The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 16



Putra Mahkota Langit berhenti seketika. Seluruh tubuhnya, bahkan aliran spiritual dalam dirinya berhenti. Matanya membulat menatap wajah sang Putri Mahkota yang sepenuhnya tersembunyi. Wanita itu baru saja bicara.


Mengetahui bahwa dirinya benar-benar terkejut, Putra Mahkota Langit mengerjap beberapa kali dengan wajah kaku. Dia sejak awal sudah meyakinkan dirinya bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang sama dengan yang dia cari. Namun ketika wanita itu bicara, dia masih saja terkejut ketika mendapati suara mereka sama.


Seolah baru sadar hatinya tiba-tiba berdenyut, degupnya melambat namun jauh lebih intens.


“Mengapa Anda meminta maaf?” Putra Mahkota Langit merasa tenggorokkannya kering ketika ia bicara.


“Saya telah membohongi Anda,” jawab Putri Mahkota.


Sehela nafas yang tercekik keluar dari hidung sang pangeran. ‘Anda tidak membohongi saya, Anda tidak melakukan apapun yang salah.’ Itu yang ingin dia katakan. Tetapi berjuta-juta kalimat lain bermunculan di kepalanya, dan akhirnya yang bisa ia katakan hanyalah, “Saya juga mohon maaf telah membohongi Anda.”


Kemudian setelah jeda yang agak panjang, sang Putri Mahkota bersimpuh dengan anggun sambil berkata, “Salam, wahai tuan Langit yang mencari Bunga Lembayung Senja. Senang bertemu dengan Anda kembali.”


Dia tidak bisa melihat sang wanita bersimpuh dengan perasaan bersalah, jadi Putra Mahkota Langit sama-sama bersimpuh. “Salam, wahai Nona Hymne. Kehormatan ini ada pada saya.”


Setelah mempertahankan posisi ini untuk beberapa detik, keduanya menegakkan tubuhnya secara bersamaan. “Bagaimana saya harus memanggil Anda sekarang, tuan? Anda seorang putra mahkota, apakah saya perlu untuk memanggil nama resmi Anda? Atau cukup tuan saja?” tanya Hymne kemudian.


“Anda sudah familiar dengan saya, tolong jangan sungkan memanggil saya sebagaimana kita telah saling mengenal,” jawab Putra Mahkota Langit. “Bagaimana dengan Anda? Saya menemukan bahwa Hymne adalah nama seruling Anda.”


Mendengar ini, tawa rendah yang merdu terdengar dari mulut sang putri. “Saya mohon maaf. Tetapi mohon tetap memanggil saya seperti itu, jangan sungkan. Bagaimanapun saya hanya seorang manusia, saya tidak patut disembah sebagai sebuah simbol. Tolong jangan takut hanya karena semua orang menganggap saya sebuah simbol yang sakral, Anda harus bersikap formal pada saya. Tolong jangan lakukan itu.”


“Baiklah.” Putra Mahkota Langit mengangguk dengan kaku. “Saya tidak bermaksud untuk menipu Anda,” katanya kemudian. Matanya berusaha menatap ke balik selubung putih kuning yang menyembunyikan wajah sang putri.


“Begitupun saya, tuan. Saya tidak bermaksud menipu Anda, dan saya sangat mengerti kondisi Anda. Saya rasa kondisi kita sama, jadi saya rasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Meskipun demikian, saya harap waktu yang telah kita lalui adalah bermakna, sebagaimana moment itu sangat berharga bagi saya.” Hymne kembali berkata dengan lembut dan tenang, sebagaimana ia selalu bicara kepada sang pangeran dulu.


Sang pangeran hampir menaikkan nada bicaranya. “Tentu, tentu semua itu bermakna bagi saya,” katanya cepat. Dia terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya yang tadi menderu. “Semua yang telah saya lalui bersama Anda adalah sangat berharga, dan saya menjalaninya dengan tulus hati. Tidak satupun perlakuan atau tindakan saya kepada Anda yang berpura-pura, semua adalah nyata dan jujur.”


