The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 2



Mendengar Sang Putri Surgawi yang sudah hilang ingatan membicarakan kisah tentang dirinya sendiri yang diberi julukan Dewa Tanpa Nama, Red hanya bisa tersenyum sambil merasa iba. Pada beberapa kesempatan, dia gatal ingin berkata “apakah kamu tahu kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?”, namun dia mengurungkan niatnya. Ada waktunya juga dia merasa sedih dan menyesal tidak mengatakan kebenaran, namun dia selalu membatalkan niatnya untuk bicara. Apapun yang terjadi, dia tidak bisa bicara.


Apakah Faith berhak tahu? Ya, dia sebenarnya berhak tahu. Lalu, apakah itu akan mengubah sesuatu? Kemungkinan besar, iya itu akan mengubah sesuatu. Entah itu sikapnya terhadap Surga atau sebaliknya, atau sikap Faith kepadanya. Di atas segalanya, Red tidak mau sikap Faith terhadapnya berubah. Meskipun demikian dia yakin bahwa sikapnya terhadap Faith tidak akan berubah. Tetapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Surga jika seandainya ingatan Faith kembali. Sekarang dengan kondisi Faith hilang ingatan saja para dewa sudah membuat Kisah Dewa Tanpa Nama dan berani menceritakannya dengan versi tertentu kepada Faith sendiri. Bagaimana jika Faith tahu kebenarannya? Apakah dia akan marah? Kecewa? Sedih? Lalu memutuskan untuk meninggalkan Surga lagi?


Red, yang sudah hidup berjuta tahun lamanya, mengenal duka dan luka dewanya lebih dari siapapun. Dewanya melakukan banyak hal, memberikan banyak hal hingga ia tidak memiliki lagi. Pada akhirnya, sang dewa harus menjalani ratusan kehidupan dalam kehampaan. Red tahu ini, dan tidak ada yang lebih menyedihkan daripada melihat dewanya dirundung luka tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dewanya sudah bersumpah untuk berdiri meskipun melawan arah, dan Red sudah bersumpah untuk setia. Maka dari itu, Surga tidak boleh tahu hal ini, jadi segala sesuatu harus dilaksanakan diam-diam. Dia memegang janjinya dan menerima konsekuensinya demi menepati janjinya.


Red tidak tahu apakah Surga mengetahui rahasia ini atau tidak, namun ketika sekarang aturan larangan turun ke Bumi sudah dilunakkan, dia bertanya-tanya sambil mencemooh; apakah para dewa sekarang tahu kebenarannya? Pelonggaran aturan ini terjadi setelah dewanya naik ke Surga, tentunya ini ada hubungannya, bukan? Dia menebak dalam hatinya, tanpa berhenti menyangkut-pautkan segala kemungkinan dengan dewanya. Cibiran tidak pernah meninggalkan wajah Red sambil dia terus berpikir; pasti sekarang para dewa tahu.


Melihat ini Red menduga, tampaknya Surga juga khawatir Faith akan mengingat kembali masa lalunya, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Maka dari itu ketika Faith naik kembali ke Surga sebagai Dewa Kepercayaan, Loyalitas, dan Keyakinan, mereka memilih untuk tidak memberitahunya masa lalunya. Jika siapapun berani bertanya kenapa para dewa melakukannya, pasti mereka akan menjawabnya dengan alasan mereka mencintai Faith dan tidak ingin dia hidup dalam bayang-bayang duka masa lalunya. Itu benar, ngomong-ngomong. Tetapi Red tidak bisa menyingkirkan pikiran bahwa para dewa takut melakukan kesalahan lagi dan Faith akan melarikan diri dari mereka, untuk kedua kalinya meninggalkan Surga. Itu sebabnya dia sangat marah pada para dewa. Dia melihat kebaikan para dewa sebagai sesuatu yang dibayangi kepalsuan.


Tetapi meskipun begitu Red tidak berhak menghakimi Surga, dan dia tahu itu. Dia hanya menyimpan pikirannya dalam-dalam, sesekali menggunakan dendamnya yang disulut oleh pikiran ini untuk balik melawan Surga. Sikap kurang ajarnya terhadap Surga semata-mata karena api yang sudah lama berkobar disulut oleh minyak. Dan air yang bisa memadamkannya adalah hanya ketika dia bersama Faith. Bersamanya, semua dendam dan amarahnya hilang, dan dia menjadi seorang pengikut yang amat patuh. Dia bisa segera mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepada Faith, meskipun saat itu dia tengah berhadapan dengan para dewa yang dibencinya. Hanya dengan suaranya saja, Faith bisa membuatnya sejenak melupakan dendamnya pada para dewa.


