The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 1



Tahun demi tahun telah berlalu dalam damai bagi Bumi ketika Surga terus menerus melindungi Bumi dengan berperang melawan iblis dan hantu di Neraka. Sekarang, beberapa tahun setelah larangan turun ke Bumi bagi para dewa dilunakkan, Sang Putri dewa memberanikan diri turun ke bumi dalam penyamaran dan mengambil wujud sebagai seorang wanita muda. Tentu saja dia tidak sendiri, dia membawa serta Sang Roh Merah bersamanya. Dia tidak mengajak Sang Roh Merah secara terbuka dan secara sengaja mengumumkannya kepada Surga, tetapi diam-diam Sang Roh Merah sudah menunggunya di Bumi. Sang Roh Merah memiliki kemampuan berubah wujud yang entah didapat dari mana, jadi kemudian keduanya turun ke Bumi dengan wujud yang baru.


Mereka masih memiliki keindahan dalam wujud aslinya masing-masing; Sang Putri Dewa dengan rambut coklat tua dan mata yang jika tertimpa cahaya akan berkilau emas, lalu Sang Roh Merah dengan keindahan yang maskulin dan mencolok, lengkap dengan setelan merah-merah dan payung merahnya, hanya saja rambutnya menjadi pendek. Dengan wujud baru itu, keduanya memilih nama panggilan baru, Sang Putri Dewa menjadi Faith, dan Sang Roh Merah menjadi Red. Sangat setuju jika mengatakan mereka lebih terlihat elok daripada manusia biasa, meskipun keduanya sudah menanggalkan wujud dewa dan roh mereka. Mereka tetap terlihat lebih mencolok meskipun disatukan dengan lautan manusia.


Pada waktu itu, keduanya sedang berada di sebuah pusat kota yang ramai dengan hiruk pikuk penduduknya. Kota metropolitan ini diisi gedung-gedung pencakar langit, area bisnis, real estate, dan berbagai macam atraksi hiburan kota. Untuk menyesuaikan diri, keduanya mengambil wujud yang lebih cocok untuk berbaur. Red mengenakan kemeja merah maroon dan celana pantaloon hitam, rambut hitamnya disisir rapih ke belakang dengan sejuntai rambut menggantung di dekat pelipisnya. Faith mengenakan dress selutut warna putih dengan corak bunga, lengannya tertutup dengan anggun, rambut panjangnya dikepang longgar.


Mereka tengah berjalan-jalan ketika gemuruh tiba-tiba terdengar di langit yang sudah kelabu sejak beberapa waktu lalu. Keduanya berhenti di tempat pemberhentian bus, Faith berdiri di ujung sambil mendongak ke atas memperhatikan langit yang menjadi semakin gelap dan gemuruh semakin panjang terdengar. Sementara itu Red berdiri dengan tenang sambil bertumpu pada payung merahnya, gayanya sangat rileks.


“Hujan ini tidak akan berlangsung hanya sebentar. Tampaknya langit sedang bersedih,” gumam Faith tanpa melepas pandangannya dari langit. “Atau mungkin seseorang sedang marah.”


“Siapa?” tanya Red.


“Master Hujan, Master Guntur, atau salah seorang dewa lainnya. Tidak jarang amarah seorang dewa memancarkan energi yang berlebihan dan membuat langit menjadi tidak stabil,” jawab Faith. “Kita tidak bisa berada di sini jika nanti hujan benar-benar turun, akan sia-sia kita berdiri di sini. Kita harus mencari tempat berlindung lainnya.”


Pada waktu Faith berbicara, Red sudah memutar kepalanya ke sana sini mencari tempat berlindung. “Apa kamu lapar? Kita terakhir makan dua hari yang lalu.”


“Oh…” Faith kini menunduk dan tampak mengingat sesuatu. “Benar, tubuh manusia ini tidak bisa bertahan tanpa makan dan minum. Adakah rumah makan terdekat?”


Keduanya sama-sama melihat ke sekeliling mereka untuk mencari rumah makan. Tidak lama setelahnya, tetesan hujan besar-besar turun dari langit. Faith menganga sambil menatap langit, hampir terlihat menyesali nasib buruknya dan menggerutu kepada langit. Tetapi ketika itu Red menggandeng tangannya dan membawanya pergi melewati hujan yang masih gerimis besr-besar, payung merahnya terbuka. Mereka menyebrangi jalan dan melewati orang-orang yang mulai berlarian, lalu berhenti di depan sebuah restoran yang tampak mewah.


Seorang pelayan laki-laki membukakan pintu kaca mewah bagi mereka. “Selamat sore tuan dan nona, selamat datang. Untuk berapa orang?”


“Dua. Di dekat jendela jika ada,” Red yang menjawabnya.


“Baik, tuan. Boleh saya simpan payung Anda untuk Anda?”


Red tersenyum dengan gaya yang karismatik. “Terima kasih.”


Keduanya digiring ke meja di dekat jendela. Setelah memesan dan beramah tamah, sang pelayan meninggalkan mereka berdua. “Ini restoran yang mewah. Aku tidak ingat pernah makan di tempat seperti ini dulu,” kata Faith. Dia merujuk pada masa ketika ia masih menjadi manusia.


“Aku sekarang membawamu ke sini, Putri, dan aku akan memberikanmu apapun yang kamu tidak pernah miliki selama hidup.” Red berkata dengan tegas namun suaranya pelan, karenanya dia harus agak mencondongkan tubuhnya agar Faith bisa mendengarnya. “Apapun yang kamu inginkan, katakan saja. Atau tidak usah. Aku sudah tahu apa yang kamu inginkan.”


