The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 9



“Putra Mahkota Langit masih muda, tetapi dia harus memenuhi takdirnya sebagai seorang pangeran dan seorang pendeta, maka dari itu dia harus mengemban tanggung jawab yang besar sejak kecil. Dia tumbuh mengikuti aturan dan patokan untuk setiap hal, dia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Semua orang mengenalnya, tetapi sangat sedikit orang yang mengenal hatinya. Itulah mengapa ketika dia mengatakan hal demikian, sebenarnya itu adalah hatinya yang berbicara. Tetapi, tidak seorangpun akan mempercayainya, karena tidak seorangpun mengenal hatinya.


Sementara untuk Hymne, ketika wanita itu mendengar perkataan sang Putra Mahkota Langit, dia terkejut dan menghentikan langkahnya. Dari gerakan topinya, dia sedang menatap sang pangeran. Tidak ada suara di antara mereka pada waktu itu, bahkan sang pangeran pun menutup mulutnya lagi, tidak melanjutkan kata-katanya. Ada keheningan murni di antara mereka yang diisi suara dari alam.


Kemudian, keheningan itu pecah dengan suara tawa merdu Hymne. Tawa itu tidak keras, tidak terdengar menertawakan karena kekonyolan, tidak terdengar terkejut, tidak juga terdengar tidak percaya. Hymne kemudian secara reflek menarik tangannya ke dalam selubung hitamnya, berusaha meredam tawanya.


“Tuan, Anda sungguh baik!” seru wanita itu di antara tawanya. Ketika dia berhenti tertawa, dia melanjutkan, “Saya membayangkan Anda akan berhenti menemui saya, tidak menganggap pernah mengenal saya, atau bahkan membenci saya. Tetapi Anda justru menawarkan diri untuk menjadi partner saya berburu! Tuan oh, tuan. Saya tidak mengerti apa yang Anda pikirakan, tetapi saya sungguh beruntung mengenal Anda. Saya sangat bersyukur dunia masih punya seorang yang baik seperti Anda sebagai pendetanya, Anda akan menjadi sosok pembawa berkah ke manapun Anda pergi.”


Rasa heran yang sebelumnya mewarnai wajah sang pangeran ketika Hymne tertawa kini sirna. Dia kini menatap Hymne dengan rasa heran yang lebih hebat lagi. “Saya… tidak mengerti,” kata Putra Mahkota Langit. “Apakah saya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan?”


“Tidak tuan, sama sekali tidak. Bagaimana saya mengatakannya? Tunggu sebentar, saya merasa malu. Anda baru saja menyentuh hati saya,” jawab Hymne. Wanita itu berdeham kecil. “Tuan, terima kasih banyak. Saya sangat merasa terhormat dengan tawaran Anda. Tetapi, tolong jangan salah paham, saya tidak bisa menerima tawaran Anda. Anda adalah seorang pendeta yang mumpuni dan bersahaja, kerajaan Anda pasti sangat membutuhkan Anda, dan ada banyak orang yang akan sangat bergantung pada Anda. Saya tidak punya hati untuk mengambil Anda dari semua itu.


"Anda harus tetap ada untuk orang-orang itu, tidak seperti saya yang datang dan pergi sembunyi-sembunyi dalam waktu singkat, Anda harus selalu ada sebagai sosok seorang pahlawan yang membuat orang-orang merasa aman. Mengambil Anda untuk mengikuti jejak saya akan menyia-nyiakan potensi Anda, dan itu akan mematahkan hati saya. Tolong jangan lakukan itu untuk saya, tuan. Anda berhak atas kedudukan yang telah Anda terima.”


Kata-kata wanita itu sangat tulus, dan sejujurnya, Putra Mahkota Langit menyadari kebenaran di balik kata-kata itu. Betapapun dia ingin mengikuti jejak si wanita pengembara, kerajaannya masih membutuhkannya, terutama rakyatnya. Dia tidak bisa meninggalkan posisinya begitu saja di kerajaannya.


Meskipun begitu, dia kembali berkata, “Nona, saya mengerti pertimbangan Anda, bahkan saya mempertimbangkan hal yang sama dengan Anda. Tetapi, bolehkah Anda memberi saya kesempatan? Saya bilang saya akan mempersiapkan diri, izinkan saya mengenal cara hidup Anda lebih jauh supaya saya dapat belajar dan menimbang lebih jauh. Untuk selanjutnya apakah saya akan tetap dengan kedudukan saya sebagai seorang pendeta, atau mengikuti Anda, itu bisa kita abaikan untuk sementara waktu. Maukah Anda memberi saya kesempatan?”


