The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 17



Ketika pagi menjelang, setelah menyelesaikan sarapannya bersama Yang Mulia Raja Istana Angin Selatan, Hymne mengerjakan beberapa urusan kerajaan. Baru ketika lewat siang hari dia memiliki waktu luang, dan waktu ini dia manfaatkan untuk mengadakan pertemuan dengan Putra Mahkota Langit. Mereka bertemu di ruangan yang sama dengan ruangan yang digunakan untuk ritual tempo hari. Dia begitu cerdas mengatur pertemuan dengan alasan ingin berkonsultasi mengenai dewa yang dirujuk Istana Peristirahatan Awan. Pada kenyataannya, dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama sang pangeran.


Dan beruntungnya dia, sang pangeran merencanakan hal yang sama. Dia menyiapkan beberapa lilin dan dupa di dalam ruangan, lalu menyalakannya seolah-olah akan ada ritual yang dilakukan. Dengan demikian, dia berhasil meminta kedua pelayan sang putri meninggalkan ruangan, menyisakan keduanya di dalam ruangan.


Dan mereka berbicang. Mereka hanya berlutut berhadapan, kali ini dengan sebuah meja di tengah-tengah mereka. Mulanya mereka berbincang mengenai kerajaan masing-masing, lalu kegiatan masing-masing sebagai putra mahkota dan putri mahkota. Pembicaraan yang agak formal itu kemudian berubah menjadi topik yang lebih informal, tentang kegemaran, segala sesuatu yang disukai, sampai bagaimana cara masing-masing melarikan diri dari beban tanggung jawab.


Hymne belajar bahwa sang pangeran selalu berusaha menuntaskan tanggung jawabnya semaksimal mungkin, bahkan selalu mencari sesuatu yang dapat dia kerjakan. Mengutip perkataan sang pangeran sendiri, dia adalah ‘individu yang membosankan dengan aktivitas yang membosankan’. Dia banyak membaca, belajar, bertapa. Ia juga melakukan aktivitas sosial seperti memimpin upacara atau ritual, mengerjakan tugas kerajaan, mengikuti pertemuan dan diskusi, sesekali menghadiri kegiatan di luar istananya. Dia tidak mengerti apa itu ‘rasa senang’ ketika melakukan sesuatu, karena segalanya dia lakukan dengan profesional.


Melalui proses panjang selama mengenal sang pangeran, Hymne terpesona pada sang pangeran lebih jauh. Sosok pangeran dan pendeta itu amat lurus bagaikan tiang bendera yang bermahkotakan bendera kerajaannya. Dia terus berdiri tegak menjunjung tugas dan tanggung jawabnya, membawa nama kerajaannya di atas segalanya, dan dia tidak berpikir untuk melepaskan semua itu.


Hanya ketika itu dia mengizinkan dirinya goyah; ketika dia berkata pada Hymne, “Nona Hymne, jika Anda berkehendak, saya akan menyiapkan diri saya untuk mengembara bersama Anda untuk berburu hantu dan iblis.”


Hymne seketika tahu sebetapapun kakunya sosok itu berdiri, hatinya sangat lembut dan polos. Untuknya, seorang wanita asing yang belum lama dikenalnya, pangeran itu berani menawarkan diri untuk melepas segala yang dia miliki; statusnya, tahtanya, hartanya, bahkan mungkin reputasi tak ternodanya.


Itu hampir membuatnya menangis. Atau mungkin dia sungguh menangis, yang jelas sekalipun dia benar-benar menangis, tidak seorangpun akan melihatnya menangis di balik selubungnya.


Dia sendiri berbeda dengan sang pangeran, dan merasa dirinya tidak layak menerima kebaikan yang begitu besarnya. Meskipun dia tahu banyak orang telah memberinya kelimpahan cinta yang besar, dia tidak bisa menerimanya lagi. Bukannya dia sombong dan keras kepala, dia merasa amat lemah dan rendah diri di hadapan sang pangeran.


Dia tahu betul dirinya lahir dari darah campuran setengah iblis setengah manusia, itu saja sudah membuatnya merendahkan diri. Ibunya pernah bercerita bahwa dia terkena panas tinggi dan hampir tewas saat bayi, tetapi karena ibunya disukai salah seorang dewa, doa ibunya didengar dan nyawanya diselamatkan. Itu adalah sisa berkat terakhir dari sang dewa untuk ibunya. Seumur hidup, ibunya diberikan kesempatan untuk membuat tiga permohonan yang akan selalu dikabulkan. Menyelamatkan nyawa anaknya adalah permohonan terakhirnya, dan sejak saat itu berkat sang dewa meninggalkan ibunya.


