The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 23



Berapa kalipun dia merasakan hatinya tercabik dan runtuh, rasanya masih tidak cukup kesakitan yang harus dia alami. Dari sisa hatinya yang masih bertahan, muncul lagi luka lain yang mengalirkan darah baru. Meskipun dia merasa sudah hancur, dia masih harus jatuh lebih dalam lagi.


Putra Mahkota Langit mengikuti pria renta itu ke sebuah bangunan yang dibangun terpisah dari area istana dan pemukiman. Dia tahu bangunan dengan atap tinggi itu baru dibangun, karena terakhir kali dia berada di sini, bangunan itu belum ada. Di dalamnya, berdiri sebuah tugu dari batu putih dengan empat puncak, melambangkan empat arah mata angin. Tugu itu diukir dengan gambar yang menyerupai gelombang angin dan air. Di sekeliling tugu, tersebar aneka persembahan yang diberikan semua orang yang berkunjung. Ada yang memberi buah-buahan, makanan, perhiasan, uang, kain, dan sebagainya.


Dia mengerti bahwa orang-orang Istana Angin Selatan mempercayai roh nenek moyang, dan dengan kematian sang putri, mereka menganggap sang putri sudah menjadi satu dengan roh nenek moyang mereka. Itu sebabnya mereka kini memberikan persembahan kepadanya melalui perantara tugu tersebut.


“Kita harus memberi hadiah. Apa kau membawa hadiahmu?” pria renta itu bertanya sambil dirinya sibuk mengeluarkan kantung koinnya. Posisi mereka sedikit menjauh dari tugu, karena banyaknya persembahan yang bergeletakkan di lantai. Kemudian, sang pria renta meletakkan kantung koinnya di lantai dengan hati-hati. “Putri, bagaimanapun ceritanya, semoga putri bahagia,” ujar pria renta itu sambil menatap ke langit-langit, seolah dia tengah berkata kepada roh sang putri di langit. “Apa yang kau berikan padanya?”


“Sebuah bunga,” jawab Putra Mahkota Langit.


“Oh, romantisnya. Bunga apa itu?”


“… Pengingat pertemuan pertama kami.”


“Ooh! Aku yakin dia akan bahagia menerimanya.”


Putra Mahkota Langit menundukkan kepalanya, menjawab dalam diam. Dia telah memberikan Bunga Lembayung Senja kepada sang putri.


Ketika dia dan pria renta itu hendak keluar dari bangunan itu, dia dikejutkan oleh kehadiran dua sosok yang tidak asing baginya. Mereka adalah Hermine dan Dorian, berdiri di dekat salah satu pilar.


“Sudah lama sekali.” Suara Hermine terdengar datar, begitupun dengan wajahnya yang tidak mudah dibaca.


Sebelum Putra Mahkota Langit menjawab, pria renta di sebelahnya sudah bicara. “Oh, nona Hermine. Bagaimana kabar Anda?”


“Seperti biasa, tuan. Saya senang melihat Anda masih hidup dan sehat. Suami saya akan mengganggu Anda sebentar, apakah Anda ada waktu?” kata Hermine.


“Tuan Dorian di sini juga? Oh tuan, apa kabar?” pria renta itu terdengar ceria. Dorian menghampirinya kemudian menuntunnya berjalan. “Nona, saya titip pria baik ini. Dia telah menemani saya ke sini, jadi tidak perlu khawatir. Dia akan mengantarmu kemanapun kau mau nak, tenanglah. Sampai nanti.” Kalimat terakhir sang pria renta ditujukkan kepada Putra Mahkota Langit sebelum dia dan Dorian semakin menjauh.


Putra Mahkota Langit memandangi kepergian sang pria renta dalam diam. Kemudian, ketika matanya kembali pada Hermine, wanita itu menatapnya dengan agak jengkel. Dia mengerti situasinya, jadi dia mengatur kata-katanya. “Saya datang ke sini untuk memberi penghormatan bagi sang putri,” demikian katanya.


“Ya, saya melihat Anda,” jawab Hermine. “Dengan masa lalu apapun yang ada di antara kerajaanmu dan kerajaan kami, Anda seharusnya tahu keberadaan Anda tidak akan disambut baik di sini. Anda bahkan seharusnya jangan berharap pengampunan dari kami.”


Putra Mahkota Langit mengangguk pelan. “Saya sadar,” katanya.


