The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 21



Kisah Putri Mahkota Yang Menggorok Lehernya memang berakhir dengan tragis, meskipun membawa karunia bagi rakyatnya. Tetapi kisah sang putri tidak berhenti di sini secara tiba-tiba. Ketika dia diterima di Surga, karena para dewa menyukainya, jiwanya segera dimurnikan. Dan karena rakyatnya di bumi terus menerus mendoakannya, memujanya, melakukan segala sesuatu dalam nama baiknya, bahkan menggunakan namanya untuk memanjatkan permohonan, jiwa sang putri menjadi sangat kuat di Surga. Dia kemudian segera naik menjadi seorang dewa dalam waktu yang cukup singkat.


Tetapi jika dihubungkan dengan kisah mengenai hujan besar seperti yang pertama kali Red katakan, maka masih ada bagian lain dari kisah tersebut. Bagian ini akan melanjutkan kisah sang Putra Mahkota Langit setelah dia ditinggal mati wanita yang ia cintai. Kisah ini berlangsung setelah ia sadar keesokan harinya, dan menyadari bahwa wanitanya sudah tidak ada.


Dia diliputi rasa duka dan patah hati yang luar biasa sampai seluruh tubuhnya tidak lagi bertenaga. Ketika dia bangun dan tersadar oleh suara petir, dia hanya merenung di atas ranjang di ruangan sang putri. Ketika dia datang ke aula istana, orang-orang sudah meletakkan jenazah sang putri di altar dan membuka selubungnya. Ketika orang-orang mengagumi sekaligus menyesali tindakan sang putri, yang bisa dia lihat hanyalah wajah damai wanita itu yang sudah tidak lagi bernafas.


Ketika orang-orang kemudian membakar jenazah sang putri, dia hanya mengamati dalam diam sampai percikan api terakhir menghilang dari tumpukan kayu dan batu bara. Dia menyaksikan ketika orang-orang dengan wajah pucat pasi mengumpulkan sisa dari abu pembakaran jenazah sang putri, lalu memasukkannya ke dalam kendi emas yang cantik. Kemudian menjelang petang, orang-orang berkumpul di aula istana untuk mendoakan rohnya.


“Rakyatnya akan mengurusnya dengan sangat baik,” dia mendengar Putra Mahkota Bumi berkata di sebelahnya, entah kapan itu. Mungkin sang kakak telah menyadari kehampaan di matanya.


Kenapa dia tidak bisa ikut menguburnya? Kenapa dia tidak bisa melihat wanita itu di saat terakhirnya? Kenapa dia harus terbaring lumpuh di atas ranjang ketika wanita itu semalaman suntuk menyanyikan tangisannya? Mengingat kembali, sepertinya semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh sang putri sendiri. Supaya dia tidak bertindak gegabah dengan melawan kehendak dewanya atau kerajaannya.


Sekarang dia merasa tersesat.


Ketika orang-orang meminta agar diberi jaminan bahwa dewa tidak akan lagi mengganggu Istana Angin Selatan, dia yang menjalankan ritual. Dia bergerak dengan instingnya, bagaikan sesuatu yang terprogram. Dengan berkat dewa, dia menuang benih tanaman ke atas tanah dan mengatakan bahwa jika besok benih itu sudah tumbuh menjadi pohon, maka dewa telah menepati janjinya. Dan janji itu ditepati.


Setelah Istana Angin Selatan mendapat bukti yang mereka inginkan, Istana Peristirahatan Awan undur diri dari tempat itu. Dia tahu ketika dia meninggalkan tempat itu, semua orang di Istana Angin Selatan tidak akan pernah menerimanya kembali. Dan dia benar, tidak seorangpun dari kerajaan itu yang mengirim rombongannya pergi. Mereka hanya pergi dalam diam, perlahan berjalan menjauh dari wilayah Istana Angin Selatan, kembali ke Istana Peristirahatan Awan.


