The Heavenly Tale - Blood Tears Rain

The Heavenly Tale - Blood Tears Rain
Chapter 22



Putra Mahkota Bumi tidak bodoh, jadi dia dengan cepat menghubungkan titik-titik di kepalanya. Akhirnya dia bisa bernafas dengan nafas yang berat. Matanya jatuh ke ujung kanan bawah kanvas, dan disana tertulis dengan tinta hitam; Yang Mulia Putri Mahkota Peniup Seruling Dari Bumi. Jiwanya terbang dan hidup di Surga.


Putra Mahkota Langit bahkan menulis dengan yakin bahwa jiwa sang putri sudah berada di Surga.


Memperhatikan betapa indahnya lukisan itu, betapa kuatnya aura yang dipancarkan lukisan itu, siapa saja bisa menebak bahwa pelukisnya telah mencurahkan perhatian dan energi yang luar biasa ke dalamnya. Lukisan ini tidak main-main, mungkin nilainya akan sangat tinggi seandainya suatu saat akan dijual. Tetapi dia tahu itu tidak akan terjadi. Dia sekarang sudah tahu, meskipun beberapa titik masih kurang jelas, dia sudah tahu garis besarnya.


Wanita yang telah menarik perhatian Putra Mahkota Langit adalah Putri Mahkota Angin Selatan. Mereka bertemu sebagai orang asing, entah bagaimana caranya. Entah bagaimana caranya pula ketika mereka berpisah, mereka dipertemukan kembali dalam wujud aslinya masing-masing. Dan ketika Putra Mahkota Bumi bertanya padanya, wanita itu baru saja meninggal di depan matanya.


Dia tidak berani untuk mengingatnya. Dia kini membayangkan apa perasaan adiknya ketika dia bertanya hal tersebut. Sebagai rasa penyesalan, dia menyimpan rahasia itu. Dia bahkan tidak membicarakannya dengan adiknya sendiri, sehubungan dengan adiknya yang selalu menghindar untuk berlama-lama berada di sekitar orang banyak. Seiring berjalannya waktu, mereka tidak lagi bicara, terutama karena adiknya selalu menghindar.


Dia tahu sekarang kenapa sosok Putra Mahkota Langit berubah sekembalinya dari Istana Angin Selatan, tetapi dia menjaga rahasianya. Diam-diam dia mengurangi tugas kerajaan yang harus dilakukan adiknya, menanggungnya sendiri, lalu beberapa kali menyatakan bahwa sang Putra Mahkota Langit tidak bisa menghadiri acara kerajaan karena kesibukan lain. Sementara itu semua orang masih menganggap bahwa Putra Mahkota Langit benar-benar dalam sebuah tugas yang mengharuskannya banyak bertapa dan meninggalkan urusan kerajaan.


Sampai suatu hari, selepas musim dingin, kerajaan itu dilanda hawa panas yang luar biasa. Beberapa orang mulai mencari berkat para pendeta untuk memohon belas kasih dewa. Akhirnya, beberapa dewa mendatangi sang Putra Mahkota Langit. Mengikuti permintaan mereka, Putra Mahkota Langit berangkat untuk mencari Bunga Lembayung Senja. Para pendeta berterima kasih padanya. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa yang akan dilakukan sang Putra Mahkota Langit sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.


Dia membawa kudanya, lalu berangkat mencari Bunga Lembayung Senja seperti biasa, dan tidak ada yang mencurigainya. Tetapi dalam perjalannya kembali, dia tidak mengarah ke kerajaannya. Sebaliknya, dia pergi ke arah selatan. Dalam pikirannya jelas bahwa ia akan menuju ke Istana Angin Selatan.


Dia benar ketika dulu menyatakan bahwa Istana Angin Selatan tidak akan pernah menerimanya kembali setelah insiden pengorbanan sang putri. Ketika langkahnya menyentuh wilayah itu, orang-orang yang mengenalinya segera memanadngnya dengan sinis. Kebanyakan dari mereka menjauh dengan tatapan marah, tetapi tidak satupun berkata-kata. Dia ingat Putri Mahkota Angin Selatan telah memerintahkan agar tidak boleh ada dendam yang tertuju pada Istana Peristirahatan Awan, jadi mungkin rakyat kerajaan ini menghormati perintah sang putri. Tetapi bagaimanapun, perasaan dengki itu tetap ada di kepala mereka, jadi mereka tidak bisa berpura-pura untuk bersikap baik padanya. Semua orang mengacuhkannya.