Hermine mengisyaratkan dengan kepalanya agar sang pangeran mengikutinya. Keduanya berjalan keluar kompleks monumen. “Saya tidak tahu bagaimana hubungan Anda dengan Yang Mulia pada masa itu, tetapi saya asumsikan Anda sudah saling mengenal. Yang Mulia tidak akan sembarangan mengundang seseorang ke dalam ruangan pribadinya, tetapi dia mengundang Anda, dari semua orang yang ada di bumi.” Hermine berhenti sejenak. “Dia memberikan mantra pelumpuh pada Anda, kan?”


Mendengar ini sang pangeran sedikit terkejut. “Anda tahu?”


“Karena dia secara spesifik menginstruksikan kami,” jawab Hermine. “Saya tidak mengerti banyak, tidak juga saya berusaha mencampuri urusan Yang Mulia. Tapi saya tahu, bahwa dia melakukan segala sesuatu tidak pernah tanpa alasan. Kemudian saya banyak berpikir sendiri, lalu suami saya rupanya memikirkan hal yang sama, jadi kami sama-sama berasumsi. Apakah kalian pernah bertemu selama masa perburuan Yang Mulia?”


Putra Mahkota Langit tidak menjawab.


Hermine mendengus keras. “Sudah saya duga, pasti ada sesuatu di antara kalian.” Setelah jeda yang agak lama, Hermine melanjutkan. “Jika asumsi kami benar, saya harap Anda mengerti kehilangan besar yang kami rasakan. Bagi kami, Anda telah mengambil harta paling berharga dari kami. Saya tidak tahu Anda merasa bersalah atau tidak, tetapi melihat tindakan Yang Mulia pada waktu itu, dia pasti sudah tahu perasaan Anda.”


Hermine berhenti, menatap Putra Mahkota Langit dengan mata tegasnya. “Yang Mulia adalah seorang manusia yang amat lembut dan baik hati, meskipun orang-orang tidak memandangnya sebagai manusia. Sekarang ketika dia sudah pergi, kami tidak bisa berharap apa-apa kecuali supaya dia mendapat tempat yang layak di alam sana, supaya dia merasa tenang dan bahagia. Kami benar-benar mencintainya, dalam wujud apapun itu. Jika Anda bisa berbicara dengan dewa Anda, tolong pastikan bahwa Yang Mulia mendapat semua kebahagiaan yang layak. Supaya dia jangan khawatir meskipun kami tidak akan berhenti merindukannya, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk hidup mandiri.”


Kata-kata Hermine membayanginya sepanjang perjalanannya pulang. Dia termangu sepanjang perjalanan, memikirkan berbagai macam hal dalam pikirannya. Ketika dia tiba di istananya, orang-orang yang sudah menunggunya segera meminta jawaban. Panas terik yang ganjil ini mendorong emosi setiap orang untuk memuncak dengan mudah.


Tetapi dengan suara dinginnya Putra Mahkota Langit berkata, “Dewa belum bicara pada saya.”


Dia tidak berbohong. Tetapi dia juga tidak berkata jujur. Orang-orang yang tidak mengetahui ini merasa kecewa, namun mereka tidak mendorong sang pangeran karena mereka yakin ini bukan salah sang pangeran. Jadi mereka kembali dengan rutinitasnya masing-masing untuk terus mengadakan upacara pada dewa. Sementara itu sang pangeran sendiri kembali ke kegiatannya mengisolasi diri.


Beberapa waktu berlalu, dan hawa panas belum juga menghilang dari Istana Peristirahatan Awan, yang mana adalah ganjil karena kerajaan ini terletak di atas gunung. Lama kelamaan orang-orang menyadari hal lain. Ketika musim berganti, mereka tidak kunjung menerima hujan.


Istana Peristirahatan Awan adalah kerajaan yang menonjol dengan sistem agrarisnya, didukung oleh tanah yang subur. Tanpa hujan, tanah mereka akan kekeringan, dan tanaman tidak akan tumbuh. Awalnya mereka tidak begitu khawatir, namun seiring dengan waktu, tanah benar-benar semakin mengering dan tanaman semakin sulit untuk tumbuh. Sekali lagi, mereka menghadapi kesulitan dan mendorong para pendeta untuk meminta hujan pada dewa.


Paceklik panjang itu akhirnya memaksa para pendeta untuk mati-matian berusaha menyenangkan dewa. Tetapi dewa tidak kunjung menjawab mereka. Mereka akhirnya datang kepada Putra Mahkota Langit dan memohon padanya. Dengan dorongan yang kuat dari segala macam kalangan, Putra Mahkota Langit setuju untuk memimpin upacara besar untuk memohon hujan pada dewa. Upacara besar itu akan dihadiri semua pendeta, semua anggota kerajaan, bahkan orang biasa.