Hymne hampir bisa terdengar tersenyum. “Anda sungguh baik hati,” ucapnya. “Sejak kapan Anda tahu identitas saya?”


“Sejak saya menemukan replika seruling Hymne,” jawab sang pangeran. “Saya sangat familiar dengan seruling Anda, dan saat itu saya tahu bahwa Anda adalah orang yang sama dengan yang saya kenal.” Dia berhenti sejenak. “Sejak kapan Anda mengenali saya?”


“Sejak Anda berbicara di aula istana. Saya mengenali suara Anda. Hermine menjelaskan pada saya bahwa pria yang sedang berbicara waktu itu adalah putra mahkota kedua Istana Peristirahatan Awan, namun karena saya ragu, saya memutuskan untuk bertanya lebih jauh. Ketika mendengar bahwa Anda sendiri adalah seorang pendeta, saya sudah yakin itu adalah Anda.”


Putra Mahkota Langit terkejut untuk sesaat. “Anda benar-benar mengenali saya hanya dari suara saja?” katanya dengan takjub. Ini bukan sebuah pertanyaan untuk Hymne, melainkan sebuah ekspresi kekaguman. Hymne menganggukkan kepalanya, namun tidak berkata apa-apa. Kemudian sang pangeran melanjutkan, “Saya rasa kesalahpahaman di antara kita sudah selesai dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Kalau begitu boleh saya bertanya kapan Anda bersedia mengumumkan keputusan yang telah Anda buat dengan dewa?”


“Ah, saya sudah bicara dengan dewa tersebut. Keputusannya akan ditentukan dua hari lagi. Untuk selanjutnya, saya perlu berbicara dengan Dorian dan Hermine terlebih dahulu. Maaf tuan, boleh saya minta tolong Anda untuk memanggil keduanya?”


Mengikuti instruksi sang putri mahkota, Putra Mahkota Langit pergi mencari kedua pelayan setia itu. Dia pergi ketika kedua pelayan setia itu sudah bersama Hymne di dalam ruangan sebelumnya, karena keberadaannya tidak lagi dibutuhkan. Setelah menerima ucapan terima kasih dari Dorian, dia kembali ke ruangannya sendiri.


Sekarang ketika kesalahpahaman diantara dirinya dan Hymne sudah jelas, dia tidak lagi meragu. Wanita yang dia cari sebelumnya masih ada di sini, bersama dengannya. Entah benang merah apa yang menghubungkan mereka, tetapi wanita itu ada di sini bersamanya, dan itu sudah lebih dari cukup baginya. Dia tidak meminta lagi. Dia hanya terus berterima kasih kepada dewanya.


Malam itu, sang Putri Mahkota Angin Selatan mengumumkan bahwa keputusan atas persembahannya akan diungkap dua hari lagi. Seluruh menteri dan perdana menteri yang hadir disitu tidak mendebatnya, karena sang Putri Mahkota sendiri menyatakan bahwa keputusannya bulat. Kemudian setelah itu, Putri Mahkota itu meninggalkan aula dan pergi ke ruangan peristirahatan pamannya, Yang Mulia Raja. Hermine dan Dorian menunggu di depan ruangan selama kedua orang itu berada di dalam ruangan.


Bagi Hymne, keputusannya yang sudah bulat tidak bisa diganggu gugat. Jika ada konsekuensi yang harus dia tanggung, maka dia akan menanggungnya bagaimanapun caranya. Dia telah kehilangan keluarganya, lalu adik laki-lakinya. Dia sendirian tanpa keluarganya di sisinya, dan dia harus memutuskan banyak hal sendiri. Jadi apapun yang terjadi, dia akan melakukannya sendiri.