Sekarang ketika dia bisa berjalan bersama dewanya, itu sudah lebih dari cukup. Untuk kesempatan itu, dia rela membayar dengan cara apapun. Untuk setiap kebaikan yang diberikan dewanya, dia akan membalasnya beribu kali lipat. Itu sebabnya, baginya, Faith tidak akan pernah berhutang padanya. Dia yang akan selalu berhutang pada Faith.


Ketika sup mereka sudah habis, mereka kembali berbincang. “Jadi apa hubungannya kisah Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya dengan hujan ini?” Faith bertanya.


“Pernahkah kamu mendengar cerita lengkap dari kisah itu?” Red balas bertanya.


“Bukankah yang aku ceritakan sebelumnya sudah mencakup keseluruhan cerita? Atau, masih ada bagian yang belum aku ketahui? Kalau begitu beritahu aku, Tuan Arwah. Aku senang mendengar ceritamu. Lebih tepatnya, aku senang mendengar suaramu.”


Red tertawa merdu dengan hati yang riang. “Baiklah, apapun keinginanmu. Pertama-tama, kamu harus tahu bahwa cerita ini terjadi pada masa lampau yang sudah sangat lama sekali, di dunia yang mungkin tidak dalam pemahaman manusia. Pada zaman itu para dewa masih sering turun ke Bumi untuk ikut campur kehidupan manusia, ketika manusia masih diperbolehkan menyembah banyak dewa. Kisah ini sama tuanya dengan Kisah Dewa Tanpa Nama. Jika kamu mengerti ini, maka kamu bisa mengerti keseluruhan konsep kisahnya. Aku tidak akan memaksamu mempercayai kata demi kata, karena yang aku katakan adalah rentetan kisah yang jarang didengar secara luas, atau bahkan orang lain sudah lupa. Tetapi aku tidak akan berbohong padamu, Putri, jadi aku akan menceritakannya padamu dengan rendah hati.” Dia memulai.


“Pada masa itu, ada sebuah kerajaan yang berdiri di puncak gunung di balik awan, karenanya kerajaan itu dikenal dengan nama Istana Peristirahatan Awan (Cloud Recessing Palace). Kerajaan itu sangat unggul dalam bidang peperangan dan agraris, maka dari itu kerajaan itu amat makmur. Kemakmuran ini berlangsung sudah sejak lama, dan mereka mempertahankan kemakmuran ini mengikuti bimbingan seorang dewa, yang tidak akan kusebutkan namanya. Mereka memuja dewa ini, dan sistem kepercayaan ini lebih unggul daripada sebagian besar manusia; mereka memiliki upacara, ritual, pendeta, bahkan peralatan penyembahan. Karena itu, sang dewa sangat menyukai mereka dan memberikan banyak kelimpahan bagi mereka.


“Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang amat patuh pada dewanya, dengan cara itu kerajaannya menjadi tetap makmur. Karena kesetiaannya, ketika raja ini dikaruniai dua orang putra, sang dewa memberikan berkatnya kepada masing-masing putra. Pada kelahiran putra pertama, sang dewa memberikan berkat pengetahuan yang luas untuk memimpin dan menyejahterakan rakyatnya. Dia kemudian dipanggil Putra Mahkota Bumi, karena bakatnya akan sangat berguna bagi Bumi. Kemudian pada kelahiran putra kedua, sang dewa memberikan berkat ilmu spiritual yang luas, sehingga kelak ia akan menjadi seorang pendeta yang disukai para dewa. Dia kemudian mendapat julukan Putra Makhkota Langit, karena kemampuannya akan membawa orang-orang dekat dengan Surga. Dipenuhi dengan rasa bahagia, sang raja menerima kedua berkat ini.