Dia meminta keinginan yang akan dipanjatkan pada dewa untuk ditulis di secarik kertas, dan dia membacakannya pada upcara itu. Dengan telaten dia membaca satu demi satu permohonan yang ditulis dalam kertas itu, kemudian saat permohonan itu habis, dia mengambil jeda yang agak panjang untuk memanjatkan permohonannya sendiri.


Tepat satu hari setelah upacara besar itu berlangsung, sebuah insiden terjadi.


Sosok seorang hantu yang dibalut pakaian serba hijau tua muncul di Istana Peristirahatan Awan. Hantu itu begitu kuat sehingga dia membawa kabut hitam dan angin kencang bersamanya. Sosoknya melayang di udara, tampak mengerikan dengan kabut hitam mengelilinginya. Suaranya menggelegar namun tidak terdengar marah, lebih terdengar dingin. Dia pertama-tama tertawa, menarik perhatian semua orang. Kemudian ketika Putra Mahkota Bumi dan Putra Mahkota Langit keluar, dia menghentikan tawanya. Dagunya bertumpu di tangannya, dari gerakannya seolah dia sedang duduk pada sesuatu.


Ketika kedua putra mahkota mengamati lebih dekat, mereka mengenal siapa hantu itu. Dia adalah Angin Laut. Angin Laut yang sejatinya telah mati kini bangkit lagi sebagai sesosok hantu. Energi negatifnya yang amat besar membuatnya mampu bangkit kembali.


“Dewamu tidak menjawabmu?” hantu Angin Laut berkata dengan dingin namun tenang. “Bagaimana dia bisa menjawabmu jika aku menghalangi kalian?”


Hantu Angin Laut telah menyulut amarah orang-orang, tetapi dia melanjutkan lagi. “Aku penasaran, apakah dewa kalian telah mengutuk istana itu? Bagaimana reaksi mereka? Apakah mereka menderita? Aku ingin pura-pura tidak tahu, tapi aku rasa aku sudah tahu, karena aku tidak merasakan apa-apa, aku tidak merasakan kematian yang besar dari sana. Jadi aku rasa, sia-sia?”


Pada saat itu Putra Mahkota Langit hampir marah.


“Tetapi baiklah, biar aku saja yang membuat orang-orang menderita. Sebagai ganti dari kutukan yang diberikan dewa kalian untuk istana itu, aku yang sekarang akan mengutuk kalian. Aku telah mengutuk tanah kalian supaya hujan tidak lagi turun atas kalian, supaya tanah kalian mengering, hewan ternak kalian mati, dan anak-anak kalian mati kelaparan. Jika kalian ingin bebas dari kutukan ini, berikan aku seratus nyawa untuk kuberi makan pada pasukan hantuku. Jika tidak, paceklik ini akan selamanya menghantui kalian.”


Sampai suatu saat, Putra Mahkota Bumi mendatanginya, secara terang-terangan meminta agar dia sekali lagi memohon pada dewa agar kerajaan mereka dibebaskan dari kutukan hantu Angin Laut. Meskipun demikian, Putra Mahkota Langit menjawab dengan pasif, “Kutukan itu tidak bisa dicabut kecuali sang hantu mati. Tidak ada cara selain menerima kutukannya, atau memenuhi permintaannya. Jika kakak mau, ada cara untuk menangkap dan membunuh hantu itu untuk selamanya.”


“Bukannya dewa lebih berkuasa daripada hantu?”


“Kakak sudah mendengarnya. Dia telah menghalangi komunikasi langsung antara dewa dan manusia. Kakak harus menangkap hantu itu.”


“Bagaimana cara membunuhnya selamanya?”


“Hancurkan abunya.”


“Dan di mana abunya?”


“Aku tidak tahu.”


Putra Mahkota Bumi terlihat kecewa. Kemudian dia berkata, “Adikku, tolong lakukanlah sesuatu untuk menyelamatkan kerajaanmu. Aku tahu apa yang terjadi pada Istana Angin Selatan sangat disayangkan, dan aku mengerti duka mereka. Tetapi tolong jangan buat kerajaanmu menderita hal yang sama dengan mereka, lakukan sesuatu untuk menyelamatkan kerajaanmu. Aku tahu… dukamu terhadap sang putri. Jadi tolong…”


Putra Mahkota Langit terdiam sejenak, kemudian hatinya melunak. “Baiklah. Aku akan mencoba bicara dengan dewa. Tetapi jangan ganggu aku selama itu. Kakak tetap harus mencari hantu itu dan menangkapnya, lalu mencari tahu di mana abunya. Sisanya biar aku yang lakukan.”


