
Pada suatu masa ketika angin semilir mulai menjadi dingin, Putra Mahkota Langit berangkat ke sebuah desa di wilayah kerajaannya, jauh di bagian utara. Sudah menjadi rutinitas para pendeta untuk berangkat ke desa-desa setiap pergantian musim, untuk meminta berkat kepada dewa supaya melindungi desa-desa tersebut selama musim berganti. Putra Mahkota Langit tidak lepas dari tugas ini, jadi dia juga harus berangkat ke beberapa desa di wilayah kerajaannya.
Pada saat itu waktu sudah agak lama berlalu sejak dia memanjatkan permohonannya untuk bertemu lagi dengan si pengembara wanita. Dia tidak kehilangan harapan, tidak juga dia lupa, namun dia mulai menganggap permohonannya konyol dan membiarkan apapun terjadi, baik permohonannya didengar atau tidak.
Dia menempuh perjalanan dengan kuda seorang diri, dan di hari pertama dia tiba hari sudah petang, jadi dia bermalam di kuil. Setiap kuil pasti memiliki bagian penginapan kecil bagi para pendeta menetap, dan pada waktu dia tidak sendiri. Pendeta lain yang selalu menetap disitu juga tinggal disitu. Jadi keesokan harinya ketika melaksanakan ritual, kedua pendeta sama-sama memimpin upacara. Upacara itu dilakukan di kuil pertama-tama, lalu kedua pendeta beriringan mengitari desa hingga tiba di kuil lagi. Biasanya, akan ada orang-orang yang mengikuti mereka sepanjang jalan, lalu meletakkan persembahan berupa makanan atau hasil bumi di kuil ketika perjalanan mereka berakhir.
Benar saja, sekumpulan orang memang mengikuti mereka di belakang selama keduanya berjalan mengitari pusat perdagangan, lalu rumah-rumah penduduk. Sang Putra Mahkota Langit masih dalam perjalanan mengitari pusat perdagangan ketika ia melewati sebuah kedai makan kecil yang saat itu tidak begitu ramai. Dia harus memercikkan air dengan seikat rumput ke tanah di depan kedai itu, jadi dia melihat betul isi kedai. Saat itulah dia melihat wujud jawaban atas permohonan egois dan konyolnya. Pada waktu itu mungkin dia malu pada dirinya sendiri, namun kini, dia merasa bersyukur memberanikan diri untuk memohon.
Pengembara wanita itu duduk di salah satu kursi, sendirian di meja yang cukup untuk berempat. Hanya ada satu gelas dan satu piring kosong di hadapannya, jadi pasti dia sendiri. Dia masih mengenakan baju hitam kebesarannya, lengkap dengan topi berselubung hitam, sepenuhnya menghalangi wujudnya dari siapapun. Putra Mahkota Langit begitu yakin sosok yang dia lihat adalah si pengembara wanita, karena dia melihat seruling kuning menggantung di pinggangnya.
Ketika itu, pikirannya segera teralihkan. Jadi ketika dia selesai mencipratkan air dan menunduk kecil, dia memutar kepalanya dan tidak lagi melihat si pengembara wanita. Meskipun wajahnya serius dan tegas, dia bisa bersumpah dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus menjalankan ritual itu hingga selesai.
Tetapi karena takdir sudah membawanya ke sini, dia tidak ingin pergi begitu saja. Dia kemudian pergi ke kedai itu untuk mencari si pengembara wanita, namun dia sudah tidak ada di sana. Dia akhirnya mendengar dari pemilik kedai bahwa pengembara itu pergi untuk mencari kue kacang yang terkenal dari desa itu. Putra Mahkota Langit tahu bahwa hanya ada satu tempat yang menjual kue kacang khusus, jadi dia pergi di sana. Dan dia benar. Pengembara itu baru saja keluar dari toko dengan membawa kue kacang yang dibungkus daun di tangannya.
Sang pangeran adalah pria muda yang kaku dan secara alami dapat menyembunyikan pikiran atau perasaannya secara profesional. Ketika dia melihat sosok si pengembara dari kejauhan, seketika pikirannya menjadi gugup. Bagaimana jika dia salah orang? Tidak, dia tahu betul itu adalah si pengembara yang dia cari. Dengan ragu, dia mengejar si pengembara, namun ketika jarak mereka sudah dekat, dia melanjutkan berjalan pelan-pelan di belakangnya. Ketika si pengembara berhenti untuk mengambil sebongkah kue kacang, Putra Mahkota Langit juga berhenti dan mengamatinya sedikit jauh di belakang. Namun pengembara itu tiba-tiba berbalik dan berjalan pelan-pelan dengan kue kacang di tangannya, kemudian berhenti dua langkah di depan Putra Mahkota Langit.
“Mengapa Anda mengikuti saya?” pengembara wanita itu bersuara. Putra Mahkota Langit yakin betul suara itu adalah suara si pengembara wanita yang dia cari.
Kemudian setelah meredam rasa gugupnya dengan baik, Putra Mahkota Langit menjawab, “Saya mengenali sosok Anda dari kejauhan, tetapi ragu apakah mata saya benar atau tidak, jadi saya mengikuti Anda. Maaf jika saya mengganggu Anda.”
