The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 24



Di lain tempat, pasukan Putra Mahkota Bumi telah tiba di Istana Peristirahatan Awan. Setelah mengonfirmasi bahwa Putra Mahkota Langit benar-benar menghilang, Putra Mahkota Bumi segera mendatangi sang utusan yang masih berada di dalam kuil. Dia bertanya dengan hati yang separuh menjerit dan menunggu jawaban. Dia berbicara kepada kereta itu, dan menanti selembar kertas yang selalu muncul setiap kali Putra Mahkota Langit bertanya.


Tetapi kertas itu tidak kunjung muncul. Semakin lama ia menjadi tidak sabaran, begitupun orang-orang di sekitarnya. Akhirnya, dengan berani dia menghampiri kereta itu dan membuka tirai putih berlapis yang menutupinya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kereta itu kosong. Tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali selembar kertas. Dengan marah dia mengambil kertas itu dan membukanya. Pada selembar kertas itu tertulis;


Kota tempat Angin Laut dibakar hidup-hidup. Gua. Lembah.


Setelah membaca itu, tiba-tiba kertas itu terbakar dan abunya menghilang ke udara. Seolah mengerti bahwa itu adalah jawaban yang diberikan sang utusan, tanpa membuang waktu lagi, Putra Mahkota Bumi kembali membawa pasukannya menuju tempat yang dimaksud di kertas.


Di gua tempatnya bersembunyi, hantu Angin Laut masih sibuk berbicara dengan dirinya sendiri sementara Putra Mahkota Langit sudah kehilangan tenaga untuk mendengar lebih jauh. Tetapi setiap kali hantu Angin Laut menyebut kakaknya, Putra Mahkota Langit akan meliriknya, seolah sisa tenaganya hanya disimpan untuk itu. Mereka masih berkutat pada pembicaraan yang absurd, sampai tiba-tiba hentakan angin yang keras memenuhi seluruh gua. Hantu Angin Laut yang terkejut mencari sumber angin itu, tetapi jalan masuk ke gua itu agak jauh, dan tidak ada akses lain yang menghubungkannya dengan udara luar.


Sementara dia masih kebingungan, dari satu-satunya jalam menuju gua, muncul sosok seorang wanita dengan baju kelabu panjang dan sederhana.


Tubuhnya terlihat kurus namun tinggi, dan rambut panjangnya yang terurai berwarna kelabu seperti warna awan mendung. Setengah rambutnya diikat ke atas dengan mahkota rambut warna hitam, dan setengahnya terurai bebas hingga ujungnya menyentuh pinggulnya, mungkin jika dia duduk bersila di tanah, ujung rambutnya akan bergeletakkan di sekitarnya. Wajahnya putih, namun tidak pucat, dan matanya ditutup kain berwarna putih yang ujung kainnya sama panjangnya dengan rambutnya.


Sosok wanita itu berjalan dari arah mulut gua, dan kehadirannya membuat hantu Angin Laut lebih terkejut lagi. Jemarinya yang lentik dengan kuku berwarna hitam menggenggan sebilah pedang perak. Meskipun kedua matanya ditutup, langkahnya sama sekali tidak goyah, seolah dia dapat melihat tanpa kedua matanya. Sosok itu kemudian berdiri di dekat Putra Mahkota Langit, berhadapan langsung dengan hantu Angin Laut.


“Kau!” hantu Angin Laut berseru sambil mengangkat tangannya. “Bagaimana bisa!”


Wanita itu tidak menjawabnya, alih-alih sebagai reaksi justru menyiagakan pedangnya di depan dadanya. Kemudian dari luar gua, sebuah suara guntur yang menggelegar terdengar, disusul gemuruh yang menari-nari menciptakan melodi. Tanpa bergerak dari posisinya, dia menghunuskan pedangnya ke arah hantu Angin Laut. Hantu Angin Laut membanting tangannya ke tanah seolah membuang sesuatu, kemudian kabut berwarna hitam pekat mengelilinginya seperti angin topan kecil, menutupi seluruh wujudnya. Angin berwarna hitam pekat itu kemudian meninggi dan meluas, mewarnai langit-langit gua.


