
Ketika mendekat, sang pangeran mendengar kakaknya berteriak, “Kau iblis!”
Putra Mahkota Langit bertanya-tanya apa yang membuat kakaknya marah, lalu dia menurunkan matanya dan melihat seorang pria terikat rantai berlutut di tanah, di hadapan kakaknya. Pria itu masih muda, wajahnya sedikit babak belur dan berdarah, pakaiannya kotor di sana-sini dan ada sedikit bagian yang robek.
Ketika dikatakan bahwa dia diikat rantai, sang Putra Mahkota Langit tidak mengada-ngada atau melebih-lebihkan perkataannya. Seluruh tubuh si pria, pinggangnya, kedua kaki dan tangannya, bahkan lehernya dililit rantai berlapis lapis yang setiap ujungnya ditahan oleh setidaknya dua orang prajurit. Seolah mereka tengah menahan seekor binatang buas.
Tetapi di balik semua itu, Putra Mahkota Langit sendiri yakin bahwa pria itu memancarkan aura bermartabat yang dingin. Wajahnya babak belur, tetapi masih terlihat mata tajam dan hidung lurusnya menyokong bibirnya yang tersenyum tipis. Seandainya tanpa luka, pria itu akan terlihat tampan. Matanya menatap Putra Mahkota Bumi tanpa emosi, hanya senyum tipis yang ringan menghiasi wajahnya. Bajunya yang kotor sebenarnya adalah baju sederhana yang dibuat dari bahan yang bagus, Putra Mahkota Langit bisa melihatnya dari bagaimana halusnya ujung kain baju itu jatuh ke tanah, tanpa kerutan, dan warna hijaunya tampak terang. Dia juga yakin bahwa seandainya pria itu tidak berlutut, tingginya akan menyamai tinggi Putra Mahkota Bumi.
“Kekuatan iblis macam apa yang kau gunakan untuk menodai kesucian bumi ini! Kau telah menghina dewa dan seluruh ciptaannya!” Putra Mahkota Bumi kembali berteriak. Tetapi pria yang berlutut di hadapannya masih tersenyum. “Dewa tidak akan memaafkanmu.” Putra Mahkota Bumi sekali lagi berkata dengan geram.
Tepat pada saat itu, bunyi gemuruh terdengar di langit. Seluruh orang seketika menatap ke langit, dan menyadari selapis awan kelabu tipis menutupi bulan. Seolah mengikuti event ini, si pria yang berlutut tiba-tiba tertawa. Tawanya terdengar dingin.
“Apa yang kau tertawakan!”
“Dewa marah padaku. Semua dewa selalu marah padaku. Dewa mana lagi yang sekarang marah padaku? Dewamu? Siapa dewamu?” katanya. Suaranya terdengar dewasa dan lembut, namun nada bicaranya sangat dingin.
“Beraninya kau!”
“Beraninya aku? Mengapa aku harus tidak berani? Aku tidak pernah mengikuti jejak dewa manapun sejak awal, mengapa aku harus tidak berani melawan salah satu atau semuanya?” kata pria itu lagi.
Raut wajah marah muncul di air muka Putra Mahkota Bumi. Melihat ini, salah seorang jenderal di sebelahnya berkata, “Putra Mahkota, pria ini gila. Sia-sia bicara dengannya. Dia jelas berada di dalam pengaruh iblis, kita harus segera memusnahkannya.”
Ketika itu, Putra Mahkota Langit segera mengangkat suaranya. “Kakak,” katanya. Suaranya menyita perhatian semua orang. “Bagaimana kalian memutuskan bahwa orang ini berada di bawah pengaruh iblis?”
Kali ini kakaknya menjawabnya, “Penjahat ini yang mengendalikan orang-orang kerasukan itu. Dia ditemukan di dalam rumah ini dengan segala perlengkapan penyembahan iblisnya. Dialah penjahat sebenarnya.”
Putra Mahkota Langit sedikit terkejut. “Dia mengontrol orang-orang kerasukan?” tanyanya pelan. Matanya kemudian jatuh kepada pria itu, dan pria itu juga menatapnya. Namun kali ini, wajah pria itu hampa emosi, dia bahkan mengedip sekali seolah tengah mengamati sesuatu pada diri Putra Mahkota Langit. Putra Mahkota Langit kemudian memberanikan diri mendekat dan berlutut di hadapan pria itu. “Apa yang telah kau lakukan?”
Pria itu mengerjap sekali. “Bukannya kakakmu itu baru saja menjelaskannya padamu.”
Seketika Putra Mahkota Langit memutar kepalanya dan menatap kakaknya. “Izinkan aku menginterogasinya,” katanya. Setelah mendapat persetujuan, dia kembali menatap si pria. “Aku akan bertanya langsung padamu. Apa yang telah kau lakukan?”
Pria itu terdiam sejenak. “Apakah ini rasanya?” dia bergumam sebentar pada dirinya sendiri. “Apakah kau seorang pendeta?” dia balas bertanya.
“Ya. Maka dari itu keputusanku bisa berbeda dari semua orang ini. Jika kau mau menjawab pertanyaanku, aku akan mempertimbangkannya sebagai seorang pendeta, bukan prajurit. Begitupun caraku memperlakukanmu. Jadi, tolong jawab aku. Apa yang telah kau perbuat?”
“Aku mencoba membuat dewa marah,” jawab pria itu. Tidak ada keraguan dalam wajahnya.
