
“Setelah kita kembali, aku akan mengunjungimu lagi suatu saat. Dan jika aku bisa kembali ke Bumi, maukah kau menemaniku lagi, Tuan Arwah?”
“Tentu saja. Kemanapun yang kamu mau aku akan ikut,” jawab Red. “Tapi Putri, pernahkah kamu berpikir bahwa kamu memberikan terlalu banyak untukku? Kamu mau turun ke Neraka untuk menemuiku, bukannya itu sudah terlalu banyak untukmu? Apakah Surga tidak mencurigaimu?”
“Oh, aku bisa bermain kata-kata, Tuan Arwah.” Faith tertawa kecil. “Aku selalu melakukannya setiap kali ada urusan mengenai Barikade Cahaya. Jadi ketika aku turun ke Neraka, meskipun beberapa dewa akan menemaniku, aku bisa berdalih akan memeriksa daerah tertentu, dan dengan demikian aku bisa melepaskan diri dari kerumunan orang banyak,” jawabnya. “Kau sendiri bagaimana? Kenapa setiap kali aku turun ke Neraka kau selalu tahu di mana harus menemukanku?”
“Aku mau bilang bahwa aku selalu mengawasimu, tetapi itu akan terdengar berlebihan karena nyatanya tidak begitu. Aku hanya selalu mengawasi setiap sudut Neraka, jadi apapun yang masuk atau keluar Neraka, aku akan tahu. Ketika kamu memasuki Neraka pun aku akan tahu, jadi aku akan selalu pergi ke mana kamu pergi. Selama itu di Neraka atau Bumi, aku bisa melihatmu di manapun kamu berada.”
“Hm? Kau tidak bisa melakukannya dengan Surga?” Faith memiringkan kepalanya.
Red tampak termenung. “Apakah kamu mau aku melakukannya?”
“Oh, bukan, maksudku, Roh Merah yang ditakuti seisi Surga terdengar sangat sakti dan mengerikan. Aku hanya membayangkan jika kau punya kemampuan khusus untuk berinteraksi dengan Surga secara langsung. Misalnya, kau bisa masuk ke tanah Surga, atau bisa melihat ke dalam Surga dari Neraka…” kata Faith cepat.
“Sebenarnya, aku bisa.” Red berhenti, memberikan jeda yang digunakan Faith untuk mendongak menatapnya dengan terkejut. “Aku bisa. Tetapi sudah sejak lama aku memantapkan hatiku untuk tidak menginjak Surga apapun kondisinya. Aku juga bisa melihat ke dalam Surga jika aku ingin, tetapi dulu sekali, tidak ada yang perlu aku lihat, jadi aku tidak pernah melakukannya kecuali sekali. Sekarang, sejujurnya, setelah kamu ada di Surga, aku selalu tergoda untuk mengintip dan mencarimu, tapi aku tahu itu tidak akan sopan, jadi aku tidak melakukannya,” katanya. “Tapi tentu saja jika kamu menginginkannya, aku selalu bisa melakukan apa saja.”
Faith tersipu mendengarnya, tetapi karena rasa malunya dia memalingkan wajahnya. “Aku punya seorang penguntit…” gumamnya.
Red tertawa. “Bagaimana kalau aku menyebutnya ‘bersembunyi di kegelapan dengan penuh kasih sayang’?”
“Ooh, itu sama saja.” Gadis itu terdengar menggerutu. Tak ada satu menit setelahnya, dia tiba-tiba terdengar ceria. “Ada toko donat! Mau membelinya?”
Red menatap toko yang ditunjuk Faith, yang berada beberapa meter di sebelah kiri mereka. Secara reflex Red merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet kulit tipis. Dompet itu begitu tipis hingga hampir terlihat tidak ada isinya. Faith mengambilnya. “Kau tunggu saja di sini, aku akan masuk sendiri.”
“Tentu,” kata Red. ‘Apakah kamu malu aku akan melihatmu membeli banyak manisan?’ begitu pikirnya. Tapi tentu saja dia tidak akan mengatakannya.
