The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 6



Ketika Putra Mahkota Langit harus kembali ke istananya dan berpisah dengan si pengembara, sang putra mahkota tidak lagi ragu untuk bertanya kemana tujuan si pengembara selanjutnya. Tetapi karena si pengembara senang bepergian ke tempat yang acak, dia tidak bisa memberitahunya secara pasti tujuan selanjutnya. Hanya saja, dia bilang mungkin akan berada di sekitar daerah barat dalam waktu dekat. Dengan demikian, sang pangeran memantapkan dalam hatinya bahwa dia akan mengawasi daerah barat selama beberapa waktu ke depan.


Putra Mahkota Langit kembali ke istananya dan menjalani rutinitasnya seperti biasa, menjalankan upacara dan ritual, membantu urusan kerajaan, sesekali bermeditasi dan berlatih seni berpedang. Dia melakukannya seperti biasa, setidaknya dia menganggap seperti itu.


Tetapi sekali lagi, kakaknya, Putra Mahkota Bumi, melihat perubahannya. Di mata kakaknya, adik tersayangnya tampak lebih santai. Dia secara alami selalu serius melakukan sesuatu, namun hanya kakaknya yang dapat melihat perubahan dalam cara adiknya melakukan sesuatu. Itu bukan hal buruk, tentu saja. Berbeda dengan sebelumnya ketika adiknya selalu melakukan segala sesuatu dengan serius sebagai rangka menuntaskan kewajibannya, kini dia terlihat lebih menikmati kegiatannya seolah itu adalah sesuatu yang dia ingin lakukan.


Jadi suatu hari, Putra Mahkota Bumi kembali bertanya. “Aku melihatmu tampak lebih bahagia belakangan ini, apakah sesuatu terjadi?”


Dan sebagai adik yang patuh, sekali lagi Putra Mahkota Langit tidak mengelak. “Aku bertemu pengembara wanita itu lagi.”


Raut wajah riang mewarnai air muka Putra Mahkota Bumi. “Benarkah? Selamat! Di mana kalian bertemu lagi?”


“Di sebuah desa di bagian utara. Dia sedang berkunjung ke sana, jadi dia tidak akan menetap di sana.”


“Apakah kau mendapatkan namanya?”


Putra Mahkota Langit terdiam sejenak. “Iya,” jawabnya pelan.


“Siapa namanya? Dari mana keluarganya berasal?”


“Aku tidak bisa memberitahumu,” jawab adiknya. Kakaknya terkejut sesaat ketika mendengar jawaban yang tegas ini. “Aku tahu maksud kakak baik, tapi aku tidak akan memberitahumu namanya. Kakak berniat mencarinya, kan?”


Kakaknya ber-oh panjang. “Kau tahu maksudku,” katanya dengan takjub. “Kau tahu adikku sayang, aku tidak pernah melihatmu bersikap seperti ini sebelumnya, jadi aku sangat penasaran wanita mana yang bisa membuatmu seperti ini. Tentu saja aku ingin melihatnya, ini adalah wanita yang membuat adikku luluh! Aku memang bermaksud mencari keluarganya dan mungkin membawanya ke sini untukmu. Sungguh, jika kau mau, katakan saja.”


Tetapi adiknya menggeleng pelan. “Tidak usah melakukannya untukku, kakak sudah punya banyak urusan kerajaan jadi fokuslah pada pekerjaan itu. Biarkan urusan ini aku yang menjalaninya sendiri. Biarkan aku mencari jalan sendiri.”


Memiliki seorang kakak yang sangat suportif adalah sebuah kelebihan, namun Putra Mahkota Langit tahu bahwa urusannya harus dia tuntaskan sendiri. Jika dia ingin bertemu dengan pengembara itu, maka dia harus mengusahakannya sendiri. Tentu saja dia tetap akan mendengarkan nasihat kakaknya, namun sebisa mungkin dia akan mengerahkan kemampuannya sendiri untuk melakukan sisanya.


“Jadi bagaimana aku harus memanggil wanita ini? Gadis pengembara berseruling?” Putra Mahkota Bumi bertanya beberapa saat kemudian.


Putra Mahkota Langit tidak mengelak. “Itu cukup.”