Setengah perjalanan, dia bertemu seorang pria renta buta yang berjalan dengan tongkat. Dia tengah berjongkok, tangannya meraba tanah seolah tengah mencari sesuatu. Putra Mahkota Langit berhenti dan membantu pria renta itu.


“Apa yang Anda cari?”


Pria renta itu terkejut, kepalanya sedikit bergerak. “Ah, aku mencari sebuah koin perak yang kujatuhkan.” Selama dia bicara, matanya menatap ke langit. Matanya terlihat normal, namun tidak bergerak sebagaimana mata orang biasa akan bereaksi. Jika dia hanya duduk diam, mungkin orang akan mengiranya benar-benar tanpa cacat.


Putra Mahkota Langit ikut mencari, kemudian menemukan koin itu. Dia memberikannya langsung ke tangan si pria renta. “Inikah yang Anda cari?”


Pria renta itu bersorak bahagia dan berterima kasih berkali-kali. Dengan gerakan yang luwes, dia memasukkan koinnya ke dalam kantung lusuh kecil yang dia sembunyikan di dalam bajunya. “Ke mana Anda akan pergi? Saya bisa mengantar Anda,” kata Putra Mahkota Langit.


“Menuju monumen Putri Mahkota Angin Selatan.”


Sang pangeran terkejut sesaat. “Kebetulan saya juga menuju ke sana, tetapi saya tidak tahu di mana letaknya. Bolehkah saya mengikuti Anda?”


“Kau tidak tahu di mana monumen Putri Mahkota Angin Selatan? Kau pasti bukan orang sini,” kata pria renta itu. “Baiklah ikuti aku. Aku bisa mencium arah.”


Selama mereka berjalan bersama, orang-orang masih saja mengacuhkan sang pangeran. Tetapi dia mengabaikannya, tahu bahwa posisinya memang tidak baik. Pria renta buta itu, seandainya dia tahu siapa sang pangeran sebenarnya, mungkin dia juga akan melarikan diri.


“Saya pernah mengenalnya semasa hidupnya,” jawab Putra Mahkota Langit. “Saya tahu dia adalah sosok yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh seluruh kerajaannya.”


“Hahaha, kau benar sekali. Dia adalah seorang yang sangat dimuliakan. Kalau begitu apa kau tahu bahwa dia juga sangat rendah hati?”


“Saya tahu.”


Pria renta itu kemudian mendesah panjang, seolah menyesali sesuatu. “Sungguh kerendahan hati yang luar biasa. Orang-orang tidak akan mempercayaiku, tetapi sang putri sering mengunjungiku. Mungkin dia merasa aman karena aku buta, jadi dia tidak perlu takut aku akan membocorkan kecantikannya yang kabarnya sungguh ilahi. Rumah sederhanaku, hidupku, makanku, semua adalah pemberian darinya, sekalipun aku tidak buta, aku tidak akan berani untuk menghianatinya. Aku benar-benar seorang tidak berguna yang terberkati.”


“Dia sungguh baik hati,” gumam sang pangeran. “Seberapa jauh Anda mengenalnya, tuan? Maukah Anda menceritakannya pada saya?”


“Ooh tentu, apapun untuk memuliakan namanya. Aku tidak akan bicara seperti orang lain yang memuji kecantikan atau kisah heroiknya, meskipun itu semua aku akui. Tetapi aku akan mengatakan kerendahan hatinya, budi luhurnya, kasih sayangnya, semua yang hampir luput dari mata orang sehat. Baru-baru ini, setelah sang putri mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan rakyatnya, baru orang-orang sehat ini menyadari semua tindakan sederhana sang putri. Sungguh disayangkan…”


“Oh tapi jangan sedih, aku pun menangis ketika tahu dia meninggal, tetapi aku mengagungkan tindakannya. Sangat berani dan penuh kasih sayang, seperti dia yang aku kenal. Apakah kau tahu dia bisa mengalahkan hantu? Oh dia kabur dari istananya berkali-kali, melawan hantu, sendirian menaklukkan alam liar dengan kondisinya yang lemah, sungguh berani! Wanita paling berani yang kukenal! Lalu kasih sayangnya pada semua orang, menyelamatkan orang-orang yang tidak dia kenal secara pribadi, membiarkan namanya tidak dikenal, menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Sungguh kepribadian yang cantik. Cinta yang besar.” pria renta itu terdengar bersemangat.


