The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 13



“Siapa namamu?” Putra Mahkota Langit bertanya ketika keheningan mencekam dari angin sebelumnya telah mereda.


“Tidak perlu bersikap formal. Kalian bisa memanggilku Angin Laut.” Jawab si pria. Angin Laut (Sea Breeze), seolah menyatakan dia selalu datang dan pergi pada waktu tertentu.


“Dari mana asalmu?”


“Kau menanyakan asalku? Aku lahir di tempat antah berantah, jadi aku tidak tahu,” jawabnya.


“Kau lahir sebagai manusia, aku ingin tahu di mana keluargamu tinggal.” Putra Mahkota Bumi kemudian angkat bicara.


Pria itu bergumam sejenak. “Mereka bukan keluargaku lagi. Tapi jika kalian ingin tahu, mereka tinggal di Istana Angin Selatan.”


Istana Angin Selatan (South Wind Palace) adalah sebuah kerajaan yang berada di daerah selatan dan sudah lama tidak terdengar kabarnya. Kerajaan itu tidak begitu besar, tidak juga tersohor seperti Istana Peristirahatan Awan, namun kerajaan ini adalah salah satu kerajaan besar di daerah selatan. Kerajaan ini besar karena bergadang dan bertukar, dan memiliki sebuah pelabuhan yang besar. Ketika si pria menjawab bahwa ia berasal dari Istana Angin Selatan, kedua putra mahkota sama sekali tidak menduga jawaban ini dan mereka sama-sama terkejut.


“Apa hubunganmu dengan Istana Angin Selatan?” tanya Putra Mahkota Bumi.


“Pria tua yang duduk di singgasana adalah pamanku.”


Kedua putra mahkota semakin terkejut. Pria dengan energi iblis ini adalah keponakan dari Raja Istana Angin Selatan. Pada dasarnya, seorang pangeran.


“Apakah kau tidak malu mempermalukan nama keluargamu seperti ini?”


“Mengapa aku harus malu? Aku sudah bilang, mereka bukan keluargaku lagi.”


Setelah beberapa saat hening, Putra Mahkota Langit akhirnya bicara. “Dewa kami telah mengintsruksikan agar kehidupanmu di bumi ditiadakan.”


“Maksudmu membunuhku? Terima kasih, siapapun dewamu itu,” kata si pria. Suaranya ringan.


“Dan dewa kami menginginkan agar orang-orangmu menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu,” lanjut Putra Mahkota Langit.


Pria itu terdiam sejenak, tampak menimbang. “Aku juga tidak masalah dengan itu,” jawabnya kemudian.


Mendengar ini Putra Mahkota Langit berpaling kepada kakaknya. Lalu, Putra Mahkota Bumi kembali angkat bicara. “Apa yang kau perbuat telah menyulut amarah dewa, dan dewa kini akan melimpahkan amarahnya tidak hanya kepadamu, tetapi kepada seluruh kerajaanmu, kerajaan pamanmu. Apapun yang kau perbuat telah membawa derita besar bagi orang-orang tidak bersalah, orang yang bahkan tidak kau anggap keluarga lagi. Apakah kau tidak menyesal?”


“Tidak. Aku tidak perlu menyesal.”


“Aku memberimu kesempatan untuk menyesali perbuatanmu. Pendeta kami bisa menyampaikan rasa penyesalanmu, dan jika kau diberi kesempatan, orang-orang tidak berdosa bisa diselamatkan.”


Namun kata-kata Putra Mahkota Bumi dipotong oleh suara tawa si pria yang dingin. “Aku tidak menyesal, aku tidak mau menyesal. Biarkan aku mati, dan hukuman berat jatuh di atas orang-oang itu.”


Jawaban ini membuat bergidik orang-orang yang berkumpul disitu. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, hanya diam-diam mengumpat dalam hati. Begitupun kedua putra mahkota yang secara bersamaan diam-diam membenci kelakukan si pria.


“Baiklah.” Putra Mahkota Bumi kemudian berkata. Ini adalah keputusan akhir bagi nasib pria itu dan seluruh kerajaannya.