Pertemuan mereka benar-benar sesuatu yang ajaib. Pertemuan pertama adalah kebetulan, pertemuan kedua adalah takdir, begitu yang diyakini Putra Mahkota Langit. Sekarang ketika dia yakin bahwa permohonannya telah dikabulkan oleh dewa, dia memperdalam doanya dan memanjatkan rasa terima kasih terus menerus. Dia bukan seorang anak yang tumbuh tanpa sopan santun, dia tahu dia harus berterima kasih dan membalas kebaikan yang telah dilimpahkan padanya. Dia rajin berdoa dan bermeditasi untuk memperkuat ilmu spiritualnya, supaya dia dapat menyampaikan pujiannya kepada dewa. Dia benar-benar diberkati. Benarlah bahwa karunia dewa ketika dia lahir telah terlaksana; dia adalah seorang pendeta yang disukai para dewa, dan doa-doanya akan dikabulkan.


Imajinasi Faith buyar ketika suara gemuruh dan petir besar yang berkilat terang menciptakan melodi dan tarian di langit. Dia berhenti menatap Red untuk sesaat dan menatap keluar jendela. Hujan masih saja deras, namun sudah tidak sederas sebelumnya. Tetap saja tidak mungkin bagi mereka untuk menembus hujan saat itu, payung mereka akan sangat sia-sia. Lebih baik mereka tetap berada di dalam untuk beberapa waktu.


Ketika kembali menatap Red, Faith melihat pria itu juga menatap ke luar jendela. “Petirnya terlalu besar,” gumam Red. “Untuk hujan yang seperti ini, petirnya terlalu besar. Mungkin saja saat ini seorang dewa memang sedang marah.” Matanya kemudian kembali pada Faith. “Apa ada yang kamu dengar belakangan ini?”


Faith menggeleng. “Tidak ada. Atau mungkin aku tidak tahu, entahlah. Atau mungkin seorang dewa sedang turun ke Bumi. Aku datang sebagai petir, bukan? Lalu mendarat di sebuah lahan yang separuh gosong karena tersambar petir. Oh ya, aku ingat aku berkata kepada langit Surga sebelum turun, bahwa aku ingin turun ke Bumi dan aku mohon bantuan supaya kedatanganku tidak terlihat oleh manusia, jadi langit Surga mengirimku bersama dengan petir besar.”


“Ya, sepertinya begitu. Kalau begitu tidak aneh jika hujan besar dan petir ini sebenarnya adalah untuk menutupi kedatangan seorang dewa. Hanya saja, kita tidak bisa tahu siapa dewa itu,” kata Faith kemudian.


Red terdiam sejenak, larut dalam pikirannya. “Benar juga, setelah kuingat kembali, hujan dan guntur adalah salah satu kamuflase bagi para dewa untuk turun ke Bumi. Itu adalah semacam perjanjian yang dibuat Master Hujan dan Master Guntur dengan para dewa, bahwa mereka akan senantiasa menyembunyikan kedatangan para dewa ke Bumi dengan kekuatan mereka. Kedua master elemental ini sangat menghormati para dewa, jadi mereka dengan tulus mau membantu para dewa.”


Faith bergumam ringan. “Itu pasti terjadi sudah sangat lama sekali, karena aku belum pernah mendengarnya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wujud Master Hujan dan Master Guntur. Aku mungkin tidak pernah meninggalkan Surga untuk waktu lama, namun kedua master elemental ini tidak pernah berada di Surga, jadi aku tidak pernah bertemu. Namun mereka kedengarannya baik.” Dia berhenti sejenak. “Apakah begitu?”


“Ya, keduanya sangat baik. Mereka memilih berkelana ke seluruh Bumi sambil bekerja, menjauh dari kelimpahan Surgawi yang ditawarkan Surga, sangat rendah hati. Masalahnya keduanya juga sering terpisah, jadi mereka harus menemukan satu sama lain. Kadang kamu mendengar gemuruh dan petir, namun hujan tidak turun. Kadang turun hujan, tetapi tidak terdengar gemuruh atau petir. Begitulah mereka, elemen mereka memang dekat, namun tidak selamanya mereka saling menemukan.”


“Hmm, jadi ketika turun hujan disertai gemuruh dan petir, itu artinya mereka sedang bertemu?”


“Ya, seperti itu.”


“Ooh.” Faith mengangguk paham. “Atau mungkin bisa jadi mereka sedang bekerja sama untuk membantu menyembunyikan seorang dewa.”


