
Dua hari sudah berlalu sejak hujan deras yang memaksa Faith dan Red untuk berteduh sambil makan di sebuah restoran mewah. Selama dua hari ini, mereka berjalan tanpa arah di sekitar kota, hanya mengikuti ke mana kaki mereka melangkah.
Sejatinya, mereka menunggu sebuah jiwa untuk dijemput, namun tidak ada yang tahu di mana jiwa itu berada, tidak juga Faith. Dia hanya tahu bahwa jiwa itu berada di sekitar kota tempat mereka berada, jadi dia mengandalkan takdir untuk menggiringnya bertemu dengan jiwa itu. Biasanya, selalu takdir yang menuntunnya pada sesuatu, jadi dia mempercayakannya juga kali ini.
Dewa yang mengetahui persis kapan seseorang akan mati hanya ada beberapa dewa, dan Faith tidak termasuk salah satunya. Jadi sebelum turun ke Bumi, dia bertanya kepada Dewa Pemelihara dan Pelepas Malapetaka, di mana jiwa terdekat yang bisa dia jemput. Meskipun begitu sang dewa perempuan hanya memberitahunya informasi yang terbatas; jiwa A yang tinggal di kota Z akan pergi satu hari setelah Faith menemuinya, jiwa B tinggal di kota Y akan pergi sepuluh tahun sejak Faith menemuinya, dan begitu seterusnya. Berbekal pengetahuan yang terbatas itu, Faith mengelilingi Bumi sejauh yang ia bisa. Dan karena ia sama-sama seorang dewa, dia akan segera tahu jiwa mana yang dimaksud Dewa Pemelihara dan Pelepas Malapetaka ketika dia menemukan jiwa itu.
Red masih bersamanya sepanjang waktu, kali ini tidak menghilang atau meninggalkannya sekalipun. Kemanapun Faith melangkah, dia akan menemaninya. Tidak jarang pria itu yang akan membantunya memutuskan sesuatu. Jika Faith terlalu larut bersikap sebagai seorang dewa, Red akan mengingatkannya untuk bersikap sebagai seorang manusia. Begitupun sebaliknya. Pria itu selalu saja tahu apa yang Faith butuhkan.
Hari itu, mereka sedang berjalan-jalan di sekitar area yang agak menjauh dari pusat kota, namun masih termasuk area padat penduduk. Langit hari itu agak mendung, tetapi Red tidak membuka payungnya, hanya menjadikannya tongkat berjalan. Baju yang dikenakan Faith sudah berganti menjadi gaun selutut warna putih dengan lengan sebahu, dengan cardigan warna merah bata. Red, sejatinya masih dibalut merah dan hitam, dengan turtleneck merah dan celana denim hitam. Turtleneck yang dikenakan Red membentuk postur tubuhnya yang tinggi dan ramping, gagah dengan dada bidang dan otot-ototnya yang kentara.
Seperti biasanya, lengan Faith dengan rileks melingkari lengan Red tanpa mengganggu gerakan keduanya. Dalam tampilan dan posisi demikian, keduanya terlihat seperti pasangan yang tengah berkencan, menilai dari betapa dekatnya mereka.
“Menurutmu apakah kita akan segera menemukan jiwa ini?” tanya Faith.
“Bagaimana menurut kepercayaanmu? Bukannya kamu mempercayai takdir? Menurutku, apapun yang kamu katakan akan terjadi, jadi aku percaya padamu.” Red balas berkata.
Faith tampak merenung. “Aku hanya ingin tahu apakah kali ini akan memakan waktu atau tidak…”
“Kenapa?”
“Karena ini jiwa terakhir yang harus kujemput.” Faith berhenti sejenak. “Setelah ini, aku harus kembali ke Surga dalam kondisi apapun. Dan aku belum tahu kapan aku bisa turun ke Bumi lagi.”
Red kini terdiam sejenak. “Kamu akan kembali lagi ke Bumi suatu saat, pasti.”
“Aku berencana untuk kembali lagi, mungkin kembali ke Bumi lalu ke Surga lalu ke Bumi lagi terus menerus. Apakah itu akan diizinkan?”
“Kamu hanya perlu meminta dan Surga akan mendengarkan. Jangan khawatir,” jawab Red. Dia kemudian menatap Faith. Dari matanya berkilat sebuah cahaya. “Apakah kamu khawatir harus berpisah dariku setelah selama ini selalu bersamaku, Putri?”
Faith mengkerutkan bibirnya dan tidak menjawabnya. Tetapi Red menerimanya sebagai sebuah jawaban. Setelah puas dengan jawaban itu dia kembali memalingkan matanya sambil tersenyum.
Kemudian, Faith berkata. “Bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi setelah aku kembali ke Surga kan…”
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, tetapi kini Red menggandeng tangan Faith yang masih menggenggam lengan atasnya. Bisa dikatakan karena gerakan ini, jarak antara tubuh mereka semakin mendekat. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka sama sekali tidak terganggu dengan keduanya, karena selain keduanya berjalan di pinggir, jarak yang mereka ambil meskipun keduanya bersebelahan tidak begitu lebar, sehingga orang-orang masih memiliki jarak yang lebar untuk menjaga zona nyaman mereka.
