
Itu adalah deklarasi cinta yang diluar batas pemahaman manusia. Itu adalah sebuah devosi seumur hidup yang lebih kuat daripada semua kepercayaan. Bagaimanapun, Red akan menyebutnya ‘penyembahan’ daripada ‘deklarasi cinta’, tetapi seandainya kita berpikir dengan sederhana, bukankah penyembahan yang tulus hanya akan ada dengan dilandasi rasa cinta?
Pada saat itu sangat jelas bagi Faith bahwa sosok yang mendorongnya naik menjadi dewa adalah Red. Benar kata-kata dewa kecil yang dulu dia temui, cinta yang begitu besarnya dari Red telah menghantarkannya mendobrak pintu Surga dan naik sebagai seorang dewa. Red adalah definisi baru dari devosi.
Untuk mati bagi seseorang adalah sebuah kehormatan.
Namun, untuk hidup bagi seseorang adalah sebuah devosi.
Seandainya Red mendeklarasikan dirinya secara terbuka, seluruh dunia, Bumi, Surga atau Neraka, akan mengetahui bahwa dia adalah sosok yang amat setia dan bangga. Dia akan hidup membaktikan dirinya untuk dewanya. Cinta mana yang lebih besar dari itu? Tentu saja itu adalah kata-kata yang akan keluar dari mulut seorang Red yang bangga dan angkuh. Jika Faith akan mengatakannya, dia pasti akan menggunakan kata-kata yang lebih halus.
Tetapi itulah Red. Itulah sebabnya dia adalah simbol kesesatan.
Namun seperti apapun sifat Red, Faith telah menerimanya, sambil diam-diam berharap Red akan menghilangkan sikap arogannya suatu hari.
Red tahu Faith telah menerimanya, dan keyakinan itu tumbuh kembali ketika Faith balas menggenggam tangannya erat-erat. “Aku harap dengan menjadi pengikutku, kau mau mengenalkan sifat-sifatku.”
“Tentu saja! Apapun untuk dewaku.” Red berseru. “Kemana lagi kamu mau pergi setelah ini?”
“Hmm, coba kupikirkan sebentar. Rasanya ada jiwa yang harus kujemput yang tinggal di sekitar daerah ini. Harusnya kita akan menemukannya jika terus berada di tempat ini. Apakah kita perlu berteman lagi dengannya seperti dengan pria penyayang yang ramah itu?”
“Aku tidak keberatan,” jawab Red.
“Baiklah, kita bisa menikmati waktu di kota ini untuk sementara waktu ini.” Faith berkata beberapa saat kemudian sambil menegakkan tubuhnya. Tangannya tidak lagi bergandengan dengan Red. Kemudian dia melirik ke luar jendela. “Tapi sepertinya sekarang kita masih harus tinggal di dalam sini. Hujannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Mengapa kau tidak melanjutkan ceritanya saja, Tuan Arwah? Bagaimana mereka bisa bertemu lagi?”
Red tersenyum. “Hmm, aku sangat senang melihatmu antusias. Dan sejujurnya, aku juga sangat suka kisah tentang mereka, entahlah, kisah mereka terdengar sangat romantis meskipun harus berakhir tragis. Dan kamu tahu, secara personal aku menyukai karakter Putra Mahkota Langit. Dia adalah salah satu contoh bagaimana seorang pria bisa berubah karena cinta. Bukan berubah dalam arti menjadi sesuatu yang bukan dirinya, tetapi berubah menjadi versi lain dirinya sendiri yang lebih baik. Tentu saja, kisah mereka berakhir tragis, namun buah yang kemudian mereka petik membawa kebaikan bagi orang banyak, jadi menurutku segala kehilangan dan kesedihan yang mereka alami selama hidupnya telah terbayar dengan sesuatu yang lebih besar.”
“Tetapi, kembali ke pertemuan mereka selanjutnya, yang mana adalah sesuatu yang aku tertawakan diam-diam, si pengembara bilang bahwa selanjutnya dia akan berada di sekitar daerah barat, itulah mengapa Putra Mahkota Langit memutuskan untuk mengamati secara diam-diam daerah barat. Dia secara sengaja berusaha melibatkan diri dengan segala urusan kerajaan atau keagamaan yang harus dilakukan di sekitar daerah barat, tujuannya tidak lain adalah untuk memperbesar kesempatannya bertemu dengan si pengembara wanita, kita panggil saja Hymne.
Pertama, dia pergi ke sebuah kota besar dalam rombongan kakaknya untuk menghadiri pernikahan salah seorang pejabat. Dia menyempatkan diri untuk mundur dari keramaian untuk pergi ke kota, namun semua orang mengenalinya dan dia kesulitan untuk berkeliaran dengan bebas. Pada akhirnya dia tidak menemukan Hymne. Kemudian, pada kesempatan lain dia pergi dalam rombongan para pendeta untuk menghadiri acara peresmian kuil di sebuah kota lain, namun lagi-lagi dia tidak bertemu dengan Hymne. Dia sebenarnya tidak harus pergi, karena sang pendeta agung kerajaan mereka sudah berencana akan pergi, tetapi dia mengajukan diri untuk ikut hanya karena kota itu berada di barat.
