The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 4



Jawaban ini tentu saja mengejutkan kakaknya. Sebagai seorang putra mahkota pertama, dia sudah memiliki seorang tunangan, dan dia siap menikah jika waktunya tiba, kemudian melanjutkan tahta sang raja. Namun adiknya, dia tidak memiliki kewajiban secara memaksa untuk segera memiliki tunangan atau menikah, dan dia sangat jarang meninggalkan istana, jadi sangat wajar menilainya sebagai laki-laki yang lurus dan agak naif soal wanita.


Dia tahu betul adiknya tidak pernah terlibat dalam hubungan tertentu dengan wanita manapun, lingkungannya belajar sebagai pendeta menuntutnya selalu berinteraksi dengan sesama pendeta laki-laki, atau berinteraksi secara adil kepada umatnya. Dia mungkin tidak punya kesempatan untuk mempelajari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Namun ketika mendengar adiknya berbicara demikian, dia begitu dipenuhi kebahagiaan sekaligus kekaguman dan rasa penasaran.


“Dimanakah kau bertemu wanita yang sangat berkesan ini?” tanya kakaknya.


“Dalam perjalananku mengambil Bunga Lembayung Senja.”


“Kalau begitu cobalah pergi ke sana lagi, mungkin kau akan bertemu dengannya di sana!” ujar kakaknya.


“Dia seorang pengembara, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia sudah bilang bahwa tidak mungkin kami bertemu di tempat yang sama dua kali. Aku tidak yakin…”


“Pengembara? Apakah kau yakin dia seorang diri?”


“Ya, dia sendiri. Dia seorang yang berpendidikan, dan dia bermain seruling dengan handal. Aku yakin dia juga memiliki kemampuan bela diri. Dia bisa menebak bahwa aku berasal dari kerajaan besar hanya dengan mendengar suaraku, dia bahkan tidak melihat mataku.”


“Hm, tetapi kau melihatnya kan? Kalau begitu kau bisa menggambarnya dan menanyakan identitasnya.”


Adiknya menggeleng. “Dia tidak menunjukkan wajahnya. Dia mengenakan topi dengan kain yang menutupi sampai ke pinggangnya. Katanya, dia merasa malu dan tidak layak menatapku yang berasal dari status sosial tinggi.”


Putra Mahkota Bumi bahkan mengerenyit heran. “Dia menyembunyikan wajahnya karena malu? Sungguh misterius… kalau begitu bagaimana kalian bertemu dan bagaimana kau bisa kehilangannya?”


“Aku mengikuti suara serulingnya, karena permainannya begitu merdu, jika kakak mendengarnya aku yakin kakak juga akan terpesona. Aku memintanya memainkan lagu, tapi dia memintaku menyelesaikan urusanku dengan Bunga Lembayung Senja terlebih dahulu, dan dia menungguku di tempat kita bertemu. Dia memainkanku sebuah lagu sebelum aku tertidur, namun ketika bangun dia sudah tidak ada.”


“Kau yakin dia bukan hantu?”


“Aku yakin dia manusia, energinya sangat nyata,” adiknya menjawab dengan tegas. Tentu saja karena dia seorang pendeta, dia tahu betul energi lawan bicaranya. “Kenapa dia harus bersembunyi lalu melarikan diri dariku? Dia tidak mungkin memiliki suami. Kalau iya, bagaimana mugkin dia berkelana seorang diri? Dan dari suaranya dia terdengar masih muda.” Dia berhenti sejenak. “Apakah menurutmu dia takut kepadaku?”


Sang adik bertanya dengan isyarat yang menunjukkan makna ganda, dan kakaknya mengerti betul. Yang sebenarnya adiknya tanyakan adalah apakah rakyat biasa takut kepada orang-orang dengan status sosial tinggi seperti anggota kerajaan? Pertanyaan ini muncul dengan mudah di kepala sang adik yang tidak pernah berbaur dengan rakyat biasa kecuali untuk urusan keagamaan. Bukannya karena ia sombong, tetapi urusan kerajaannya mengharuskannya menetap di istana atau kuil. Dia hampir tidak punya waktu untuk bergaul.


Dengan penuh pengertian, Putra Mahkota Bumi menepuk bahu adiknya. “Tidak seperti itu. Dia hanya merasa canggung pada pertemuan pertama. Jika kau punya kesempatan bertemu lagi dengannya dan menunjukkan ketulusanmu, dia tidak akan lari lagi. Aku yakin kalian akan bertemu lagi suatu hari nanti. Malah, kau mungkin bisa meminta pada dewa untuk mempertemukan kalian lagi.”


“Bagaimana bisa aku meminta sesuatu yang egois seperti itu?” tanya Putra Mahkota Langit. Tetapi meskipun mulutnya berkata demikian, hatinya sudah tergoda. Segera setelah dia selesai bicara, raut wajahnya menunjukkan bahwa hatinya sebenarnya menginginkan hal itu.


