
Pada akhirnya, dia hanya berdiri melamun di dekat jendela yang terbuka, menatap ke langit. Ketika itu, di bagian istana yang berseberangan dengan ruang studi tempatnya berada, dia melihat sang Putri Mahkota dan Hermine berjalan beriringan di sebuah lorong. Mereka berdua menghilang di salah satu belokan. Betapapun dia ingin bergerak, kakinya hanya memaku di lantai, menatap pemandangan itu.
Ketika waktu sudah berlalu, dia tidak menyentuh makanan atau minumannya di meja. Dia merasa bersalah, lalu membawa nampan itu keluar dari ruang studi. Secara insting, kakinya membawanya ke arah ruang makan, namun belum jauh dia berjalan, sosok Hermine tiba-tiba muncul di hadapannya.
Hermine berhenti sejenak, tampak bingung. “Tuan, mau ke mana Anda?”
“Saya ingin mengembalikan ini ke ruang makan. Seorang pelayan membawakannya untuk saya ke ruang studi, tetapi saya tidak menyentuhnya sama sekali.”
“Anda baru kembali dari ruang studi?”
“Iya.”
Hermine tampak menimbang sejenak. “Biar saya yang membawanya,” katanya. Dia kemudian menatap Putra Mahkota Langit sejenak. “Saya akan mengantar Anda sampai ke ruangan Anda, tidak perlu repot-repot menolak, saya memaksa.”
Benar ketika dikatakan kecantikan perempuan itu memancarkan aura yang kuat, perempuan itu memang kerasan. Keduanya akhirnya berjalan ke ruangan Putra Mahkota Langit, dipimpin Hermine yang membawa nampan.
“Apakah Anda tidak melayani sang Putri Mahkota malam ini?” Putra Mahkota Langit bertanya.
“Putri Mahkota sudah kembali ke ruangannya. Dia sudah menangani banyak urusan hari ini, jadi dia beristirahat lebih dahulu. Mengapa Anda tidak juga beristirahat?”
“Saya terbiasa tidur larut,” jawab Putra Mahkota Langit singkat. Dia mengingat bagaimana ketika dia dan Hymne terus berburu hantu hingga lewat larut malam, bahkan menjelang subuh, lalu ketika mereka tertidur, mereka hanya akan bangun ketika matahari sudah agak tinggi.
“Besok pagi setelah sarapan, semua persiapan yang Anda minta untuk upacara akan siap. Kemungkinan Putri Mahkota akan segera meminta Anda menjalankan ritualnya saat itu juga, jadi saya mohon supaya Anda bersiap diri.”
Putra Mahkota Langit menunduk sedikit. “Apakah beliau benar-benar seorang putri mahkota penerus tahta? Rumor yang saya dengar, Istana Angin Selatan belum memiliki seorang penerus tahta.”
Hermine bergumam sejenak. “Ya, rumor itu memang benar. Beliau memang belum lama ini ditunjuk menjadi penerus tahta, karena kondisi Yang Mulia Raja melemah. Tetapi rumor itu sudah lama berkembang, jadi Putri Mahkota tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya.”
“Apakah benar juga rumor yang menyatakan bahwa Raja Istana Angin Selatan tidak memiliki keturunan?” Putra Mahkota Langit memberanikan diri bertanya.
“Hm, benar. Apa lagi yang Anda tahu?”
“Saya mendengar cerita Angin Laut,” jawabnya. “Angin Laut menyatakan bahwa Raja Istana Angin Selatan adalah pamannya. Lalu ketika Putri Mahkota menyatakan bahwa Angin Laut adalah adik laki-lakinya, maka saya kira keduanya adalah keponakan dari sang Raja. Namun karena sang Raja tidak memiliki keturunan, maka beliau menunjuk keponakan perempuannya untuk menjadi penerus tahta. Begitukah?”
Hermine terdengar terkekeh dingin. “Bocah bengal itu masih berani bicara rupanya,” ujarnya, merujuk pada Angin Laut. “Ibu dari Putri Mahkota dan Angin Laut adalah adik dari Yang Mulia Raja, maka dari itu keduanya sama-sama seorang putri dan pangeran. Meskipun demikian, kedua orangtua mereka meninggal, sehingga Yang Mulia Raja membesarkan keduanya seperti anaknya sendiri. Betapa baiknya Yang Mulia Raja, dan beginilah cara pangeran kecil itu membalasnya, dengan mati dan membawa bencana bagi tempat yang sudah membesarkannya. Jangan heran padaku tuan, reputasi pangeran kecil itu di sini memang buruk, jadi maafkan kata-kataku.”