Selama beberapa hari setelahnya, kegiatan di Istana Peristirahatan Awan terpecah menjadi 2; para tentara mencari keberadaan sang hantu dibantu dengan para pendeta, dan para pendeta sibuk memberikan persembahan untuk memanggil dewa. Sementara itu Putra Mahkota Langit melakukan upacara sendirian di Ruang Putih, selama berhari-hari mengurung dirinya, tidak makan, tidak minum.


Seiring berjalannya waktu, tidak satupun yang dilakukan Istana Peristirahatan Awan berhasil. Paceklik tetap melanda tanah mereka, dan hantu Angin Laut tetap tidak ditemukan. Tujuh hari setelah Putra Mahkota Langit berada dalam pertapaan, dia keluar untuk pertama kalinya dan segera menuju kuil istana. Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan, karena segera setelah dia memasuki kuil, dia menutup semua pintu dan memerintahkan supaya tidak seorang pun masuk.


Kemudian keesokan harinya, sebuah petir besar muncul di langit dan menyentuh halaman Istana Peristirahatan Awan. Cahaya dari petir itu hampir membutakan orang-orang. Kemudian ketika mereka keluar untuk melihat, sebuah kereta yang tertutup muncul di halaman istana. Kereta itu amat sederhana, dibuat dari papan kayu dan lapis demi lapis kain putih yang agak pucat, ukurannya pun tidak begitu besar, tetapi mungkin orang dewasa muat jika berlutut di dalamnya. Meskipun begitu karena kain yang menutupinya berlapis-lapis, orang lain tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana.


Pada saat itu, Putra Mahkota Langit keluar, dan berdiri di depan kereta itu dia berkata, “Surga telah mengirimkan utusannya untuk membantu Istana Peristirahatan Awan menangkap dan menyingkirkan hantu Angin Laut. Putra Mahkota Langit yang akan bertanggung jawab atas segala keperluan berkaitan dengan sang utusan.”


Putra Mahkota Langit memerintahkan agar kereta itu dipindahkan ke dalam kuil, jadi orang-orang memanggulnya seperti tandu raksasa untuk memindahkannya, karena kereta itu tidak beroda. Orang-orang masih bertanya-tanya siapa utusan itu, tetapi Putra Mahkota Langit tidak menjawabnya.


Dia yang kemudian bertanya kepada utusan itu dimana tempat persembunyian hantu Angin Laut. Seolah sebagai jawaban, secarik kertas jatuh ke lantai dari kereta itu. Putra Mahkota Langit membacakannya. “Berjalanlah ke Puncak Gunung Tenggara, di sana hantu Angin Laut dan pasukannya bersembunyi.”


Mengikuti instruksi itu, pasukan besar Istana Peristirahatan Awan beriringan menuju ke Puncak Gunung Tenggara, dipimpin Putra Mahkota Bumi. Selama lima hari Istana Peristirahatan Awan terasa sepi karena sebagian penghuninya telah pergi bersama rombongan itu. Kemudian menjelang penghujung hari keenam, seluruh pasukan itu kembali.


Mereka telah berhasil mengusik persembunyian hantu Angin Laut. Mereka memerangi hantu-hantu itu mengikuti instruksi para pendeta, membunuh dan mengusir banyak hantu, kemudian dengan keadaan terpojok sang hantu Angin Laut pergi meninggalkan Puncak Gunung Tenggara.


Dibekali rasa senang yang luar biasa, orang-orang berbondong-bondong memanjatkan terima kasih kepada sang utusan yang keretanya masih berada di dalam kuil. Selanjutnya, mereka menanyakan di mana mereka bisa menemukan abu hantu Angin Laut. Jawaban itu muncul dengan cara yang sama melalui kertas.


Tetapi kali ini Putra Mahkota Langit berkata, “Sang utusan telah meminta Anda sekalian untuk menunggu hingga esok hari.”


Orang-orang kecewa, tetapi karena mereka percaya pada utusan itu, mereka menahan dirinya. Sementara itu, Putra Mahkota Bumi meminta penjelasan kepada Putra Mahkota Langit mengapa mereka harus menunggu hingga esok untuk menerima jawaban sang utusan.


“Abu jenazah hantu Angin Laut mulanya berada di wilayah Istana Angin Selatan, tetapi abu itu sudah dipindahkan. Kemungkinan besar, setelah bangkit menjadi hantu, Angin Laut mencuri abu jenazahnya sendiri dan memindahkannya. Sang utusan perlu waktu untuk mencari abu itu.”


Puas dengan jawaban itu, Putra Mahkota Bumi kembali ke ruangannya sendiri.


