
Setiap sarapan, Hymne tidak pernah bergabung di ruang makan utama. Dia selalu sarapan bersama sang raja di ruangannya, karena sang raja yang sakit hanya bisa berbaring di kasurnya sepanjang hari. Jadi, ketika pagi itu Putra Mahkota Langit tidak melihat Hymne, dia tidak terkejut. Selepas sarapan, dia tahu kakaknya mengadakan pertemuan dengan Hymne, jadi dia tidak bertanya ke mana Hymne pergi. Menjelang siang hari, dia melihat Hymne memasuki ruangan sang raja sekali lagi, dan dia berada di sana selama beberapa jam.
Pada akhirnya, Putra Mahkota Langit tidak tahu kapan Hymne keluar dari ruangan sang raja, tetapi ketika menjelang sore, perdana menteri mengundangnya dan Putra Mahkota Bumi untuk menghadiri pertemuan di aula istana. Sang Putri Mahkota telah mengundang semua orang untuk hadir. Pertemuan itu begitu mendadak, namun semua menteri menyempatkan diri untuk hadir. Putri Mahkota Angin Selatan sudah duduk di kursi kebesarannya, Dorian dan Hermine berdiri di sisi kiri dan kanannya.
Ketika semua orang sudah mengisi kursi yang tersedia, Dorian maju ke depan. Dengan suara lantang dia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh menteri dan tamu yang sudah hadir. Kemudian, dia menyatakan tujuan pertemuan itu, “Putri Mahkota Angin Selatan telah mengundang saudara sekalian yang terhormat untuk menyampaikan keputusannya atas permintaan Istana Peristirahatan Awan.”
Dorian berputar dan Hymne memberinya selembar kertas. Pria itu menghadap ke seluruh tamu dan membuka gulungan kertas di tangannya. Wajahnya keras, dan ada jeda yang mematikan sebelum ia mulai membaca. “Putri Mahkota Angin Selatan telah memutuskan untuk memberikan persembahan bagi dewa yang dirujuk Istana Peristirahat Awan, untuk membayar tindakan buruk yang telah dilakukan Pangeran Angin Laut. Putri Mahkota Angin Selatan menyatakan rasa hormatnya kepada dewa yang dirujuk Istana Peristirahatan Awan, yang telah memberikan kesempatan untuk mengajukan permohonan maaf, dan Putri Mahkota Angin Selatan dengan rendah diri telah mengajukan persetujuan untuk memberikan persembahan. Sebagai wujud permohonan maaf,”
Dorian berhenti tiba-tiba, gerakan kesunyian yang ganjil. Dia menelan ludahnya dengan gerakan yang disamarkan. “Putri Mahkota Angin Selatan akan mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa orang-orang tidak berdosa di Istana Angin Selatan.”
Apa?
Tepat pada nafas terakhir Dorian, seisi ruangan menjadi riuh. Teriakan dan bisikan terdengar dari seluruh sisi ruangan, sisa orang-orang yang tidak bersuara hanya menahan nafasnya sambil membelalakkan mata mereka.
“Ini tidak dapat diterima!” sang perdana menteri angkat bicara.
“Tenang!” Dorian kembali menaikkan suara. Dia kembali menatap kertas di tangannya ketika suara di sekelilingnya mereda. “Keputusan Putri Mahkota Angin Selatan dibuat dengan matang, dan tidak dapat diganggu gugat. Segala keperluan persembahan akan diatur oleh hamba yang setia Dorian dan Hermine. Keputusan ini telah disetujui oleh Yang Mulia Raja Istana Angin Selatan. Putri Mahkota Angin Selatan mengingatkan, bahwa segala keputusan dibuat olehnya, dan tidak boleh ada dendam yang ditujukan kepada Istana Peristirahatan Awan setelah keputusan ini dibuat.” Dia berhenti dan menghela nafasnya. “Sekian.”
“Tidak bisa!”
“Keberatan!”
“Tidak adil!”
Semua teriakan yang sebelumnya tertahan kembali berkoar, kali ini lebih ganas. Orang-orang berbicara dengan berbagai ekspresi dan nada; ada yang marah, kecewa, terkejut, ada juga yang masih kebingungan saking terkejutnya. Tetapi semua orang berbicara, baik itu berteriak ke tengah-tengah ruangan, kepada orang di sebelahnya, atau kepada dirinya sendiri. Tidak ada yang diam.
Tidak ada. Kecuali Putra Mahkota Langit.