“Siapa yang akan membunuhku?” pria itu berkata kemudian. “Kau, pendeta?” dia menuding Putra Mahkota Langit.


Putra Mahkota Langit mengangguk. “Kau bukan manusia biasa. Hanya orang dengan energi spiritual besar bisa menghadapimu.”


Tawa rendah terdengar dari mulut si pria itu. “Baiklah. Aku akan sangat terhormat mati di tanganmu. Tetapi kau akan sangat patah hati jika harus menghukum orang-orang tidak berdosa, jadi aku yakin kau tidak akan tega melihatnya, bukan?”


Seolah untuk melawan kejernihan sang pangeran, pria ini tertawa. “Kau lihatlah. Lihat di mana hatimu berada.”


Ini membuat sang Putra Mahkota Langit terkejut, namun dia tidak menggubris kata-kata itu.


Selanjutnya, seperti yang telah diputuskan, pria itu harus mati. Putra Mahkota Langit menangkap jiwanya dengan teknik spiritual, namun karena ia terlalu kuat, meskipun jiwanya sudah disobek dan dipecahkan, tubuhnya yang sudah hampir seperti mayat hidup dan berguling di tanah masih bisa tertawa. Meskipun suaranya serak dan nafasnya habis, tawanya masih jernih menusuk malam, menakuti semua orang yang ada disitu. Ketika tubuh fisiknya terbakar oleh api magis dan dia meringkuk, dia tidak sama sekali merintih. Masih ada suara tawa yang muncul di sela-sela kobaran api.


Itu adalah proses pembunuhan yang paling lama dan mengerikan yang pernah disaksikan para prajurit, termasuk Putra Mahkota Bumi. Putra Mahkota Langit sendiri sudah beberapa kali menangkap jiwa hantu dan iblis, lalu menyucikan roh-roh jahat dan kotor. Tetapi kasus ini berbeda, dan ini memakan waktu sangat lama, yang terlama yang pernah dia lakukan. Pria itu sangat tangguh, bahkan pada nafas terakhirnya ketika percikan api mengangkat jiwanya dia tidak sama sekali melawan. Sang pangeran menyaksikannya sendiri, bahwa sekalipun rantai-rantai tidak mengikatnya, pria itu tetap akan berlutut dengan patuh menerima kematiannya.


Pada akhirnya tawanya yang jernih terhenti, dan lolongan terakhir yang lepas dari mulutnya adalah sebuah lolongan panjang nyaris tak terdefinisikan. Meskipun demikian, Putra Mahkota Langit hampir yakin mendengar kata “Ayah”.


Tubuh pria itu hancur menjadi abu, bahkan tulang-tulangnya remuk menjadi bagian yang sangat kecil dan hitam. Dari semua anggota tubuhnya yang tersisa, hanya tengkorak kepalanya yang masih utuh dan berwarna hitam. Saat itu matahari sudah menyembul dari cakrawala, mengakhiri panjangnya proses eksekusi si pria. Dengan ketakutan, beberapa prajurit mengumpulkan abu dan sisa kerangka si pria, meletakkannya di dalam kotak kayu yang mereka ambil secara acak dari rumah di sekitar, lalu disegel dengan aman oleh Putra Mahkota Langit. Mereka harus membawa abu dan sisa kerangka pria itu kembali ke kerajaannya.


Putra Mahkota Bumi mengirim surat ke istananya, lalu dengan sisa pasukan yang dia miliki, ditemani Putra Mahkota Langit, mereka berangkat ke Istana Angin Selatan.


Benar jika dikatakan bahwa Istana Angin Selatan adalah kerajaan yang cukup makmur, orang-orang di kerajaan ini hidup dalam damai dan berkecukupan, hampir tidak bisa ditemukan gelandangan di sini, dan pemuda pemudinya tampak berpendidikan. Meskipun begitu salah satu alasan kerajaan ini tidak begitu tersohor adalah karena sudah lama terjadi konflik internal kerajaan. Rumor yang menyebar adalah bahwa sang raja tidak memiliki keturunan, sehingga tidak jelas siapa pemegang tahta selanjutnya kerajaan. Sang raja pun kabarnya sudah lama jatuh sakit, sehingga segala urusan pemerintahan dipegang menterinya, serta banyak sektor perdagangan yang dipegang perorangan. Karenanya, kerajaan ini tidak menggembar-gemborkan kemuliaannya.