Saat itulah dia merasa amat kesepian. Tidak ada lagi sosok yang dia tunggu. Tidak ada lagi sosok yang dia cari. Hati yang sebelumnya dia buka dan tawarkan dengan sepenuh hati ditoreh luka dan lubang yang menganga. Tidak ada yang bisa menutup atau mengisi lubang itu. Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, jadi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Kemudian pada suatu waktu dalam perjalanan mereka, Putra Mahkota Bumi bertanya padanya. “Bagaimana dengan orang yang kau cari? Apakah kau menemukannya?”


Lubang di hatinya semakin menganga lebar. Bahkan muncul jurang di sisa bagian yang sudah terkoyak. “Dia sudah meninggal,” jawab Putra Mahkota Langit.


Putra Mahkota Bumi terkejut. “Bagaimana? Aku turut berduka mendengarnya, adikku. Apakah kau sudah menguburnya?”


Bagaimana dia bisa menguburnya?


“Dia sudah dikubur.”


“Maafkan aku, adikku. Tolong jangan bersedih. Suatu hari, jika dia sangat berharga bagimu, mungkin di kehidupan yang lain kalian akan bertemu,” kata kakaknya lagi. “Aku sangat menyesal. Aku bahkan belum bertemu dengannya.”


Kau sudah bertemu dengannya.


Ketika dia kembali ke istananya, kembali dengan segala rutinitas dan tanggung jawabnya, dia berharap dapat kembali ke sosoknya yang dahulu untuk mengalihkan pikirannya dari duka. Dia menjalankan ritual dengan sempurna, menuntaskan tugas urusan kerajaan dengan baik, menjalankan tugas sosialnya dengan patuh. Setidaknya itu yang berusaha dia tampilkan. Tetapi rupanya, dia tidak bisa.


Pangeran pendeta itu berubah, entah menjadi siapa.


Dia menolak memimpin upacara keagamaan dengan alasan harus mengerjakan urusan kerajaan, kemudian dia menunda urusan kerajaan dengan alasan mengerjakan urusan kunjungan sosial keagamaan, tetapi ketika tiba saatnya tugas sosial keagamaan, dia undur diri sebagai sukarelawan, bahkan menolak berkunjung ke daerah yang sudah ditugaskan padanya dengan alasan-alasan tertentu yang tidak bisa dijelaskan.


Pada akhirnya, orang-orang sering mendapatinya menghilang, lalu menemukannya dalam pertapaan di sebuah gua di dekat Istana Peristirahatan Awan. Kemudian orang-orang mulai berpikir, mungkin sang pangeran tengah dalam pertapaan khusus sehingga dia harus meninggalkan segala urusan keagamaan dan kerajannya.


Sosoknya begitu mulia, sehingga orang-orang tidak bisa berpikir buruk tentangnya. Sekalipun dia bertindak berbeda dari biasanya, hampir terkesan aneh, mereka hanya bisa berpikir bahwa sang pangeran harus melakukan sesuatu yang penting, yang tidak bisa diganggu gugat. Dan sekalipun orang-orang memiliki rasa curiga padanya, mereka tidak berani memikirkannya.


Hingga suatu hari menjelang musim dingin, Putra Mahkota Bumi mendatangi ruangan pribadinya. Ruangannya adalah sebuah gasibu kecil, terpisah dari bangunan utama istana. Dia menamainya Ruang Putih, sederhananya karena seluruh bangunan ini berwarna putih, bahkan atapnya sekalipun. Karena hari itu dingin, Putra Mahkota Bumi mengenakan mantel bulu tebalnya. Kedatangannya hari itu tidak bermaksud penting, hanya ingin mengajaknya bicara karena sudah lama mereka tidak bicara sebagai adik dan kakak, jadi dia datang ke Ruang Putih tanpa membawa apa-apa.


