
Pada saat keduanya keluar dari restoran tempat mereka berteduh dan makan sebelumnya, gerimis kecil masih menghujani bumi, jadi mereka kembali berpayung Selubuh Buta. Payung merah itu masih terlihat amat mencolok meskipun desainnya sudah sedikit berubah menjadi agak lebih pendek. Mereka kemudian berjalan pelan-pelan menyusuri sisi jalan, tidak terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat. Tangan Faith melingkar di lengan atas Red dengan gemulai. Langkah mereka seragam. Mereka hanya berjalan tanpa tujuan, semata-mata untuk menghabiskan waktu bersama.
“Tentang Hymne dan sang Putra Mahkota Langit, kapan kisah mereka berubah menjadi kisah mengenai Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya? Kau bilang kisah keduanya adalah kisah lengkap dari kisah sang putri mahkota, tetapi sampai saat ini mereka belum berhubungan, kan?” Faith bertanya di tengah perjalanan mereka.
“Mereka akan berhubungan sebentar lagi. Jika kamu merujuk pada kisah heroik yang tragis itu, aku bisa menceritakannya sekarang karena moment ini terjadi tepat setelah terakhir kali sang pangeran bertemu wanitanya. Apakah kamu mau mendengarnya sekarang?” kata Red.
“Tolong beritahu aku.”
Kemudian sepanjang perjalanan, Red kembali melanjutkan ceritanya atas permintaan Faith. Sekali lagi, cerita itu bergulir bagaikan film.
Setelah kembali ke kerajaannya dan menjelaskan keperluannya berburu hantu di beberapa tempat lalu menghilangkan pertanyaan dari semua orang mengenai kepergiannya, Putra Mahkota Langit kembali mengemban sosoknya sebagai seorang pangeran dan pendeta berwibawa. Dia kembali ke sosok profesional dan kakunya, seolah sebuah tombol telah ditekan kembali di dalam dirinya ketika dia tidak bersama Hymne. Dan hanya kali ini, berbekal rasa malu ketika melihat adegan di sungai, dia tidak memberitahu kakaknya bahwa selama kepergiannya dia selalu bersama Hymne. Dan dia juga tidak mau menimbulkan kecurigaan atau pertanyaan lebih panjang, jadi dia merahasiakannya.
Hingga suatu hari, ketika dia kembali dari pertapannya yang memakan waktu tujuh hari, dia mendapati Putra Mahkota Bumi telah membawa pasukannya tempo hari untuk mengatasi sebuah pemberontakan. Ketika dia menyentuh istana, beberapa puluh pasukan tengah mempersiapkan diri untuk berangkat menyusul sang putra mahkota. Dia kebetulan sedang ada di sana, jadi dia bertanya.
“Pemberontakan macam apa yang mengharuskan Putra Mahkota Bumi terjun langsung membawa pasukannya sampai harus memanggil bala bantuan?”
Seorang prajurit yang ia ketahui adalah pemimpin sebuah pasukan kecil menjawabnya. “Dengan segala hormat, Pangeran Pendeta, para pemberontak telah datang dalam jumlah yang tidak begitu banyak, namun tindakan mereka begitu barbar dan kehancuran yang mereka bawa sangat besar, sehingga Putra Mahkota Bumi telah memerintahkan sebanyak tiga puluh prajurit untuk turun membantunya. Dalam surat resmi sang Putra Mahkota Bumi, beliau menyatakan bahwa pemberontak ini bukan pemberontakan biasa. Dinyatakan bahwa mereka membawa… kekuatan mistis bersama mereka.” Sang prajurit terbata ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Kekuatan mistis? Kekuatan macam apa?” tanya Putra Mahkota Langit.
“Masih belum jelas, Pangeran Pendeta. Mungkin itu sebabnya beliau meminta bantuan tambahan bala tentara.”
“Di mana pemberontakan itu terjadi?”
“Kota Beringin di barat daya, Pangeran Pendeta.”
Kota Beringin dinamai demikian karena di kota itu banyak tumbuh pohon Beringin. Itu adalah kota terakhir tempat Putra Mahkota Langit berpisah dengan Hymne.
Jika petir bisa menyambar di siang bolong tepat mengarah kepadanya, maka itu akan lebih baik bagi sang pangeran daripada dia harus mendengar berita itu. Dia menyembunyikan kekhawatirannya yang bercampur aduk di dalam wajah kerasnya, lalu menyaksikan ketika ketiga puluh pasukan istananya berangkat. Kemudian, ketika dia yakin rombongan itu sudah mulai menjauh, dia mengambil baju zirahnya, pedangnya, lalu kudanya, dan berpacu ke Kota Beringin sendirian.
Perjalanan yang memakan waktu dari siang hingga matahari tenggelam dan digantikan bulan itu terasa amat panjang baginya. Dia tidak hanya tumbuh sebagai seorang pendeta, tetapi seorang pangeran, dan berlatih kemampuan berperang ada dalam pendidikan wajibnya, jadi dia lihai berkuda dan bela diri. Dia tidak takut untuk terjun ke peperangan meskipun dia membawa status sebagai seorang pendeta. Dia telah melawan hantu sebelumnya, jadi kemampuan bertarungnya sebagai seorang pendeta akan sangat berguna untuk menghadapi musuh yang bersifat spiritual. Bukan masalah sama sekali baginya untuk berperang saat ini.
Ketika dia tiba di Kota Beringin, kota itu sudah hampir hancur lebur. Bangunan hancur disana sini, pepohonan tumbang, api menyala di beberapa tempat, orang-orang berlarian, ada yang mencoba memadamkan api, ada yang membawa barang-barangnya dengan panik, ada yang menyeret-nyeret tubuh orang yang entah sudah mati atau masih hidup. Waktu itu gelap, jadi sang pangeran sendiri tidak bisa melihat bahwa di kaki kudanya bercak darah dan lumpur bercampur menjadi satu di antara jejak tapak kuda lainnya. Hanya karena bantuan cahaya bulan dan api dia bisa melihat beberapa mayat bergelimpangan di sekitarnya.
Dia memalingkan matanya kesana kemari, tampak mencari sesuatu. Kemudian dia turun dari kudanya dan mencari seseorang. Dia menemukan seorang wanita yang membawa buntalan kain besar di pelukannya, tampak ingin melarikan diri.
Suaranya hampir serak ketika dia menahan diri untuk tetap menjaga ketenangannya. “Nona, di mana pasukan Istana Peristirahatan Awan?”
Wanita itu terkejut dan wajahnya ketakutan. “Mereka melawan hantu!” ujarnya.
“Dimana?” dia bertanya sekali lagi.
“Di sana, di mana-mana!” wanita itu menunjuk ke segala arah.
Putra Mahkota Langit mengganti pertanyaannya, “Ke mana pasukan berkuda pergi?”
Wanita itu kemudian menunjuk ke satu arah. “Ke sana!”
Putra Mahkota Langit memacu kudanya ke arah yang ditunjuk si wanita, dan benar dia bisa mendengar teriakan perang dari sana. Ketika dia mendekat, dia bisa melihat ada api yang berkobar dari sana. Keadaan di sana lebih kacau daripada yang ia saksikan sebelumnya, dan dia terkejut untuk sesaat. Dia melihat pasukan istananya dengan zirah warna putih beradu pedang dan otot dengan orang-orang yang tampak seperti rakyat biasa dengan pakaian sehari-hari. Tetapi satu yang mencolok adalah bahwa beberapa pasukan istananya bisa beradu hanya dengan satu orang biasa, namun pasukannya tetap kewalahan. Pemandangannya seperti itu sejauh matanya memandang, di lapangan terbuka, di sebuah rumah, di dekat pohon, dia merasa melihat binatang buas bertarung melawan manusia.
Dia kemudian memutar matanya dan mencari sosok yang spesifik. Dia melihat kakaknya di dalam balutan baju zirah putih yang kotor dengan bercak darah dan tanah, dikelilingi beberapa prajurit, bersama-sama tengah berhadapan dengan dua orang yang kerasukan. Dia memacu kudanya ke sana sambil merogoh sesuatu di saku pelananya, lalu melompat turun ketika jaraknya dengan pasukan kakaknya sudah dekat.
Putra Mahkota Langit memanjatkan doa dalam Bahasa yang tidak dikenal. Tangannya yang mengepal dan menyembunyikan sesuatu yang sebelumnya dia ambil terangkat di depan matanya. Dia berjalan dengan langkah pasti mendekati kedua orang yang kerasukan itu. Ketika dia sudah semakin mendekat, dia berteriak, “Roh jahat!”
Dia masih tidak terlihat oleh kakaknya ataupun pasukannya saat itu, namun ketika dia berteriak, semua mata memandangnya. Tetapi dia tidak memandang siapapun kecuali kedua orang pria kerasukan yang kini memutar tubuh mereka dan berjalan mendekati dirinya. Dia membuka tangannya yang tadi terkepal, dan bubuk bercahaya beterbangan tertiup angin dari tangannya. Dia melangkah mundur, membawa kedua orang itu mengikutinya. Tangannya yang lain bersembunyi di balik tubuhnya.
Ketika bubuk bercahaya di tangannya habis, dia mengeluarkan tangannya yang lain dan melemparkan sesuatu kepada kedua orang di hadapannya. Seketika tubuh kedua orang kerasukan itu dipenuhi asap seolah melepuh, dan mereka melenguh kesakitan. Sambil membaca doa lagi, dia melepas pedangnya dan maju untuk menebas dan menghunus keduanya. Dia menghentikan doanya ketika menarik lepas pedangnya dari salah satu tubuh, lalu tubuh keduanya dilalap api yang muncul secara magis.
“Adik! Adik!” suara Putra Mahkota Bumi terdengar berteriak dari sekitarnya. Putra Mahkota Langit yang masih menatap dingin kedua orang yang terbakar di hadapannya tidak menggubris suara itu. Dia masih ingin memastikan kedua orang itu benar-benar sudah dibekukan. Namun kemudian tubuhnya tiba-tiba diguncang oleh sepasang tangan kuat dibalik zirah putih, dan perhatiannya sepenuhnya teralihkan.
“Apa yang kau lakukan di sini!?” Putra Mahkota Bumi berteriak padanya. Wajahnya terlihat kelelahan, namun amarah dan rasa khawatir tergambar di matanya.
“Kakak, mereka dirasuki. Kau harus mengincar jantung mereka jika ingin mengalahkan mereka. Meskipun begitu, itu hanya akan membunuh tubuh induknya, roh jahat yang merasuki mereka bisa pergi dan berpindah ke tubuh lainnya. Bawa api bersamamu, atau tetap berada di dekat api, mereka tidak menyukai api.”
Itu bukan sesuatu yang ingin didengar Putra Mahkota Bumi, namun otaknya sudah mencernanya secara tidak sadar. Lalu ketika dia mengerti situasinya, dia kembali berkata, “Apa yang kau lakukan di sini?” pada saat itu beberapa prajuritnya sudah berkumpul mengelilingi mereka.
“Aku hendak mencari seseorang, tolong jangan halangi aku. Aku akan kembali dengan selamat, aku janji.” Putra Mahkota Langit memegang bahu kakaknya dengan erat. Dia kemudian melepaskan diri. “Api dan jantung. Ingat.”
“Api dan jantung,” ulang Putra Mahkota Bumi.
