
“Biarkan aku berbicara dengan dewa untuk menemukan jalan keluarnya.” Suaranya tipis dan tersendat.
Hymne tidak menjawabnya. Bukan karena dia mengizinkan sang pangeran untuk melakukan apa yang dia mau, tetapi karena dia terlalu lelah untuk bereaksi. Air mata sudah berurai di wajahnya, tetapi sang pangeran tidak melihatnya. Dia menggeleng dalam imajinasinya dan berbisik ‘tidak’ dalam hatinya, tetapi semua itu tidak akan dilihat sang pangeran.
Dia tahu mungkin sang pangeran salah paham mengartikan keheningannya, sehingga pria itu melepaskannya dan mulai memutar tubuhnya. Dia tahu sang pangeran akan melakukan apapun untuk mencegahnya, jadi dia tahu betul apa yang akan sang pangeran lakukan. Tetapi dia tidak mau sang pangeran melakukannya. Jadi pada langkah ketiga sang pangeran menjauhinya, Hymne melangkah lebar untuk mengejar sang pangeran. Dengan satu tangannya, dia menyibakkan bagian depan selubungnya, sementara tangannya yang lain menarik lengan Putra Mahkota Langit, menghentikan langkah pria itu.
Kemudian, dia menghentikan seluruh gerakan sang pangeran dengan ciumannya.
Ketika bibir mereka bersentuhan, ratusan kupu-kupu seolah terbang di dalam hati sang pangeran. Dia terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Tetapi sejauh mata memandang, hanya kelopak mata panjang dengan bulu mata lentik yang dapat dia lihat. Secara samar dia melihat titik merah panjang vertikal di antara kedua alis hitam yang terukir cantik. Kemudian, matanya tidak sanggup lagi membuka, dan akhirnya dia menutupnya, menyerahkan seluruh tenaganya untuk menangkap wajah sang putri di kedua tangannya. Dia sekarang bisa merasakan jejak basah di wajah sang putri, seolah dia selalu menangis sepanjang waktu, tetapi tidak seorangpun mengusap air matanya. Hatinya runtuh bersamaan dengan luruhnya air mata yang sama dari pelupuk matanya tepat ketika keduanya terpejam.
Dia tidak tahu berapa lama mereka berciuman, tetapi tenaganya perlahan terkuras dan dia merasa tidak mampu untuk berdiri atau menjaga posturnya. Entah siapa yang menarik kepalanya duluan, tetapi ketika dia melepas bibirnya, kepalanya jatuh di bahu sang putri. Dia menundukkan kepalanya, air mata masih mengalir dari kedua matanya. Kemudian, dengan gerakan yang lembut sang putri membawanya berlutut di lantai. Entah berapa lama dia menangis di pundak Hymne, namun ketika dia mendongak, wanita itu sudah menutup kembali wajahnya dengan selubungnya.
“Kamu… kamu…” suaranya mengalir tanpa bisa dikontrol. Tangannya kemudian naik untuk melingkari leher Hymne, dan Hymne mengusap kepalanya seperti seorang anak kecil. Sang pangeran begitu lelah menangis dan dia mencari tangan Hymne, menggenggamnya erat-erat. Kepalanya terjatuh dari bahu Hymne ke pangkuannya, lalu bibirnya mencium kedua tangan kurus sang putri sambil tertunduk.
“Biarkan aku bicara…” kata Putra Mahkota Langit sekali lagi. Wajahnya masih berurai air mata, dan kini membasahi tangan sang putri yang ada di genggamannya. “Tolong…”
Dia terlihat seperti seorang anak kecil yang bersimpuh di hadapan ibunya. Menangis dan merajuk di pangkuan ibunya. Tubuhnya yang biasanya tegak kini jatuh terkulai di lantai, kepalanya yang biasanya menengadah kini tertunduk.
Dia tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya, tetapi dia masih setengah sadar ketika mengetahui dirinya sedang berbaring di atas sebuah ranjang. Sosok seorang wanita bercadar merah muda menatapnya dari atas. Wanita itu duduk di sisi ranjang, tangannya menggenggam salah satu tangan Putra Mahkota Langit dan meletakkannya di dadanya. Hanya ada sepasang mata berwarna terang di hadapannya, tetapi itu saja sudah lebih dari segala keindahan duniawi yang pernah dia lihat. Garis merah yang sebelumnya dia lihat di kening wanita itu kini menghilang.