Ibunya menderita penyakit kronis sejak kecil, tetapi dia tidak bisa memohon untuk disembuhkan karena batas tiga permohonannya sudah habis. Pada akhirnya, ibunya meninggal ketika dia masih kecil. Seseorang telah memberikannya segala yang dia miliki untuknya, bahkan hidupnya sendiri. Tidak ada cinta yang lebih besar dari ini.


Ketika dia, ibunya, dan adik laki-lakinya tiba di Istana Angin Selatan setelah ayah mereka harus menghadapi sekelompok iblis dan hantu, sudah jelas bahwa keluarga kecil ini menerima perlakuan yang tidak adil. Ibunya sudah meninggalkan keluarganya, secara sengaja mencoret namanya dari pohon keluarga kerajaan. Tetapi sang paman, menerima kedua anak ini di istananya, dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri.


Meski hubungan antara pamannya dengan ibu mereka tidak begitu baik, pamannya tidak melakukan hal yang sama pada kedua anak itu. Dia merawat mereka, bersikap adil, sampai suatu hari ketika ibu mereka meninggal, dia secara pribadi menyatakan “ibu mereka telah dicoret dari anggota kerajaan, tetapi kedua anak ini tidak. Mulai hari ini keduanya adalah anakku sendiri.”


Itulah bagaimana dia bisa berdiri di posisi sebagai Putri Mahkota Kerajaan, karena pamannya mengangkatnya sebagai anaknya sendiri, meletakkannya di jalur penerima tahta langsung di bawah nama sang raja.


Lalu adiknya, seperti apapun tindakannya, dia dan adiknya saling menyayangi. Kondisi mereka memang rumit, tetapi kurang lebih seperti inilah peran adiknya; dia mengambil peran sebagai tokoh berandal agar ibunya dan kakaknya tidak diperlakukan tidak adil di istana. Begitulah Hymne selalu berpikir tentang adiknya.


Ketika semua orang membicarakan kenakalan adiknya, mereka akan melupakan Hymne dan ibunya. Lambat laun, sepertinya semua rasa tidak suka orang-orang mengalir secara alami pada Angin Laut, hingga akhirnya Angin Laut pergi dari istan, Dia bahkan berhenti memanggil seluruh penghuni Istana Angin Selatan sebagai keluarganya. Dia hanya kembali persisnya setahun sekali, setiap hari ulang tahun kakaknya. Selain itu, dia tidak pernah menampakkan diri di istana.


Kemudian ketika dia tumbuh menginjak remaja, orang-orang menemukan ‘keajaibannya’. Dia selalu menutupi wajahnya, bermain sendiri di taman istana, jadi tidak ada yang tahu anak perempuan seperti apa dirinya. Kemudian suatu hari para pelayan yang mencarinya menemukannya duduk di tanah di luar wilayah istana, melepas topeng dan cadarnya, dan tengah merengkuh seekor kelinci di pelukannya.


Kelinci itu terluka, jadi dia menggunakan cadarnya untuk membalut lukanya. Dia tahu topengnya tidak begitu bagus, jadi dia membukanya supaya kelinci itu tidak takut padanya. Pada saat itu para pelayan melihatnya dan mereka semua takjub. Mereka kini tahu bahwa Hymne dikaruniai kecantikan tiada tara yang bukan berasal dari dunia ini.


Dia masih remaja, dan dia merasa aman ketika berada di dekat istananya, jadi dia memberanikan diri kembali ke istana, sepenuhnya menampilkan wajahnya, sambil membawa kelinci itu untuk diobati. Tetapi sepanjang perjalanan, orang-orang berhenti untuk mengamati wajahnya, seolah semua orang tiba-tiba dikutuk menjadi patung. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua orang berhenti dan membatu ketika melihat wajahnya. Dia berhasil sampai di istana dan membawa kelinci itu ke tabib istana yang akhirnya mengobatinya.


Tetapi dia malu untuk kembali keluar, sehingga sang tabib mengizinkannya tinggal di ruangannya sementara dia memanggil pelayan. Selama menunggu, dia bercerita kepada tabib itu mengenai kebiasaannya menutup wajah karena dia takut ketika orang-orang menatapnya. Dia juga menceritakan bagaimana kecantikan itu dia dapatkan. Akhirnya, dia berbagi rahasianya dengan sang tabib. Sangat benar jika dikatakan tabib itu adalah orang yang baik, karena sampai saat ini rahasianya tidak pernah terbongkar. Satu orang lagi yang memberinya kasih sayang muncul.


Setelah mengembalikan kelinci terluka itu ke kelompoknya, pamannya mengira bahwa dia ingin memiliki peliharaan, jadi dibawanyalah hewan-hewan jinak untuk dipelihara di istana. Pamannya membuat kandang hewan di bagian belakang istana, dan menjadikannya tempat bermain bagi sang putri mahkota. Mereka memiliki kuda, domba, kijang, kelinci, dan aneka burung. Menghormati pemberian itu, Hymne tidak lagi bermain ke hutan di luar istana, dan dia bermain dengan hewan-hewan itu. Semakin lama dia menghabiskan waktu di sana, semakin banyak orang-orang yang memperhatikannya, dan semakin mereka menyadari sesuatu.