“Apa yang Anda inginkan?”


“Saya akan mengikuti Anda selama tujuh hari, kemanapun Anda pergi dan apapun yang Anda lakukan, saya akan menemani Anda. Dalam tujuh hari tersebut saya akan belajar mengenai metode Anda bekerja, serta mengenal Anda lebih jauh. Apakah Anda keberatan?”


Hymne terdiam sebentar. “Saya akan senang memiliki seorang teman seperjalanan.”


Dan demikianlah sang pangeran untuk pertama kalinya berhasil memaksakan kehendak hatinya. Dengan Hymne, seolah segalanya adalah pertama baginya. Pertama kali berinteraksi dengan seorang wanita diluar hubungan profesional, pertama kali merasa malu untuk memanjatkan permohonan agar dipertemukan dengannya, pertama kali menyuarakan suara hatinya, pertama kali memaksakan kehendaknya, pertama kali mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika sudah seperti ini, rasanya mustahil baginya untuk melepaskan keterikatannya dengan wanita itu.


Sebagai tindakan berjaga-jaga, Putra Mahkota Langit kemudian diam-diam meminta ketiga pemuda untuk mengantarkan surat ke kerajaannya. Dia menyatakan bahwa dia memiliki urusan yang harus dilakukan di beberapa kota, dan bahwa dia akan kembali ke istana lewat dari seminggu. Dia melakukannya agar istananya tidak geger ketika dia pergi untuk waktu lama tanpa kabar, dan tidak berbekal persenjataan atau persediaan konsumsi.


Sejauh ini, semua orang di istananya tahu bahwa dia pergi untuk memetik Bunga Lembayung Senja, dan karena kegiatan ini sudah rutin, mereka bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan sang Putra Mahkota Langit untuk pergi hingga kembali ke istana. Akan aneh jika dia menghabiskan waktu lebih lama dan tanpa kabar. Maka dari itu dia mengirimkan suratnya, lalu memberi upah emas kepada ketiga pemuda itu, semua tanpa diketahui Hymne.


Selama tujuh hari perjalanannya, mereka menghabiskan waktu di 3 tempat, seringnya di sebuah desa yang terpencil, bahkan sang Putra Mahkota Langit pun tidak pernah tahu keberadaan desa-desa tersebut. Mereka beristirahat di hutan, berburu binatang liar untuk makan, sesekali dipersilakan menginap di rumah seseorang yang telah mereka bantu, semua dilakukan mengikuti apa yang biasa dilakukan Hymne. Selain mengetahui cara berkelana yang dilakukan Hymne, Putra Mahkota Langit juga mengetahui hal baru mengenai kehidupan wanita itu sendiri.


“Saya dulu bilang ibu saya memutuskan untuk mengikuti ayah saya, meninggalkan keluarganya. Ayah saya seorang iblis, namun dia istimewa karena dia mau merasakan hidup seperti manusia seperti ibu saya. Mereka hidup miskin untuk waktu yang lama, ayah saya selalu pergi untuk berdagang ke kota lain sementara ibu saya tinggal di rumah, jauh dari keramaian. Saya belajar bagaimana bertahan hidup dalam kondisi sulit selama itu. Jika Anda tidak merasa nyaman, tolong katakan saja. Saya akan mengikuti cara hidup Anda.”


Tetapi Putra Mahkota Langit tidak merasa tidak nyaman, jadi dia segera menepis perkataan itu. Dia melanjutkan bertanya banyak hal, dan akhirnya dia bisa menyusun sebuah alur cerita mengenai hidup Hymne di kepalanya sendiri.


Ibu Hymne bertemu dengan seorang pria asing, lalu jatuh cinta, tanpa dia tahu bahwa pria itu adalah iblis. Ketika mengetahui bahwa pria itu iblis, pria itu menyelamatkannya dari serangan hantu. Karena mereka sejak awal saling mencintai, ibunya memutuskan meninggalkan keluarganya untuk menikah dengan si pria. Dia melakukannya untuk melindungi identitas suaminya.