Mereka terus berjalan di sepanjang blok pertokoan dan kantor itu sambil berpegangan tangan, saat kemudian seorang pesepeda lewat di sisi mereka. Pesepeda itu berjalan searah dengan mereka, sehingga wajahnya tidak terlihat. Tetapi meskipun demikian, Faith tiba-tiba membelalak dan matanya mengikuti jalan pesepeda itu. Dia melihat ke depannya dan lampu merah di perempatan jalan masih berwarna hijau, kemudian saat dia kembali menatap si pesepeda, langkahnya tiba-tiba berhenti, memaksa Red ikut berhenti.
Pesepeda itu menyebrangi perempatan jalan dengan kecepatan normal, tidak begitu cepat tidak juga lambat. Tetapi tiba-tiba sebuah mobil menghantamnya dari sebelah kanan jalan dengan cepat. Siapapun menyadari kecepatan mobil itu cukup tinggi, dan ketika ujung hidungnya menabrak si pesepeda, sepedanya terlempar bersama sang pesepeda. Mobil itu tinggi, jadi alih-alih terpelanting ke arah datangnya mobil, si pesepeda justru terdorong ke arah berlawanan. Dan karena mobil itu mengebut sebelumnya, dia tidak bisa menguasai remnya bahkan setelah menabrak si pesepeda. Seolah memperparah keadaan, ketika mobil itu berhasil mengerem, mobil lain yang datang dari arah yang sama dengan pesepeda menabrak sisi mobilnya.
Bunyi tabrakan yang keras telah mengejutkan orang-orang yang ada di sana, dan seketika semua orang berhenti bergerak. Kemudian setelah mereka mencerna apa yang terjadi, beberapa orang berlari ke tengah jalan mendekati kendaraan dan sepeda itu, beberapa kendaraan lainnya juga berhenti bergerak.
Faith mencengkram tangan Red, lalu tanpa aba-aba menariknya berlari. Ketika melewati sebuah etalase toko, refleksi mereka di kaca berubah menjadi wujud asli keduanya.
Sang dewa yang dibalut emas menarik Roh Merah dengan tangannya, keduanya di bawah naungan payung merah. Ketika mereka mendekati gerombolan orang yang berhasil menyingkirkan si pesepeda dari lokasi kecelakaan, pria malang itu sudah berlumuran darah dari kepalanya. Tangannya yang tampak bengkok dan berbentuk aneh tampaknya telah terlindas, begitupun kakinya. Tanpa orang-orang sadari, darah mengalir dari hidung dan telinganya. Pada titik ini, tidak jelas wajah pria itu seperti apa karena darah sudah menutupinya.
Kehadiran sang dewa dan sang roh tidak sadari oleh satupun manusia disitu, jadi keduanya berdiri sedekat mungkin dengan pesepeda malang itu, menembus kerumunan orang. Salah seorang pria yang mengangkatnya dari lokasi kecelakaan masih berlutut di sebelahnya dan tampak menahan kepala si pria agar tidak berdarah lagi. Kemudian di sisi lainnya, sang dewa perempuan berlutut.
Mata si pesepeda bergerak ke atas, seperti sedang menatap Roh Merah yang berdiri dua langkah di belakang sang dewa, seolah berusaha supaya payungnya tidak menghalangi Putri Dewa dari langit. Tentu saja Surga harus melihat sang Putri Dewa mengantarkan jiwa ini, dan Selubung Buta hanya akan menghalanginya, jadi dia harus mundur.
“Tarik nafasmu pelan-pelan. Aku tahu kamu kesakitan, tapi tidak apa-apa ini hanya sementara. Aku akan terus menemanimu, oke? Jadi jangan takut.” Putri Dewa terus mengelus kepala si pria yang berdarah-darah dengan lembut. Ajaibnya, tangannya atau gaunnya sama sekali tidak ternoda darah. “Aku ada bersamamu.”
Mata pria itu berkedut, kemudian tubuhnya kejang-kejang. Perlahan kejangnya mereda, kemudian matanya kembali pada mata sang dewa. “Kamu sudah aman. Jangan takut lagi. Kamu sudah dicintai.”
Ketika mata si pria tidak menunjukkan reaksi, Putri Dewa mengalihkan pandangannya keluar kerumunan orang. Dia berdiri meninggalkan pria malang itu, kemudian menembus kerumunan orang. Tibalah dia di barisan paling belakang kerumunan orang, bertatapan dengan pria yang sama dengan pria yang sebelumnya sekarat. Bajunya masih sama, wajahnya bersih dari darah, menunjukkan mata coklat muda dan rambut gelapnya. Pria itu berdiri sambil menyakukan tangannya di jaket coklatnya, tampak sedang menatap sesuatu di balik kerumunan.
“Apakah begitu caraku mati?” pria itu tiba-tiba bertanya.
“Iya. Kamu kesakitan, tetapi tidak lama setelah ini mobil ambulans akan datang dan membawamu pergi. Tetapi pada saat itu kamu sudah tidak bersama mereka,” jawab Putri Dewa.