Keesokan harinya sang utusan memberikan jawabannya. Hantu Angin Laut sekarang berada di gua di daerah barat. Jika mereka mengikuti hantu itu, maka kemungkinan mereka bisa menemukan abu jenazahnya.


Dengan bersemangat, pasukan itu berangkat lagi. Dan benar saja, mereka menemukan hantu Angin Laut bersembunyi di sebuah gua. Karena sejak awal hantu Angin Laut kuat, tujuh puluh orang pasukan pun kewalahan melawannya. Tetapi kemudian hantu Angin Laut menghilang tiba-tiba dan tidak kembali selama beberapa saat, membuat bingung semua pasukan. Saat tiba-tiba dia kembali, dia membawa sesuatu di tangannya yang pucat pasi seperti abu.


Dia berteriak mengancam. “Jika kalian macam-macam denganku, akan kubunuh dia!” Dia terdengar marah.


Di tangannya, leher Putra Mahkota Langit dicengkeram dan diangkat seolah dia seringan bulu. Melihat itu, Putra Mahkota Bumi sekalipun tidak berani melakukan apa-apa meskipun dia sangat marah. Namun kemudian hantu Angin Laut tiba-tiba menghilang lagi, entah ke mana. Di dalam keputusasaan dan amarah, Putra Mahkota Bumi dan pasukannya segera kembali ke Istana Peristirahatan Awan.


Sementara itu, hantu Angin Laut menyembunyikan sang pangeran di sebuah gua yang tersembunyi di lembah di daerah barat. Entah sengaja atau tidak, gua itu sangat dekat dengan tempatnya dieksekusi mati oleh sang pangeran dan pasukannya, seolah jiwanya secara sadar menariknya ke situ. Sementara sang pangeran duduk diikat di batu, hantu Angin Laut mondar mandir di sekitarnya.


“Apakah kau mengerti sekarang? Apa kau mengerti kata-kataku? Apakah kau menyaksikannya mati?” hantu Angin Laut berkata. Matanya tampak bergerak liar. “Aku tahu kita ditakdirkan untuk bertemu, aku hanya tahu aku harus bertemu denganmu suatu hari. Siapapun dirimu, aku harus membuatmu menderita. Siapapun itu, terutama kau.”


Dengan tenang Putra Mahkota Langit berkata, “Apa kau dendam padaku karena aku yang membunuhmu?”


“Benar, tetapi tidak hanya itu. Kau telah bertemu kakakku, aku tidak bisa membiarkannya. Siapapun itu, tidak ada yang berhak atas kakakku. Apakah kau tahu deritanya? Tahu rasa sakitnya? Tidak ada yang berhak atas dirinya! Dia berhak mendapatkan lebih!”


“… Apakah kau… marah pada semua orang?”


“Tidak, aku hanya marah pada satu orang,” jawab hantu Angin Laut. “Aku tahu kau sudah bertemu dengan kakakku sejak mataku melihatmu pertama kalinya. Aku membiarkanmu mengutuk kerajaan itu karena aku tahu kakakku pasti tidak akan membiarkannya, dan dia pasti akan memilih untuk mati. Semua keluarganya sudah mati, jadi untuk apa dia hidup?”


“…”


“Apakah kau melihat saat dia mati? Sepertinya tidak.” Hantu Angin Laut bergumam sendiri. “Tapi aku yakin kau menderita. Ckckck, kau harus menderita seperti kakakku menderita mengetahui aku sudah mati. Apakah kau tahu? Kakakku dan aku terhubung secara spiritual, jika aku hidup, dia akan tahu, jika aku mati, dia akan tahu. Jadi ketika kau membunuhku, dia tahu semuanya. Dia tahu aku telah mati di tangan seorang pendeta. Bayangkan itu, rasa sakitnya ketika tahu adiknya sudah mati di tanganmu. Apakah kau merasakannya? Apakah kau merasa patah hati? Apakah kau mengerti sekarang?” hantu Angin Laut tertawa tiba-tiba.


Ini adalah sesuatu yang Putra Mahkota Langit tidak ketahui, dan mengetahuinya dengan cara seperti ini, muncul luka segar baru di hatinya.


Dia hanya bisa membayangkan betapa sedihnya ketika Hymne mengetahui adiknya telah mati di tangan seorang pendeta. Dan ketika dia datang di pertemuan hari itu, dia sesungguhnya ingin mencari tahu pendeta mana yang telah membunuh adiknya. Mengetahui dirinya telah membuat Hymne terluka sejak awal, Putra Mahkota Langit menunduk lesu. Dia telah melakukan kesalahan.