“Putri, apakah Anda bisa berbicara dengan hewan-hewan ini?”


Dia tidak mengelak, berpikir bahwa tidak ada gunanya berbohong di dalam lingkungan tempatnya tinggal. Dan dia terus berinteraksi dengan para hewan seperti yang biasa dia lakukan. Tetapi pada saat itu karena dia masih remaja, dia tidak mengerti bahwa orang-orang mulai melihatnya sebagai sosok yang lain, seolah dia bukan manusia.


Pada waktu lain setelah orang-orang mengetahui keindahan rupanya dan kemampuannya berbicara dengan hewan, secara kebetulan terjadi angin besar yang membahayakan wilayah kerajaan Istana Angin Selatan. Selama beberapa hari sebelumnya ketika para nelayan melihat tornado di laut, Istana Angin Selatan sudah mempersiapkan rencana evakuasi. Para petinggi kerajaan pun mengadakan upacara untuk memohon perlindungan dari nenek moyang, roh angin, dan roh laut. Tetapi semua orang sama-sama tidak menduga bahwa badai besar itu datang lebih cepat dari perkiraan.


Ketika badai datang, meskipun orang-orang sudah bersiap untuk evakuasi, waktu yang mereka miliki tidak banyak, bahkan dikatakan terlambat. Seluruh orang sudah hampir menyerah untuk mati.


Sang putri telah menghentikan badai seorang diri. Dia bahkan berteriak ke langit, “Tolong jangan datang lagi.”


Itulah titik balik dari segalanya.


Orang-orang yang menyaksikan keajaiban ini bersimpuh di kakinya, menyembahnya sebagaimana mereka menyembah roh nenek moyang. Putri kecil ini dimahkotai, dihias sedemikian rupa dengan pakaian dan perhiasan mahal, lalu dipertontonkan kepada orang-orang sebagai Putri Mahkota Angin Selatan, sosoknya diarak di dalam sebuah kereta tertutup. Kisah heroiknya, dan kemampuan istimewanya diceritakan secara resmi oleh istana, menjadi buah bibir dimana-mana, kemudian namanya menjadi terkenal. Meskipun begitu, karena dia tidak pernah menunjukkan wujudnya, orang-orang terutama rakyatnya, menganggapnya sebagai sebuah entitas yang ada, hidup di antara manusia, namun hampir tidak nyata. Seolah dia adalah sebuah roh.


Kemudian lambat laun muncul orang-orang yang menganggap sang Putri Mahkota Angin Selatan adalah perwujudan roh nenek moyang yang melindungi Istana Angin Selatan. Itulah mengapa meskipun Hymne adalah nyata dan memegang posisi sebagai seorang pewaris tahta dengan status Putri Mahkota, orang-orang masih percaya bahwa Istana Angin Selatan tidak memiliki pewaris tahta. Status Putri Mahkota Angin Selatan dianggap tidak nyata, bukan seorang putri mahkota secara nyata, tetapi sebuah nama untuk suatu roh yang dianggap sakral.


Meskipun rakyatnya mencintai Putri Mahkota Angin Selatan, dan para penghuni istana yang mengenalnya sangat menghormati dan ‘menyucikan’ sosoknya, cinta itu tidak lagi ditujukan untuk dirinya.


Karena itulah meskipun dia telah menerima banyak cinta dari banyak orang, dia tidak bisa lagi menerima cinta lainnya. Dia sudah terlalu banyak menerima. Dan dengan statusnya sebagai ‘Putri Mahkota Angin Selatan Yang Sakral’, dia tidak lagi bisa menerima bentuk cinta yang istimewa.


Dia tidak bisa. Meskipun dia ingin.


Sementara pembicaraan Hymne dan Putra Mahkota Langit berlangsung, jam demi jam berlalu tanpa mereka sadari. Pembicaraan mereka menjadi semakin panjang dan rileks. Lalu topik pembicaraan mereka menjadi luas dan tidak lagi berkutat soal kehidupan keduanya. Mereka membahas tentang dunia, tentang manusia, dewa-dewa, hantu dan iblis, lalu opini mereka terhadap banyak hal.


“Saya mengerti kehidupan rakyat biasa dan bangsawan sangat berbeda, tetapi mereka memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Begitupun dengan cara mereka hidup. Seseorang bisa berkata bahwa hidup sebagai orang biasa sangat terbatas, sementara seorang bangsawan bebas memilih apapun dalam hidupnya. Menurut saya tidak begitu. Bangsawan atau orang biasa, mereka terikat oleh sesuatu yang akan selalu membatasi mereka. Jadi tidak mudah untuk mengatakan apakah lebih bebas hidup sebagai orang biasa atau bangsawan.” Putra Mahkota Langit menyuarakan pendapatnya sambil sesekali memalingkan matanya seperti tengah berpikir.


