
Putra Mahkota Bumi menghembuskan nafas pelan. “Sang dewa tidak mematok persembahan apa yang harus diberikan kepadanya, namun begitu persembahan itu haruslah sesuatu yang setimpal dengan perbuatan iblis Angin Laut. Jika Putri Mahkota bersedia, pendeta kami akan menyampaikan permintaan maaf tersebut. Apabila dewa berkenan, maka hukuman yang telah disiapkan dewa bisa dicabut.” Dia kemudian menoleh kepada Putra Mahkota Langit.
Seolah menerima sinyal itu, Putra Mahkota Langit yang melanjutkan kata-katanya. “Dewa kami adalah seorang dewa yang adil, segala sesuatu akan ada balasannya. Dewa kami hanya meminta balasan atas tindakan jahat yang dilakukan Angin Laut yang telah menewaskan banyak orang. Setelah balasan itu diterima, maka dewa kami akan meninggalkan amarahnya dan membiarkan Istana Angin Selatan melanjutkan kehidupannya dalam damai. Dewa kami tidak akan mengganggu lagi Istana Angin Selatan.”
Hermine kembali menoleh ke arah sang putri mahkota, namun kali ini dia membisikkan sesuatu, seolah keduanya tengah berbincang dalam bisikan. Kemudian, Hermine berkata, “Putri Mahkota Angin Selatan telah bertanya, apakah sang pendeta dapat menghubungkan Putri Mahkota dengan dewa tersebut supaya Putri Mahkota dapat berbicara langsung dengan sang dewa?”
“Ya, benar. Apapun permintaan Putri Mahkota Angin Selatan,” jawab Putra Mahkota Langit.
“Dan siapakah pendeta yang akan melakukannya?” Hermine kembali bertanya.
“Saya akan melakukannya. Saya adalah seorang pendeta,” kata Putra Mahkota Langit.
Hermine kembali menoleh, namun kali ini jeda di antara keduanya amat panjang, hingga akhirnya Hermine berkata, “Mohon tunggu sebentar, Putri Mahkota Angin Selatan tengah menimbang keputusannya.”
Kemudian, Putra Mahkota Bumi berbicara. “Jika sang Putri Mahkota tidak keberatan, kami bisa mendengar keputusannya nanti. Putri Mahkota bisa menyampaikannya langsung kepada kami. Dengan demikian, Putri Mahkota tidak perlu membebani dirinya. Jika saya boleh tahu, apakah kedatangan kami membebani sang Putri Mahkota sehingga ia harus menyembunyikan dirinya?”
Pertanyaan ini disahut bukan oleh sang Putri Mahkota, Hermine, atau Dorian, tetapi oleh suara-suara terkejut para menteri. “Anda tidak tahu sopan santun!”, “Apa yang Anda katakan?”, “Beraninya!”
Suara-suara ini membuat terkejut seluruh rombongan Putra Mahkota Bumi. Dengan segera, dia meralat dirinya. “Mohon maaf, sepertinya saya telah berbuat kesalahan?”
“Kesalahan besar! Dengan hadirnya Putri Mahkota disini untuk bertemu dengan Anda sekalian adalah sebuah anugerah besar, dan Anda berani mengatakan Putri Mahkota menyembunyikan dirinya?” kali ini perdana menteri mereka yang bicara. “Putri Mahkota adalah seseorang yang amat terhormat dan sosoknya sendiri adalah simbol yang sakral. Apakah Anda belum pernah mendengar? Putri Mahkota kami adalah sosok yang dicintai dan dipatuhi alam. Putri Mahkota kami dikaruniai kecantikan tiada tara yang dapat menaklukkan hati alam. Hanya dengan melihat ujung jarinya atau mendengar suaranya saja manusia biasa akan luluh pada pesonanya. Putri Mahkota seharusnya berada di dalam ruangannya untuk bertapa, tetapi beliau telah keluar untuk menemui Anda. Anda harusnya bersyukur!”
Kata-kata lain menyusul dari mulut para menteri, melengkapi cerita sang perdana menteri. Di antara kekacauan ini, Putra Mahkota Langit menarik fokusnya kepada Putri Mahkota Angin Selatan yang masih berdiri diam di tengah ruangan, Hermine di sebelahnya tampak menatap perdana menteri dengan wajah keras. Perlahan, dia membayangkan sosok lain yang berdiri di tempat itu. Dia berharap itu mungkin terjadi, tetapi berapa kemungkinannya? Bahwa wanita yang dia cari sebenarnya selamat dan ada di sini, berdiri di tempat ini bersamanya? Ditambah, jika sang Putri Mahkota Angin Selatan selalu berada di ruangannya untuk bertapa, tidak mungkin sosok yang ia bayangkan adalah orang yang sama.