Pria itu mengerang sedih. “Aku hanya seorang teknisi, beruntung aku belum berkeluarga jadi aku tidak harus membawa duka pada orang lain,” gumamnya. Dia kemudian menatap sang dewa. “Aku pernah bermimpi aku selalu terjebak mimpi buruk dan rasanya selalu dikejar-kejar sesuatu yang aku tidak tahu apa. Tapi sesuatu telah membantuku, dan aku selalu bisa bangun. Apakah itu kau yang membantuku keluar dari mimpi burukku?”
“Aku tidak tahu,” jawab sang dewa. “Tetapi apapun itu, dia telah menyelamatkanmu berulang kali dan mengizinkan kita bertemu. Menurutku kamu dikelilingi energi positif yang akan selalu mengikutimu kemanapun itu, sekalipun kamu berada dalam mimpi buruk.”
Pria itu mengangguk setuju. “Aku perlu berterima kasih pada orangtuaku dulu. Bisakah kita bertemu lagi lain waktu?”
“Tentu saja.” Putri Dewa mengangkat kedua tangannya dan disambut oleh si pria. Keduanya berpegangan tangan.
“Jika aku punya kesempatan untuk hidup lagi, bagaimana aku bisa mencarimu?” tanya si pria lagi.
“Kamu tidak harus berusaha apa-apa. Jika kamu mau mengingatku, kamu akan menemukanku lagi,” jawab Putri Dewa. “Sekarang tutup matamu. Bukannya kamu mau mengucapkan terima kasih pada orangtuamu?”
Pria itu mengikuti instruksi sang dewa, kemudian menutup matanya. Sang Putri Dewa melakukan hal yang sama, kemudian dia melihat kenangan sepanjang hidup orang itu. Dia seorang teknisi yang hidup sendiri, orangtuanya berada di kota lain. Dia bekerja seminggu penuh, hidup di apartemen sederhana dan kecil. Dia pernah berpacaran, tetapi belum lama ini mereka berpisah. Kemudian dia melihat gambar mimpi buruk yang dijelaskan si pria, di mana dia dikejar-kejar oleh sesuatu dalam kegelapan, dan dia harus belari menyusuri jalanan sepi, lalu masuk ke gedung-gedung, dan tiba di antah berantah. Tetapi sesuatu selalu menariknya mundur sebelum dia bangun, menutup matanya dari belakang dan merengkuhnya lembut.
Ketika Putri Dewa membuka matanya, pria itu sudah menghilang menjadi kilauan cahaya yang naik ke langit seperti kunang-kunang. Tetapi sesuatu telah mengganjal hati sang Putri Dewa, dan dia termangu sejenak sebelum menggumamkan sebuah kata, “Ben?”
Ketika dia sadar sepenuhnya, Roh Merah sudah berdiri di belakangnya dengan payungnya. Dia mendongak menatap payung merah itu, kemudian kepada pemiliknya. “Kau ingat dulu saat aku masih hidup, aku harus berkelana sendiri di ibukota dan kau memintaku mencari kerumunan korban selamat?” tanyanya.
“Hm.” Roh Merah mengangguk.
“Sepertinya aku baru bertemu salah satunya. Itu bukan dia seutuhnya, tetapi pada kehidupan sebelumnya, dia adalah salah satu korban selamat Hari Pembersihan. Namanya Ben, seorang remaja laki-laki yang terpisah dari orangtuanya, kemudian bertahan sendiri bersama korban selamat lainnya. Remaja yang pemberani dan baik hati.” Putri Dewa menurunkan pandangannya, kemudian kembali menatap langit. “Apakah Dewa Pemelihara dan Pelepas Malapetaka sengaja mempertemukannya denganku? Apakah sang dewa sengaja mengirimku untuk mengambil jiwanya karena dia tahu siapa jiwa ini?”
Roh Merah tidak segera meresponsnya, sengaja mengambil waktu untuk berdiam diri sambil mengawasi sang Putri Dewa. “Dia salah seorang dewa yang tahu banyak hal. Tidak heran jika dia melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Kamu boleh saja percaya demikian, tetapi jangan memaksakan kehendakmu. Mungkin kamu bisa menanyakannya suatu hari nanti.”
Putri Dewa bergumam panjang. “Benar,” katanya kemudian. Dia kembali pada sang Roh Merah lalu menggandeng tangan pria itu. “Aku sudah selesai. Ayo kita berjalan-jalan sebentar sebelum kembali.”
Roh Merah menyambut tangan sang putri dengan gembira, kemudian keduanya berjalan meninggalkan tempat itu. Sekali lagi, pantulan sosok mereka di sebuah kaca etalase toko berubah. Pada penyebrangan jalan selanjutnya, keduanya sudah menjadi Faith dan Red dengan setelan yang sebelumnya mereka kenakan.
Faith baru berkata setelah mereka berjalan beberapa lama. “Setelah kita kembali, aku akan mengunjungimu lagi suatu saat. Dan jika aku bisa kembali ke Bumi, maukah kau menemaniku lagi, Tuan Arwah?”