Tetapi dia tidak menemukan adiknya di ruangannya. Dia berasumsi adiknya sedang diluar, namun kemudian dia menemukan mantel putih milik sang adik terlipat rapih di dekat ranjangnya. Jelas seorang pelayan telah menyerahkannya pagi itu karena tahu musim dingin akan segera tiba. Keheranan, dia membawa mantel itu dan pergi ke luar. Dia mendengar beberapa hari ini Putra Mahkota Langit sering terlihat di Gua Embun, gua tempatnya bertapa, jadi dia pergi ke sana.


Arah yang dia ambil benar, dan dia menemukan sang adik duduk di bawah sebuah pohon besar dengan akar yang menonjol tinggi dari tanah. Sosoknya yang anggun itu dibalut pakaian putih dan terlihat tipis, tetapi bahunya tidak terlihat gemetar. Putra Mahkota Bumi mendekat, bermaksud memberikan mantel yang dibawanya. Namun dia berhenti hanya beberapa langkah kemudian, tidak berani melanjutkan langkahnya.


Dia ingat dulu adiknya pernah berkata bahwa wanita yang dia cari sudah meninggal, dan dia adalah seorang pemain seruling dari keluarga berpendidikan. Secara alami, Putra Mahkota Bumi berpikir bahwa adiknya mungkin sedang membuat pengingat bagi wanita tersebut, dan dia tidak punya hati untuk mengganggunya. Jadi dia kembali ke Ruang Putih, mengembalikan mantel yang dibawanya, lalu pergi.


Pada kesempatan selanjutnya ketika Putra Mahkota Bumi memiliki waktu luang, musim dingin sudah memasuki tahap pertengahan, dan salju sudah mulai menumpuk tebal di tanah. Dia sekali lagi mengunjungi adiknya, mendapatinya tidak ada dan meninggalkan mantelnya, kemudian keluar mencari adiknya. Tetapi rupanya kali ini dia tidak perlu berjalan jauh ke arah Gua Embun, adik kesayangannya itu sedang berada di bagian belakang Ruang Putih. Dia hanya berdiri, dengan pakaian tipisnya yang terlalu berbahaya untuk musim dingin, tangan terpaut di belakang tubuhnya, dan mata menatap ke bulan di langit.


Kali ini, untuk beberapa saat Putra Mahkota Bumi tertegun. Sesuatu jelas sedang terjadi, atau bahkan sudah terjadi, dan itu mempengaruhi adiknya. Dia berdiri di teras belakang Ruang Putih, masih terlindungi dari salju, dan mengamati adiknya diam-diam.


Seolah dia ditakdirkan untuk menyaksikan apa yang menjadi kegundahan hatinya, adiknya tiba-tiba menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, Putra Mahkota Bumi tidak tahu apa yang adiknya lakukan, lalu adiknya mengangkat satu tangannya ke wajahnya. Satu tangan itu tidak juga turun, kemudian akhirnya kedua tangannya terangkat ke wajahnya yang tertunduk. Lalu, dengan gerakan yang menyakitkan, adiknya jatuh berlutut di tanah.


Selama sepersekian detik, rasa merinding menggerayangi tubuh Putra Mahkota Bumi sampai ke ujung kepalanya. Dia berniat untuk lari mendekati sosok di tengah-tengah salju itu, tetapi suara hatinya berbisik ‘jangan’. Dia tidak pernah melihat sang adik, Putra Mahkota Langit, seorang pendeta yang mulia dan dihormati, jatuh dengan begitu tragisnya. Bahunya, kepalanya, bahkan punggungnya diselimuti salju, kedua kakinya terkubur di dalam salju di atas tanah. Kepalanya tidak kunjung menengadah, terus menunduk bahkan semakin jatuh. Tangannya terus menopang wajahnya. Kemudian seolah dunia melambat, dia melihat bahu adiknya gemetar.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, seseorang telah melihat Putra Mahkota Langit menangis.


