
Ketika malam tiba dan Hermine datang menjemputnya, Putra Mahkota Langit mempertahankan postur tenangnya. Rupanya, Hymne telah menginstruksikan Hermine untuk memanggil sang pangeran dalam rangka diskusi mengenai persembahannya. Dengan demikian, hanya sejauh itu yang Hermine tahu. Untuk meyakinkan sandiwaranya, dia bahkan membawa kantung berisi alat-alat spiritualnya.
Dia sudah mempersiapkan hatinya selama menunggu. Dia sengaja menjauh dari kakaknya, membiarkan segala urusan yang berhubungan dengan 2 kerajaan dipegang oleh sang kakak dan jenderalnya. Dia menghadiri makan malam, tetapi menutup mulutnya sepanjang waktu, makan secepat mungkin yang dia bisa, lalu kembali ke kamarnya. Dengan demikian dia berpikir, bahwa semakin banyak waktu yang dia habiskan untuk menyendiri, semakin siap dirinya untuk bertemu dengan sang putri.
Namun demikian ketika dirinya diundang masuk ke dalam ruangan pribadi sang putri, hatinya sekali lagi berdenyut. Dia tidak siap.
Hymne duduk berlutut di depan sebuah meja, teko dan dua gelas keramik cantik mengisi mejanya. Aroma yang lembut memenuhi ruangan, mungkin dari rempah-rempah yang dibakar. Ruangan temaram itu diwarnai cahaya lilin merah yang pada saat itu memenuhi ruangan dengan hangat. Sosok Hymne sendiri, masih dengan setelah merah mudanya, tampak agak redup karena bayangan lilin di atas meja jatuh diatasnya.
Dengan langkah yang kaku, Putra Mahkota Langit memasuki ruangan dan berdiri beberapa langkah dari meja. Ketika mendengar pintu di belakangnya ditutup, Hymne tampak mengangkat kepalanya.
“Selamat datang, tuan. Duduklah,” kata wanita itu dengan tenang.
Hymne mendengar langkah kaki yang enggan mendekatinya, lalu sang Putra Mahkota Langit duduk di seberangnya. Dia kemudian menuangkan isi teko ke dalam cangkir keramik di hadapan sang pangeran. “Minumlah sebelum dingin,” katanya.
Putra Mahkota Langit menyesap minuman itu, kemudian hatinya menjadi panas. Itu adalah minuman teh herbal yang tanamannya hanya tumbuh selama musim dingin di sebuah desa di wilayahnya. Persisnya, minuman itu yang keduanya minum pada pertemuan kedua mereka. Ketika cairan itu turun ke kerongkongannya, gelombang memori yang besar jatuh atas dirinya. Sang Putra Mahkota Langit mengerjapkan matanya, tidak tahu harus berkata apa.
Sementara bagi Hymne, wanita itu secara sengaja memberinya minuman tersebut. Dia tidak bermaksud buruk, dia hanya ingin membantu dirinya sendiri mengingat.
“Saya rasa sudah jelas pertemuan kali ini akan membahas tentang apa,” kata Hymne setelah beberapa saat terdiam.
Putra Mahkota Langit sudah meletakkan cangkir keramiknya di meja, lalu menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja rendah itu. “Kenapa Anda melakukannya?” tanyanya. Dia berhenti sejenak, mengganti pertanyaannya. “Kenapa Anda mengambil keputusan itu?”
Senyum mengembang di wajah Hymne, tetapi dia tahu sang pangeran pun tidak akan melihatnya. “Seumur hidup, saya selalu menerima kasih sayang besar. Meskipun saya lahir dengan darah yang kotor, orang-orang mengasihi saya tanpa pandang bulu. Sepanjang hidup saya selalu ingin berbuat kebaikan untuk sesama, untuk membayar darah kotor saya, dan membalas semua kasih sayang yang telah saya terima. Apa yang saya lakukan hanyalah salah satu cara untuk memberi kebaikan bagi banyak orang, tidak ada yang istimewa dari itu.”
“Memberikan nyawa Anda untuk menyelamatkan ratusan orang adalah tindakan yang mulia, bagaimana Anda bisa berpikir hal tersebut tidak istimewa? Nona, Anda akan menyerahkan hidup Anda, untuk tujuan apapun itu, Anda akan kehilangan nyawa Anda. Apakah Anda tidak mempertimbangkan bahwa jika Anda masih hidup, akan lebih banyak kebaikan yang dapat Anda lakukan? Bahwa masih banyak orang yang membutuhkan Anda, masih banyak orang yang berhak menerima kebaikan Anda?” Putra Mahkota Langit tidak bisa menahan mulutnya.