Faith bisa merasakan wajahnya memanas, lalu dia menggeleng sambil mendesah. “Oh, kau.” Dia kemudian mendengar suara gemuruh yang panjang di langit dan memperhatikan bahwa hujan sudah turun dengan deras, petir mewarnai langit ketika dia mendongak. “Hujannya akan memakan waktu tampaknya,” katanya.


Red juga tengah menatap pemandangan yang sama dari jendela. “Biarkan saja, mungkin mereka sedang bertemu.”


“Master Hujan dan Master Guntur,” jawab Red.


Kening Faith sedikit mengkerut “Bertemu? Bukankah mereka bekerja bersama?”


“Apakah kamu tahu mereka sebenarnya saling terpisah dan harus menemukan satu sama lain?”


Faith tertegun. Mulutnya separuh terbuka karena kaget. “Begitukah?” tanyanya masih setengah kaget. “Kenapa aku tidak pernah mendengarnya?”


“Mereka adalah salah satu dewa elemental yang sangat jarang menetap di Surga, lebih banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan di Bumi dan berpindah tempat, tidak heran jika kamu tidak mendengar banyak soal mereka. Manusia terutama, mendefinisikan mereka sebagai satu kesatuan, tetapi nyatanya tidak juga. Mereka bekerja sendiri-sendiri, namun sering ada waktu di mana keduanya bertemu. Sebenarnya, sejak awal keduanya memang terpisah, dan sesekali mereka bertemu satu sama lain, dan itu berlanjut hingga hari ini,” jawab Red.


“Oh begitu? Aku sungguh kurang pemahaman… tapi bagaimana kau tahu semua ini, Tuan Arwah?”


“Aku sudah hidup lebih lama darimu, dan aku mendengar lebih banyak. Tetapi sebenarnya, mereka memiliki kisah asal muasal yang cukup populer, meskipun tragis. Apakah kamu tahu kisah tentang Sang Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya (Crown Princess Who Slit Her Throat)?”


Mata Faith berkilat. “Oh, itu salah satu dari Kisah Besar Surgawi, aku ingat sekarang. Kisah-kisah Besar Surgawi adalah cerita yang menjadi populer karena banyak dibicarakan para dewa. Aku pernah mendengarnya, aku ingat salah satunya adalah kisah tentang Sang Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya. Bagaimana kisah itu berhubungan dengan Master Hujan dan Master Guntur?”


“Hm, apa yang kamu tahu soal kisah Sang Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya?” Red bertanya.


Faith berdeham kecil. “Intinya, dia adalah seorang putri mahkota dari sebuah kerajaan yang mengorbankan dirinya kepada dewa supaya rakyatnya dibebaskan dari amarah dewa. Ketulusan dan keteguhannya menyentuh hati para dewa, jadi Surga menerima pengorbanannya dan memaafkan rakyatnya. Dia kemudian naik menjadi seorang dewa karena dia sangat dipuja rakyatnya. Tetapi kita sama-sama tahu, banyak nama-nama dewa yang kemudian menjadi jarang terdengar dan akhirnya wujudnya tidak pernah diketahui lagi. Sang putri itu salah satunya. Tidak ada yang tahu dia menjadi dewa apa, dan meskipun hingga sekarang dia masih ada di Surga, mungkin orang-orang sudah lupa dengan wujudnya atau asal-usulnya.”


Red mengangguk. “Benar sekali. Dari mana kamu mendengarnya? Apakah para dewa masih membicarakannya?”


“Aku mendengar pembicaraan di sana sini. Kisah tentang Putri Surgawi yang kau ceritakan padaku dulu juga salah satu dari Kisah Besar Surgawi bukan? Di Surga, para dewa menyebutnya Kisah Dewa Tanpa Nama, karena sang Putri Surgawi tidak pernah menyandang statusnya sebagai dewa meskipun kuasanya setara seorang dewa.”


Selama mendengar ini, senyum lembut mengembang di wajah Red tanpa ia sendiri sadari. Pembicaraan mereka terpotong oleh kehadiran sang pelayan yang membawakan makanan pembuka. Untuk menghormati sup yang masih hangat itu, keduanya tidak lagi berbicara dan segera menyantap hidangan mereka. Red sesekali mencuri pandang pada Faith yang tengah menyantap supnya dengan lahap, tidak heran jika mengingat mereka terakhir kali makan dua hari lalu. Berkali-kali Red menatapnya, Faith tetap asik dengan supnya, dan Red hanya akan tersenyum sambil terus menyendok supnya.


Ketika Faith bicara sebelumnya, Red kembali mengingat memori yang sudah sangat lama tinggal di dalam kepalanya. Kemudian dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia harus tetap diam. Red tidak pernah memberitahu Faith segala hal yang terjadi sebelum kehidupan Faith sebagai manusia, selama itu berkaitan dengan dirinya. Bukannya dia ingin menyembunyikan sesuatu, dia hanya mengikuti kondisi Faith agar tidak membuatnya menjadi rumit. Gadis itu sudah kehilangan semua ingatannya, kecuali ingatan di kehidupannya yang terakhir sebagai manusia, jadi berusaha mengingatkannya pun hanya akan berbuah nihil.


Meskipun begitu, hal itu tidak mengubah apapun bagi Red. Faith tetap menjadi dewanya, baik Faith mengingat masa lalunya atau tidak. Jika dia tidak ingat, Red akan tetap memujanya seperti dewa. Jika dia ingat, Red akan melanjutkan devosinya. Pada titik ini Red tidak malu untuk mengakui bahwa dia adalah satu-satunya pengikut Faith yang paling setia. Red tahu segalanya tentang dewanya, dan dia akan terus mengikuti dewanya apapun yang terjadi.


Tidak ada yang berubah. Tidak juga dengan kenyataan bahwa Faith sendiri adalah Sang Putri Surgawi. Meskipun, Faith sama sekali tidak tahu mengenai hal ini.