The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 10



Putra Mahkota Langit merasa senang mendengar jawaban itu, tetapi tentu saja dia berusaha menyembunyikannya. “Saya merasa terhormat, saya akan menantikannya.” Hanya jawaban sederhana itu yang bisa dia sampaikan pada si wanita. Tetapi dia tidak tahu bahwa bagi Hymne, itu adalah kali pertama dia menjanjikan sesuatu yang besar pada orang lain, karena baginya, membuka selubungnya adalah sesuatu yang tidak sederhana.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan dengan kemampuan spiritual 2 orang yang di atas rata-rata ini, Hymne mengakui bahwa dia bekerja dengan lebih efektif dan cepat. Dia biasanya hanya menemukan satu, paling banyak dua hantu atau iblis di setiap tempat. Sekarang dengan bantuan sang pangeran, mereka bisa menemukan tiga sampai lima. Itu adalah pencapaian yang memuaskan bagi Hymne, dan dia sangat menikmati perjalanan mereka.


Sementara bagi Putra Mahkota Langit, dia sungguh-sungguh membantu Hymne dengan segenap kemampuannya. Ia bahkan menawarkan untuk melakukan sebagian besar pekerjaan, seperti penyucian hantu, menyegel jiwa iblis, sampai berburu hewan liar. Tetapi Hymne tidak mau melimpahkan pekerjaan dengan tidak adil, jadi mereka bergantian melakukan segala sesuatu. Tetap saja, sang Putra Mahkota Langit enggan membiarkan Hymne melakukan banyak pekerjaan.


Dia selalu terlalu senang membantu Hymne, maka dari itu dia seringkali melakukan pekerjaannya dengan usaha 2 kali lipat, bahkan dia sendiri terkejut ketika menyadarinya. Dia bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, mendapat binatang buruan dengan jumlah yang banyak, bahkan dia membuat Hymne terpesona beberapa kali. Itu semua dia lakukan tanpa sadar, dan dia tidak pernah menganggap itu adalah sesuatu yang perlu dibanggakan atau dipuji. Dia berusaha untuk tetap rendah hati, dan tidak pernah memuji dirinya sendiri. Tetapi kemudian pada hari ke 5, dia menarik kata-katanya sendiri.


Pada waktu itu siang hari ketika dia sudah selesai berburu hewan liar dan membawanya ke api unggun tempat mereka beristirahat malam sebelumnya di salah satu bagian hutan. Saat dia kembali, Hymne sedang tidak ada, dan rasa penasaran menghantuinya jadi dia pergi untuk mencari. Hymne tidak bilang sebelumnya dia akan pergi ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu, jadi sang pangeran tidak bisa menahan rasa khawatirnya. Kemudian ketika dia berjalan dan mencari hingga tiba ke tepi sungai, rasa penasarannya terjawab dan kekhawatirannya sirna.


Wanita itu sedang berendam di sungai, badannya menghilang di bawah air sampai setengah pinggangnya. Rambut hitamnya diurai dan ujungnya yang panjang tersebar di sekeliling tubuhnya. Pada saat itu Hymne tengah memunggunginya, jadi Putra Mahkota Langit tetap tidak melihat seperti apa rupa wajah wanita itu. Tetapi entah mengapa, hanya melihat punggung dan rambutnya saja, dia merasa wanita itu memancarkan aura kecantikan yang luar biasa berkilau, dan sang pangeran merasakan pipi serta ujung telinganya bersemu merah. Dia buru-buru bersembunyi di balik sebuah pohon, menatap ke arah berlawanan, sambil tangannya menutupi mulutnya.


Wajahnya bersemu merah, namun tubuhnya sangat kaku sampai gerakan bahunya ketika dia bernafaspun tidak terlihat. Dia menarik kata-katanya sendiri; dia merasa bangga bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan lebih cepat, jika tidak, dia tidak akan punya kesempatan ajaib untuk menyaksikan apa yang baru saja dia saksikan. Namun demikian ketika rasa bangga itu muncul, dia sebenarnya masih merasa malu.