“Dewa mana yang coba kau bangkitkan amarahnya?”
“Apa yang telah dewa ini lakukan sehingga kau berani melawannya seperti ini?”
“Tidak ada, dewa ini sangat baik. Aku hanyalah anak nakal yang tidak mau menuruti siapa-siapa,” jawabnya. “Apakah aku berhasil membuatnya marah?”
Putra Mahkota Langit terdiam sejenak. “Dewa kami seorang dewa pria. Aku takut kau telah menyulut amarah seorang dewa lain. Jika begitu, dewa wanita itu sama sekali tidak marah padamu. Mengapa kau masih berbuat sejauh ini?”
Pria itu terdiam selama beberapa detik ketika mata kosongnya menatap Putra Mahkota Langit. “Aku hanya ingin menarik perhatiannya.”
Sehela nafas panjang keluar dari hidung Putra Mahkota Langit pelan-pelan. “Dewa tidak akan memperhatikanmu hanya karena kau berbuat onar. Dewa juga tidak akan memperhatikan semua umat manusia sepanjang waktu. Jika kau ingin menarik perhatiannya, mengapa kau tidak berbuat kebaikan atas namanya? Dengan cara itu dewamu itu mungkin akan memperhatikanmu.”
Pria itu terdiam lagi. Kemudian setelah beberapa saat, dia tiba-tiba menundukkan kepalanya dan tertawa. “Aku berbohong. Aku berbohong. Hahaha. Huh, maafkan aku.” Dia berhenti bicara untuk menghentikan tawanya. Bahkan Putra Mahkota Langit sendiri terkejut dan terheran ketika itu, dan semua prajurit termasuk kakaknya mengerenyit marah. “Dewa itu sudah lama meninggalkanku, jadi aku tidak akan pernah menarik perhatiannya. Ayo pendeta, bunuh aku. Bunuh aku supaya di kehidupan selanjutnya aku bisa mengejar dewa itu.”
Kali ini Putra Mahkota Langit mengerenyit. “Apakah kau masih dalam pengaruh kekuatan iblis?”
“Tidak, sama sekali tidak. Ayo sentuh aku, kau yang seorang pendeta pasti akan tahu kondisi spiritualku hanya dengan menyentuhku. Tolong bantu jelaskan kepada mereka, pendeta.”
Mendengar pria itu meracau dalam kondisi sadar, Putra Mahkota Langit mengikuti kemauannya. Dia mengangkat tangannya dan dengan hati-hati menyentuh kening pria di hadapannya. Seketika, tangannya terasa panas dan tangannya didorong kembali oleh sebuah energi yang besar dan jahat. Masih dengan tangan menggantung di udara, wajah Putra Mahkota Langit terlihat terkejut dan dia tidak bergerak.
“Bagaimana? Kau sudah tahu sekarang? Ayo, beritahu mereka, pendeta. Beritahu mereka.” Kata pria itu kemudian. Wajahnya terlihat cerah.
Meskipun demikian, butuh waktu bagi Putra Mahkota Langit untuk mengembalikan kesadarannya. Ketika dia sadar sepenuhnya, dia menurunkan tangannya dan menatap pria itu dengan wajah separuh bingung separuh tidak percaya. Kemudian, dia berdiri. “Kakak,” katanya tanpa melepas mata dari pria yang masih berlutut. “Dia tidak di dalam pengaruh energi iblis.”
“Kalau begitu apa?” kakaknya bertanya dengan tidak sabaran.
Putra Mahkota Langit terdiam sejenak. “Aku takut urusan ini hanya bisa diselesaikan oleh para pendeta, dalam kasus ini, aku sendiri. Aku tidak akan melibatmu dan pasukanmu. Aku tidak bisa.”
Gemuruh terdengar lagi di langit, kali ini bunyinya panjang. “Apa dia itu?” Putra Mahkota Bumi sekali lagi bertanya.
“Energi negatifnya terlalu besar untuk ukuran manusia. Seperti… seolah dia adalah seorang penjelmaan iblis.”
Putra Mahkota Bumi dan seluruh pasukan terkejut. Para prajurit yang menahan ujung rantai pun saling menatap satu sama lain dan diam-diam mengeratkan pegangan mereka pada rantai. Pada keheningan itu, gemuruh kembali terdengar dan kali ini sebuah petir besar menyambar dari langit, mengejutkan semua orang. Beberapa orang menatap ke langit, namun banyak yang masih menatap si pria. Mata mereka memancarkan horor, sementara pria itu hanya terdiam dengan mata menatap Putra Mahkota Langit sambil tersenyum tipis.
Kemudian, angin bertiup sangat keras. Saking kerasnya hingga serpihan kayu di sekitar mereka bergerak dan berputar. Sementara tawa si pria menghiasi telinga semua prajurit dengan ngeri, desir angin yang lebih tajam menyentuh telinga kedua putra mahkota. Angin itu melewati kepala mereka dengan cepat, membawa sebuah kekuatan magis bersamanya. Kemudian, kedua putra mahkota saling bertatapan satu sama lain. Pada waktu itu jelas bahwa sebuah suara dewa telah berbisik kepada mereka, dan hanya kepada mereka.
Kedua putra mahkota itu diciptakan oleh kuasa dewa. Maka sudah selayaknya mereka harus mengikuti perintah dewa.