The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 8



Semakin langkahnya cepat, semakin tidak stabil nafasnya, semakin menderu juga detak jantungnya. Semakin dia berlari dan berlari, suara desir angin itu menjadi semakin jelas terdengar sebagai alunan sebuah melodi.


Meskipun tampak masih bugar, ketiga pria muda di belakangnya berusaha mengejar langkahnya dengan sekuat tenaga. Mereka masing-masing membawa pasak kayu, jaring, dan sebuah jelaga berisi air. Sang pangeran tidak lagi menggunakan asap dari kulit kayu yang dibakar untuk menentukan arahnya, dia hanya berlari mengikuti suara desir angin yang didengarnya. Dia kemudian berhenti pada suatu tempat yang dikelilingi pepohonan pendek, sementara matanya mengamati kejadian di hadapannya.


Itu adalah wanita yang sudah lama dia cari, masih dengan setelan serba hitam dan topi berselubungnya. Dia berdiri di depan sebuah pohon, memainkan serulingnya dengan handal dengan alunan yang pelan dan rendah. Kemudian di hadapannya, sesosok hantu pria agak gemuk yang dibalut pakaian tebal namun kusam, dengan perhiasan berkarat di seluruh tubuhnya yang kotor, berjalan dengan langkah pelan mendekatinya. Mata putihnya lurus menatap si wanita yang kemungkinan tidak menatapnya dari balik selubungnya.


Semakin hantu itu mendekat, hati sang pangeran menjadi gelisah, dan dia menyuruh ketiga pria untuk menyebar jaring di belakang si hantu, sementara dia sendiri mengambil jelaga air.


Diam-diam, sang Putra Mahkota Langit melangkah mendekati kedua sosok di depannya. Ketika dia merasa waktunya sudah tepat, Putra Mahkota Langit berseru, “Pengembara!”


Wanita itu berhenti bermain seketika, dan dari gerakan topinya, dia menoleh ke arah sang pangeran. Tatapan mereka bertemu meskipun sang Putra Mahkota Langit tidak melihat langsung wajah wanita itu. Dengan sigap, dia menumpahkan air di dalam jelaga ke dalam tangannya, lalu menyipratkannya kepada si hantu. Ketika percikan itu menyentuh tubuh si hantu, tubuh hantu itu mengeluarkan asap seperti melepuh, dan ketika si hantu berteriak dengan mengerikan, ketiga pria muda dari belakang si hantu dengan sigap membungkus hantu itu dengan jaring mereka.


Tetapi belum juga mereka menyegel jaring itu dengan pasak kayu, hantu itu melepaskan diri dengan kasar dan berlari menerjang ke depannya, tepat ke tempat Hymne berdiri. Jeritan hampir keluar dari mulut Putra Mahkota Langit, tetapi dia melihat gerakan Hymne amat tangkas, dan dia berhasil menghindari terkaman hantu itu. Hantu itu menabrak pohon yang sebelumnya ada di belakang Hymne, lalu pohon itu retak dan terdorong rubuh ke belakang. Hymne yang berhasil menghindar berdiri agak jauh di sisi si hantu, di mana kemudian sang pangeran berdiri di sebelahnya, dan sekali lagi mengulangi gerakan memercik airnya.


Kali ini, Hymne kembali bermain serulingnya dengan alunan yang berbeda, dan tiba-tiba hantu itu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga sambil menutup telinganya sendiri. Dalam kondisi terdiam seperti itu, tubuhnya yang membungkuk berhasil dijaring oleh ketiga pria dan kali ini mereka berhasil menahan jaring dengan pasak. Putra Mahkota Langit menumpahkan banyak air ke tubuh si hantu yang kini seluruhnya berasap, lalu dia berdoa dengan tangan terangkat ke langit. Dia kemudian memercikan air lagi, lalu percikan air itu berubah menjadi kobaran api.


Seketika, tubuh hantu itu dipenuhi api, dan ketika dia menginstruksikan ketiga pemuda untuk menancapkan pasak kayu yang paling panjang ke tubuh si hantu, hantu itu menjerit separuh melolong dengan kesakitan. Hymne berhenti bermain seruling, Putra Mahkota Langit masih memanjatkan doanya dengan suara pelan, sementara ketiga pemuda menahan nafasnya dengan ketakutan di sekitar api yang berkobar. Lambat laun, hanya keheningan yang mewarnai sekeliling mereka, ditemani suara percikan api. Sosok hantu yang tadinya meringkuk di tanah perlahan mengempis, lalu menghilang seperti serpihan kayu yang habis dilahap api. Kemudian, hanya sisa api yang menyala di atas tanah yang bisa dilihat.