Mendengar ini, Putra Mahkota Langit tersenyum di dalam imajinasinya. Pria ini mengatakan kebenaran. Namun kemudian dia bertanya, “Anda mengatakan bahwa kondisi sang putri lemah, bagaimana bisa?”


“Oh kau tidak tahu? Dia buta, dia buta. Itu sebabnya kami bersahabat, karena kami memiliki kesamaan.”


Putra Mahkota Langit terkejut, bahkan menghentikan langkahnya sebentar. Bagaimana?


Pria renta ini menyadari gerakannya. “Oh kau belum tahu ya? Ya, dia buta, tetapi tidak sepertiku yang hidup dalam kegelapan. Penglihatannya sangat buruk dan lemah, segala sesuatunya buram baginya dalam jarak satu langkah. Jika dia harus membaca, dia harus menempelkan ujung hidungnya, sedemikian buruknya. Tetapi sisa inderanya sangat luar biasa, terutama pendengarannya. Jika ada seratus orang berbicara di ruangan yang sama, dia bisa membedakan keseratus suara itu. Pendengarannya sangat baik sampai dia membuatku takut karena pendengaranku pun lebih menonjol daripada indera lainnya, tetapi dia bisa mendengar suara yang tidak bisa aku dengar. Menakjubkan.”


Pada saat itu ketika sang pria renta berbicara, Putra Mahkota Bumi menyadari sesuatu. Selama ini ketika dia tidak pernah melihat rupa sang putri, sang putri pun tidak pernah melihat bagaimana rupanya. Apakah Putra Mahkota Langit seseorang yang menarik baginya? Sang putri sendiri mungkin tidak tahu. Itu sebabnya sang putri hanya mengenali sang pangeran dari suaranya, dari tindakannya, dari segala sesuatu yang ia tunjukkan selama sang putri masih hidup. Dan itu semua tidak menghentikan sang putri berusaha mengenalnya lebih jauh.


Sekarang ketika dia tahu tentang hal ini, dia bertanya-tanya apakah sang putri pernah melihat refleksi dirinya sendiri yang katanya kecantikannya sungguh ilahi? Apakah dia tahu bagaimana rupanya sendiri? Dia tidak yakin. Dan dia juga bertanya, bagaimana bisa wanita itu berani mengelilingi bumi sendirian untuk berburu hantu dengan keterbatasan seperti itu? Dia pasti benar-benar seseorang dengan ilmu spriritual tinggi, mengingat bahwa darahnya adalah campuran iblis. Dia mungkin tidak butuh mata untuk mengenali sekelilingnya. Dia tidak butuh mata untuk tahu wilayah mana yang akan dia datangi, ke mana dia harus pergi, dan apa yang harus dia lakukan.


Sang pangeran kemudian menyadari hal lain. Dia baru saja menemukan definisi cintanya; cinta yang tidak memandang fisik sama sekali.


Dia secara natural tertarik pada permainan serulingnya, kemudian setelah mengetahui darah campurannya, dia mengagumi tindakan baiknya, keteguhan hatinya, kerendahan hatinya, dan kasih sayang tanpa pamrihnya. Meskipun dia tidak pernah melihat rupa sang putri hingga pada kematiannya, dia telah jatuh cinta pada wanita itu. Sekarang ketika dia tahu sang putri juga tidak pernah melihat wujudnya, dia bertanya-tanya apakah sang putri juga mencintainya karena hal yang sama?


Dia hanya menduga, tetapi kemudian sebuah ingatan meraung di kepalanya. Pada malam sebelum eksekusi sang putri, dia mendengar putri itu berkata, “Aku mencintaimu.”