Di sela-sela suara aliran air dan gemerisik daun, suara cicitan seekor burung tiba-tiba terdengar, disusul suara Hymne. “Oh tuan burung, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sendiri?” suara wanita itu terdengar lembut dan mengalun seperti lagu. Suara cicitan burung terdengar lagi. “Ooh, kau menunggu seorang pengembara supaya dapat bernyanyi untuk mereka? Manis sekali,” kata Hymne. Setelah cicitan yang agak panjang Hymne kembali berbicara, “Oh kenapa tidak? Aku tidak datang sendiri, tetapi temanku sedang pergi berburu jadi aku sendiri sekarang. Kenapa kau tidak bernyanyi untukku?”


Pada saat itulah Putra Mahkota Langit menyimpulkan bahwa wanita itu bisa berbicara dengan hewan.


Setelah si wanita berbicara, nyanyian burung yang merdu terdengar di sekeliling mereka, seolah burung itu benar-benar bernyanyi. Putra Mahkota Langit bahkan terdiam untuk mendengarkan nyanyian itu di dalam persembunyiannya, karena lagu sang burung begitu merdu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara terkejut Hymne disusul tawa riang. Karena sama-sama terkejut, Putra Mahkota Langit menoleh ke belakangnya untuk memeriksa apa yang terjadi.


“Apa yang kau lakukan, tuan burung? Kau membawa teman-temanmu!” Hymne bersorak riuh dan riang. Tangannya terangkat dan beberapa ekor burung kecil beterbangan di sekelilingnya sambil bercicit riuh. Hymne tampak berusaha menyentuh burung-burung kecil itu, dan seekor burung akhirnya bertengger di jemarinya yang ramping. Kulitnya yang seputih salju dan bersinar perak tampak kontras dengan warna burung biru yang bertengger di jemarinya. Rambutnya, meskipun hitam, tetap bersinar ketika ditimpa sinar matahari. Dia tersenyum lebar, dengan bibir merah muda dan deretan gigi mutiara. Hidungnya mancung dengan garis yang lembut, lalu matanya yang bulat dengan buku mata panjang berkilau ketika menangkap cahaya matahari.


Sang Putra Mahkota Langit begitu malu pada dirinya sendiri sehingga dia segera lari meninggalkan tempat itu dengan wajah merah. Bukannya dia melihat semuanya, melainkan dia hanya melihat sebagian, tetapi dia sudah merasa sangat malu. Dia benar-benar melihat wajah wanita itu dari samping, namun hampir mustahil untuk membayangkan seluruh wajahnya hanya dengan melihat sedikit dari sisinya saja. Tetapi Putra Mahkota Langit yakin dia bisa membayangkan wajah dengan kecantikan yang sama sekali tidak dimiliki dunia ini. Entah itu hanya imajinasinya yang menari liar, atau itu benar-benar rekonstruksi wajah yang dia lakukan dengan tepat, dia tidak tahu. Dia hanya yakin apapun yang dia lihat membuatnya sangat malu sampai dia harus melarikan diri.


Ketika Hymne kembali ke depan api unggun yang sudah menyala dan tiga potong daging kelinci liar yang sedang dibakar, wujudnya sudah sepenuhnya dibalut setelan dan selubung hitamnya. “Apakah Anda menunggu lama, tuan? Saya baru kembali dari sungai.”


“Tidak, saya belum lama kembali,” Putra Mahkota Langit berbohong. Dia sebenarnya tahu apa yang baru saja dilakukan Hymne sekalipun wanita itu tidak akan memberitahunya, namun dia diam saja. Dia juga tidak mau membuat wanita itu merasa bersalah karena menunggunya, jadi dia berpura-pura. “Saya sudah memasak ketiganya karena saya kira Anda punya urusan sendiri, apakah Anda keberatan?”


Selama menghabiskan sisa perjalanan mereka, Putra Mahkota Langit bersikap penuh sahaja dengan menyingkirkan insiden hari itu jauh-jauh. Dia tidak berani sama sekali untuk mengingatnya, dan berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya terutama ketika dia harus bertatapan dengan wanita itu dari balik selubungnya. Dia mengakui bahwa dia tidak lagi bisa bertatapan dengan wanita itu lama-lama, meskipun dia sama sekali tidak melihat mata wanita itu. Hanya saja, setiap kali dia menatap selubung hitam Hymne, dia tidak bisa berhenti membayangkan wajah cantik yang dia lihat hari itu di sungai. Hal itu sangat tidak tertahankan baginya, tetapi dia harus bersikap profesional dan sekali lagi, harus menahan dirinya.