Dia merapatkan rahangnya kuat-kuat. “Nona, saya yang menghubungkan Anda dengan dewa. Apakah Anda…” dia kemudian berhenti tiba-tiba, menelan kembali kata-katanya. “Saya merasa saya yang telah membunuh Anda.”
“Tidak tuan, sama sekali tidak.” Hymne menggelengkan kepalanya buru-buru. “Anda tidak melakukan apa-apa selain menghubungkan saya dengan dewa. Semua keputusan yang saya ambil adalah keinginan saya sendiri. Anda tidak melakukan sesuatupun yang salah.”
Putra Mahkota Langit merasa kata-kata ini sangat familiar. Hatinya sekali lagi berdenyut, dan wajahnya menegang. “Tetapi nona, tidak adakah cara lain yang dapat Anda lakukan? Saya rasa Anda tidak harus menyerahkan nyawa Anda untuk hal ini.”
Hymne terdiam sejenak. “Tidak ada cara lain,” katanya kemudian. “Anda sudah melihat sendiri penolakan semua orang terhadap permintaan dewa Anda. Apakah kemudian saya harus diam dan hanya melihat rakyat saya menderita, baru semua orang menyadari kebenaran dibalik kata-kata dewa Anda? Saya harus melakukan sesuatu. Hanya saya satu-satunya orang yang akan mendengarkan permintaan dewa Anda, dan hanya saya yang bisa melakukannya. Jika itu yang harus terjadi, maka saya akan menanggungnya sendiri.”
Kata-kata Hymne menohoknya dengan kuat. Dia selalu mendengar Putra Mahkota Bumi atau ayahnya berdebat, dan dia selalu mendengar orang-orang berkata dengan keras kepala. Tetapi dia belum pernah mendengar ketegasan, ketegaran, dan keteguhan seperti yang ditunjukkan Hymne. Wanita itu hanya bicara, raut wajahnya sama sekali tidak terlihat, tetapi dari suaranya saja dia menampilkan aura yang amat mengerikan. Begitu mengerikannya sehingga siapapun yang mendengarnya tidak berani melawannya. Selama ini Hymne selalu bicara melalui Hermine, suara aslinya tidak pernah muncul. Namun dengan demikian saja semua orang sudah tunduk mematuhinya. Bayangkan jika dia mengangkat suaranya sendiri, duduk di tahta kerajaannya, maka dia akan menjadi seorang pemimpin yang adi daya dan dihormati. Dia bahkan akan melampaui kodratnya sebagai ratu, dia bisa memegang posisi sebagai seorang raja jika dia mau.
Tetapi wanita ini tidak mau melakukannya. Dia ingin melepaskan tahtanya, kedudukannya, bahkan menyerahkan nyawanya. Dia tidak ingin memiliki apapun.
Jika Putra Mahkota Langit adalah seorang dewa, dia akan terkesima dengan keteguhan hati sang putri. Tetapi dia bukan seorang dewa, dia hanya seorang manusia biasa. Dia hanya seorang pria lemah yang tidak ingin kehilangan seseorang yang dia cintai.
Dia tidak mau berpura-pura lagi.
“Nona, Anda akan meninggalkan semuanya, termasuk orang-orang yang Anda kasihi. Apakah Anda tidak mempertimbangkan rasa kehilangan yang akan dirasakan rakyat Anda, dan semua orang yang mengasihi Anda, jika Anda memutuskan untuk menyerahkan nyawa Anda?”
Tidak ada jawaban dari mulut Hymne. Tanpa sang pangeran sendiri sadari, air mukanya mengeras. Dia mengangkat tangannya ke atas meja, keduanya terkepal. “Nona, tolong pertimbangkan semua itu. Anda pastinya bisa membayangkan bagaimana sakitnya dan perihnya hati semua orang yang mengasihi Anda, jika mereka tahu Anda telah meninggalkan mereka. Anda pernah kehilangan orang-orang yang Anda kasihi, Anda tahu rasanya. Saya mohon Anda untuk mempertimbangkan itu.”
Selama mendengar kata-kata sang pangeran, Hymne menutup matanya dan mengatur nafasnya pelan-pelan. Dia tidak bisa menahan mulutnya untuk berkedut, tetapi dia merapatkan rahangnya dan menelan ludahnya. Ketika rasa pening menghilang dari ubun-ubun kepalanya, dia membuka matanya. Penglihatannya berkabut, dan aliran air mata perak mengalir dari kedua matanya. Meskipun demikian, dia mempertahankan posturnya. Kemudian, tangannya meraih tangan Putra Mahkota Langit.