“Kakaknya, Putra Mahkota Bumi, adalah salah satu sosok yang dia kagumi dan hormati, jadi dia mendengarkan kata-kata kakaknya. Awalnya dia ragu dan merasa permintaannya sangat konyol, jadi dia menghabiskan berhari-hari untuk mempertimbangkan keputusannya. Baru kemudian setelah dia merasa tidak ada salahnya mencoba, dia memanjatkan permohonannya untuk bertemu lagi dengan pengembara wanita itu. Hanya satu kali itu saja dia memohon, dan dia tidak mengulangi permohonannya karena dia sebenarnya malu pada dirinya sendiri. Dan setelah itu, beberapa waktu berlalu sambil dia terus menunggu apakah doanya dikabulkan atau tidak. Meskipun demikian, dia tidak bicara pada siapapun soal rasa cemasnya. Hanya pada waktu itu, kepada kakaknya saja dia bercerita.” Red menyelesaikan kalimatnya dengan anggun, kemudian minum lagi.


Melihat Red menunjukkan tanda-tanda dia akan berhenti bercerita, Faith bertanya, “Apakah kemudian keduanya bertemu?”


“Tidak untuk beberapa waktu,” jawabnya. Makanan penutup mereka datang, memotong lagi pembicaraan mereka. “Makanan penutup ini terlihat enak, bukan?” kali ini Red bertanya.


“Ya. Cantik pula. Apa kau ingat namanya?”


“Sesuatu yang dimulai dengan pomegranate atau sejenisnya,” jawab Red. “Kamu belum pernah makan buah ini, bukan?”


Faith berdeham kecil. “Kau benar-benar tahu semuanya? Siapa yang memberi informasi semacam ini?” tanyanya.


“Aku sudah mengawasimu sejak lama, Putri, aku tahu semua tentangmu,” jawab Red.


“Oh, aku punya seorang penguntit,” jawab Faith sambil tertawa. “Aku mendengarkan ceritamu barusan dan aku sangat tersentuh. Itu baru pertemuan pertama mereka dan ceritanya sudah sangat romantis. Rasanya aku tidak bisa membayangkan akhir tragis yang dialami keduanya. Mereka bertemu lagi, bukan?”


Red menyendok makanan penutupnya lalu menaikkan alisnya. “Ya, mereka bertemu lagi setelah beberapa waktu berlalu. Bagaimanapun sang pangeran tetaplah seorang pendeta yang diberkati, dimana doa-doanya akan dikabulkan dewa. Tentu saja pertemuan mereka tidak bisa terjadi dengan mudah, sang putra mahkota memiliki kewajiban terhadap kerajaannya, jadi dia harus menjalankan tugasnya. Dia tidak punya banyak kesempatan untuk pergi keluar, jadi kesempatannya menipis.


“Tapi pada suatu saat, ketika dia turun ke salah satu desa untuk melakukan kerja sosial, dia tidak sengaja bertemu lagi dengan si pengembara wanita. Rasanya bagiku, sesuatu yang membuatnya tidak bisa bertemu dengan pengembara wanita itu adalah tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang putra mahkota dan seorang pendeta. Jika dia bukan seorang putra mahkota atau pendeta, mungkin kisah mereka akan menjadi lebih sederhana. Namun jika demikian, kisah itu tidak akan diangkat menjadi salah satu Kisah Besar Surgawi.”


Faith tersenyum sambil menyendok juga. “Dan dia seseorang yang menggemaskan! Apakah kau sadar Tuan Arwah, dia adalah seorang pria yang sangat kaku, hidup di dalam lingkungan yang mengharuskannya menjunjung tinggi aturan dan tanggung jawab. Namun ketika dia bertemu pengembara wanita ini, meskipun pada pertemuan pertama, hampir tidak mengenal satu sama lain, dia seperti seorang bocah yang baru pertama kali keluar dari rumahnya, tersesat namun dipenuhi rasa ingin tahu. Aku yakin sebenarnya dia berani berinteraksi dengan pengembara wanita itu karena si pengembara tidak menunjukkan wajahnya. Dia tidak pernah beriteraksi secara khusus dengan wanita, kan? Bayangkan jika dia harus memohon si gadis untuk memainkan lagu untuknya sambil menatap wajah si gadis, dia pasti sangat malu. Dan jangan lupa, dia begitu malu untuk memohon kepada dewa agar diizinkan bertemu lagi dengannya.”


“Kau terdengar menyukainya,” Red berkata. Kata-katanya lembut, namun ada sedikit tanda kecemburuan pada suaranya.


Faith tertawa pelan. “Jangan cemburu, dia sudah memiliki takdirnya sendiri. Hanya saja, aku merasa gemas mendengarnya,” jawabnya. “Kenapa? Tuan Arwah, aku sudah bilang supaya kau jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu.” Kali ini Faith tersenyum. Dia tahu Red tidak sepenuhnya marah atau tidak suka. Jika pria itu marah, akan ada kilatan api di matanya, namun kali ini Faith tidak melihatnya.


Seolah kata-kata Faith mengandung mantra tertentu, seketika itu juga Red menghilangkan semua prasangkanya. “Baiklah, Putri. Aku mungkin bukan Putra Mahkota Langit, namun aku punya caraku sendiri untuk menunjukkan devosiku.”


“Baiklah.” Faith menjawab sambil mengangguk. “Beritahu aku kelanjutan ceritanya ketika kita sudah selesai makan.”