Kedatangan pasukan dan Istana Peristirahatan Awan mengejutkan rakyat sekaligus seluruh anggota istana. Ketika mereka tiba, istana yang dibangun di atas seratus tangga batu itu menyambut mereka dengan halaman istana yang luas. Istana mereka juga luas namun bangunannya agak sederhana. Simbol angin bertiup yang ada di bendera mereka banyak tertera pada setiap ukiran atau ornamen bangunan.


Putra Mahkota Bumi sendiri yang bertemu dengan sang perdana menteri mewakili raja mereka yang terbaring sakit di kasurnya, lalu menyatakan tujuan kedatangan mereka. Pertemuan mereka berlangsung terbuka, bersama perdana menteri dan para menteri, di aula utama istana. Mendengar nama Angin Laut disebut, perdana menteri mereka terkejut. Sang pangeran kecil bengal itu selalu menghilang dari istana setiap saat entah ke mana, sangat jarang melihatnya di istana atau di kotanya sendiri. Semua orang di istana mereka tahu pangeran kecil itu tidak pernah mengikuti aturan, dan ketika dia menghilang, mereka tidak tahu ke mana pangeran kecil itu pergi. Sekarang ketika namanya disebut telah membawa sebuah bencana, mereka semua geger.


Tetapi Putra Mahkota Langit harus menyampaikan apa yang dewanya inginkan. Jadi dia mengatakannya. Dia mengatakan perbuatan Angin Laut dan resiko yang dia terima yaitu kematian. Dia juga memberikan sisa abu dan kerangka pria itu. Kemudian, dia menyampaikan perkataan dewanya; bahwa atas perbuatan jahat Angin Laut, Istana Angin Selatan akan menerima hukuman dari dewa.


Istana Angin Selatan adalah salah satu kerajaan yang memegang sistem kepercayaan pada para leluhur, maka dari itu mereka tidak mengenal dewa. Selain leluhur, mereka hanya menghormati angin dan laut sebagai roh nenek moyang mereka, tidak lebih. Karenanya, mereka tidak bisa menerima perkataan Putra Mahkota Bumi. Mereka menolak untuk mempercayainya. Tetapi Putra Mahkota Bumi sama kerasannya dengan para menteri kerajaan itu, meskipun hati sang pangeran baik. Dia menawarkan kepada Istana Angin Selatan untuk memohon maaf dan memberikan persembahan pada dewanya, sehingga mereka bisa dibebaskan dari hukuman dewa.


Namun tetap saja, perdebatan mereka alot. Istana Angin Selatan menolak untuk percaya kepada dewa, sementara Istana Peristirahatan Awan yang diwakili Putra Mahkota Bumi bersikeras agar lawan bicaranya menghormati dewa. Putra Mahkota Langit dan beberapa prajurit yang hadir di tempat itu hanya diam, membiarkan perundingan alot itu berlangsung selama beberapa waktu. Sementara itu, Putra Mahkota Langit sendiri diam-diam berdoa supaya sesuatu bisa menyelamatkan situasi tegang ini.


Kemudian, seolah doanya didengar, seorang pria gagah dengan baju zirah abu-abu masuk ke dalam ruangan dan berteriak. “Perhatian.” Seketika, seluruh isi ruangan menatapnya. Kemudian, dengan suara yang jauh lebih pelan namun sama-sama tegas, dia kembali berkata, “Hamba yang setia, Dorian, melapor. Putri Mahkota Angin Selatan telah meminta untuk bergabung dalam diskusi.”


Mendengar ini sang perdana menteri berkata, “Apa yang Putri Mahkota inginkan? Kita tidak akan mendengarkan perkataan dari kerajaan tetangga ini lebih jauh. Putri Mahkota tidak perlu membebani dirinya dengan turun tangan dalam urusan ini.”


