
Tidak ada pilihan lain selain tinggal di desa selatan untuk sementara waktu, ia akan mencoba menyembunyikan identitasnya dengan bantuan Gulfan.
"Ren, tebing ini tinggi sekali apa kau yakin mau menaikinya?" tanya Gulfan tidak yakin.
"Apa kau bodoh! Kau bilang kau punya sentuhan ajaib, apa tidak bisa membuatku naik keatas sana?"
"Yah memang benar, tapi kekuatanku masih 80% kau tahu membuatmu tetap hidup ketika jatuh dari jurang itu membutuhkan kekuatan yang besar," jelas Gulfan.
"Ah benar juga Gulfan sudah menyelamatkan aku," ujar Ren tersenyum.
"Baiklah aku akan menggunakan kemampuanku, membuatkan jenjang untukmu. Ini juga membutuhkan kekuatan besar,"
"Mengerti!"
Gulfan menutup matanya, tubuhnya bersinar seterang emas.
Satu-persatu terbentuk sebuah pijakan di tebing itu.
Gulfan mengeluarkan seluruh kekuatannya sampai membentuk semua pijakan sampai keatas tebing, keringat mengucur menandakan kalau ia telah kehabisan energi.
Gulfan langsung pingsan dan terjatuh. Ren langsung menangkap Gulfan yang terlihat kelelahan.
"Gulfan, seharusnya kau tidak memaksakan diri jika kekuatan mu belum sepenuhnya," ujar Ren khawatir.
"Tidak apa-apa kau sekarang naiklah,"
Ren akhirnya menaiki pijakan itu sambil membawa Gulfan, satu-persatu Ren pijaki. Akhirnya sampai kedesa Selatan masih di dalam pedalaman hutan.
Terdengar tapak kaki kuda yang berlari sangat kencang.
Kuda hitam dengan topeng, serta seorang laki-laki yang menungganginya dengan memakai topeng.
"Awas bahaya!!!!" soraknya.
Ren sadar bahwa ia berada di posisi yang tidak aman.
"Hah!"
Ren panik, kuda itu semakin melesat dengan gila bahkan penunggangnya juga kewalahan mengendalikan kuda hitam itu.
Tidak ada pilihan lain sebelum gadis itu terluka ia pun langsung turun dari kuda yang sedang berlari itu. Lalu mendorong Ren bersamanya.
Hampir saja terkena tabrakan kuda itu. Ren merasa kalau tubuhnya berat sekali seperti ada beban yang menimpanya.
Kuda hitam itu akhirnya tenang sambil memakan rumput.
Ketika Ren membuka matanya, alangkah terkejutnya pria itu menimpanya sambil memeluknya erat.
Kepalanya masih terasa pusing karena benturan ke tanah serta tubuhnya di timpa oleh pria besar itu.
Pria itu sadar lalu mengangkat tubuhnya, ketika ia melihat ada seorang gadis di bawahnya. Pria itu terkejut.
Topengnya terbuka lalu menampakan wajahnya.
"Heh!"
Terlihat rambut biru cerah panjang yang di kuncir, mata birunya yang secerah air laut. Dan pria itu ada di di atas tubuhnya.
Sama dengan pria itu, ia melihat Ren dengan terpesona. Gadis yang sangat cantik berada tepat di dekatnya dengan posisi sedekat ini.
Bibir ranum yang mungil, rambut cokelatnya yang panjang serta mata yang cantik, dan kulit putih sebening batu giok gadis ini benar-benar seperti dewi.
Wajah Ren langsung memerah menyadari kalau baju yang ia pakai sedikit berantakan serta menampakan belah dadanya.
Wajah pria itu juga memerah dan langsung sadar karena tatapannya beralih kearah situ.
"DASAR MESUM...!" ujar Ren langsung mendorong pria itu dari atas tubuhnya.
Pria itu terhempas cukup jauh ia merasa sangat terkejut melihat gadis ini semarah itu. Dan parahnya sekarang ia tanpa topeng.
Ren langsung membenari bajunya. Sadar kalau Gulfan masih ada di tangannya.
"Maaf, apa kau terluka?" tanya pria itu.
Ren masih membelakangi pria itu malu untuk bertatap muka setelah apa yang terjadi. Tapi ngomong-ngomong sebenarnya pria itu telah menolongnya, kalau tidak di dorong mungkin saja ia sudah tertabrak oleh kuda itu.
Jika di pikir-pikir pria ini mengenakan pakaian rapi dan jubah yang terlihat mewah. Mungkinkah itu anggota kerajaan?
