The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Nama Li



Keesokan paginya akhirnya Ren mengantar Chao Lu ke depan pintu gerbang. Chao Lu tidak menyangka sampai di sini hubungan mereka masih baik-baik saja dan tidak terlihat mencurigakan.


Chao Lu agak membawa Ren jauh dari pintu gerbang, karena takutnya banyak pengawal penjaga pintu, jika Ren terlihat maka nanti akan tertangkap.


"Untuk saat ini aku tidak perlu membunuhnya, hanya segera memberi kabar pada Tuan Kaisar bahwa gadis ini memang keturunan Li. Dan lihat apa rencanananya setelah ini?"


Chao Lu memikirkan rencana selanjutnya bahwa ia sebenarnya ingin sekali menjebak Ren di pintu gerbang itu. Tapi ia masih belum mampu.


Ren begitu terlihat mempercayainya, bahkan menyebut dirinya adalah teman.


"Kau tahu Lu, sebenarnya aku datang kekota hanya ingin melihat cahaya terbang. Itu akan terjadi besok malam, setelah itu aku akan pergi ke tempat asalku," ujar Ren sambil menatap bintang-bintang yang berkelipan di langit.


Chao Lu duduk di samping Ren diantara api unggun itu.


"Cahaya terbang, besok malam. Maksudmu lampion?" tanya Lu penasaran.


"Yah Gulfan pernah mengatakannya itu lampion,"


"Heh! Gulfan burung kenari emasmu bisa berbicara?" tanya Lu terkejut.


Karena ceroboh Ren tidak sengaja bahwa seekor burung kenari emas mengatakan lampion itu.


"Gadis BODOH!" ujar Gulfan dalam hati yang hinggap di pundak Ren.


"Hahaha ti... Tidak sebenarnya aku tahu itu lampion tapi setelah tahu namanya aku tetap menyebut lampion itu cahaya terbang. Mereka indah sekali saat terbang kelangit, kau tahu aku sangat senang bahwa pada hari ulang tahunku lampion itu selalh di terbangkan, aku selalu melihatnya sampai ke gunung," ujar Ren terlihat berseri-seri.


Melihat wajah polos Ren. Lu jadi tidak tega jika menjebak Ren di pintu gerbang nanti, lagipula belum ada perintah untuk menghabisinya dan setidaknya biarkan Ren melihat lampion itu secara dekat.


"Jadi ulang tahunmu besok ya, kebetulan sekali bertepatan dengan Kaisar Xiaou Zen,"


"Tapi aku lihat Kaisar Xiaou Zen sedikit lebih tua dariku?" tanya Ren.


"Yah sepertinya kalian hanya beda tahun dan tanggal ulang tahun kalian sama,"


"Itu sebabnya mereka selalu melepas lampion ternyata memperingati ulanh tahun kaisar ya,"


"Aku sudah mengatakannya Ren bodoh!" ujar Gulfan kesal karena Ren tidak menanggapi perkataannya pada hari itu.


Pada malam itu ketika mendengar impian Ren yang begitu sederhana ia jadi tidak ingin menempatkan gadis ini dalam bahaya.


Sekarang dia hanya hidup sebagai gadis sebatang kara, mungkin selama di pedalaman gunung itu. Banyak sekali impian yang terkubur.


Tunggu! Sejak kapan ia punya hati nurani ini?


Meski begitu ia tetaplah seorang manusia biasa dan mengerti kesedihan wanita lain. Lu tidak ingin membahayakan Ren jika ingin sebenarnya ia ingin sekali berteman baik dengan Ren.


Tapi ia hanyalah seorang pembunuh bayaran kerajaan, teman itu? Ia tidak butuh teman. Yang ia butuhkan hanya rumah, pakaian, makanan dan uang itu saja.


Lu menerima panggilan dari mantan kaisar Xioau lalu memasuki ruangannya.


"Chao Lu datang memberi laporan tuanku," ujar Lu sambil membungkuk hormat.


"Jadi! Apa kau menghabisi gadis kecil itu?"


"Maafkan Chao Lu, tuanku hanya memperintahkan untuk menemukan jejaknya dan mencari tahu latar belakangnya gadis itu memang benar dia adalah Li anggota Li yang tersisa,"


"Lalu kenapa kau tidak menghabisinya?"


"Maaf tuanku, sebelum itu Chao Lu akan melaksanakan tugas ini. Tapi! Gadis ini tidak terlihat berbahaya,"


"Kau di bayar tinggi untuk ini, jika gadis itu lolos maka pasti akan ada lagi pemberontakan, sebelum tanaman bahaya ini tumbuh maka harus menghancurkan dari akarnya sehancur-hancurnya! Kau mengerti!"