Mengikuti gerakan itu, sang wanita menghunus pedangnya ke langit, lalu terdengar bunyi ledakan sekali di udara, disusul suara yang mirip suara menjerit. Wanita itu menurunkan pedangnya, kemudian satu tangannya yang bebas terangkat ke langit. Seketika sosoknya berubah menjadi sebuah kilat berwarna perak yang naik ke udara.


Kilat perak itu mengeluarkan bunyi pecut yang keras, kemudian dia bersatu dengan kabut hitam yang kini bergejolak seperti badai. Kilatan perak muncul beberapa kali, seolah di dalam balutan kabut hitam itu keduanya tengah bertempur. Suara pecut, gemuruh, dan suara jeritan muncul berulang kali, membuat gua itu menjadi seperti mata badai yang mengerikan. Sebuah bunyi pecutan diiringi kilat perak yang menyala terang mewarna seisi gua, kemudian suara jeritan lain muncul, dan kabut hitam itu tiba-tiba mereda dan berkumpul di satu titik. Titik itu mengecil, lalu ketika jatuh ke tanah, ledakan kabut hitam muncul diikuti suara angin keras. Kabut hitamnya merayap di atas bebatuan gua selama beberapa saat, lalu perlahan memudar.


Pada titik di mana kabut itu menghilang, sosok wanita itu berdiri dengan posisi agak membungkuk. Kedua tangannya memegang gagang pedangnya, yang ujungnya menghunus ke lawannya. Hantu Angin Laut terpojok di salah satu sisi gua, punggungnya menabrak batu. Tangannya terkepal di dadanya, namun pedang si wanita menghunus melalui tangannya dan menuju dadanya. Wajah hantu Angin Laut tampak kesakitan dan marah, tetapi dia hanya menatap lawannya dalam diam.


Si wanita lalu menarik pedangnya dengan gesit, dan postur tubuhnya kembali tegak sempurna. Ketika itu hantu Angin Laut menjatuhkan tangannya yang sebelumnya terhunus, dan serpihan tulang kecil berwarna hitam gosong jatuh dari tangannya ke kakinya, lalu serpihan itu mengeluarkan asap berwarna hitam dan pelan-pelan wujudnya habis menghilang.


“Bagaimana bisa?” hantu Angin Laut membuka suaranya, dan dia terdengar marah. “Kau seorang iblis sepertiku. Kenapa kau bisa mendapat tempat di Surga? Bukannya kita sama!” katanya. Pada saat dia bicara, tangannya perlahan berbubah menjadi abu dan hancur, kemudian disusul kakinya.


Wanita itu tidak merespon selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia bicara, “Kita tidak bisa memilih untuk lahir menjadi apa atau siapa. Tetapi tindakan kita semasa hiduplah yang menentukan siapa diri kita.” Suara wanita itu terdengar menggelegar di dalam gua. Tetapi dia berbicara dengan tenang, tidak terdengar marah. Dia kemudian mendekati hantu Angin Laut dan tangannya yang bebas meraih wajah sang hantu. “Kita lahir sama-sama sebagai iblis, tetapi aku dan kamu hidup dengan cara yang berbeda.”


Hantu Angin Laut semakin kehilangan anggota tubuhnya, dan akhirnya dia hanya bertumpu pada satu kaki. Kedua tangannya sudah menghilang tubuh bagian atasnya menyisakan separuh dadanya dan sebelah bahunya. Wajahnya pun kini mulai tergerus mulai dari bagian rahang dan telinganya. “Kalau begitu apa kita sekarang berbeda?” tanyanya.


“Kita berbeda. Tetapi jika kamu mau menyesali perbuatanmu, kamu punya kesempatan untuk menjadi sama denganku,” jawab si wanita.