Begitupun bagi sang kakak, ini adalah kali pertama dia melihat adiknya menangis.


Dia benar-benar ingin berlari dan merengkuh sosok adik kecilnya itu, tetapi tetap saja sesuatu memaksanya untuk menjauh dari sana. Rasa pedih yang dia rasakan ketika melihat adik kesayangannya jatuh sangat menyakitkan, dan dia tidak tahan berlama-lama di situ. Dengan enggan dia meletakkan mantel sang adik di lantai kayu teras, lalu kembali ke dalam Ruang Putih. Dia sangat kebingungan dan selama beberapa menit hanya berdiri di tengah-tengah Ruang Putih dengan wajah sedih. Dia menghela nafasnya untuk menahan emosinya, lalu memantapkan dirinya untuk bicara dengan adiknya apapun masalahnya.


Ketika dia hendak berjalan keluar, matanya melirik ke arah bagian studi Putra Mahkota Langit. Bagian studi itu menyimpan buku dan peralatan upacara, lalu sebuah meja kayu lebar berada di tengah-tengah rak tinggi yang membatasinya dengan bagian lain. Saat itu, dia menyadari bahwa posisi meja sudah bergeser, dan ada objek tinggi dibalut kain putih yang menempati sisa ruang. Karena rasa penasaran, dia mendekati objek itu. Kemudian semakin dia mendekat, dia menyadari bahwa objek itu kemungkinan adalah sebuah lukisan yang dipajang di atas easel kayu.


Setibanya di dekat meja, dia melihat beberapa kuas bersih yang tampak sedang dikeringkan di atas meja. Tidak melihat adanya sisa cat lukis, dia berasumsi bahwa lukisan itu sudah selesai. Jadi dengan berani, dia menyibakkan kain putih yang menutupi lukisan tersebut. Gerakannya sudah hati-hati, tetapi sepertinya kain itu sangat lembut sehingga kainnya jatuh dengan sendirinya.


Itu benar-benar lukisan portrait yang indah. Seseorang dengan balutan gaun serba merah, dengan perhiasan emas di seluruh tubuhnya. Selubung merah menutupi seluruh rambutnya dan wajahnya, diikuti sebuah cadar yang dihiasi manik-manik emas. Sebuah mahkota kecil berdiri di atas kepala sosok itu, menahan selubung dengan sempurna. Di tangan kiri sosok itu, terdapat sebuah seruling emas dengan tali yang melilit ke tangan yang dibalut sarung tangan merah. Meskipun sosok itu sepenuhnya tertutup, dia bisa mengatakan bahwa sosok itu adalah seorang perempuan.


Dia mengenali sosok dalam lukisan itu. Sosok itu adalah Putri Mahkota Angin Selatan pada hari eksekusinya, persis seperti yang bisa dia ingat. Tetapi seruling emas itu tidak ada bersama sang putri mahkota saat jadi, jadi seruling itu pasti sebuah ornamen tambahan yang diberikan sang pelukis.


Perlahan tapi pasti, beberapa memori mengalir ke kepalanya.


“Aku bertemu seorang wanita yang berkesan, tetapi aku tidak tahu siapa namanya.”


“Dia tidak menunjukkan wajahnya. Dia mengenakan selubung.”


“Dia bermain seruling dengan handal.”


“Dia seorang pengembara. Apakah menurutmu kami bisa bertemu lagi?”


“Aku bertemu pengembara wanita itu lagi.”


“Siapa namanya? Aku tidak bisa memberitahumu.”


“Gadis pengembara berseruling.”


“Aku akan mencari seseorang.”


“Dia sudah meninggal.”


Putra Mahkota Bumi menahan nafasnya, seolah dia kesakitan. Dia belum pernah merasakan sebuah gemuruh seperti yang dia rasakan saat itu. Sesuatu menusuknya, tetapi dia tidak bisa menebak apa itu dan dari mana rasa sakit itu berasal.