Perburuan mereka sudah selesai. Hantu itu sudah mati.


Sang pangeran memuji ketiga pemuda atas bantuan dan keberanian mereka, di mana ketiganya menjawab sambil bersorak dan memuji kemampuan sang pangeran. Setelah terus menerus memuji dan berterima kasih untuk waktu yang agak lama, ketiga pemuda itu akhirnya berjalan meninggalkan keduanya untuk kembali ke rumahnya. Tinggallah kedua sosok ini berdua, dibayangi keheningan. Baru setelah beberapa saat, keheningan yang agak canggung menggantung di udara itu pecah oleh suara Hymne.


“Anda sangat hebat bisa menguasai teknik penyucian seperti itu.”


Sebenarnya Putra Mahkota Langit ingin menjawabnya, tetapi pikirannya terlalu penuh sehingga mulutnya kelu. Setelah berbagai pikiran melintas di kepalanya, Putra Mahkota Langit akhirnya angkat bicara, “Teknik apa yang Anda gunakan dengan seruling itu?”


Itu adalah satu-satunya kalimat yang bisa keluar dari mulut sang Putra Mahkota Langit dari seribu kalimat yang sejak tadi membayangi pikirannya dan mengantri untuk keluar dari mulutnya. Dan itu adalah pertanyaan yang paling logis.


Dari pertemuan mereka sebelumnya, dia tahu Hymne adalah seseorang yang berpendidikan, dia bahkan yakin Hymne masih memiliki banyak keahlian yang tidak dia tunjukkan, bahkan mungkin kemampuan bela diri. Tetapi dia tidak mengira bahwa Hymne akan memiliki kemampuan spiritual. Jelas bahwa Hymne telah berinteraksi dengan sesosok hantu lewat alunan serulingnya. Itu bukanlah teknik yang dikenal oleh orang biasa, tidak juga dengan Putra Mahkota Langit.


Dia tidak tahu, tetapi Hymne tersenyum di balik selubungnya. “Bagaimana jika kita berbicara sambil berjalan?”


Selama mereka berjalan menuruni gunung, Hymne kemudian mulai menceritakannya sesuatu. “Sebelumnya, saya minta maaf jika saya merahasiakan beberapa hal dari Anda. Sesungguhnya saya hanya ingin Anda mengenal saya sebagaimana Anda mengenal saya selama ini, saya tidak berharap lebih. Bukannya saya mau menipu Anda, tuan, tetapi saya tidak mau Anda salah paham. Saya bukanlah orang jahat, setidaknya itu yang saya ingin coba lakukan. Tetapi Anda sudah mengetahui salah satu kebenaran yang saya coba sembunyikan, jadi saya tidak punya pilihan selain menjelaskannya supaya Anda tidak salah paham.”


Hymne berhenti sejenak. “Tuan, kemampuan yang saya miliki adalah sebuah berkat dari sesuatu yang terlalu mustahil untuk menjadi nyata. Saya adalah putri dari seorang wanita yang disukai dewa, dengan seorang iblis yang menjelma menjadi manusia,” dia berhenti lagi, kali ini lebih lama. Dalam keheningan ini, sang Putra Mahkota Langit harus menahan nafasnya sendiri untuk menahan rasa terkejutnya.


“Meskipun terdengar menyakitkan, kenyataannya tidak begitu. Ayah dan ibu saya saling mencintai untuk waktu yang lama, sampai akhirnya mereka menikah dan ibu saya memutuskan untuk mengikuti suaminya merantau. Di sana kemudian mereka melahirkan dan membesarkan saya, separuh manusia separuh iblis. Tetapi tuan, ibu saya dicintai dewa, dia menerima banyak berkah dari dewa, dan berkat kasih sayang dewa itu, saya dapat tumbuh dengan mengikuti jalur cahaya, tidak terpengaruh darah iblis ayah saya. Meskipun begitu, saya tetap memiliki darah iblis, oleh karena itu saya bisa berinteraksi dan mengendalikan hantu sesuka hati saya, dan jika saya ingin, saya bahkan bisa berinteraksi dengan sesama iblis.”


“Tetapi tuan, saya tidak ingin menggunakan diri saya untuk kejahatan, saya ingin berguna bagi umat manusia. Jadi saya berusaha menggunakan kemampuan saya untuk membantu manusia. Selama ini saya selalu mengembara untuk mencari hantu dan iblis yang mengganggu manusia-manusia, untuk membunuhnya atau memintanya pergi. Saya selalu tinggal di tempat yang sama sampai semua urusan saya selesai, hanya setelah itu saya pergi ke tempat lain, itu sebabnya saya tidak pernah berada di tempat yang sama untuk kedua kalinya. Saya tidak bisa membiarkan identitas saya diketahui oleh hantu atau iblis, karena mereka akan sangat tertarik kepada saya, dan saya justru akan membawa musibah ke tempat itu. Saya selalu bekerja sendiri, karena saya tidak mau melibatkan seorangpun dalam bahaya.”


Sang Putra Mahkota Langit mencerna baik-baik cerita Hymne di dalam kepalanya, lalu hatinya diam-diam menimbang segala sesuatu. Dia tidak merasa Hymne adalah sosok yang perlu ditakuti, ia justru berperan sebagai seseorang yang berusaha menghapus rasa takut manusia dari hantu atau iblis. Hanya saja, dia tidak pernah menemukan kasus di mana seorang manusia dan iblis memiliki keturunan, maka dari itu dia tidak tahu betul apakah keturunan campuran seperti itu dapat dikategorikan sebagai seorang manusia, iblis, atau keduanya? Lalu, apakah mereka seseorang yang lebih bersifat seperti manusia, iblis, atau keduanya? Lalu, apakah mereka sosok yang putih atau gelap, atau keduanya? Putra Mahkota Langit adalah pria yang selalu tumbuh dalam jalan yang lurus dan putih, tidak pernah menyimpang, dan sekalipun dia dihadapkan pada jalan menyimpang, dia tetap akan berjalan lurus.


Mendapati hal yang putih dan hitam di saat bersamaan adalah hal yang baru baginya, dan dia tidak bisa berpura-pura untuk tidak kebingungan. Meskipun begitu, dia tetap diam.


Merasakan bahwa sang Putra Mahkota Langit tidak akan segera bicara, Hymne melanjutkan kata-katanya. “Saya berusaha untuk melakukan kebaikan sepanjang hidup saya, paling tidak untuk membayar darah iblis yang diwariskan ayah saya, supaya jika suatu hari saya mati dan menjadi sesosok iblis, saya sudah melakukan kebaikan bagi manusia selama hidup saya. Tuan, saya mengerti jika Anda memutuskan untuk membenci saya. Saya minta maaf jika saya mengecewakan Anda sebagai seorang teman, tetapi jika Anda tidak keberatan, saya tetap akan menganggap tuan sebagai teman saya. Apakah Anda keberatan?”


Kali ini, Putra Mahkota Langit menatapnya. “Siapa bilang saya akan membenci Anda? Anda tidak melakukan kesalahan apa-apa, dan Anda sudah berusaha melakukan kebaikan dalam hidup Anda. Saya tidak melihat ada sesuatu yang perlu dibenci dari diri Anda. Sama dengan Anda, saya tidak akan berhenti menganggap Anda sebagai seorang teman. Saya akan bersama dengan Anda jika suatu saat Anda membutuhkan seseorang untuk menemani atau membantu Anda.”


Sang pangeran kemudian berhenti sejenak dan menunduk, mempersiapkan dirinya untuk kata-kata selanjutnya. “Nona Hymne, jika Anda berkehendak, saya akan menyiapkan diri untuk mengembara bersama Anda untuk berburu hantu dan iblis.”


Putra Mahkota Langit kita adalah pria yang selalu ada di mimpi setiap wanita, di setiap kisah dongeng tentang cinta; pria yang mau melakukan segalanya, memberikan segalanya, bahkan kehilangan segalanya untuk wanitanya. Dia sudah mau meruntuhkan dinding esnya, memberanikan diri mengekspresikan dirinya, lalu sekarang dia siap melakukan hal besar untuk wanita yang dia cintai.


Biarkan aku bertanya, apakah pada titik ini Putra Mahkota Langit sadar akan posisinya sebagai seorang putra mahkota dan seorang pendeta? Ya, dia sungguh sadar. Lalu kenapa dia berani mengatakan hal demikian? Dia adalah seseorang yang tegas dan patuh, dia selalu melakukan segala sesuatu dengan bertanggung jawab dan profesional.


Tetapi siapa yang tahu tentang hatinya? Bahwa di balik lapisan kemuliaan, kebijaksanaan dan sifat budimannya, ada sesosok anak kecil dengan hati yang tulus dan polos, yang menanti untuk menunjukkan dirinya. Dia bahkan bersedia untuk meninggalkan statusnya sebagai seorang pangeran untuk mengikuti kata hatinya. Betapa besarnya hatinya yang selama ini selalu dia simpan dibalik lapisan demi lapisan dinding kokoh.”