“Menyesal untuk apa? Aku membalas semua perlakuan tidak adil orang-orang kepadaku, apa yang harus kusesali? Aku tidak mau menyesal. Jika aku tidak mau menyesal, apakah kita akan tetap berbeda? Kalau begitu biarlah. Biarkan aku berbeda denganmu jika memang harus demikian untuk membuatmu…”


Hantu Angin Laut tidak melanjutkan kata-katanya, karena mulutnya sudah menghilang. Hanya kedua matanya yang masih menyalak yang dapat menyatakan kata hatinya. Dia terus menatap wanita itu hingga seluruh tubuhnya menghilang menjadi abu yang kemudian menghilang seperti angin.


Wanita itu menggenggam serpihan abu di tangannya dan mengawasinya hingga seluruhnya menghilang, kemudian sosoknya terdiam menatap tangannya yang kosong. Tidak lama, dia memutar tubuhnya, menandai kehadiran seseorang yang sempat dilupakan sebelumnya.


Putra Mahkota Langit sejak tadi menyaksikan pertempuran yang tidak dia mengerti itu dalam diam, kemudian dia juga menyaksikan saat-saat terakhir hantu Angin Laut. Dia tidak bergerak karena tubuhnya masih diikat ke batu, makanya dia tidak bisa melarikan diri atau melindungi diri. Namun sekarang ketika wanita itu menatapnya dengan kedua matanya yang tertutup, sang pangeran merasa dia ingin melarikan diri. Dia bahkan menundukkan matanya sebentar. Namun menyadari tindakannya sia-sia dan wanita itu justru mendekatinya, dia akhirnya mendongak untuk memperhatikan si wanita sampai dia berlutut di hadapannya.


“Apakah kamu terluka?” wanita itu bertanya padanya, kemudian tangannya menyentuh tali yang mengikat sang pangeran, dan tali itu tiba-tiba putus di beberapa tempat.


Sang pangeran merasa dirinya telah bebas dan menyingkirkan sisa tali dari tubuhnya. “Tidak, terima kasih telah menyelamatkanku,” jawabnya. Dia terdiam sejenak dan menunduk. “Maaf aku telah mengganggumu dengan memanggilmu ke sini. Aku turut menyesal dengan semua yang telah terjadi.”


Wanita itu tersenyum. “Aku tidak tahu kenapa kamu harus minta maaf atau menyesal, aku tidak melihat kesalahan apapun darimu.”


“Kamu bisa melakukan banyak hal semasa hidupmu, kenapa harus mati sekarang? Bukannya kamu sang putra mahkota yang disukai dewa? Apapun yang kamu panjatkan akan menjadi kenyataan?” wanita itu balas bertanya.


“Untuk mengikutimu,” jawab Putra Mahkota Langit lemah. Matanya terlihat sendu membalas wajah tenang sang wanita. “Untuk alasan yang sama mengapa kamu memilih untuk mati.”


Wanita itu tampak terkejut sejenak, kemudian tertawa. “Aku memilih untuk mati karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Aku tidak bisa apa-apa, tidak sepertimu yang dikaruniai kelimpahan berkat dewa yang luar biasa. Kamu disukai dewa dan dicintai rakyatmu, bayangkan betapa kuatnya dirimu? Seandainya aku memiliki kelimpahan yang kamu miliki, aku akan memilih untuk hidup dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. Kamu bisa melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan semasa hidupku, jadi kamu tidak boleh mati sekarang.” Dia berkata sambil tangannya mengusap lembut kepala sang pangeran seperti anak kecil.


“Tapi… aku ingin mengikutimu.” Seperti anak kecil pula, sang pangeran terdengar merajuk.


Wanita itu tersenyum lagi. “Kalau begitu boleh aku meminta sesuatu darimu?”


“Apapun itu. Nyawaku? Ambil saja. Hidup dan matiku? Ambil saja. Apa saja yang kamu mau, ambil semuanya dariku.”


Kali ini wanita itu melebarkan senyumnya. “Boleh aku meminjam matamu?”