“Menurut saya, bebas atau tidaknya hidup seseorang bergantung dari dirinya sendiri, baik dia bangsawan atau orang biasa,” jawab Hymne. “Itu adalah bagaimana seseorang menjadi bahagia meskipun situasi mereka menyulitkan, dan itu tidak berkaitan dengan status seseorang. Anda bisa menjadi seorang bangsawan tetapi hidup Anda terkurung, bahkan Anda tidak boleh melakukan apa yang membuat Anda senang, apakah Anda merasa bebas?


"Tetapi sebaliknya pula, jika Anda adalah orang biasa dengan segala keterbatasannya, Anda terus merenungkan keterbatasan Anda dan menyesali hidup Anda, terus mengharapkan hidup Anda berubah tetapi Anda tidak melakukan sesuatu, apakah itu juga kebebasan? Saya rasa kebebasan seharusnya membawa rasa bahagia, dan ketika Anda ingin merasa bebas, Anda harus bisa mencari kebahagiaan dari manapun, bahkan dari hal paling sederhana seperti bernafas.”


Putra Mahkota Langit mengangguk sekali sambil bergumam setuju. Kemudian dia terdiam sebentar. “Apa yang membuat Anda merasa bebas, nona?”


“Saya?” Hymne terkejut sejenak. “Saya rasa… ketika saya bisa keluar dan melakukan hal baik dan benar bagi orang lain. Seperti berburu hantu,” jawabnya. “Bagaimana dengan Anda?”


“Saya…” Putra Mahkota Langit tertegun. Jeda yang dia berikan terdengar membingungkan. Hymne tidak bisa membaca air muka sang pangeran, tetapi pangeran itu jelas tengah memikirkan sesuatu, namun dia tidak melanjutkan kata-katanya. Ini membuat Hymne bingung. “Saya rasa saya merasa bebas sekarang.”


“Hm? Mengapa?”


“Saya tidak sedang memegang status sebagai seorang pangeran dan pendeta. Saya adalah… teman Anda berbincang saat ini,” jawabnya kemudian. Perkataannya dipercepat pada akhir kalimat. “Apakah Anda bahagia dengan melakukan hal baik dan benar bagi orang lain?”


Hymne tidak bisa menahan dirinya untuk berpikir bahwa pangeran itu baru saja mengalihkan topik pembicaraannya. “Saya bahagia. Apakah Anda bahagia bisa bersama dengan saya di sini?” tanyanya. Dia tersenyum diam-diam, dengan sengaja mengganti bunyi pertanyaannya.


Raut wajah yang tidak bisa dideskripsikan muncul di wajah Putra Mahkota Langit tanpa dia sadari. “Saya bahagia.” Jawabannya terdengar tenang, diiringi anggukan kecil.


Mendengar ini Hymne tersenyum kecil. “Kalau begitu kita harus sama-sama menyimpan kenangan bahagia ini. Jika saya boleh bertanya, apakah Anda masih mau menemani saya berbincang di lain kesempatan?”


“Tentu saja,” jawa Putra Mahkota Langit cepat. “Jika Anda harus melakukan sesuatu sekarang, saya akan menunggu esok hari, atau kapanpun yang Anda mau.”


Hymne tersenyum lebar, bahkan suaranya terdengar ceria. “Terima kasih, tuan. Saya berjanji besok akan mengundang Anda lagi untuk bertemu. Bisa tolong Anda panggilkan kedua pelayan saya Dorian dan Hermine?”


Pada saat Putra Mahkota Langit keluar, lilin dan dupa yang dia bakar sudah habis, sehingga meyakinkan baginya ketika dia berkata bahwa ritual yang dilangsungkannya sudah selesai. Kedua pelayan sang putri kemudian mengambil Hymne dari ruangan itu, dan para pelayan lain membereskan ruangannya.


Setelah pertemuan itu, Putra Mahkota Langit tidak lagi melihat Hymne hingga makan malam tiba. Dia merasa diberkati ketika makan malam tiba dan semua orang hadir. Alasannya sederhana. Hymne duduk persis di seberangnya, karena di sebelahnya, sang Putra Mahkota Bumi harus duduk berhadapan dengan perdana menteri Istana Angin Selatan. Duduk berseberangan, meskipun dipisahkan oleh meja, entah mengapa membuat hatinya berbunga. Mereka tidak jauh, tidak juga terlalu dekat. Namun yang jelas, bisa melihatnya dari dekat meskipun dikerumuni banyak orang adalah sebuah imajinasi menjadi nyata bagi sang pangeran.


Dengan demikian, gerakan mencuri pandang pada Hymne akan terlihat sangat natural baginya.