Sementara Faith berjalan lagi ke depan dan masuk ke dalam toko, Red duduk di bangku panjang di sisi jalan, menempel dengan tembok toko donat itu. Payungnya dia letakkan di pangkuannya, seperti sebuah ornamen peragaan busana. Kemudian, matanya berpaling ke ujung kakinya, dan dia berkata,
“Apakah hari ini akan hujan?”
Dia hanya bicara, tidak jelas pada siapa. Tetapi kemudian sebuah suara muncul menjawabnya, datangnya dari pria lain yang duduk di ujung lain kursi. “Tidak,” kata pria itu. Suaranya ringan dan menyenangkan untuk didengar.
Pria itu mengenakan mantel abu-abu dan celana panjang putih. Rambutnya hitam dan matanya abu-abu. Pria itu, jika disandingkan dengan sang Roh Merah, memiliki tingkat daya tarik dan pesona yang berada pada level yang sama. Keduanya yang duduk di kursi kini benar-benar terlihat seperti sepasang model yang tengah berpose.
“Kalau begitu kau sudah bertemu dengan perempuan itu dua hari lalu?” Red kembali bertanya.
Hening sejenak. “Tidak tahu malu,” terdengar pria itu bergumam. “Sang Putri semakin tercium sepertimu. Kau terlalu intim dengannya. Dia masih seorang dewa, ingat.”
Berkebalikan dengan si pria, Red terkekeh. “Cinta bisa melampaui dunia dan ras. Ingat siapa yang mengajarimu?” balasnya. “Di antara kau dan aku saja, tidak perlu sungkan untuk mengumbar aib. Bukannya kau juga menikahi dewamu?” dia kemudian bertanya. Mendengar tidak ada jawaban dari si pria, Red menoleh dan menatapnya. “Hei, Master Hujan, jawab aku.”
Alih-alih kata-kata yang keluar sebagai jawaban, bunyi guntur terdengar di langit dari kejauhan. Aneh, karena meskipun langit agak mendung, kemunculan suara gemuruh yang besar itu tetap mengejutkan orang-orang. Rasanya dengan langit seperti itu petir ataupun suara gemuruh tidak perlu muncul. Tetapi kemudian, ini cuaca, siapa yang tahu kuasa alam?
Kecuali sang dewa sendiri.
Pada saat bunyi gemuruh itu mewarnai langit, identitas pria itu menjadi semakin jelas. Dia adalah Master Hujan, dewa yang berkuasa atas hujan dan badai.
Tetapi meskipun tampaknya Red telah menyinggungnya dengan pertanyaannya hingga membuat sang dewa harus mengeluarkan gemuruhnya, wajah sang dewa tetap tenang, tidak berubah atau bereaksi khusus. Ini tampaknya menyenangkan Red sehingga dia terkekeh lagi. “Jika kau bisa menghambur-hamburkan kekuatanmu seperti itu, aku bayangkan kau pasti sangat kuat. Tentunya orang terhormat sepertimu tidak perlu membuang-buang waktu untukku. Kau bisa pergi dan melanjutkan urusanmu dengan damai. Aku akan pergi sebentar lagi, jadi jangan khawatir.”
Master Hujan tampak menghela nafas pelan. “Aku tidak berencana membuang-buang waktuku. Aku selalu ada di Bumi, jadi aku tidak terburu-buru untuk pergi kemanapun. Aku di sini untuk bicara denganmu.”
Red mengangkat alisnya. “Oh?”
“Kami membicarakan kemungkinannya. Kenapa?”
“Bayangkan jika kau harus berhadapan dengan utusan Surgawi lainnya di Bumi, dan sang Putri sedang bersamamu. Apa yang menurutmu akan terjadi? Aku tidak bicara tentangmu, aku mungkin tidak peduli apa yang terjadi padamu. Tapi hal yang berbeda akan terjadi dengan sang Putri. Aku yakin kau tidak akan mau itu terjadi.” Kata-kata sang dewa mengalir dengan tenang.