Sang Putri Mahkota Angin Selatan adalah seorang wanita yang tidak jauh berbeda dari Putra Mahkota Langit. Mereka sama-sama lahir dengan keistimewaan, yang satu dengan selimpah berkat dari dewa, yang satu dengan darah campuran iblisnya. Mereka sama-sama harus menjalani cara hidup yang mengekang, yang satu oleh aturan dan prinsip, yang lainnya oleh konflik internal keluarganya. Mereka sama-sama harus tumbuh menjadi sosok yang dilimpahi tanggung jawab besar, yang satu sebagai seorang putra mahkota dan pendeta yang mumpuni, yang lainnya sebagai sebuah simbol sakral kerajaan. Dan keduanya sama-sama berjuang untuk berdiri seimbang di antara tugas dan tanggung jawab meskipun hati mereka mendorong mereka ke arah yang berbeda.


Dan mereka berhasil sampai sejauh ini.


Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, dengan langkah berat dan tertatih yang harus mereka ambil, dengan jalan berliku yang harus mereka tempuh, mereka berhasil sampai sejauh ini. Jika Hymne tidak mengikuti hatinya, dia tidak akan keluar dari istananya secara sembunyi-sembunyi dan mengembara untuk berburu hantu. Dia dikatakan selalu berada di dalam ruangannya, tetapi kesempatan itu dia gunakan untuk selalu melarikan diri.


Mereka berdua adalah individu yang serupa.


Tetapi mereka tidak sama.


Mengetahui ini, ketika duduk sendiri di dalam ruangan berdoa ketika dia sedang dalam koneksi dengan sang dewa, Hymne diam-diam menurunkan pandangannya dan tubuhnya terasa lelah. Bagaimanapun, sebagai seorang putri mahkota, Hymne memegang peran penting dalam mengambil keputusan untuk kerajannya. Terlebih, dia adalah sebuah ‘simbol’, eksistensi yang hampir dianggap bukan manusia. Apapun yang dia lakukan harus merupakan sebuah panutan yang mulia. Untuk memutuskan hal ini, dia perlu melakukan satu atau banyak hal yang mungkin tidak dapat diterima untuk orang lain.


Dia berpikir panjang dan lama, hingga akhirnya dia hanya bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan. Bertahan.


Tetapi bisakah dia? Jawabannya adalah ‘harus’. Meskipun dia harus merasa sakit dan kehilangan, dia harus bertahan. Kini ketika Putra Mahkota Langit sudah menemukannya, dia berharap dia bisa bertahan lebih lama lagi. Tetapi dia tahu, pada akhirnya, sejauh apapun dia bertahan, akan ada masa di mana dia harus jatuh.


Sementara dia terus makan dari nampan yang ada di hadapannya, dia bisa merasakan nafsu makannya menghilang sedikit demi sedikit. Malam itu dia makan sendiri di ruangannya, menolak untuk bergabung di ruang makan dengan alasan bahwa dia perlu istirahat. Hermine tidak bersamanya saat itu, dia menugaskan pelayan setianya itu untuk hal lain. Dia sangat terbiasa dengan kesendirian, seolah itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Tetapi hari itu, entah karena dia bisa mendengar suara keramaian dari luar kamarnya sementara dia sendirian di dalam kamarnya, dia merasa kesepian.


Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia meletakkan alat makannya, lalu naik ke kasurnya. Masih dengan pakaian lengkap, dia tertidur.


Malam itu dia bermimpi berada di suatu waktu ketika dia dan Putra Mahkota Langit dalam perjalanan memburu hantu. Pria itu berjalan di sampingnya, tidak bicara, namun langkahnya seragam dengan dirinya. Dia bisa merasakan hawa panas mengalir dari tubuh sang pangeran, dan dia yakin keduanya berjalan berdempetan. Sepanjang mimpinya, keduanya hanya berjalan dan terus berjalan entah ke mana.


Sampai pada suatu titik, sang pangeran tiba-tiba berkata, “Nona, apakah Anda lelah?”