Pada hari perpisahan mereka, ketika Putra Mahkota Langit harus kembali ke kerajaannya, mereka berpisah dari sebuah kota yang agak besar. Setelah menyampaikan terima kasihnya, sang pangeran menyatakan bahwa apa yang ia dapatkan selama tujuh hari tersebut akan menjadi pelajaran baginya, sekaligus moment yang tidak terlupakan. Dia berkata jujur pada akhirnya, bahwa kemungkinan untuk mengikuti Hymne sebagai pengembara akan selalu ada, hanya saja waktunya perlu dia pertimbangkan matang-matang. Hymne tidak bisa melarangnya lagi, karena pria itu terdengar sangat kerasan dengan keputusannya, jadi dia bilang dia akan menantikan masa-masa itu.


Dalam perjalanan pulangnya, sang Putra Mahkota Langit diwarnai rasa gembira yang tidak pernah dia bayangkan. Dia mengingat setiap saat kebersamaan mereka selama tujuh hari tersebut dalam pikirannya, lalu diam-diam menyimpannya jauh di lubuk hatinya. Dia terkejut bagaimana dia bisa melangkah sejauh ini dengan kemampuannya yang nol dalam berhubungan dengan wanita. Lalu kemudian dia menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat satu atau banyak hal. Dia ingat dia mencari wanita itu dengan sengaja pergi ke berbagai tempat di daerah barat hanya karena wanita itu mengatakan dia akan berada di sana. Dia berusaha dengan keras karena wilayah di barat adalah daerah yang luas, dan dia tidak tahu pasti di mana wanita itu akan berada, namun hasilnya nol.


Tetapi, ketika dia dengan tidak sengaja pergi ke sebuah tempat untuk membantu tiga orang pemuda, dia justru bertemu dengan wanita itu, dan punya kesempatan mengenalnya lebih jauh. Semua usaha yang dia lakukan dengan sengaja tidak berbuah apa-apa, tetapi sebuah kebetulan—atau keajaiban—benar-benar membawanya menemui orang yang dia cari. Betapa lucunya itu?


Itu adalah momen paling berharga dari kisah perjalanan mereka selama ini, satu yang tidak akan pernah hilang dari benak masing-masing. Mereka memulai segala sesuatunya dengan kebetulan, lalu mempertahankannya lewat takdir. Tidak mudah bagi mereka untuk sampai di titik tersebut, tetapi mereka berhasil melewatinya, dan menurutku itu adalah sebuah pencapaian yang manis. Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun kita melihatnya, kisah mereka seolah terjalin oleh benang merah takdir yang dirangkai sedemikian rupa cerdiknya, sehingga bisa mengantar mereka sampai ke sini. Kisah yang indah, menurutku, dan secara pribadi aku menyukainya di atas kisah-kisah lainnya.”


Red menyelesaikan ceritanya tepat ketika dia melirik keluar jendela dan memastikan hujan sudah mereda, menyisakan gerimis kecil yang lembut. Ketika matanya kembali menatap Faith, gadis itu sedang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan gaya yang rileks, jemarinya bergerak-gerak lembut seolah sedang memikirkan sesuatu, dan matanya menatap Red lekat-lekat. Dia terlihat anggun meskipun gerakannya sangat sederhana.


“Tidak bisa dipercaya,” kata gadis itu setelah beberapa saat terdiam. “Itu sangat indah. Aku tidak bisa berhenti membayangkannya.”


Red memberinya senyuman yang menandakan persetujuannya. “Benar. Pada masa itu, aku yakin para dewa yang menyaksikan mereka akan sangat berbunga-bunga.”


“Aku merasa seperti sedang mendengarkan sebuah kisah dari negeri dongeng. Pada titik ini, aku hanya bisa berkata, betapa beruntungnya mereka menemukan satu sama lain,” jawab Faith.


“Ya, seperti cerita fiksi, tetapi itu sungguh terjadi pada suatu masa dan tempat,” kata Red. Kemudian dia melajutkan, “Hujannya sudah mereda, kamu mau keluar sekarang? Kita bisa berjalan-jalan ke tempat lain.”


“Boleh,” jawab Faith.


“Baiklah, tunggu sebentar.”