The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 3



Ketika mereka selesai dengan 2 makanan utama, Red memutuskan untuk melanjutkan ceritanya selama mereka menunggu makanan penutup datang. Dia masih bercerita dengan gaya yang sama, dan Faith menyimaknya baik-baik. Sejak awal Faith memang menyukai gaya Red bercerita, jauh sejak dia masih hidup sebagai manusia dan Red hanyalah seorang pria misterius berpayung merah. Jadi entah mengapa, setiap kali Red bercerita, imajinasinya akan terbang sendiri menggambarkan kata demi kata yang Red ucapkan. Mungkin Red memang seorang pendongeng, dan dia mampu menceritakan segala sesuatu dengan baik, jadi mudah bagi Faith untuk membayangkan cerita itu bagaikan cuplikan film di kepalanya.


Itu adalah putra mahkota kedua, Putra Mahkota Langit, yang jatuh cinta pada orang yang salah dan pada masa yang salah. Pada mulanya, dia sama sekali tidak melakukan kesalahan, dan tindakan sederhananya pun tidak dinilai sebagai kesalahan. Itu semua karena pada mulanya, dia tidak tahu dengan siapa dia jatuh cinta, begitupun gadis yang ia cintai tidak tahu siapa dirinya. Dia memang seorang prajurit, namun ia lebih sering mengemban tugas sebagai seorang pendeta, oleh karena itu dia jarang meninggalkan kerajaannya, jadi dia tidak tahu banyak wajah dari wilayah lain, tidak seperti kakaknya. Sementara itu, gadis yang dia cintai tidak pernah melihat wajahnya meskipun dia sering bepergian ke wilayah baru, karena itu mereka tidak saling mengenal.


Pada waktu itu sedang musim semi, bunga-bunga sudah banyak yang bermekaran. Pada kesempatan itu, Putra Mahkota Langit turun dari istananya untuk mencari bunga langka yang selalu ia persembahkan kepada dewa setiap setahun sekali. Bunga yang hanya mekar setahun sekali itu tumbuh jauh dari wilayahnya, tersembunyi di dalam lembah sebuah wilayah tak bertuan. Ia sudah sejak kecil pergi ke sana dan dia tahu betul wilayah itu aman, jadi dia selalu pergi sendiri tanpa khawatir. Jadi hari itu, dia juga pergi sendiri dengan pakaian sederhana, sepenuhnya menanggalkan statusnya sebagai pangeran atau pendeta.


Dia tahu jalan ke lembah itu dengan baik, jadi dia mengenal seluk beluknya, hanya saja dia selalu menggunakan jalur yang sama. Tetapi pada hari itu, dia mendengar suara merdu bagai desir angin dari arah lain, dan dia pergi mengikuti jalur itu karena rasa penasarannya. Dia menemukan seorang pengembara dengan pakaian hitam longgar sedang bermain seruling di atas pohon, rambut hitamnya diikat menjadi gelungan besar di kepalanya. Pada waktu itu sang pengembara tengah memunggunginya, jadi dia sama sekali tidak tahu apakah dia pria atau wanita, tua atau muda.


Karena ia begitu terpesona dengan permainan seruling itu, dia tidak bisa menahan mulutnya untuk memuji. “Betapa merdunya suara yang Anda mainkan. Bolehkah saya tahu lagu apa yang Anda mainkan?”


Ketika itu sang pengembara berhenti bermain dan dia terdiam sejenak tanpa memutar kepalanya. Kemudian ketika dia menjawab, suaranya muncul sebagai suara perempuan yang merdu, “Saya tidak punya nama untuk lagu ini. Saya hanya memainkan nada yang dibisikkan angin pada saya.”


Terkejut dengan sang pengembara perempuan, putra mahkota terpesona sesaat. Dia tidak berpikir akan berhadapan dengan seroang wanita di sebuah tempat asing. Wanita yang selalu ditemuinya adalah ibundanya, atau saudara-saudaranya di istana, atau rakyatnya, tetapi mereka semua menjalin hubungan yang spesifik dengan sang pangeran. Dia tidak pernah bertemu dengan seorang wanita asing, bahkan hingga berbicara dengannya. Karena keterkejutannya, dia mengerjap sesaat dan mengangkat suaranya dengan lebih pelan dan ragu, berusaha bersikap sopan. “Maaf telah mengejutkan Anda, permainan Anda sungguh indah. Jika Anda tidak keberatan, boleh saya mendengarnya sekali lagi?” tanyanya.


“Tuan, saya hanya memainkan apa yang dibisikkan angin kepada saya, saya takut saya tidak bisa mengingat nada yang sebelumnya saya alunkan. Jika Anda bersedia, saya bisa memainkan alunan baru untuk Anda, namun saya takut saya akan menghambat urusan Anda. Jika saya boleh tahu, apakah tujuan Anda datang ke lembah ini?” pengembara perempuan itu berkata.


“Saya kemari untuk mencari Bunga Lembayung Senja untuk dipersembahkan kepada dewa.”


“Ah, kalau begitu Anda datang ke tempat yang tepat. Bunga itu tumbuh tidak jauh dari sini, Anda cukup berjalan beberapa jam lagi ke arah barat. Jika Anda tidak keberatan, silakan lanjutkan perjalanan Anda dan tuntaskan keperluan Anda, dan jika Anda berkenan, saya akan memainkan lagu baru untuk Anda ketika Anda sudah selesai.”


Mendengar penawaran yang sama sekali tidak ada ruginya itu, diantara rasa terpesona dan lega karena permintaannya tidak ditolak, sang putra mahkota menyetujuinya dan mempercepat langkahnya. Dia masih muda, jadi dorongan semangat mudanya cukup untuk mendorong tubuhnya melakukan segala sesuatu lebih cepat dan efisien. Perjalanan beberapa jam yang diperlukan untuk tiba di tempat Bunga Lembayung Senja bisa dia tempuh hanya separuh dari waktu yang dibutuhkan. Setelah dia memetik bunga itu dan memasukkannya ke dalam kotak, dia kembali dengan waktu yang lebih cepat ke tempat sebelumnya dia bertemu dengan si pengembara wanita.


Ketika dia tiba, hari sudah malam, dan dia menemukan sang pengembara wanita sudah membuat api unggun di bawah pohon. Si pengembara duduk di dekat api unggu, dengan topi lebar yang ditutupi kain hitam hingga ke pinggangnya. Dia akan terlihat seram jika saja dia tidak segera bicara ketika sosok putra mahkota mendatanginya. “Anda sudah kembali, Tuan? Begitu cepatnya?”


“Saya menyelesaikan urusan saya dengan cepat,” jawab Putra Mahkota Langit. “Terima kasih Anda telah menunggu saya, saya benar-benar merasa terhormat. Apakah Anda bisa memainkan lagu itu untuk saya sekarang?”


Si pengembara tertawa merdu. “Tentu saja, tuan! Saya sudah sangat lama tidak mendapat teman seperjalanan, jadi saya menganggap lagu ini adalah hadiah untuk pertemanan kita. Saya tidak akan meminta apa-apa dari Anda.”


Sang pangeran separuh tersentuh separuh terkejut mendengar jawaban ini. Dia selalu berada dalam posisi sebagai orang yang memberi sesuatu; pendeta yang menyampaikan doa rakyatnya kepada Surga, atau pangeran yang memberikan kebijaksanaan dan hadiah di sana-sini. Karena itu ketika kini dia menyadari dirinya tidak dalam posisi yang dapat memberikan sesuatu ketika lawan bicaranya memberinya sesuatu, dia merasa sedikit canggung. Tetapi dia bersyukur bisa bertemu seseorang seperti si pengembara wanita.


“Ya, tuan, saya sedang dalam perjalanan pulang. Saya senang bepergian, jadi saya pergi dan kembali hanya ketika saya ingin, kemungkinan besar Anda tidak akan menemukan saya di tempat yang sama dua kali. Hanya karena kebetulan kita bertemu hari ini di sini,” jawab si pengembara.


“Apakah Anda mungkin keluarga seorang saudagar atau orang terpelajar? Kemampuan Anda bermusik sangat diatas rata-rata, saya hampir yakin Anda bukan orang biasa. Siapakah Anda sebenarnya? Dan jika Anda tidak keberatan menjawab, tanpa bermaksud menyinggung, mengapa Anda harus menutupi diri Anda?”


Itu adalah pertanyaan yang berani bagi sang pangeran, dia yang tidak pernah terlibat dalam relasi dengan perempuan diluar hubungan profesional sebagai pangeran dan pendeta. Dia mengakui, bahwa dia berani bertanya demikian karena dia tidak bertatapan langsung dengan si pengembara. Jika seandainya pengembara itu tidak mengenakan topi berkainnya, mungkin dia tidak akan sanggup berbicara dengan si pengembara.