"Maafkan Chao Lu sudah lancang mempresangka, baiklah malam ini pasti Chao Lu akan menghabisinya,"


Tiba-tiba ia di sergap dan di bawa ke tempat yang sepi.


"Lepaskan!" berontak Lu.


"Katakan dimana gadis itu!" ujar seorang pria mencekiknya.


Chao Lu di tekan ke dinding ia melihat pria yang di depannya ini ternyata pengawal sekaligus penasihat sang kaisar, ya di adalah Bai Ling.


"A... Apa yang kau inginkan?" tanya Lu menahan rasa sakit cekikan keras itu.


"Aku tahu kau telah melapor kepada tuan besar, dan mengenai gadis itu jangan kau sentuh dia sehelai rambutpun!"


Dengam seluruh tenaganya Chao Lu melepaskan diri dari Bai Ling, setelah terlepas ia menyerang Bai Ling lalu melarikan diri ke kediamannya.


"Bahaya! Aku harus menemukannya. Li, apa benar dia dari anggota Li?"


Sekilas Bai Ling menguping pembicaraan Chao Lu dan mantan Kaisar itu.


Gelar kaisar masih belum lepas darinya. Nanti malam akan di nobatkan secara resmi bahwa Xiaou Zen adalah kaisar selanjutnya dan posisinya dari pengawal juga akan naik menjadi penasihat Xiaou Zen.


Xioau Zen melihat Bai Ling yang berjalan terburu-buru, lalu melihat beberapa prajurit di perintahkan dan prajurit itu pergi setelah menerima perintah dari Bai Ling.


"Ada apa? Tidak biasanya Ling menunjukan wajah gelisah sekaligus ketakutan itu, apa ada yang mengganggunya?"


Xiaou Zen akhirnya memutuskan untuk menyapa Bai Ling.


"Ling, apa terjadi sesuatu?" tanya Zen langsung pada inti.


"Maaf Tuan sebenarnya aku takut untuk memberitahu ini padamu," ujar Ling mengalihkan pandangannya pada Zen.


"Aku penasaran apa yang telah mengganggumu, kau bisa memberitahuku?"


"Tuan, saat ini Tuan Kaisar sudah tahu rumor gadis misterius itu,"


"Maksudmu gadis yang tak sengaja kita temui beberapa waktu lalu?"


"Yah, tadi aku sempat mendengar pembicaraan tuan kaisar dengan Chao Lu untuk membunub gadis itu,"


"Apa! Kenapa? Kenapa ayah langsung memutuskan untuk membunuh gadis itu?" tanya Zen terkejut tak percaya.


"Latar belakang yang takut menjadi ancaman bagi kerajaan kita, gadis itu... Gadis itu anggota Li," jelas Ling.


"Hah! Li?"


Zen tidak percaya apa yang telah ia dengar maksudnya gadis itu bermarga Li, seluruh anggotanya telah terbantai karena melakukan pemberontakan dan upaya untuk mengambil batu giok hijau itu.


Seketika mendengar penjelasan itu, hati Zen terasa hancur. Keluarga Li adalah musuh dalam selimut sendiri dan berupaya untuk menjatuhkan kaisar agar mereka bisa memimpin.


"Pantas saja ayah menyuruh Chao Lu membunuhnya, seperti samar aku dulu pernah melihatnya saat sedang sakit di obati di sini bersama ayah dan ibunya," jelas Zen ketika mengingay wajah gadis kecil yang sedang sakit itu. Dan sekarang ia kembali menemukanya.


"Pada saat itu aku ingin sekali melihaynya lagi, tapi tak ku sangka diriku yang kecil dulu tidak tahu menahu tentang politik dan pemberontakan itu. Yang ku tahu saat keluarga Li menjadi musuh, aku juga bertekad untuk menghabisi seluruh anggotanya,",


Wajah Zen terlihat begitu serius, ia terlihat kesal tapi juga kecewa.


Gadis itu hanya di temuinya dua kali saat kecil dan beberapa hari yang lalu. Ya meski saat kecil bukan menemui melainkan melihay gadis kecil manis itu sedang sakif dan ibunya pergi dari istana.


Saat melihat di cermin jendela kamarnya itu.


Tapi anggota Li merupakan anggota yang paling di bencinya seumur hidup.


Tapi gadis ini membuatnya juga kacau. Apakah ia benar-benar jatuh cinta pada gadis Li ini?