Mata sang pangeran membelalak. “Ambil. Ambil saja mataku. Aku ingin kamu memilikinya supaya…” dia berhenti. Matanya berkedut menahan air mata. “Maaf, aku tidak tahu kamu tidak bisa melihat. Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku bahkan sampai kamu mati? Aku ingin kamu memilikinya, supaya kamu bisa melihat seluruh dunia, supaya kamu bisa melihat dirimu sendiri. Ambil mataku.” Dia memohon.


Wanita itu mengusap pipinya sambil tersenyum. Tangannya yang lain menyentuh penutup matanya, kemudian perlahan mengangkat kain yang menutupi matanya yang terpejam dengan gemulai. Pada waktu itu sang pangeran sudah berhenti memohon, dan ketika dia melihat wajah wanita di hadapannya dia semakin jatuh dalam rasa sakit. Yang berlutut di hadapannya adalah sang Putri Mahkota Angin Selatan, dalam wujud yang berbeda sejak terakhir kali dia melihat wanita itu. Namun demikian, dia amat mengenali wajah wanita itu sampai-sampai membuatnya sakit.


“Aku hanya akan meminjamnya sebentar, setelah itu aku akan mengembalikannya.” Tangannya mengusap bagian bawah mata Putra Mahkota Langit. “Aku hanya ingin melihatmu untuk pertama dan terakhir kalinya.”


Rasa sakit dari dadanya merambah ke kepala sang Putra Mahkota Langit. Dia tidak bisa membendung perasaannya lagi dan membisikkan nama wanita itu. Tetapi sang putri menutup pelupuk kedua matanya dengan ujung-ujung jemarinya. Gerakannya halus, tetapi rasa sakit yang dirasakannya sang pangeran justru semakin meluas ke seluruh tubuhnya. Kemudian pada detik berikutnya, sang putri membuka matanya.


Matanya berwarna emas terang berkilat perak. Bukan coklat muda atau kuning, tetapi emas, warna emas yang betul-betul nyata. Matanya tajam dan misterius, namun cantik dalam waktu bersamaan. Buku matanya yang panjang membuatnya terlihat dingin, namun bulu matanya yang lentik mengedip dengan halus membuatnya terlihat indah. Matanya tidak menunjukkan emosi apapun, hanya fokus menatap lurus pria di hadapannya.


Sementara itu, Putra Mahkota Langit menyerah dengan rasa sakitnya dan aliran panas menyeruak dari matanya. Tetapi bukan aliran perak seperti dulu dia menangis, tetapi warna merah yang menodai wajah putihnya. Itu bukan air mata, tetapi darah.


Tubuhnya melemah dan dia menjatuhkan kepalanya ke pangkuan sang putri, kembali menangis seperti anak kecil. Untuk beberapa lama dia meraung dan mengucapkan banyak kata yang tidak bisa dia ingat. Sampai tenaganya terkuras sepenuhnya dan dia jatuh dalam tidur lelap. Tanpa dia sadari, tangan sang putri tidak berhenti mengusap kepalanya meski ia sudah lama tertidur.


Pasukan Istana Peristirahatan Awan dan Putra Mahkota Bumi yang berjalan mengikuti instruksi sang utusan sudah hampir sampai ke Kota Beringin ketika tiba-tiba hujan turun di atas mereka. Mereka menatap ke langit dan seluruh langit diwarnai kelabu sejauh mata memandang. Tetapi beberapa saat kemudian mereka terkejut ketika menyadari sesuatu.


"Hujannya merah!"


Air yang menitik berwarna kemerahan. Beberapa prajurit yang penasaran mengumpulkan titik air hujan di tangan mereka dan menyaksikan sendiri genangan air di tangan mereka berwarna merah, seperti air yang bercampur dengan darah. Awalnya mereka ketakutan dan kebingungan, tetapi berkat dorongan Putra Mahkota Bumi, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Putra Mahkota Langit ditemukan tidak lama kemudian dalam keadaan tidak sadarkan diri di sebuah gua, dengan wajah berlumur darah. Dia dibawa pulang dan setelah tubuhnya dibersihkan, tidak didapati luka apapun di tubuhnya. Meskipun begitu, entah mengapa dia tertidur selama dua hari penuh. Selama itu pula hujan darah itu terus turun dalam jumlah yang besar. Ketika sang Putra Mahkota Langit terbangun dari tidurnya, barulah hujan itu berhenti.