Kepala si pengembara bergerak sedikit seolah memberikan respon. “Oh, Tuan yang mencari Bunga Lembayung Senja. Maaf saya tidak mengenali Anda. Anda terlihat sangat anggun sekarang, saya menjadi pangling.” Si pengembara berkata dengan ringan. Dia merujuk pakaian pendeta lengkap yang dikenakan Putra Mahkota Langit, warna ungu dengan corak emas. Sang putra mahkota begitu terburu-buru ingin mencari si pengembara hingga lupa mengganti pakaiannya.
“Tidak apa-apa,” jawab Putra Mahkota Langit, kemudian dia terdiam. Bibirnya kelu.
“Apa yang Tuan lakukan di sini?”
“Melaksanakan ritual pemberkatan setiap pergantian musim,” jawab sang putra mahkota hampir seperti robot. “Anda?”
“Saya pergi ke sini karena saya dengar kue kacang di sini enak. Saya baru tiba kemarin malam, jadi saya baru punya kesempatan untuk mencobanya hari ini, sekalian berkeliling desa. Apakah Anda tinggal di sini?” si pengembara wanita kembali bicara.
“Saya juga baru tiba di sini kemarin, saya datang dari kota besar lain,” jawabnya. Dia harus menahan gemetar di mulutnya ketika mengatakan ini. Rasanya dia tidak kuat berbohong, namun dia masih memiliki pikiran bahwa rakyat biasa takut kepada orang dengan status sosial tinggi, jadi dia menyembunyikan identitas aslinya. “Apakah Anda akan menuju tempat lain?”
“Tidak, saya hanya berpikir akan berjalan-jalan sebentar. Bagaimana dengan Anda?”
“Urusan saya sudah selesai. Jika Anda berkenan, maukah Anda duduk untuk menikmati minuman teh herbal yang tanamannya baru tumbuh musim ini? Minuman ini hanya ada sepanjang musim dingin, sayang jika Anda melewatkannya. Saya bisa mengantar dan menemani Anda.”
Begitulah. Putra Mahkota Langit menyatakan pikirannya. Untuk pertama kalinya, dia menghilangkan sekian lapis formalitas dan rasa kakunya kepada orang lain, selain kepada kakaknya. Dia yang hidup di istana tidak akan berani mengajak seseorang untuk minum teh bersamanya, apalagi seorang wanita. Tidak menjamin juga seseorang akan mengajaknya, atau menerima ajakannya, dia tahu orang-orang masih menganggapnya lebih tinggi karena dia adalah seorang putra mahkota, maka dari itu orang-orang masih mempertahankan rasa canggung mereka. Tetapi dia mempertaruhkan rasa percaya dirinya untuk kali ini.
Semua ragu dan rasa takutnya sirna ketika si pengembara menjawab, “Tentu saja. Tolong antarkan saya.”
“Tentu. Ke sebelah sini.” Hanya kata-kata itu yang mengalir dari mulutnya meski kepalanya merapalkan sejuta kata-kata. Bahkan mulutnya diam seribu Bahasa ketika keduanya berjalan berdampingan dengan langkah stabil. Dia tidak bisa mempertaruhkan moment ini dengan kata-katanya yang mungkin tidak terlatih, jadi dia memilih untuk diam.
Tetapi tampaknya dia tidak diizinkan untuk diam. Sang pengembara bertanya beberapa saat kemudian, “Tuan pendeta, bagaimana bisa kita bertemu lagi di tempat ini adalah sebuah keajaiban. Saya mungkin bilang sebelumnya pada pertemuan pertama kita, bahwa tidak mungkin kita bertemu di tempat yang sama dua kali, karena saya tidak pernah mengunjungi tempat yang sama dua kali. Mungkinkah dewa yang Anda sembah telah menggambar garis kemungkinan ini?”
Putra Mahkota Langit mengedutkan bibirnya, ingin mengatakan sesuatu namun di saat bersamaan ingin diam. Matanya sempat menatap ke kejauhan seperti mengingat sesuatu, lalu ketika dia bisa mengingatnya, tangannya yang bersatu di punggungnya mengepal. Tidak, dewa mungkin tidak dengan sengaja menggambarnya. Bukankah dia sendiri yang memohon pada dewa supaya dipertemukan kembali dengan si pengembara? Tetapi dia tidak bisa mengatakannya, kan? Seluruh prinsip hidupnya melarangnya mengatakannya.
Alih-alih, dia menjawab, “Saya percaya bahwa dewa punya rencana sendiri yang kadang menjadi misteri bagi manusia.”
Si pengembara tersenyum di balik selubung hitamnya, dan senyuman ini terasa pada nada bicaranya. “Saya juga percaya.”
Ketika keheningan mewarnai perjalanan mereka lagi, Putra Mahkota Langit memberanikan diri memecah keheningan. “Saya tidak sempat bertanya sebelumnya pada pertemuan pertama kita. Jika Anda tidak keberatan, boleh saya tahu siapa nama Anda?”
Ada jeda yang agak membingungkan setelah pertanyaan ini meluncur. Jeda ini tidak terasa tegang, tidak juga terasa seperti hendak diabaikan. Namun tidak lama setelahnya, sang pengembara menjawab, “Hymne. Anda bisa memanggil saya Hymne.” Jawabannya singkat, disusul jeda lainnya. “Dan siapakah nama Anda?”
Putra Mahkota Langit menelan ludahnya sesaat. “Pendeta Langit.”
Jadi pada pertemuan kedua mereka, keduanya saling bertukar identitas. Namun tidak satupun dari mereka sadar bahwa keduanya sebenarnya sama-sama berbohong soal identitas mereka.