“Kamu…” Putra Mahkota Langit membuka mulutnya. Tetapi suaranya tidak lebih dari angin.
“Apakah kamu mau aku bahagia?” dia mendengar sebuah suara. Itu adalah suara wanita itu.
“Ya,” jawab Putra Mahkota Langit parau.
Wanita itu tersenyum. Dia tidak melihat senyumnya, tetapi melihat gerakan matanya yang melembut. “Aku bahagia jika aku bisa melakukan kebaikan untuk banyak orang. Kamu harus mengerti itu.”
Dia merasa dia mengerti, tetapi kepalanya terasa berat untuk mencerna lebih jauh. “Jangan tinggalkan aku.” Akhirnya hanya itu yang bisa dia utarakan.
Wanita itu menggeleng pelan. Salah satu tangannya mengusap kepala sang pangeran. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tinggal di sini.” Tangan wanita itu menepuk dada sang pangeran. “Pangeran, kita mungkin tidak ditakdirkan untuk bersama di kehidupan ini. Tetapi jika aku punya kesempatan, aku akan menemukanmu di kehidupanmu yang lain. Aku akan sangat bahagia jika kita bisa sekali lagi saling menunggu kesempatan untuk bertemu satu sama lain. Maukah kamu membiarkanku menggapai kebahagiaanku?”
Suaranya terputus ketika dia bicara, namun hatinya tidak lagi terasa berat. Dia merasa seluruh beban yang dia emban selama ini tiba-tiba menghilang, menyisakannya dengan sebuah rasa hampa yang mengalir seperti uap.
Sebelum dia menutup matanya, dia mendengar wanita itu sekali lagi berkata. “Terima kasih. Maafkan aku. Bertemu denganmu adalah sebuah anugerah bagiku. Aku mencintaimu.”
Putra Mahkota Langit merasa dirinya bergumam, mengutarakan sesuatu yang tidak dapat dicerna pikirannya. Tetapi seketika itu juga kesadarannya menghilang. Segalanya sesuatunya menjadi gelap, lalu matanya tidak membuka lagi setelah itu. Hanya pada suatu saat, di dalam kegelapan yang dia rasakan, dia mendengar alunan melodi dari sebuah seruling. Melodi itu terasa sangat familiar. Itu membuatnya mengingat kehangatan api unggun yang membuatnya tertidur semakin jauh ke dalam mimpi.
Baginya, melodi itu adalah sebuah lagu tidur.
Tetapi bagi seluruh dunia yang masih terjaga malam itu, melodi itu membuat mereka terjaga lebih lama lagi. Mereka semua mendengar melodi yang sama, dan mereka merasakan hal yang sama. Mereka terjaga, lalu terlarut dalam alunan yang menyayat hati. Alunan seruling itu mengisyaratkan tangis sang putri. Alunan terakhirnya, air mata terakhirnya, nafas terakhirnya. Tidak ada yang bisa tertidur malam itu, mengingat lagu sang putri mengalun sepanjang malam hingga sinar matahari pertama muncul di cakrawala. Kemudian mengganti alunan seruling tersebut, suara isakan terdengar dari segala penjuru istana.
Pagi menjelang, lalu matahari naik sedikit lebih tinggi di langit. Seketika itu, muncul awan kelabu di langit. Putri Mahkota Angin Selatan keluar ke halaman istana dengan setelan merah emas. Langkahnya tegak dan sebilah pedang dengan gagang perak ada di tangannya. Dia berlutut di tengah-tengah halaman utama istana, dikelilingi para menterinya, pelayannya, bahkan sang Raja Istana Angin Selatan hadir, mengawasi dari dalam istana di balik ranjangnya yang sengaja dibawa keluar. Tidak ada lagu, tidak ada suara dari burung atau gemerisik daun, hanya ada ratapan dan isakan tercekat dari setiap arah. Bahkan Putra Mahkota Bumi yang hadir saat itu melengkungkan bibirnya ke bawah. Orang-orang menangisinya, tetapi dia menjalankan keputusannya dengan tegar.