Red menjawabnya sama tenangnya, “Sudah kubilang, kami sudah membicarakan kemungkinannya. Jadi apapun yang terjadi, aku akan mengaturnya sedemikian rupa sehingga semua hal akan menguntungkan sang Putri dan memojokkanku. Selama ada aku di sampingnya, kau tidak perlu khawatir.”
“Aku berhak untuk khawatir, dia seorang dewa yang kuhormati,” jawab Master Hujan. “Mengetahui kau dan dia sudah berhubungan intim saja membuatku gatal. Apakah aku perlu membayangkan hal-hal mengerikan lain terjadi padanya? Tidak heran para dewa tidak bisa mendeteksinya. Ketika wujud dewanya kembali, semua jejakmu padanya akan lenyap. Dan kau berani-beraninya bersikap tidak sopan padanya. Tidak tahu malu.”
Tawa keluar dari mulut Red. “Apakah kau mendengar dirimu sendiri? Kau terdengar seperti orangtua yang protektif,” katanya di sela-sela tawanya. “Aku akan mengurus semuanya, kau tidak perlu ikut campur.”
“Aku tidak akan ikut campur selama itu bukan mengenai sang Putri. Tapi itu bukan intinya, bukan itu yang ingin aku bicarakan. Dengarkan aku,” kali ini sang dewa menggunakan nada yang serius. Red mengangguk dan mendengarkannya. “Dua hari lalu, ketika dewa itu turun, sesuatu ikut turun bersamanya, tetapi asalnya tidak dari Surga. Apakah kau tahu apa itu?”
Red mengerenyit. “Apa? Neraka?” tanyanya. “Lalu?”
“Ini ganjil,” kata Master Hujan. “Aku sering merasakan makhluk Neraka turun ke Bumi, tapi tetap saja rasanya aneh ketika seorang makhluk Neraka turun ke Bumi bersamaan dengan turunnya seorang dewa, seolah mahkluk itu ingin menyamarkan kedatangannya. Menggunakan cara biasa akan membuat identitasnya diketahui, terutama olehku dan Master Guntur. Tetapi dengan mengikuti penyamaran dari dewa, aku sendiri tidak melihat siapa atau apa makhluk itu. Tapi kau tahu apa lagi yang aneh? Dia jatuh tidak jauh dari kota ini.”
Sang dewa berhenti bicara. Mata abu-abunya menatap mata hitam Red dengan tajam. “Makhluk Neraka yang tidak diketahui identitasnya, dengan cerdas mengikuti penyamaran dewa, turun ke Bumi dan jatuh tidak jauh dari sini. Ini berbahaya. Bisa jadi apapun yang turun adalah makhluk yang cukup berkuasa,” lanjutnya.
Red terdiam dan berpikir sejenak. “Siapa dewa yang turun pada waktu itu?”
Master Hujan terdiam juga. “Aku tidak bisa memberi tahumu,” katanya. Red mengangkat sebelah alisnya. “Meskipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu karena aku dan Master Guntur sudah berjanji untuk melindungi semua identitas dewa. Tapi ini masalahnya; aku tidak bisa memberi tahumu karena aku memang tidak tahu.” Master Hujan berhenti sejenak. Pada saat itu Red merasakan ketegangannya.
“Para dewa hanya berbicara, dan karena semua dewa dapat berkomunikasi dengan kami, kami akan mendengarnya. Dengan sang Putri, aku mengenali suaranya, selain energi dewanya. Tetapi saat itu, dewa itu berbicara dengan suara netral, suara laki-laki dan perempuan bercampur, banyak orang tetapi satu orang. Kami tidak bisa membedakan suara siapa itu.”
“Bukannya Master Guntur sangat pandai membedakan suara orang sampai seratus suara pun dia bisa membedakannya?” Red bertanya setelah keheningan diantara dirinya dan Master Hujan dirasa terlalu panjang.