“Saya mengerti. Tanpa bermaksud menghakimi, saya telah melihat bagaimana perilakunya terhadap sesama manusia,” jawab Putra Mahkota Langit. ‘Saya yang membunuhnya’ begitu yang ingin dia katakan, namun sepertinya dia tidak punya hati untuk berkata demikian.
Ketika dia tiba di depan ruangannya, Hermine berhenti dan mempersilakannya beristirahat. Perempuan itu tidak membukakan pintu untuk sang pangeran karena tangannya sedang memegang nampan yang terisi. Namun sepertinya, seandainya dia tidak memegang apapun, Hermine tidak akan membukakan pintu untuknya. Tetapi Putra Mahkota Langit sama sekali tidak keberatan dengan perlakuan itu, karena dia mengerti posisinya di mata Istana Angin Selatan, jadi dia mengabaikannya.
Paginya ketika semua orang berkumpul untuk sarapan di ruang makan istana yang luas, Putri Mahkota tidak hadir bersama mereka. Hanya Dorian yang hadir dan menyatakan kepada semua orang termasuk kedua putra mahkota Istana Peristirahatan Awan, bahwa sang Putri Mahkota akan menikmati sarapan di ruangan Yang Mulia Raja, berdua dengan pamannya itu. Kemudian ketika sarapan selesai, Dorian membawa Putra Mahkota Langit ke ruangan yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk ritual. Tepat ketika dia tengah menunjukkan seluruh isi ruangan, Hermine datang ke dalam ruangan.
“Putri Mahkota Angin Selatan telah datang.” Hermine menyampaikan. Dorian menghormat ke arah pintu.
Saat itu, sang Putra Mahkota Langit benar-benar melihatnya. Tidak seperti dia melihat sosok sang Putri Mahkota seperti pertama kali di aula istana, dia benar-benar melihatnya dari dekat. Dan seyogyanya matanya tidak akan menipunya, dia bisa membayangkan sosok yang berdiri di hadapannya adalah orang lain, dan dia tidak lagi ragu.
Putri Mahkota Angin Selatan mengenakan setelan putih kuning yang lembut, mirip dengan setelan saat ia makan malam sebelumnya, dengan selubung pendek yang menutupi sampai dagunya, lalu cadar menjuntai sampai ke bagian dadanya. Putri mahkota itu berdiri beberapa langkah di depannya, tingginya sama persis dengan wanita yang selalu sang pangeran cari. Postur tubuhnya, meskipun sang pangeran tidak bisa mendeskripsikannya, sangat menyerupai postur wanita itu pula. Dia menurunkan tatapannya untuk menghormat kepada sang Putri Mahkota, lalu perempuan itu balas menunduk. Dia memperhatikan gerakan perempuan itu, dan tahu betul bahwa sudut serta gaya membungkuknya sama persis dengan wanita dalam bayangannya.
Dia tidak bisa lebih jelas lagi. Dia bahkan tidak perlu untuk berpura-pura tidak mempercayainya. Wanita yang berdiri di hadapannya adalah wanita yang sama dengan yang ia cari.
Dia telah menemukannya.
Dia maju ke depan ruangan di mana deretan lilin dan kendi kecil yang diisi dupa serta rempah-rempah dipajang dalam formasi tertentu. Pada saat itu, dia berkata, “Saya akan mulai membuka ritual ini, salah satu dari kedua pelayan yang terhormat ini boleh menutup pintu ruangan dan menunggu di luar.” Setelah bertukar pandang, Dorian yang akhirnya keluar. Putra Mahkota Langit kembali diam sambil berlutut di lantai, posturnya tegak. Setelah mulutnya bergerak-gerak tanpa suara selama beberapa saat, dia kemudian menyalakan seluruh lilin yang ada di hadapannya.
“Putri Mahkota Angin Selatan, Anda dipersilakan untuk duduk di belakang saya,” katanya kemudian. Lalu, dia memutar tubuhnya sepenuhnya dan menyaksikan ketika kedua perempuan duduk. Dengan hati-hati dia berkata, “Ritual ini akan menghubungkan pembicara dengan sang dewa, dan pada saat koneksi ini dilangsungkan, tidak boleh ada seorangpun yang berada di ruangan ini. Bolehkah saya meminta Anda untuk meninggalkan ruangan ini juga pada saat itu?”
Wajah Hermine tampak mengeras. “Saya akan tinggal di sini untuk menyokong apa yang Putri Mahkota perlukan.”
Baru saja Putra Mahkota Langit hendak mengangkat suaranya, sang Putri Mahkota sudah mengangkat tangannya. Hermine menggubrisnya, lalu keduanya tampak berbisik-bisik. Eskpresi yang keras tidak meninggalkan wajah Hermine, namun pada akhirnya dia menghembuskan nafas panjang. “Baiklah, saya akan keluar sekarang,” katanya terakhir sebelum melangkah keluar.
Kemudian, Putra Mahkota Langit kembali kepada sang Putri Mahkota. “Saya akan memulai koneksinya. Anda boleh duduk dan menunggu aba-aba saya selanjutnya, jika Anda perlu,” dia berhenti sebentar dan mengeluarkan selembar kertas dan pena bulu dari kantung yang dibawanya. “Jika Anda tidak ingin bicara, Anda bisa menggunakan kertas ini untuk menulis perkataan Anda.” Dengan demikian dia segera kembali memutar tubuhnya.
Setelah menyalakan lilin-lilin, dia membakar dupa dan mengambil rempah-rempah, lalu meletakkannya di sebuah kendi berlubang yang berfungsi sebagai pembakaran. Aroma yang kaya merebak ke seluruh ruangan, sambil dia terus membaca, dia mengambil lonceng yang ada di sebelah kanannya, lalu sesekali menggerakkannya, membuat bunyi gemerincing yang merdu. Pada suatu titik, dia berhenti.
“Putri Mahkota, saya sudah memanggil sang dewa, sekarang kita hanya harus menunggu jawaban dari dewa. Jika dewa sudah menjawab panggilan ini, maka Anda bebas untuk berbicara dengan sang dewa. Pada saat itu, saya akan meninggalkan ruangan ini, dan Anda akan tinggal sendiri di sini hingga koneksi terputus. Baru jika koneksi sudah terputus, saya akan kembali ke dalam ruangan untuk menutup ritual.”
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, sampai tiba-tiba sebuah hembusan angin yang besar muncul di dalam ruangan. Aneh, karena ruangan itu tertutup, dan seluruh lubang jendela atau ventilasi sudah ditutup oleh selapis kain, jadi sumber angin itu tidak diketahui. Kemudian setelah hentakan keras angin itu menggoyahkan semua kobaran api, tiba-tiba angin itu berhenti begitu saja, dan keheningan yang baru menyelimuti ruangan. Ada sebuah tekanan yang besar di dalam ruangan, tekanan yang sebelumnya tidak ada. Kobaran api yang tadinya menari karena angin tiba-tiba berdiri tegak lurus, menyala merah sempurna tiada cacat.
Putra Mahkota Langit menatap ke atas kepalanya sejenak, lalu berkata. “Putri Mahkota, sang dewa sudah menjawab panggilan Anda.” Dia memutar tubuhnya, berlutut tepat di hadapan sang Putri Mahkota yang juga berlutut sempurna. “Saya akan meninggalkan ruangan ini supaya Anda dapat berbicara dengan sang dewa. Karena Anda akan sendiri, saya menyarankan agar Anda tidak usah takut membuka suara Anda. Mohon untuk bersabar karena jawaban sang dewa tidak selalu berupa perkataan.” Putri Mahkota Angin Selatan menjawabnya dengan bersimpuh di lantai, diikuti sang pangeran yang sama-sama bersimpuh. Dengan demikian dia menyisihkan dirinya dari ruangan.
Ketika dia keluar, dia membawa lonceng yang sebelumnya dia gunakan di dalam ruangan. Kedua pelayan setia sang Putri Mahkota berdiri di depan pintu dengan siaga. Tanpa berkata-kata, Putra Mahkota Langit mengikatkan lonceng itu di gagang pintu, baru setelah itu dia menghadap kedua pelayan sang putri.
“Koneksi sang Putri Mahkota dengan dewa tengah berlangsung, saya sarankan agar tidak seorangpun mengganggu ruangan ini selama itu. Sementara itu, Anda akan menerima sinyal dari sini,” dia menunjuk ke lonceng di gagang pintu. “Jika lonceng itu berbunyi, maka tandanya koneksi sudah selesai, dan pintu ruangan boleh dibuka. Hanya ketika itu pintu ruangan boleh dibuka, saya mohon pengertian Anda dalam situasi ini.”
Putra Mahkota Langit telah secara spesifik memanggil dewanya untuk berkomunikasi dengan wanita itu menggunakan kemampuannya. Benar bahwa semua orang bisa berbicara dengan dewa, namun hubungan sang pangeran dengan para dewa sangat spesial karena kemampuan spiritualnya yang tinggi. Apapun yang dia panjatkan akan didengar oleh dewa, dan keinginannya akan terkabul. Jika dia yang meminta, maka siapapun bisa berbicara langsung dengan sang dewa. Ini adalah sesuatu yang langka, karena tidak semua orang mampu berbicara langsung secara dua arah dengan dewa, seolah mereka bertatap muka langsung dengan dewa.
Dan di antara doa-doa yang dia panjatkan, dia telah meminta sang dewa untuk secara spesifik memperhatikan permintaan wanita itu dan membimbingnya dalam membuat keputusan yang bijak. Dia melakukannya secara sadar untuk wanita itu. Dia tahu kesalahan besar yang telah dilakukan Angin Laut telah menyulut amarah dewa, dan sangat mungkin balasan yang diminta dewa adalah sesuatu yang sama besarnya. Dia tidak mau wanita itu terbebani dengan hal itu, maka dari itu dia memohon pada dewanya.
Dia telah meminta dewanya untuk melepaskan sang wanita dari beban pikiran. Supaya dia jangan khawatir dan merasa bersalah. Supaya dia tidak bertindak gegabah dalam mengambil keputusan.
Dia mengatakan semuanya, isi hatinya, sesederhana dia bernafas.
Kenapa? Sang pangeran yang terkenal dengan ketegasan dan kekakuannya, profesionalitas dan pikiran serta hati lurusnya, sikap tenang dan budi luhurnya. Kenapa? Apakah dia takut? Takut bahwa keputusan yang diambil wanita itu akan membuatnya gentar?
Dia tidak bisa mengatakannya. Tetapi meskipun mulutnya tidak berkata-kata, hatinya telah bersuara.
Dia pergi untuk mengembalikan kantung berisi peralatan spiritual ke ruangannya, lalu kembali ke depan ruangan tempat Putri Mahkota berada. Kedua pelayan setianya masih berada di sana, dan meskipun dia mendapat aura penolakan, dia tetap duduk berlutut di depan pintu ruangan. Dia menutup matanya, lalu dalam hati memanjatkan doa-doa. Itu baik baginya, karena saat itu tidak satupun dari kedua pelayan itu mengajaknya bicara, jadi dia bisa memfokuskan diri untuk bertapa.
Dia tidak beranjak dari depan ruangan itu sama sekali, bahkan ketika kedua orang pelayan itu bergantian mondar mandir, atau ketika seorang pelayan datang menawarkan makanan dan minuman, dia tetap diam. Dia tidak menolak, dia hanya terus menutup matanya dan mempertahankan postur bertapanya. Lambat laun orang-orang membiarkan dia dalam posisi itu dan tidak mengganggunya lagi.
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, cahaya oranye merayap lembut di ambang pintu ruangan tempat Putri Mahkota berada. Tepat ketika setengah badan matahari menghilang ke cakrawala, lonceng di ambang pintu berbunyi. Gemerincingnya pelan, namun Putra Mahkota Langit segera terjaga. Ketika dia membuka matanya, tidak ada seorang pun di sekitarnya, tidak juga kedua pelayan setia sang putri. Jadi dia mengetuk pintu dan masuk dengan hati-hati.
Putri Mahkota Angin Selatan masih duduk berlutut di posisinya sebelumnya, tidak sama sekali bergerak. Dia berjalan pelan-pelan, lalu berlutut di hadapan sang putri, memunggunginya. Semua lilin sudah mati, semua dupa dan rempah sudah terbakar. Ruangan itu menjadi sangat gelap, namun Putra Mahkota Langit melanjutkan menyalakan satu lilin kecil yang baru, lalu memanjatkan doa lainnya. Untuk sementara, keduanya diam disitu hingga tiba-tiba lilin itu mati.
Ritual itu sudah sepenuhnya selesai. Sang pangeran memutar tubuhnya untuk menatap langsung sang putri. “Putri Mahkota, ritual ini sudah selesai dan koneksi dengan sang dewa sudah dihentikan. Saya percaya Anda telah menyampaikan hal yang perlu disampaikan kepada dewa, dan dewa telah mendengar serta menjawab Anda. Apapun keputusan yang Anda buat dengan sang dewa adalah sebuah perjanjian yang harus dihormati dan dilaksanakan. Oleh karena itu, saya tidak akan mengganggu gugat keputusan tersebut. Apakah Anda siap untuk menyatakan keputusan Anda di hadapan kerajaan Anda?”
Tidak ada jawaban dari sang Putri Mahkota. Dia tidak juga menuliskan apapun di kertasnya. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat tangannya ke depan mulutnya, seolah menggambarkan bahwa ia tengah menahan dirinya untuk bicara. Melihat ini Putra Mahkota Langit kembali bicara, “Anda bisa menulisnya jika Anda tidak ingin—“
“Maafkan saya.”