Ketika dia menyatakan bahwa rasa panas di sekujur tubuhnya menghilang saat tangan Hymne menyentuhnya, dia mengatakannya apa adanya. Tangan Hymne terasa dingin di tangannya yang panas. Rasa dingin itu seolah menyerap hawa panas di dalam tubuhnya, sampai kedua tangan yang berpaut itu berada dalam suhu yang sama.
Mereka bertatapan. Yang satu dari balik selubung dengan mata penuh air mata, yang lainnya dengan wajah kerasnya.
Tolong jangan lihat aku seperti itu.
Tolong lihat mataku.
Tolong mengertilah.
Segala pikiran merebak di kepala masing-masing, dan tidak jelas siapa yang berkata apa. Tetapi semakin lama pikiran itu menetap, semakin panjang dan berat keheningan di antara keduanya. Akhirnya, Hymne yang pertama kali angkat bicara.
“Tuan, Anda harus melepaskan saya.”
Sang pangeran tahu apa maksud sebenarnya dari kata-kata itu, dan dia tidak lagi menjaga postur tenangnya. Dia balas menggenggam tangan Hymne erat-erat. “Tidak.”
Pada saat itu, sosok teguh dan kaku seorang Putra Mahkota Langit dari Istana Peristirahatan Awan sudah tidak ada lagi. Dia sudah menanggalkan semua lapisan esnya, menunjukkan hatinya yang rapuh dan polos dengan bertelanjang diri.
Kemudian dengan suara agak parau Hymne kembali berkata, “Anda harus melakukannya untuk kerajaan Anda, dan dewa Anda. Anda harus menghormati keputusan ini.”
Sekilas raut kesal muncul di wajah Putra Mahkota Langit. “Saya tidak bisa.”
Hymne menghela nafas pelan. Pria ini sebelumnya pernah menawarkan diri untuk mengikutinya mengembara berburu hantu. Dari sana, dia tahu bahwa sang pangeran sudah bersedia membuang segala miliknya untuk bersamanya. Tetapi dia tidak bisa menerimanya. Dia tidak punya hati untuk merebut sang pangeran dari semua itu.
“Kalau begitu apakah Anda ingin melawan dewa Anda? Keputusan saya sudah diterima dewa. Jika Anda menentangnya, maka Anda menentang dewa yang selama ini Anda puja. Apakah Anda berani?” Hymne kembali bicara.
Mata Putra Mahkota Langit berkedut. “Saya akan bicara kepada sang dewa.”
Hymne terdiam sebentar. “Untuk apa?”
“Untuk membatalkan amarahnya.”
Itu tidak bisa diterima.
“Tidak, jangan. Jangan melawan lebih jauh. Tuan!” Putra Mahkota Langit tidak mendengarnya, atau mungkin sengaja mengabaikannya. Pria itu berdiri dan bergerak menjauhi meja. Secepat kilat Hymne mengejarnya, dan dia berhasil menghentikan sang pangeran sebelum dia menjauhi meja. Keduanya kini berdiri. “Jangan lakukan ini. Dengarkan aku.”
“Aku mendengarkanmu, nona. Aku selalu mendengarkanmu. Tetapi kamu harus mendengarkanku juga. Aku tidak bisa kehilanganmu.” Ekspresi kesakitan mewarnai wajah sang Putra Mahkota Langit yang senantiasa pucat. Namun kali ini, wajahnya begitu berwarna sehingga dia tidak dikenali lagi.
Hymne tidak tahan lagi. “Sebagaimana aku juga tidak mau kehilanganmu!” dia hampir setengah berteriak.
Dia berhenti, mengatur nafasnya sendiri. Putra Mahkota Langit mematung di hadapannya dengan mata terbuka lebar. Kemudian, Hymne menggeleng. “Tapi aku tidak bisa egois. Aku tidak bisa membiarkan rakyatku menderita. Aku juga tidak mau membuatmu melawan dewamu dan kerajaanmu. Kamu pikir aku tidak kesakitan? Kamu pikir aku tidak sedih? Aku harus meninggalkan semua yang aku kasihi, aku harus meninggalkanmu. Kamu tahu betapa beratnya itu bagiku?”
Keduanya berdiri mematung ke lantai, tangan Hymne melingkari Putra Mahkota Langit untuk mencegahnya pergi. Emosi keduanya campur aduk, tetapi tidak satupun berbicara lagi. Satu-satunya yang bisa dirasakan adalah hawa panas dari tubuh keduanya. Akhirnya dengan wajah berat, Putra Mahkota Langit memegang bahu Hymne dengan kedua tangannya.
“Biarkan aku berbicara dengan dewa untuk menemukan jalan keluarnya.” Suaranya tipis dan tersendat.