Dia terlalu terkejut untuk mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya terbuka lebar dan mulutnya sedikit terbuka. Seluruh warna hilang dari air mukanya, dan matanya tidak berhenti menatap sosok anggun berbalut merah muda yang duduk di tengah ruangan, menghadap semua orang. Dia menolak untuk mempercayai telinganya, tetapi kegaduhan di sekelilingnya menyatakan bahwa telinganya tidak berbohong.
Hymne memutuskan untuk menyerahkan nyawanya. Dia memutuskan untuk mati.
Untuk menebus kesalahan adik laki-lakinya, untuk menyelamatkan rakyatnya dari amarah dewa, dia memilih untuk membayar dengan nyawanya sendiri.
Putra Mahkota Langit lumpuh untuk sesaat. Nafasnya bahkan tertahan. Siapa yang telah memberi wanita itu dorongan untuk membuat keputuasan seperti itu? Sang putri sendiri? Mengapa dia mau mengambil keputusan itu? Kenapa tidak memilih pengorbanan lain? Kenapa harus nyawanya?
Pada saat itu, Putra Mahkota Langit bisa mendengar hatinya bergemuruh. Atau mungkin langit yang bergemuruh, atau keduanya. Yang jelas, suara gemuruh yang tajam menggaung di telinganya. Suara itu seolah menggambarkan sesuatu tengah runtuh. Pada waktu itu dia belum sepenuhnya sadar, jadi sekalipun suara gemuruh itu mengejutkannya, dia hanya diam tidak bereaksi.
Ketika situasi menjadi semakin kacau, beberapa menteri turun dari kursinya dan berjalan ke tengah-tengah aula. Kerumunan orang di hadapan sang putri menjadi semakin banyak, dan teriakan memelas muncul dari mana-mana. Ketika itu, Dorian yang masih berdiri di tempatnya mengangkat suaranya sekali lagi. Wajahnya lebih keras dari sebelumnya. “Penjaga!” titahnya.
Sekelompok penjaga yang membawa tombak memasuki aula dengan langkah seragam. Mereka mendorong mundur orang-orang agar kembali ke kursinya. Setelah beberapa saat, jalur yang bersih muncul di tengah-tengah ruangan, dibarikade oleh tombak para penjaga. Tetapi suara orang-orang tidak mereda. Akhirnya, sang Putri Mahkota bangkit dari kursinya. Seketika, suara-suara itu mereda.
Tetapi Hymne tidak bersuara. Dia turun dari anak tangga yang memisahkan kursi kebesarannya, lalu menunduk hormat menghadap semua orang. Kemudian dia bergeser dan menatap kedua putra mahkota Istana Peristirahatan Awan, dan dia menghormat lagi. Putra Mahkota Langit terkejut dan mematung, tetapi ketika melihat kakaknya membalas penghormatan itu, tubuhnya secara reflek ikut membungkuk. Hymne kemudian berjalan pelan-pelan, dan pada suatu titik di tengah ruangan, dia berdiri menghadap ke pintu. Saat itu, suara gemuruh terdengar di langit, dan ketika suara itu berhenti, dia menunduk menghormat ke arah pintu.
Seketika, sebuah petir yang besar muncul dari langit, menyambar tepat ke halaman utama istana. Petir besar yang turun diiringi suara pecah yang menggelegar ini mengejutkan semua orang. Namun demikian, sang putri tetap menjaga posturnya. Dia mengangkat tubuhnya ketika petir dan suara dari di langit menghilang, lalu dengan langkah tegap berjalan keluar dari ruangan itu.
Bagi Putra Mahkota Langit, semuanya sudah jelas. Dewa sudah menjawab sang putri. Persembahannya akan diterima.
Dia sekarang bisa membayangkan mengapa dewa mau menerima persembahan satu nyawa untuk menyelamatkan ratusan bahkan ribuan. Sejak awal, Hymne adalah seseorang yang istimewa. Dia mungkin memiliki campuran darah iblis, tetapi sepanjang hidupnya dia berusaha untuk berbuat baik demi manusia. Dia adalah sosok yang berharga, dihormati, dan disakralkan di kerajaannya. Sosoknya sangat berarti bagi seluruh kerajaannya. Satu nyawanya saja cukup untuk menebus ratusan nyawa rakyatnya.
Jadi ketika Hymne meminta untuk dihubungkan dengan dewa, dia tanpa segan menawarkan segalanya, nyawanya. Dan dewa telah menerima penawaran Hymne.