“Tapi kamu tahu, segala sesuatu tidak akan selamanya baik. Pasti akan ada naik turun yang harus dilalui setiap orang, lalu tergantung bagaimana mereka menyikapinya, apakah mereka akan kembali naik atau justru semakin jatuh. Naik turun ini tidak semerta-merta mempengaruhi seluruh kerajaan, namun kehidupan kerajaan mereka jelas terpengaruhi karena naik turun ini. Bisa dikatakan, hal yang besar turun atas kerajaan mereka karena naik turun ini.


“Sederhananya, salah seorang dari tokoh penting kita memilih jalur yang melenceng dari seluruh kerajaannya. Pada mulanya, aku sendiri tidak tahu apakah jalur ini menuntun ke kebaikan atau tidak, namun pada akhirnya aku melihat segala sesuatunya menjadi baik, meskipun memakan waktu yang cukup lama. Jika kamu sudah mendengar Kisah Dewa Tanpa Nama, maka kurang lebih hal yang sama terjadi pada kerajaan ini. Apa menurutmu yang terjadi?” Red berhenti sejenak. Pada saat itu, seorang pelayan telah datang dengan membawa makanan mereka.


Faith tertegun sebentar. “Apakah salah satu dari kedua putra mahkota memilih untuk berhianat? Tunggu sebentar, jika ini ada hubungannya dengan Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya, apakah mungkin salah seorang putra mahkota telah bertemu dengan sang putri mahkota? Atau apakah itu rajanya? Bagaimanapun, aku merasa mereka berhubungan.”


“Mereka memang berhubungan, tepat sekali. Dan kamu hampir benar.” Red berhenti sejenak untuk minum. “Tadinya hal itu sederhana, tapi setelah kuingat-ingat lagi ternyata hal itu tidak begitu sederhana. Benar, salah seorang putra mahkota memilih jalannya sendiri, namun itu bukan jalan yang besar dan beresiko seperti yang Sang Putri Surga lakukan. Bagi sosok sang putra mahkota yang begitu dihormati dan dipuja rakyatnya, penuh kemuliaan dan selalu melakukan keajaiban, dia hanya melakukan satu hal sederhana dalam hidupnya. Namun demikian, seolah hal sederhana memang bukan untuknya, dia melakukan kesalahan meskipun hanya dengan hal sederhana itu.


“Salah seorang putra mahkota jatuh cinta, pada orang yang salah, pada masa yang salah. Event sederhana ini, yang nantinya akan membuat gelombang naik turun kerajaannya.”


Gemuruh terdengar lagi dari langit, dan suara rintik hujan besar-besar menabrak kaca jendela di sebelah mereka dengan dramatis. Pada moment keheningan itu, Faith tidak bersuara, tidak juga Red yang sengaja menghentikan kata-katanya. Faith yang sejak tadi menatap Red kemudian menurunkan pandangannya menatap makanan di atas piringnya, makanan yang ia tidak tahu apa namanya. Dia mendesah pelan, menyadari bahwa ia juga tidak tahu apa nama perasaan yang sedang ia rasakan.


“Tragis mendengar hal seindah jatuh cinta bisa menjadi sebuah kesalahan yang berbuntut panjang,” ujar Faith pelan. “Aku tahu cerita Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya, jadi aku tahu tidak ada cara baginya untuk bersama dengan orang yang dia cintai di kehidupannya pada masa itu.” Dia berhenti sejenak, lalu kembali menatap Red. “Aku punya dirimu.”


Red tersenyum, seketika mengangkat tangannya untuk menggenggam satu tangan Faith sambil menatapnya lembut. “Aku pengikutmu yang paling setia, aku tidak akan meninggalkanmu barang sebentarpun. Aku akan selalu bersama denganmu selamanya, dan melakukan apapun untuk memuliakanmu.”


Mereka bertatapan agak lama, kemudian Faith berkata sambil bercanda, “Aku pasti tertular keberuntunganmu, entah bagaimana. Aku sangat beruntung bisa memiliki pengikut sepertimu. Biasanya keberuntunganku buruk.”


“Keberuntunganku adalah karena aku meyakinimu, Putri. Kamu tidak menerima apa-apa dariku, aku yang selalu menerima darimu.”


Oh, lagi. Faith menggeleng malu, lalu menarik tangannya. “Jadi, putra mahkota mana yang jatuh cinta dengan orang yang salah dan pada masa yang salah?”


“Oh, kita akan melanjutkannya setelah makan. Kita harus menghormati makanan ini.”