“Mungkin,” jawab Red tenang.


Selama beberapa detik Faith terdiam kemudian berkata, “Jika seorang dewa memang sedang dalam penyamaran turun ke Bumi, bukankah itu akan berbahaya untukmu, Tuan Arwah?”


“Tidak juga,” jawab Red. “Mengapa itu harus berbahaya untukku?”


“Bukannya kau dan Surga punya semacam dendam tersendiri? Jika kau bertemu seorang dewa di sini, jika dewa tersebut mengenalimu, kemungkinan kalian akan terlibat semacam pertarungan kan? Aku tahu Surga tidak menyukaimu sudah sejak lama sebelum aku sendiri naik ke Surga, sangat mungkin jika mereka ingin menggunakan segala kesempatan ketika bertemu denganmu untuk melawanmu dan menangkapmu, atau bahkan membunuhmu. Bagaimana jika itu benar terjadi? Kita harus menghindari dewa yang sedang turun ke Bumi itu.” Faith menyuarakan pikirannya dengan agak cepat, namun nadanya masih tenang.


Tawa lembut dan berat terdengar dari kerongkongan Red, karena dia sama sekali tidak membuka mulutnya ketika itu. “Jangan khawatir, Putri. Jika aku harus berhadapan dengan para dewa, aku akan melawannya dan menang. Jika kamu tidak menghendaki adanya pertempuran, maka aku setuju untuk mengikuti rencanamu. Tapi tenanglah, aku masih punya banyak cara untuk menghadapi Surga seandainya pertemuan kita tidak terelakkan.”


Faith mengerenyit. “Apa yang akan kau lakukan?”


“Jika kamu tidak menginginkan pertempuran fisik, aku bisa menggunakan adu pikiran. Surga masih berhutang padaku, aku bisa menggunakannya,” jawab Red. Faith terdengar mendesah pelan. “Kecuali dirimu. Kamu tidak berhutang apa-apa padaku jadi kamu tidak perlu ikut campur masalah ini. Jika aku dan Surga harus berhadapan, kamu harus lari dan jangan berdiri di sisiku. Bisakah kamu melakukannya?”


Setelah terdiam beberapa saat sambil mengerenyit, Faith kemudian mendesah panjang. “Apa sebenarnya dirimu ini. Kenapa kau begitu peduli padaku. Kau bilang kau pengikutku, tapi kau tidak ingin aku berpihak padamu. Apakah kamu takut aku akan kehilangan pamor hanya karena kamu, pengikutku, adalah seorang monster yang dibenci Surga? Duh, aku heran,” katanya sambil menggeleng-geleng.


Kali ini Red tersenyum lebar, matanya bersinar lembut. “Putri, apakah kamu mengakuiku sebagai pengikutmu?” dia bertanya. Dia sudah tahu sejak lama bahwa Faith, Sang Putri Dewa, telah menerima kehadirannya bukan sebagai monster yang dibenci Surga. Dia juga sudah mengatakan berkali-kali bahwa dia adalah pengikut setia sang dewa, dan Faith sama sekali tidak menolaknya. Dia tidak pernah meragukan tindakan Faith. Hanya saja, karena rasa ingin tahu, kali ini dia menanyakannya secara langsung bagaimana posisinya di mata Faith.


Faith menatapnya dengan serius. “Apakah kau mempercayaiku?” tanyanya. Red mengiyakan dengan mantap. “Kalau begitu aku tidak perlu apa-apa lagi. Kau pengikutku, temanku, sahabatku, bahkan penyelamatku, kau segalanya. Apakah itu cukup?”


Red sekali lagi mengangkat tangannya untuk menggenggam tangan Faith. “Bisa menjadi pengikutmu yang berhak berlutut di hadapanmu saja aku sudah senang. Aku tidak akan pernah pantas berdiri di sampingmu, tetapi kamu mau berjalan di sampingku. Itu semua lebih dari cukup. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, melakukan semua yang kamu minta. Meskipun begitu, semua itu tidak akan pernah cukup bagiku untuk membalasmu. Aku akan terus hidup selamanya untuk bersama denganmu, meskipun kamu jatuh, aku akan menemanimu sampai kamu naik lagi. Aku tidak akan pernah mati untukmu.”