Dikatakan bahwa setelah kondisinya membaik, sang pangeran pergi ke pertapaan di Gua Embun selama satu tahun lamanya. Sekembalinya dari pertapaan, dia ditawarkan posisi sebagai Pendeta Agung Istana Peristirahatan Awan, tetapi dia menolaknya. Dia melepaskan status putra mahkota dan kedudukannya sebagai pendeta, lalu memilih untuk pergi dari istananya.


Pada waktu itu dia membuat keributan dengan mengatakan "Di mata saya ada seorang dewa baru," dan akan mengikuti dewa itu mulai sekarang. Ini memang membuat marah semua orang, tetapi mereka lebih kecewa pada sang pangeran. Mereka menyiapkan diri untuk menasihati, mendidik, bahkan menghukum sang pangeran. Namun sang pangeran tidak mau terlibat lebih jauh, dan hanya meninggalkan istananya dengan langkah ringan. Ketika orang-orang menatapnya dengan tidak percaya, dia tetap berjalan menjauh dan tidak lagi menginjakkan kaki ke istana itu.


Bertahun-tahun setelahnya, tersiar kabar tentang seorang pengembara sakti yang selalu melakukan kebajikan di setiap tempat yang dia kunjungi. Dia membantu orang-orang membangun apa saja, membantu bekerja kasar, berdagang, bahkan membangun tempat yang tadinya miskin menjadi makmur, sampai mengajar anak-anak tidak mampu dan gelandangan. Tidak hanya hal-hal biasa, dia juga bisa melakukan keajaiban, dia bisa menyembuhkan orang sakit, mengusir hantu, dan kata-katanya selalu menjadi kenyataan. Tetapi satu keajaiban yang selalu dibawanya adalah, kemanapun dia pergi, selalu turun hujan. Dan dia selalu tahu kapan hujan akan turun, atau di mana hujan akan turun. Itu sebabnya orang-orang memanggilnya Master Hujan.


Master Hujan berkeliling ke seluruh dunia selama bertahun-tahun selama tubuhnya masih mampu. Dia memang menetap bertahun-tahun di desa yang kesulitan secara ekonomi, geografis, atau secara kemanusiaan, seperti kampung bandit atau penjarah misalnya. Lamanya waktu yang dia habiskan di sana karena dia selalu mengajar, dan perlu beberapa waktu baginya supaya diterima oleh daerah itu, beberapa waktu lagi sampai seseorang mempercayainya dan mau belajar padanya, lalu beberapa waktu lagi sampai seseorang memahami pelajaran yang ia sampaikan. Dia melakukan semuanya secara cuma-cuma, dari belajar membaca dan menulis hingga ilmu yang lebih rumit, dia tidak pernah meminta bayaran. Namun secara alami orang-orang akan memberinya makanan, minuman, bahkan tempat tinggal dan uang sebagai wujud terima kasih.


Dia tidak pernah mengambil seorang pengikut dalam hidupnya, karena dia lebih suka berkelana sendiri, dan begitulah dia tidak beristri. Kisahnya yang populer menyebar ke seluruh dunia, lalu ketika dia sudah mulai tua, dia mengasingkan diri entah ke mana dan sosoknya menghilang. Anak-anak yang dulu diajarnya tidak tahu ke mana sang Master Hujan menghilang, dan seandainya Master Hujan sudah meninggal, mereka tidak tahu di mana harus mencari kuburannya atau tubuhnya.


Semakin banyak generasi berlalu, semakin pudar kisah kebajikan sang Master Hujan. Kota-kota atau desa yang dulu ada semakin menghilang, wilayah yang dulunya pantai menjadi laut, gunung yang dulu menjulang tinggi menjadi datar. Pada akhirnya, tidak ada lagi orang yang mengenal sang Master Hujan, atau mengetahui kisah kebajikannya.