“Putri Mahkota Angin Selatan hendak mendengarkan perkataan dari kerajaan tetangga ini,” kata pria itu lagi. “Ini bukan sebuah permintaan,” dia melanjutkan dengan tegas. “Putri Mahkota Angin Selatan telah hadir di sini.”


Ketika dia selesai bicara, sosok lain masuk ke dalam aula melalui pintu coklat kayu besar. Sosok itu mengenakan setelan biru dan putih dengan beberapa perhiasan. Dari kepala sampai setengah roknya ditutupi kain biru muda dengan gradasi putih yang cantik, lalu sebuah mahkota sederhana menghiasi kepalanya. Sosoknya sama sekali tidak terlihat, bahkan ujung rambutnya sekalipun, karena kain menutupinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepatu yang ia kenakan pun tertutup. Ketika dia berhenti lalu mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat, tangannya pun ditutupi sarung tangan putih. Seorang wanita lain dengan rambut diikat tinggi mengikutinya di belakang, wajahnya cantik namun keras.


Ketika sosok ini masuk, seluruh isi aula berdiri dan membungkukkan badannya hingga setengah badan, termasuk perdana menteri. Ini membuat Putra Mahkota Bumi dan Putra Mahkota Langit serta prajuritnya terkejut sesaat. Namun pada akhirnya, mereka balas membungkuk sedikit, seolah dalam sekejap tidak tahu bagaimana caranya bereaksi.


Perempuan dengan rambut diikat itu berjalan sedikit agak lebih depan daripada sang Putri Mahkota. Dia menoleh sedikit ke arah sang putri mahkota, kemudian kembali menatap ke depan. “Hamba yang setia, Hermine, melapor. Putri Mahkota Angin Selatan menyampaikan selamat datang kepada para pria terhormat ini, dan menanyakan dari mana asal para pria terhormat ini.” Dia berkata kepada Putra Mahkota Bumi.


Putra Mahkota Bumi terkejut, tetapi dia menjawab, “Dengan segala hormat, saya adalah putra mahkota pertama dari Istana Peristirahatan Awan, Putra Mahkota Bumi. Bersama saya, datang putra mahkota kedua, Putra Mahkota Langit, dan sekelompok kecil pasukan dari istana kami. Salam hormat bagi sang Putri Mahkota Angin Selatan.”


Perempuan itu, Hermine, mengangguk pelan lalu kembali menoleh kepada sang putri mahkota. Setelah beberapa saat keheningan, dia kembali berkata, “Putri Mahkota Angin Selatan menyampaikan rasa terima kasihnya atas tindakan terpuji Istana Peristirahatan Awan, dan memohon maaf atas tindakan sembrono sang pangeran kecil, Angin Laut, yang menyebabkan banyak kerugian serta derita besar. Putri Mahkota Angin Selatan telah bersedia mendengarkan permintaan Istana Peristirahatan Awan. Tolong tuan-tuan, ucapkan apa yang Anda inginkan kepada Putri Mahkota.”


“Kami datang untuk menyampaikan kabar bahwa dewa kami telah berencana memberikan hukuman kepada Istana Angin Selatan dan seluruh rakyatnya, atas tindakan iblis yang dilakukan Angin Laut. Namun demikian, kami menawarkan kesempatan kepada Istana Angin Selatan untuk memohon pengampunan dengan memberikan persembahan kepada dewa, agar nyawa orang-orang tidak berdosa bisa diselamatkan,” jawab Putra Mahkota Bumi.


Hermine kembali menoleh ke arah putri mahkota. Dari gerakannya selama ini, sepertinya dia tengah mendengarkan sang Putri Mahkota berbicara. Penampilan sang Putri Mahkota yang serba tertutup tidak memungkinkan siapapun membaca gerak-geriknya, jadi sulit menebak apa yang sebenarnya keduanya lakukan. Hanya saja secara kasat mata, keduanya terlihat tengah berdiskusi.


Akhirnya, Hermine kembali menatap Putra Mahkota Bumi dan berkata, “Persembahan apa yang diminta dewa tersebut? Dan dewa mana yang telah melimpahkan amarahnya atas Istana Angin Selatan?”