Putra Mahkota Langit menjauh dari kerumunan itu dan kembali ke kudanya. Dia pergi ke arah lain, menjauh dari pertempuran. Dia membawa kudanya pergi mengelilingi Kota Beringin yang mencekam, bahkan hingga menyisir daerah hutan di sekitar kota. Dia berhenti di beberapa tempat untuk menolong orang-orang melarikan diri. Beberapa orang yang selamat bahkan tidak mengerti apa-apa kecuali untuk lari tunggang langgang tanpa arah, jadi dia memberikan mereka instruksi untuk berkumpul bersama dan membuat api unggun, atau pergi ke kota lain sambil membawa obor.
Meski dia begitu membara untuk membantu semua orang, tidak semua orang bisa dia selamatkan. Beberapa orang terlalu panik dan trauma sehingga mereka hanya duduk, menangis, atau berteriak ketakutan, dan mereka tidak mau bergerak. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain meninggalkan orang-orang itu meskipun hatinya terasa sakit. Pada beberapa orang yang masih sadarkan diri, dia berhasil mendorong mereka untuk menjauhi kekacauan. Dan sesekali, dia memberanikan diri bertanya pada mereka yang sadar;
“Apakah Anda melihat seorang pengembara dengan setelan serba hitam dan topi berselubung?”
Tetapi semua orang mengatakan hal yang sama dengan kata-kata yang berbeda. “Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah melarikan diri,” “Aku tidak tahu,” “Tidak mengenalnya,” “Tidak ada yang tahu,” “Aku tidak peduli,” “Tidak.”
Tidak. Semua orang berkata tidak.
Selama berjam-jam dia berkeliling sambil membantu orang-orang, selama berjam-jam dia menerima kata ‘tidak’. Dia tahu malam sudah menjadi semakin gelap, dan dia hanya berhenti ketika dia berdiri di salah satu bagian hutan yang agak tinggi dan menatap ke Kota Beringin yang ada di bawahnya.
Orang yang dia cari tidak ada.
Pada titik itu, pikirannya terpecah menjadi beberapa hal; pertama, orang yang dia cari sudah pergi dari situ sejak lama dan tidak pernah terjebak pertempuran ini. Kedua, orang yang dia cari sudah melarikan diri dan selamat. Ketiga, orang yang dia cari sudah tidak ada. Kepalanya sakit dan matanya memicing ketika dia menyadari dia sudah berbohong lagi. Tetapi dia tidak bisa mendorong dirinya untuk mengatakan ketakutannya yang sejujurnya. Dia takut untuk mengatakannya jadi dia berbohong dengan mengatakan hal lain.
Mati adalah berbeda dengan tidak ada.
Ketika dia berkeliling daerah barat untuk mencari wanita itu, wanita itu tidak ada.
Namun jika dia sudah tidak ada di dunia ini sebagai manusia, maka dia mati.
Dia tidak bisa mendorong dirinya untuk berpikir bahwa wanita itu sudah mati.
Dengan berat hati dia kembali ke kudanya dan mencari kakaknya. Dia tahu waktu berjam-jam yang dia habiskan untuk mencari wanita itu pasti akan sangat menyiksa bagi sang kakak dan pasukannya, jadi dia agak merasa bersalah ketika kembali ke pertempuran. Tetapi dia separuh lega ketika pertempuran itu rupanya sudah selesai. Meskipun tetap saja tidak ada yang perlu dibanggakan dari melihat sisa pertempuran; mayat bergeletakkan di sana sini, darah berceceran, alat perang berserakkan dan rusak, bau gosong api dan bau darah mewarnai hidungnya. Tidak ada yang nyaman untuk dilihat dari sana.
Dia menemukan pasukan kakaknya tengah berkumpul di salah satu bagian kota, tepat di depan sebuah rumah. Beberapa pasukan menyiagakan senjatanya, beberapa menonton dengan marah, dan kakaknya berdiri tepat di tengah kerumunan itu. Putra Mahkota Langit turun dari kudanya dan melangkah mendekat dengan hati-hati. Beberapa prajurit yang melihatnya memberinya jalan untuk mendekat ke tengah kerumunan supaya dia dapat melihat dengan lebih baik apa yang membuat mereka berkumpul.