“Perhatian.” Suara Dorian kembali terdengar menggelegar di tengah-tengah keributan ini. Seketika semua orang kembali menatapnya. “Putri Mahkota Angin Selatan telah meminta untuk berbicara,” katanya.
Kemudian, Dorian berpaling kepada Putra Mahkota Bumi. “Saya mohon maaf telah membuat Anda sekalian salah paham. Anda sekalian tidak membuat kesalahan, kamilah yang salah karena tidak memberi tahu Anda sebelumnya. Putri Mahkota memang telah membuat waktu untuk hadir di sini dan bertemu dengan orang-orang yang membawa kabar tentang Angin Laut, karena sudah lama sekali sejak Putri Mahkota mendengar kabar tentang adik laki-lakinya. Namun, mendengar berita duka yang dibawanya, Putri Mahkota harus turut campur dalam masalah ini. Saya mohon maaf telah membuat Anda salah paham.” Dia membungkuk hormat pada Putra Mahkota Bumi.
Kemudian, dia berpaling kepada perdana menteri dan berkata, “Bagi tuan perdana menteri yang terhormat, Putri Mahkota Angin Selatan telah menyampaikan beberapa kali bahwa beliau tidak suka diperbincangkan seperti itu. Putri Mahkota ingin menjaga kerendahan hatinya supaya rakyat tidak perlu takut padanya. Sang Raja sendiri telah menunjuk Putri Mahkota sebagai seorang penerus tahta, dan dia ingin dihormati sebagai sesama manusia, bukan sebagai sebuah simbol. Anda seharusnya mengerti itu.”
Sang perdana menteri membungkuk ke arah sang putri mahkota. “Segala ampun, Yang Mulia Putri Mahkota. Saya hanya tidak ingin orang asing salah menilai sosok mulia Anda.”
Dorian menoleh ke arah putri mahkota, kemudian berkata, “Putri Mahkota telah memaafkan Anda.” Lalu, dia kembali berpaling kepada Putra Mahkota Bumi. “Apakah Anda sekalian berkenan untuk menunggu hingga Putri Mahkota selesai menimbang keputusannya?”
“Apa yang Putri Mahkota inginkan dari para utusan kerajaan tetangga ini?” salah seorang menteri berkata.
Kali ini Hermine yang menjawab. “Putri Mahkota telah memutuskan untuk berbicara dengan dewa yang dirujuk Istana Peristirahatn Awan untuk merundingkan persembahan yang akan diberikan Istana Angin Selatan sebagai wujud permintaan maaf atas perbuatan Angin Laut.”
Perdebatan yang tadinya alot itu telah diselamatkan oleh sosok sang Putri Mahkota. Karena dia adalah simbol yang sakral, ditambah kedudukannya sebagai seorang putri mahkota penerus tahta, kata-katanya adalah mutlak, dan semua orang mematuhinya. Dorian berdiskusi dengan sang perdana menteri, sementara Hermine memerintahkan para pelayan wanita untuk menyiapkan peristirahatan bagi para tamu terhormat. Kemudian, Hermine secara pribadi menyampaikan pada Putra Mahkota Bumi bahwa dia akan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk upacara pemanggilan dewa. Dia kemudian mengikuti instruksi Putra Mahkota Langit dan menyiapkan sebuah ruangan khusus.
Karena kedatangan rombongan Istana Peristirahatan Langit ke Istana Angin Selatan pada waktu itu adalah siang hari menuju sore, segala urusan akan dilanjutkan esok hari, supaya rombongan itu dapat beristirahat terlebih dahulu. Waktu itu digunakan pula bagi Hermine untuk mempersiapkan ruangan dan segala kebutuhan upacara sesuai permintaan Putra Mahkota Langit.
Ketika malam tiba, Putra Mahkota Langit mendapat ruangan istirahat di dalam kompleks istana, di sebuah ruangan yang menghadap ke kolam kecil, bersebelahan dengan ruangan Putra Mahkota Bumi. Malam itu keduanya diajak makan malam oleh Putri Mahkota Angin Selatan, bersama perdana menteri dan beberapa menteri. Karena perkataan sang putri mahkota sudah mutlak, kini semua orang memperlakukan kedua putra mahkota dengan hormat, meskipun beberapa masih memandang sinis mereka. Maka dari itu ketika acara makan malam, siatuasi di atas meja sedikit tegang, karena sang Putri Mahkota sama sekali tidak bersuara.