Keduanya dikaruniai 2 orang anak, Hymne dan seorang adik laki-laki. Keluarga kecil itu hidup dengan susah payah, namun mereka bahagia. Tetapi seperti yang Hymne katakan sebelumnya, para iblis dan hantu sangat tertarik pada keluarga kecil mereka, jadi suatu hari sekumpulan iblis dan hantu berusaha menyerang keluarga itu. Ayahnya menghadapi mereka, sementara ibu dan kedua anaknya lari kembali ke keluarga sang ibu. Untuk waktu yang lama sang ayah tidak pernah kembali, sampai suatu hari ibunya sakit dan akhirnya meninggal, hanya pada waktu itulah ayahnya kembali. Itulah pertemuan terakhir Hymne dengan kedua orangtuanya, ayahnya pergi setelah itu, menghilang entah ke mana.


“Bagaimana dengan adik laki-laki Anda?” tanya Putra Mahkota Langit kemudian. Dia berusaha menanyakan apakah adik laki-lakinya adalah sosok individu yang sama dengan Hymne atau tidak.


“Adik laki-laki saya tidak terlalu jauh terpaut usia dari saya, dan dia sudah dewasa dengan caranya sendiri. Dia adalah anak yang selalu ingin tahu, dan ketika dia tidak puas dengan satu jawaban dia akan mencari sendiri jawaban lain. Dia tumbuh berbeda dengan saya, dia selalu ingin pergi dan melakukan banyak hal, maka dari itu dia tidak begitu dekat dengan saya ataupun ibu saya, tetapi dia akan sangat senang jika bertemu ayahnya. Sekarang pun ketika kami sudah dewasa, dia masih senang pergi bersama teman-temannya, melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apa. Saya yakin dia telah lama menemukan sesuatu yang membuatnya tumbuh menjadi dewasa. Meskipun kami tidak begitu dekat, saya tetap menyayanginya.”


Jelas bagi Putra Mahkota Langit bahwa hubungan kakak adik Hymne tidak seperti dirinya dan Putra Mahkota Bumi. Hubungan Hymne dan adiknya terjalin dengan cara yang berbeda, dilandasi latar belakang yang unik, jadi keduanya tidak bisa dihakimi dengan sebelah mata.


Kemudian, dia melanjutkan pertanyaannya. “Apakah Anda menggunakan penutup wajah ada hubungannya dengan darah campuran Anda?”


Kali ini Hymne terdengar bimbang. “Hmm, saya rasa tidak juga, tetapi mungkin ada sedikit hubungannya. Yang jelas, saya masih merasa malu jika seseorang harus menatap saya.”


“Sejak kapan Anda mengenakannya?”


“Sejak saya lahir mungkin?” Hymne terkekeh lembut. “Tidak, saya tidak bercanda. Ibu saya membiasakan saya mengenakan cadar, menyisakan mata saja. Tapi lama kelamaan beliau bilang bahwa saya merasa malu ketika orang-orang menatap saya, jadi beliau memakaikan topeng atau kain untuk menutupi wajah saya. Semakin saya dewasa, saya tidak pernah lepas dari penutup wajah, apapun bentuknya.”


Dalam benak Putra Mahkota Langit sempat terlintas pikiran bahwa ada sesuatu yang membuat Hymne terus menerus mengenakan selubung. Setelah mendengar ceritanya dan mendengar bahwa orang-orang menatapnya, dia merasa bahwa pikirannya mungkin benar. Sebenarnya ia ingin bertanya apakah ada sesuatu pada wajah si wanita yang membuatnya malu untuk dilihat orang banyak, tetapi dia rasa pertanyaan ini terlalu personal dan tidak layak ditanyakan kepada perempuan, jadi dia mengurungkan niatnya.


“Apakah Anda merasa tidak nyaman dengan penampilan saya?” Hymne kemudian bertanya.


“Tidak sama sekali. Saya tidak pernah menilai seseorang dari penampilannya. Begitupun kepada Anda, saya tidak akan menilai Anda sebelah mata hanya karena Anda terus menerus menutupi wajah Anda. Saya sama sekali tidak keberatan jika memang itu membuat Anda merasa nyaman.”


Jawaban ini membuat Hymne merasa tenang. “Suatu hari nanti, jika saya sudah menemukan waktu yang tepat, saya akan menunjukkan wajah saya.”