinya Rafa benar-benar serius dengan ucapannya.


"Kalau wanita idaman Kak Rafa yang kaya gimana?" tanya Nayra dan berharap jika Rafa jujur. Ia ingin tahu seperti apa tipe wanita yang Rafa sukai.


Hening sejenak.


"Yang pasti cewek dan bukan bencong ataupun gay,"  ujar Rafa.


"Nayra serius kak,"


"Gue suka cewek yang lebih pendek dari gue,"  ujar Rafa blak-blakan.


"Kenapa harus pendek?"


"Biar gue bisa lindungin dia dibalik punggung gue," ujar Rafa sederhana namun sarat akan makna. Nayra tak tahu jika jawaban yang ini benar atau tidak. Walaupun ia sedikit senang saat mendengar ucapan Rafa. Wanita bertubuh pendek, mungkinkah itu dirinya? Karena Nayra juga termasuk dalam wanita kriteria bertubuh pendek.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Rafa terhenti di depan sebuah butik yang beberapa hari lalu sempat ia kunjungi dan tentunya tanpa pengetahuan Nayra.


Rafa keluar dari dalam mobil diikuti oleh Nayra yang juga keluar dari mobil, meskipun ia tak mengerti mengapa Rafa mengajaknya ke tempat seperti ini. Keduanya pun berjalan berdua menuju kedalam butik tersebut.


"Hei...hei...akhirnya you dateng juga say, eike udah dari pagi loh nungguin you. Ngemeng-ngemeng calon istri you yang mane? Eike mau lihat?"  seorang pria lemah gemulai dan berambut pirang menyambut kehadiran Rafa dan juga Nayra.


"Oh iya kenalin ini Nayra bang, dia ini calon istri saya,"  ujar Rafa tanpa beban saat mengatakan  jika Nayra adalah calon istrinya.


"Wait...wait...mantep juga pilihan you, nemu dimana say?"  tanyanya seraya mendekati Nayra dan mencolek dagu Nayra.


"Nayra ini anak Tante Dwi bang,"  ujar Rafa menjelaskan. Pasalnya butik tersebut merupakan butik langganan Mommnya dan juga mama Nayra.


"Woah...pantesan mirip. Oh iya kenalin say nama eike Agustina. You bisa panggil bang Agus,"  ujarnya memperkenalkan dirinya di depan Nayra.


"Nayra," jawab Nayra yang kembali memperkenalkan dirinya.


"Kalau gitu you ikut eike say, ada sesuatu yang mau eike tunjukin,"  ujarnya seraya menarik tangan Nayra untuk menjauh darisana.


Nayra pun hanya mengikut saat Rafa juga mengangguk pelan pertanda ia mengizinkan  Agustina untuk mengajaknya. Keduanya pun berjalan mengitari butik sembari Agustina yang sedari tadi berceloteh panjang kali lebar.


"Nah ini dia, you pake dulu say, pasti cocok banget sama you. Gaun ini dipilih sendiri sama Rafa,"  ujar Agustina seraya menunjukkan gaun pengantin model sabrina kearahnya. Begitu melihatnya Nayra langsung jatuh  hati pada gaun itu.


"Tunggu apalagi, cus dipake say,"  ujarnya memberikan gaun itu ketangan Nayra, kemudian Nayra membawanya menuju ruang ganti dan memakai gaunnya yang terlihat sangat pas ditubuhnya.


Nayra pun keluar dari ruang ganti dan berjalan kearah Rafa yang sedang menunggu di atas sofa. Ia ingin meminta pendapat Rafa untuk gaun yang sedang ia kenakan.


Jika kebanyakan pria akan melotot saat melihat calon istrinya memakai gaun pengantin, beda halnya dengan Rafa, ia adalah mahluk yang pintar dalam menjaga ekspresinya. Rafa terlihat biasa  saja.


"Nggak bagus yah?" tanya Nayra karena melihat wajah Rafa  yang biasa saja.


"Bagus kok, gue suka,"  ujar Rafa.


Nara pun tersenyum setelah mendengar ucapan Rafa barusan. Ternyata selera Rafa bagus juga.


***


"Gue balik dulu, jangan lupa makan sama istirahat," ujar Rafa saat ia mengantar Nayra pulang.


"Iya, kakak juga," ujar  Nayra tersenyum.


"Nay,"


"Iya kak?"


"Gue balik dulu, inget sama apa yang gue bilang tadi,"  ingatkan Rafa.


"Iya kak, Nayra inget kok. Hati-hati baliknya ,"  ujar Nayra.


Rafa mengangguk kemudian menutup kaca mobilnya dan membunyikan klakson mobilnya.


Tin...tin..


Perlahan mobil Rafa pun melegang membelah jalan raya, langit sudah tampak menunjukkan  raut jingganya. Nayra tersenyum lalu berjalan masuk kedalam rumah. Kedepannya akan menjadi hari-hari yang panjang.


                              TBC 💕