Matilah jika benar mungkin saja ia telah menyinggung perasannya, harus cepat minta maaf kalau tidak mau nyawa terancam.
Ren menatap pria itu takut.
"Ma... Maaf karena telah mendorongmu seperti itu, kau boleh memarahiku tapi jangan bunuh aku!" ujar Ren langsung bersujud.
"Heh!" pria itu bingung lalu tertawa kecil melihat tingkah lucu gadis ini, sepertinya gadis ini sadar kalau ia adalah orang penting di desa ini.
Pria itu berjongkok di depannya sambil menjulurkan tanganya mengajak gadis itu berdiri bersamanya.
"Maaf membuatmu terkejut, sebenarnya Uma adalah kuda yang masih baru jadi aku belum bisa menaklukinya menjadi kudaku," jelas Pria itu mengambil tali kudanya lalu mengikatnya pada rumput-rumput hijau itu.
"Heee benarkah, kuda ini cukup manis," Ren mengelus kepala kuda itu. Pria itu terkejut terlihat Uma yang patuh padanya.
"Uma, namamu cantik sekali," ujar Ren tersenyum sambil mengelus kuda itu.
Melihat senyuman itu membuat jantungnya berdebar kencang. Wajah itu, senyum itu sungguh manis.
"Wah aku terkejut kau bisa membuatnya jinak," pujinya.
"Ah tidak, aku hanya mengelusnya," ujar Ren malu-malu.
"Oh ya aku Kaisar dari kerajaan XiaouXiang namaku adalah Chagoi," ujarnya memperkenalkan identitasnya.
Ren sangat terkejut ketika tahu dia adalah kaisar, sebelumnya Gulfan pernah bilang kalau dia adalah Kaisar terkejam bahkan untuk naik tahta ia membunuh ayahnya yang sedang sekarat benar-benar keji.
"Dan kamu siapa? Lalu apa yang di lakukan di sini?" pertanyaan double darinya.
Ren terlihat panik, haruskah ia lari saja? Bahkan tujuannya tidak akan sampai bertemu dengan kaisar ini. Ia hanya lewat sebentar sebelum menyusun rencana mencuri giok itu.
Terlihat ekspresi tenang Chagoi yang dengan senang hati menanti jawabannya.
Tapi jika lari dengan keadaan seperti ini hanya membuatnya curiga lalu menangkapnya.
"Aku Li, eh maksudku. Aku Ren, aku hanya tersesat sampai kesini, heheh," ujar Ren mencoba menyembunyikan identitasnya.
Namun wajah tenang itu segera berubah menjadi tajam, aura di sekitar kaisar itu merasakan kekegelapan yang mendalam.
Terlihat jelas kalau Chagoi curiga padanya.
Chagoi mengeluarkan pedangnya menatap Ren dengan tajam.
Mungkinkah dia benar-benar curiga? Chagoi mendekati Ren dengan pedangnya.
Ren yang merasa panik segera mundur.
"Kaisar, kau mau apa?" tanya Ren panik.
Chagoi mendekat, lalu mengayunkan pedangnya.
"Kyaaaaa," pekik Ren.
Woshhh...
"Ukh...,"
Chagoi menusuk dengan pedangnya.
Ren membuka matanya ketika itu ia terkejut kalau Chagoi memeluknya.
Lalu yang di tusuk itu...
Adalah beruang hutan yang sangat besar yang hampir saja menerkam Ren.
Apa menyelamatkannya?
Ketika sadar Chagoi kembali menyelamatkannya.
"Ka... Kaisar?"
"Tenang saja, tidak apa-apa beruang itu tidak mati dia hanya tertidur," ujarnya sambil tersenyum.
Terlihat senyum itu biasanya saja.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu kedesa, apa kau tahu dimana rumahmu?" tanya Chagoi menaiki kudanya.
"Ah... Itu di kota," jawab Ren tidak tahu harus menjawab apa, kali ini ia pasti sudah di curigai.
Terlihat Chagoi yang terdiam sejenak lalu tersenyum sambil menjulurkan tangannya kepada Ren.
"Heh?"
"Di sini bahaya, naiklah," ujar Chagoi.
Terlihat Ren yang ragu-ragu lalu menerima juluran tangan itu dan akhirnya mendapat posisi di depan Chagoi.
Wajah Ren memerah karena berada di di dada Chagoi. Begitu dekat sehingga bisa mendengat detak jantungnya.
Chagoi segera memberi arahan dan sang kuda berlari dengan santai.
Next