“Itu benar. Tetapi ini berbeda. Suara ini bercampur aduk dengan suara binatang, suara elemen-elemen, belum lagi suara ratusan orang yang berbeda yang berbicara dalam waktu bersamaan. Master Guntur sempat terkejut, tetapi karena kami sama-sama tahu energi itu berasal dari seorang dewa, kami membantunya turun,” jawab Master Hujan. “Pertama, aku ingin memastikan apakah kau tahu atau tidak, mahkluk Neraka apa yang turun ke Bumi dua hari lalu. Apakah kau tahu?”
Red bergumam sebentar. “Aku memang tinggal di Neraka, dan aku memang mengawasi seluruh Neraka. Kekuatanku tidak terbatas di sini atau di Neraka, sayangnya aku tidak memperhatikannya,” jawabnya. “Mahkluk Neraka turun sepanjang waktu ke Bumi, tidak ada yang aneh dari itu. Jadi aku tidak memperhatikan secara spesifik ketika salah satu atau beberapa belatung turun.”
Master Hujan memalingkan pandangannya, ekspresi tidak puas tampak di wajahnya selama sepersekian detik. Setelah terdiam beberapa saat, dia kemudian berkata, “Aku tahu kau tidak akan mendengarkanku atau utusan Surga manapun. Tapi kalian, terutama sang Putri, perlu berhati-hati. Jika aku boleh memberimu saran, selama aku dan Master Guntur belum mengetahui siapa dewa dan entitas Neraka itu, tidak bijak untuk terus berada di Bumi.”
Red tidak menjawabnya.
“Terserah kau mau mendengarnya atau tidak, tapi aku harap kau menyampaikannya kepada sang Putri,” sambung Master Hujan. “Ada dua entitas tidak diketahui yang jatuh di sekitar sini, satu seorang dewa, satu lagi makhluk Neraka. Itu adalah energi yang terlalu besar untuk sebuah kota manusia biasa. Ditambah dengan kalian, tentunya.”
Red tampak mengatupkan kedua tangannya dan wajahnya terlihat tengah memikirkan sesuatu. Menyadari lawan bicaranya tidak menunjukkan reaksi akan menjawabnya, Master Hujan bangkit berdiri dan bersiap pergi. Tetapi baru saja dia berdiri, Red tiba-tiba berkata, “Aku hanya akan mengikutinya. Jika dia ingin di sini, aku akan tetap di sini. Jika dia ingin kembali ke Surga, maka aku akan meninggalkan Bumi. Kau seharusnya tidak meragukan kesetiaanku.”
Master Hujan merapikan mantelnya dan menatap ke langit sebentar. Dia menatap jauh ke antara awan, lalu mengedip. “Kesetiaanmu?” dia berkata kemudian, matanya masih menatap langit. “Penguasa Kesesatan bicara tentang kesetiaannya? Apakah kau tahu tahu kalau kau berada di peringkat nomor dua penghianat yang berani melawan Surga? Dan kau bicara soal kesetiaan?”
Pria yang baru saja dipanggil Penguasa Kesesatan (Lord of Heresy) itu tersenyum sinis. “Aku pantas atas peringkat itu, bukan?” katanya dingin.
“Dan kenapa sang Putri masih memanjakanmu tetap menjadi misteri.” Master Hujan menggelengkan kepalanya lambat-lambat. “Apakah kau akan menghianatinya juga suatu saat? Hanya bertanya.”
“Tidak akan.” Jawaban Red cepat dan tegas, seolah dia tidak perlu berpikir atau ragu sama sekali. “Aku akan menghianati apapun dan siapapun kecuali dia.”
Master Hujan mengerang seolah mengerti. “Tolong jaga dia.” Tanpa mengucapkan salam perpisahan, Master Hujan berjalan pergi meninggalkan Red. Arah yang dia tuju adalah arah yang baru saja dilewati Red dan Faith.