Hymne tidak mendengar dirinya menjawab dalam mimpinya, dan sang pangeran pun tidak melanjutkan kata-katanya. Beberapa waktu kemudian dia kembali bicara, “Nona, katakanlah jika Anda lelah.” Tetapi lagi-lagi Hymne tidak menjawabnya. Akhirnya, sebuah tangan menahan langkahnya. “Nona, kaki Anda berdarah.”


Hymne menunduk dan berusaha menatap kakinya. Tetapi kakinya seolah menghilang ditutupi sebuah kabut tebal warna kelabu. Dia tidak bisa melihat di mana darah muncul dari kakinya.


“Nona, jika Anda kesakitan, mengapa Anda terus berjalan?”


‘Aku tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya’ begitu Hymne ingin menjawab, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. ‘Tolong jangan khawatirkan aku’ katanya lagi dengan hampa.


“Nona, saya akan menggendong Anda.”


Tidak. Dia tidak mau. Pangeran itu sangat baik padanya, terlalu baik sehingga hatinya sakit. Dia tidak mau lagi membebani sang pangeran. Dia kini tahu pangeran itu memiliki beban yang sama dengannya, dan dia tidak mau membuat pangeran itu harus menanggung bebannya juga.


“Saya tidak punya hati untuk merebut Anda. Tolong jangan lakukan itu untuk saya.” Hymne kemudian mendengar suaranya sendiri. Kata-katanya terasa tidak asing di telinganya, mungkin dia pernah mengucapkannya sekali. Kemudian ketika mendengar suara langkah kaki menjauh, dia merasakan hawa panas berkumpul di matanya, yang kemudian luluh menjadi butiran kristal cair.


“Maafkan saya.” Dia mendengar suaranya lagi. Kemudian dia bisa merasakan bibirnya ditarik ke bawah dengan cara yang jelek.


Tetapi dia kemudian mendengar suara sang pangeran berbisik padanya, dan seketika dia memejamkan matanya untuk menahan sakit kepalanya. “Anda tidak melakukan sesuatupun yang salah.”


Namun demikian dia memaksa dirinya untuk tersenyum. Begitu lebarnya bibirnya ditarik sehingga dia tidak bisa mengembalikannya ke posisinya semula. Dia kembali menggumamkan sesuatu, tetapi dia tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Yang dia tahu pasti adalah bahwa selama dia bicara, keningnya mengkerut dan kepalanya sakit. Meskipun begitu, senyumnya tetap mengembang, dan lambat laun setitik kristal bening lainnya mengalir dari matanya.


Bagi Hymne, tidak hanya dia harus menyembunyikan hatinya, dia juga harus menyembunyikan wajahnya. Sebagai akibatnya, tidak hanya orang-orang tidak mengenal hatinya, orang-orang juga tidak mengenal dirinya. Tidak ada yang pernah tahu wajah macam apa yang dia tampilkan dibalik selubung warna warni dan cantik yang selalu ia kenakan. Tidak ada yang pernah tahu apakah ketika ia berbicara, ekspresinya akan sejalan dengan nada bicaranya. Apakah ketika ia tertawa ia benar-benar tersenyum? Atau dia diam-diam menangis? Apakah ketika dia mengangguk dia benar-benar menyetujui sesuatu dari matanya? Ataukah matanya tertutup dan dia hanya mengangguk hampa?


Tidak ada yang tahu.


Selalu seperti itu.


Meskipun begitu dia terus bertahan sekuat tenaga, berusaha berdiri tegak ketika bahunya tidak lagi kokoh dan punggungnya sudah renta. Berusaha tampil kokoh ketika tubuhnya sudah digerogoti di sana-sini. Sepanjang hidupnya, dia tidak akan lupa untuk selalu menunjukkan sisi dirinya yang terbaik. Baik dia dicintai atau dibenci, dia harus terus melakukan yang terbaik, bagaimanapun kondisinya.


Dia terus membutakan matanya dan melangkah maju.