Kali ini si pengembara terdengar tersipu. “Anda bisa mengatakannya demikian Tuan, saya memang belajar kesenian dan ilmu pengetahuan. Untuk pertanyaan mengapa saya menutupi wajah saya, tolong jangan salah paham, saya hanya merasa malu. Saya tidak perlu melihat Anda untuk tahu bahwa Anda, meskipun dibalut kesederhanaan, adalah seseorang dengan status sosial yang tinggi. Saya tidak merasa layak menatap Anda. Katakan pada saya Tuan, apakah saya salah?”


Mendengarnya, Putra Mahkota Langit tersenyum malu. “Saya hanya seorang pendeta dari kerajaan tetangga.”


“Ah, kalau begitu pasti kerajaan Anda sangat makmur. Bunga Lembayung Senja adalah bunga langka yang disukai dewa, namun tidak sembarangan orang boleh memetiknya, karena untuk memetiknya seseorang harus berdoa dahulu kepada dewa, lalu mempersembahkan tiga ekor kerbau jantan dewasa, atau para dewa akan marah. Tiga ekor kerbau jantan dewasa harganya amat tinggi, tuan, mempersembahkannya kepada dewa akan membuat beberapa orang menggerutu karena tidak semua orang pernah merasakan daging kerbau. Bagi rakyat biasa, lebih baik menyembelih satu kerbau untuk dimakan bersama-sama daripada menyembelih tiga kerbau untuk dikorbankan kepada dewa. Tuan, saya memuji kerendahan hati Anda.”


Pada saat itu si pengembara menunduk pelan, dan putra mahkota membalasnya dengan rendah hati. “Anda benar-benar seorang yang terpelajar, saya tersanjung. Saya tidak yakin rasa malu Anda untuk menatap saya beralasan, saya rasa kita bisa menghilangkan rasa canggung itu.”


Sang pengembara tidak segera menjawabnya, alih-alih, dia mengambil serulingnya yang berkilau kuning yang digantungkan di sisi celana panjangnya yang terlihat seperti rok. “Tuan, saya akan memainkan lagu yang sudah saya siapkan untuk Anda. Mungkin setelah itu rasa canggung di antara kita akan menghilang.”


Ketika sang pengembara mulai melantunkan lagunya, putra mahkota menyandarkan tubuhnya di pohon dan mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia memejamkan matanya dan membiarkan melodi itu meresap ke dalam dirinya. Angin malam itu memang dingin, namun karena api unggun di depan mereka menyala cukup besar, dia tidak lagi kedinginan. Atau mungkin itu karena alunan seruling si pengembara yang membuatnya merasakan kehangatan, dia tidak tahu juga. Yang jelas, ketika dia merasa dia bisa mengingat beberapa potongan melodi dari seruling si pengembara, dia tiba-tiba sudah tertidur. Lagu itu mengiringinya seolah lagu tidur. Dan ketika bangun, api unggun di hadapannya sudah mati, dan pengembara perempuan itu sudah tidak ada.


Jadi dengan hati setengah membara setengah kebingungan, Putra Mahkota Langit kembali ke kerajaannya. Dia adalah seseorang yang tumbuh sangat dekat dengan kehidupan para pendeta, jadi secara alami dia sangat tenang. Dia bisa meredam gundah gulana hatinya dan tampil sebagai seorang pangeran yang tegas dengan ketentuan hidupnya. Dia menjalankan ritual, memimpin upacara, mendengarkan permohonan-permohonan lalu menyampaikannya ke Surga, semua dia lakukan dengan sempurna.


Tetapi adalah kakaknya sendiri, Putra Mahkota Bumi, yang bisa melihatnya melalui lapisan demi lapisan kesempurnaan yang dipasang sang adik. Dia tahu sesuatu sedang terjadi, namun sesuatu ini jauh dari konotasi negatif. Jadi, suatu hari, dia memberanikan diri bertanya.


“Kau terlihat berbeda adikku, tapi aku tidak tahu apa yang membuatmu demikian. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kau bisa mengatakannya padaku, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa. Kita selalu menjaga rahasia satu sama lain, bukan?”


Sebagai seorang adik yang setia, Putra Mahkota Langit tidak melarikan diri dari kakaknya. Jadi dia menjawab dengan pelan, hampir terdengar seperti seseorang yang tersesat.


“Aku bertemu seorang wanita yang sangat berkesan, tapi aku tidak tahu siapa namanya dan di mana dia tinggal. Menurutmu, apakah kami akan bertemu lagi?”