Selanjutnya, dia mengajukan diri untuk menjadi pendeta yang memimpin upacara pemberkatan pergantian musim untuk beberapa daerah di bagian barat. Namun meskipun dia sudah melewati beberapa kota dan desa, dia tidak menemukan Hymne lagi. Lambat laun, satu musim berlalu, dan tiba-tiba bunga sudah banyak bermekaran. Sudah waktunya baginya untuk memetik Bunga Lembayung Senja lagi.”
“Itu sudah satu tahun sejak Putra Mahkota Langit pertama kali bertemu dengan Hymne,” ujar Faith.
"Saat itu juga hari sudah agak gelap, jadi dia membuat api unggun dan beristirahat di bawah pohon yang sama. Itu sangat menyentuhku bagaimana polos dan tulusnya perasaan sang pangeran terhadap Hymne sehingga dia meruntuhkan lapisan esnya sendiri dan menunjukkan sifat kekanak-kanakannya dibalik seribu lapisan kedewasaan, kebijaksanaan, sifat budiman dan tidak ternodanya. Sungguh sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan di tengah-tengah banyaknya kepalsuan manusia.”
Faith ikut tersenyum mendengarnya. “Sangat manis. Jika aku hidup di masa mereka, aku tidak akan ragu untuk turun dan menonton sendiri.”
Red balas tersenyum sambil mengagguk. “Kemudian, ketika pagi menjelang, dia dalam perjalanan kembali dari lembah ketika ia menemukan tiga orang pria muda sedang berkeliaran di sekitar hutan. Itu aneh karena dia tidak pernah melihat orang sedekat ini dengan lembah tak bertuan tempat Bunga Lembayung Senja tumbuh. Desa terdekatpun jaraknya masih lebih dari setengah hari perjalanan dari situ, dan hari ini masih pagi, tetapi ketiga pria itu sudah ada di sana. Jadi dia memutuskan untuk bertanya.
Rupanya, ketiga pria itu mencari sebuah bunga yang kabarnya bisa menyembuhkan segala penyakit. Mereka bilang bahwa ibu dan adik perempuan mereka sakit, namun tidak seorang tabibpun paham penyakit mereka, jadi salah satu tabib menyarankan mereka untuk mencari bunga di lembah ini yang katanya bisa menyembuhkan segala penyakit.
Putra Mahkota Langit memutuskan untuk mengikuti mereka dan meminta mereka membawanya ke rumah mereka. Selama perjalanan, dia mempelajari bahwa ketiganya bukan benar-benar saudara kandung, dua dari mereka adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh ibu pria pertama. Adik perempuan yang mereka bicarakan adalah adik kandung si pria pertama, namun mereka semua tumbuh bersama sejak kecil dan sudah saling menganggap satu sama lain sebagai saudara, jadi ikatan di antara mereka kuat. Mereka hidup tanpa ayah, jadi ketiga pria muda inilah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka.
Cerita mereka menyentuh sang pangeran, karena itu dia memutuskan untuk membantu mereka dengan sepenuh hati. Pada mulanya, dia bermaksud pergi untuk memeriksa kondisi ibu dan adik perempuan mereka dan jika memungkinkan dia akan berusaha menyembuhkan keduanya atau membawa tabib kerajaan kepada mereka. Dia agak curiga bahwa para tabib yang ditemui ketiga pria ini tidak memahami ilmu pengobatan secara mendalam, maka dari itu mereka tidak bisa mengidentifikasi penyakit sang ibu dan anak perempuannya, alih-alih justru menyuruh mereka mencari sebuah bunga yang katanya bisa menyembuhkan segala penyakit.
Sesungguhnya, tidak ada bunga yang seajaib itu, kecuali Bunga Lembayung Senja. Tetapi, bunga itu pun tidak semerta-merta menyembuhkan. Bunga Lembayung Senja harus dipersembahkan kepada dewa sebagai hadiah, dan tidak jarang dewa akan mengabulkan permintaan orang yang mempersembahkan bunga itu, itulah letak keajaiban Bunga Lembayung Senja. Mungkin para tabib itu tahu mengenai Bunga Lembayung Senja, tetapi tidak tahu mekanisme bunga dewa itu bekerja, jadi mereka menyuruh ketiga pria mencari bunga itu dengan sembarangan. Setelah mendengar cerita ketiga pria itu lebih lanjut, sang Putra Mahkota Langit memutuskan bahwa ia akan memberikan Bunga Lembayung Senja untuk menyembuhkan keluarga mereka apabila kondisi penyakitnya memang serius.