Pada saat itu, meskipun rasanya ia sudah kehilangan tenaga, Putra Mahkota Langit merasa tubuhnya jatuh lebih jauh lagi.
“Kakak,” katanya agak parau. “Apakah kakak tahu?”
Putra Mahkota Bumi membalas tatapan adiknya segera setelah ia dipanggil. Dia tidak menjawab, hanya menghela nafasnya pelan-pelan. Gerakan itu meyakinkan sang Putra Mahkota Langit, bahwa kakaknya sudah mengetahui hasil keputusan itu sebelum sang putri mengumumkannya.
“Kau melihatnya sendiri, adikku. Dewa telah menjawabnya.” Hanya kalimat sederhana ini yang mengalir dari mulut Putra Mahkota Bumi.
Putra Mahkota Langit merasa kepalanya menggeleng, tetapi rupanya itu hanya di dalam pikirannya saja. Meskipun demikian, matanya yang membelalak menunjukkan rasa tidak percayanya mentah-mentah. Namun demikian dia tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kakaknya selain menatapnya. Tidak ada kata-kata dalam kepalanya, dan meskipun mulutnya sedikit terbuka, tidak ada udara yang mengalir dari sana. Dia tahu tindakannya akan sia-sia, jadi dia memutar pandangannya.
Namun seketika itu juga dia terpaku ketika seseorang yang tidak dia kenal tiba-tiba berteriak padanya. “Apakah ini yang kalian mau! Untuk membunuh Putri Mahkota kami!”
Tidak.
“Inikah rencanamu dari awal!”
Tidak.
“Apakah dewa kalian seorang monster!”
Tidak.
“Kalian mau mengutuk kami!”
Tidak.
Putra Mahkota Langit menjerit di dalam hatinya. Tidak benar, semuanya tidak benar. Tidak ada yang menginginkan akhir yang seperti ini. Sejak awal, jika saja bukan kerajaannya yang mengungkap tindakan iblis Angin Laut, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Tidak ada juga yang mengharapkan sang putri untuk melakukan tawar menawar persembahan dengan dewa. Segala sesuatu yang telah terjadi, tidak ada yang menginginkannya.
Begitupun aku tidak mau dia mati.
Dia yang mencari wanita itu dengan sengaja, bahkan meminta dewa untuk mempertemukan mereka. Dia yang berusaha untuk mencari kesempatan bertemu dengan wanita itu. Dia yang meminta untuk mengikuti wanita itu selama tujuh hari, supaya dia dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. Dia yang mencari wanita itu ketika mendengar kota terakhir yang dia tempati diserang. Dia yang mencarinya, dia yang menginginkan pertemuan mereka.
Bagaimana bisa dia menginginkan wanita itu mati?
Pada saat itu, bahkan jenderal dari Istana Peristirahatan Awan yang hadir di ruangan itu ikut maju bersama para penjaga yang menahan agar orang-orang tidak semakin mendekati kedua putra mahkota. Putra Mahkota Langit tidak mau berada di tempat itu lebih lama. Dia ingin menemui wanita itu. Mengabaikan semua suara di sekelilingnya, dia berjalan keluar ruangan, pikirannya terpaku menuju ruangan sang putri yang entah di mana. Tetapi baru saja dia berbelok dari pintu, dua orang pelayan wanita menghadangnya.
Keduanya menunduk. Salah seorang dari mereka membawa selembar kertas.
“Putri Mahkota Angin Selatan telah menginstruksikan agar tidak membiarkan tuan mengunjunginya.”
Dia ingin menemui wanita itu, tetapi wanita itu tidak mau menemuinya? Hatinya menjerit.
Seorang yang membawa kertas kemudian menyerahkan kertas itu dengan kedua tangannya. “Tetapi, Putri Mahkota Angin Selatan telah menyampaikan suratnya untuk tuan. Beliau mengharapkan kehadiran Anda malam ini di ruangannya.”
Putra Mahkota Langit menerima surat itu dan membukanya seketika. Hymne mengundangnya untuk bertemu di ruangannya malam itu setelah makan malam. Hermine akan menjemputnya di ruangannya ketika waktunya tiba.
Meskipun dia tidak lagi merasa sedih karena mengira Hymne tidak ingin bertemu dengannya, dia juga tidak merasa tenang. Bahkan, dia tidak tahu apa yang dia rasakan, dia tidak bisa menggambarkannya. Ini adalah perasaan baru baginya, sebagaimana segala sesuatu selalu baru ketika menyangkut dengan Hymne.
Dia patah hati.