Meskipun begitu, situasi yang tegang itu membuat keuntungan bagi Putra Mahkota Langit. Dia punya kesempatan untuk menutup mulutnya lama-lama karena dia tidak suka terlalu banyak berbicara, sekaligus dia bisa memperhatikan sesuatu dengan lebih cermat. Saat itu, Putri Mahkota telah mengganti bajunya menjadi warna gelap, dan kali ini dia menggunakan topeng setengah muka dengan bentuk wajah kucing, dengan selapis kain kasa buram melindungi lubang matanya, sehingga tidak seorangpun bisa melihat jelas matanya. Kemudian, dia mengenakan cadar warna gelap yang menutupi dari hidungnya sampai ke bagian dadanya, dengan cara ini dia bisa menyelipkan tangannya ke dekat mulutnya untuk makan. Meskipun begitu, setiap kali dia hendak menyuap, salah satu tangannya yang bersarung tangan akan menutupi mulutnya, sehingga ujung dagunya pun tidak terlihat. Dia bergerak dan berpenampilan sedemikian rupa sehingga kulitnya tidak pernah terlihat sedikitpun.
Selesai acara makan itu, Putra Mahkota Langit pergi mencari ruang studi, karena dirinya tidak bisa diam di kamarnya dan tidak melakukan apa-apa. Ruangannya yang rapih namun hampa tidak memberinya banyak ruang untuk melakukan aktivitas apapun. Tidak ada kertas atau kuas, tidak ada buku. Hanya ada lilin-lilin, dan satu teko air dan gelas di atas meja. Dia ingin duduk dan berdoa, tetapi dia tidak membawa peralatan doanya. Yang dia bawa saat itu di saku pelana kudanya hanya alat-alat berburu hantu dan roh, karena dia terburu-buru pergi hanya dengan pikiran ‘Putra Mahkota Bumi bertarung melawan sesuatu yang mistis’.
Seorang pelayan membawanya ke sebuah ruang studi yang dipenuhi aroma yang menyenangkan dari rumput dan bunga. Ruangan itu diisi buku dan berbagai barang pajangan yang cantik. Hanya dari melihatnya saja dia merasa senang, jadi dia sengaja berpikir untuk tinggal disitu berlama-lama. Pelayan wanita yang sebelumnya mengantarnya meninggalkannya sebentar. Saat pelayan itu pergi, dia berjalan-jalan di sekitar ruang studi yang luas itu, memeriksa setiap koleksi buku dan barang-barang yang menarik perhatiannya.
Pada suatu titik di salah satu bagian ruang studi yang dipisahkan oleh sebuah tirai dari manik-manik, dia menemukan sebuah seruling kuning keemasan dengan tali hitam dan sebuah talisman dari batuan cantik warna merah menghiasinya. Seruling itu tampak indah, dan dipajang di atas sebuah meja tinggi. Karena bagian itu dipisahkan oleh tirai, dia mengurungkan niatnya untuk mendekat karena takut melanggar sesuatu, karenanya dia tidak bisa mengamati seruling itu lebih jauh.
Tetapi dia tidak bisa membohongi dirinya kali ini. Seruling itu terlihat sangat familiar.
Kemudian, ketika sang pelayan sebelumnya kembali sambil membawa nampan berisi cemilan dan minuman, dia memberanikan diri bertanya.
“Milik siapakah seruling ini?”
Si pelayan menolehnya sekilas sambil meletakkan nampannya di atas meja terdekatnya. “Itu adalah replika seruling sakti milik Putri Mahkota. Kabarnya, seruling itu dapat memanggil dan mengendalikan roh, serta mengendalikan elemen-elemen alam, dan seruling itu hanya akan menjawab sang Putri Mahkota. Dia disebut Hymne. Yang Mulia Raja yang memerintahkan dibuatnya replika itu. Hymne yang asli dipegang oleh Putri Mahkota, beliau memainkannya di taman belakang istana setiap malam bulan purnama, untuk mendoakan roh para leluhur.”
Wajah Putra Mahkota Langit mengeras. “Jadi ini adalah replika?”
“Iya, tuan. Replika yang dibuat sangat mirip dengan aslinya.”
Tidak, dia tidak boleh memutuskan apapun dengan gegabah. Jadi dia berterima kasih dan mempersilakan pelayan itu pergi. Meskipun demikian, hatinya berdegup kencang.