Ketika tiba di desa terdekat, dia terkejut ketika mendengar desa ketiga pria itu masih berjarak satu desa lagi. Tetapi ketiganya bilang bahwa tuan yang baik itu boleh memilih penginapan untuk beristirahat dan ketiganya akan membayarnya. Ketika ditanya dimana ketiga pria itu akan beristirahat, ketiganya bilang akan membuat api unggun di sekitar sana karena mereka tidak memiliki banyak uang. Mendengar itu, sang pangeran membawa ketiganya ke kuil terdekat dan setelah meminta izin dengan pendeta yang tinggal di sana, ketiga pria itu diizinkan untuk bermalam di kuil bersama sang pangeran.
Ketika mengetahui identitas pria asing baik hati yang mau membantu mereka ternyata adalah seorang pangeran, ketiga pria itu terkejut luar biasa dan reaksi mereka serupa bertemu seorang dewa. Tetapi Putra Mahkota Langit meminta ketiganya merahasiakan identitasnya, dan dia tidak ingin diperlakukan istimewa. Kerendahan hati ini menyentuh ketiganya sampai mereka menangis.
Setelah dua hari perjalanan, mereka tiba di sebuah desa yang tidak pernah dikunjungi sang pangeran sebelumnya. Dia dibawa ke rumah gubuk ketiganya di mana ibu dan adik perempuan mereka berbaring di ranjang dan diurus dengan bantuan salah seorang tetangga mereka. Sang pangeran mengenali penyakit itu sebagai salah satu penyakit serius dan mematikan, maka dari itu dia bertanya-tanya dalam hati apa yang telah keluarga kecil itu lakukan sehingga kedua orang malang ini layak menerima penyakit seperti itu. Dia akhirnya melakukan upcara kecil di dalam ruangan tertutup tempat keduanya berbaring, dan bicara kepada dewanya. Sang dewanya mendengarnya dan menjawabnya.
Mengejutkan baginya ketika mengetahui bahwa penyakit ini adalah ulah dari suami sang ibu yang kabur dan berbuat ulah di banyak tempat, sampai ia berjudi dengan mempertaruhkan hidupnya dan ketika mati ia menjadi seorang hantu yang mengutuk orang. Dia menyalahkan istrinya karena terlalu banyak berderma sehingga uang mereka habis, bahkan mau mengasuh anak yang dipungut dari sisi jalan. Dia pergi untuk mencoba keberuntungannya dengan berjudi, tetapi dia sejatinya adalah seseorang yang tamak dan pelit, jadi sekalipun dia berhasil, dia akan selalu menghamburkan uangnya untuk keegoisannya sendiri, dan dia akan selalu menginginkan lebih sehingga ia tidak berhenti berjudi sampai mati. Rohnya diwarnai amarah dan dendam, jadi dia menjelma menjadi sesosok hantu yang jahat.
Sang pangeran tidak bisa diam saja setelah mendengar hal semacam ini, jadi dia memutuskan untuk memberikan Bunga Lembayung Senja kepada dewa, dan memohon agar penyakit berkat kutukan yang menimpa ibu dan anak ini dicabut. Doanya dikabulkan, namun sang dewa memintanya untuk menemukan hantu sang suami dan membunuhnya, supaya jiwanya dapat diadili oleh Surga.
Ada sebuah metode untuk membunuh sesosok hantu, yang sejatinya adalah orang yang sudah mati, dan sang Putra Mahkota Langit mengetahui dan mempelajari metode ini. Dia adalah seorang pendeta. Dalam dunia spiritual, seorang pendeta sama dengan seorang prajurit yang berperang dengan musuh, namun musuh ini bersifat spiritual. Dia menyanggupi permintaan sang dewa, lalu mempersiapkan dirinya. Karena pada saat itu dia tidak mengenakan setelan pendeta atau pangerannya, tidak juga membawa pedangnya, dia meminta bantuan ketiga pria muda untuk menangkap hantu ini.
Mereka mulai berburu ketika hari sudah gelap menjelang tengah malam, karena itulah saat yang tepat bagi hantu untuk bergerak. Dia menggunakan asap dari kulit kayu yang dibakar untuk menentukan lokasi si hantu, lalu keempatnya sama-sama mengikuti arah yang ditunjuk asap. Ketika mereka mengikuti arah itu, sang pangeran yakin bahwa hantu ini sedang bergerak dengan aktif, dan dia menjadi resah. Biasanya, hantu bergerak dengan aktif ketika mereka sedang mengejar mangsanya yaitu manusia, baik itu untuk menyakiti seseorang, menakuti, atau mengutuk. Jika mereka tidak bergegas, seseorang akan terluka lagi.
Sementara mereka berjalan semakin jauh ke dalam hutan dan menaiki gunung, pada suatu titik, sang Putra Mahkota Langit mulai mendengar suara desir angin yang berbisik lembut. Dan saat itulah dia menyadari sesuatu, dan tanpa ia sadari, langkahnya semakin cepat.