Dia menyayat lehernya sendiri dengan pedang di tangannya. Cipratan darahnya membasahi bagian depan selubungnya yang lebih tinggi dari dagunya, lalu cadar merahnya, lalu gaunnya. Tetapi itu semua tidak terlihat karena gaun merahnya menutupi semua warna darahnya. Hanya warna gelap yang tiba-tiba muncul di sana. Satu-satunya tanda bahwa dia telah menggorok lehernya sendiri adalah tetesan darah di bilah pedang, dan di batu halaman istana tempatnya berlutut. Kemudian saat sosoknya terjatuh ke tanah dengan anggun, bunyi denting pedang mengikis sisa keberanian semua orang.
Ketika sosoknya terjatuh ke tanah dan tergeletak diam, bunyi menggelegar di langit muncul, disusul sebuah petir yang menyambar dengan agresif. Orang-orang ketakutan, tetapi tidak lama setelahnya semua itu menghilang dan mereka saling menatap satu sama lain. Tidak ada lagi awan kelabu, tidak ada gemuruh, tidak ada petir. Yang ada hanya langit biru dengan matahari tersenyum cerah pada mereka.
Pengorbanan itu sudah selesai.
Mayat sang putri diangkat dan dipindahkan ke dalam aula istana. Orang-orang menangis, beberapa merapatkan giginya kuat-kuat. Setelah mayat itu diletakkan di atas sebuah altar, dengan hati-hati para pelayan perempuannya membuka selubungnya. Para tabib sudah berada di sana, siap dengan segala kemungkinan. Tetapi mereka semua tidak melakukan apa-apa, dan semua hanya termenung ketika seluruh selubung dan cadar sang putri dibuka.
Dia sungguh adalah seorang wanita yang sangat cantik. Wajahnya yang ramping dengan wajah seputih salju dengan kemilau perak masih memancarkan pesonannya. Matanya yang panjang dan lentik tertutup dengan anggun. Bibirnya yang dihiasi warna merah terlihat sedikit tersenyum, menyembunyikan segala kepedihan yang dia rasakan. Itu bukan satu-satunya yang membuat semua orang termenung. Ketika mereka memeriksa luka sayatan di lehernya, luka itu masih terbuka, tetapi tidak ada lagi darah yang mengalir dari sana. Lukanya bersih, sisa darah hanya mewarnai lehernya, tetapi tidak menodai kecantikannya. Seolah dia mati bukan sebagai manusia.
Diam-diam orang-orang menyesali kejadian ini. Mengapa sosok yang begitu agung mau merelakan nyawanya untuk orang yang bahkan mungkin tidak dikenalnya? Mengapa wanita yang begitu cantik ini mau merelakan masa depannya untuk memberikan masa depan bagi orang lain?
Tetapi kemudian satu demi satu orang yang hadir mulai memahami, bahwa pengorbanan sang putri adalah sesuatu yang mulia dan layak. Mereka tidak lagi bicara, tidak lagi berkomentar, tidak lagi menggerutu. Dalam diam semua orang mempersiapkan pemakaman sang putri. Para pelayan wanita memandikan jenazahnya, Hermine menyiapkan peti matinya, Dorian mengerahkan perarakan upacara, para menteri mengosongkan jadwalnya untuk berkabung. Semua melakukannya dalam diam.
Ketika jenazah sang putri dibakar di aula istana, air mata mewarnai kepergiannya. Kali ini, bukan air mata penyesalan yang dipanjatkan orang-orang, tetapi air mata sebagai ungkapan terima kasih. Semua orang memujinya, memuliakannya, berterima kasih padanya dengan rasa haru yang luar biasa. Sang Putri Mahkota Angin Selatan telah meninggalkan mereka untuk kebaikan seluruh rakyatnya. Bagi sebuah kerajaan, tidak ada bukti cinta yang lebih baik dari ini.
Demikianlah akhir kisah mengenai sang Putri Mahkota Angin Selatan. Persembahannya yang teguh telah diterima oleh Surga. Tindakannya selama hidup disukai para dewa, dan sekalipun darahnya ternoda, dia seluruhnya telah dimaafkan. Dengan demikian kisahnya menjadi populer di antara para dewa, dan tersebar dari mulut ke mulut sebagai kisah Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya.