
Gulfan terbang mengelilingi istana memastikan Ren sudah masuk atau belum.
Di kejauhan ia melihat Chao Lu yang mengendap-endap mencurigakan.
Gulfan mendekati Chao Lu. Chao Lu yang melihat Gulfan terbang kearahnya agak menjauh dan ini mengartikan bahwa Li Ren memang datang kesini.
"Dimanakah Ren, apa dia sedang menuju kesini?" tanya Lu pada Gulfan yang hinggap di dekat nya.
"Chip, chip, chip,"
"Mengerti!" ujar Lu lalu bergegas untuk menjemput Ren.
"Heh! Dia mengerti bahasaku selain Ren? Tidak pasti itu hanya tebakan saja. Karena kan aku berbicara dengan isyarat," ujar Gulfan heran sendiri karena Lu bisa mengerti perkataannya.
Sementara Ren sudah sampai di pintu gerbang istana.
Pintu itu terbuka lebar dan terlihat banyak tamu yang megah memasuki pintu gerbang itu.
Tidak terlihat seorang pelayanpun yang berdiri di tamu istimewa itu. Yah pelayan hanya di dapur dan mengambilkan semua kebutuhan tamu dan kaisar. Jadi sepertinya tidak baik untuk menerosbos masuk di kalangan tamu bergelar itu.
"Ren!" panggil seseorang dari belakang membuat Ren terkejut yang ternyata adalah Chao Lu yang berpakaian pelayan juga.
"Lu,"
"Lihat pakaian ini sempurna sekali, lihat dandanan mu cupu sekali hahahah," ujar Lu memandang Ren dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ren, kau baik-baik saja?" tanya Gulfan yang langsung hinggap di pundak Ren.
"Iya aku sangat baik dan juga bersemangat," ujar Ren dengan wajah polos serta mata yang berbinar-binar.
Melihat itu Lu tidak dapat menahan tawanya, ia pun tak tahan menahannya lalu tertawa lepas.
"Mustahil baru kali ini aku melihat orang mempunyai impian yang luar biasa konyol ini hahha,"
"Konyol! Apa maksudmu Lu, impianku ini sangat luar biasa kau tahu hanya sekali setahun pada musim semi aku bisa melihat ini," ujar Ren sedikit cemberut.
"Yasudah ayo kita lewat pintu belakang, gerbang ini hanya boleh tamu penting saja yang masuk," jelas Lu menarik Ren bersamanya.
"Sial baru pertama kalinya aku tertawa le0as seperti ini!" ujat kata hati Lu.
Mengingat malam ini ia akan mengambil hidup Ren, hidup yang mempunyai impian sederhana ini.
Ren di tarik keatas di atas menara istana, tinggi sekali dan terlihat dari atas sini semuanya terlihat kecil dan jauh.
Hutan-hutan terlihat dari atas, kota yang bersinar di malam hari serta sinar bintang yang begitu terasa dekat.
Pemandangan dari atas ini luar biasa.
"Sebentar lagi lampion akan di terbangkan, ini ambil lah," ujar Lu memberikan lampion pada Ren.
Ren menerimanya dengan sangat senang, lampion yang seperti balon udara yang berukuran kecil.
"Ini ada gantungan kertas kau bisa menulis impianmu di sini," jelas Lu lagi menunjukan selembat kertas seperti jimat yang ingin di tulis.
"Yang ku inginkan?" Ren penasaran, ternyata cahaya ini bisa mengabulkan keinginan.
"Iya, lampion ini di percaya akan membawa pesan kepada dewa keberuntungan yang akan memberi kita nasib baik dari jimat yang kita tulis ini,"
"Oh begitu, hebat sekali lampion ini,"
Ren dan Lu mulai menulis keinginanya di jimat lampion itu.
Sementara di aula istana, banyak sekali Xiaou Zen mendapat hadiah dan ucapan selamat.
"Selamat berusia ke 20 tahun sahabatku," ujar Yuan Jiang memeluk Xiaou Zen dan di balas senyuman oleh Xioau Zen.
"Hormat kepada kaisar Xioau Zen, panjang umur dan semoga anda sehat selalu," ujar Xiu Ye memberi hormat serta ucapan istimewa.
"Kaisar sudah lama sejak kita bersama dan aku memutuskan untuk mengabdikan hidupku di istana ini dan melindungimu, kau sudah tumbuh dan gelarmu akan resmi. Maka terimalah ucapan ulang tahun ini dari penasihat dan teman masa kecilmu ini," ujar Bai Ling juga memberi hormat serta ucapan rasa syukur.
Xiaou Zen sangat bahagia ulang tahun yang megah, serta memiliki banyak orang yang mencintainya.
"Sahabatku, Xiaou Zen selamat ulang tahun untukmu yang ke 20 segeralah cari istri dan membuat anak agar menjadi penerusku nanti," sambutan dari Kaisar Minxue dari kerajaan Ay.
"Heheheh tidak ku sangka kau akan datang, tapi aku masih ingin sendiri dan tidak berpikir cara membuat anak," ujar Xiaou Zen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Minxue adalah sahabat negara tetangga, dulu ia sering mengunjungi Minxue dan Minxue juga sering mengunjunginya.
Menjadi fondasi kuat dua kerajaan bersatu. Minxue sudah menjabat kaisar sejak usia 18 tahun karena kaisar ayahnya mendapat penyakit lalu meninggal dan Minxue naik tahta.
Gong berbunyi dengan keras menandakan bahwa telah mencapai acara puncak.
Semua orang berbaris rapi di aula. Sebuah karpet merah terbentang, sang mantan Kaisar menaiki singgasana.
"Di persilahkan menaiki singgasana Xiaou Zen putraku,"
Xiaou Zen yang di panggil akhirnya menaiki singgasana menghadap ayahnya yang mulai renta dan tak berdaya, namun aura ayahnya sebagai kaisar masih sangat kuat dan tatapan mata yang tegas itu.
"Hari ini, aku menyatakan bahwa keturunanku. Xiaou Zen putraku akan menjadi penerusku yang ke VI,"
Sang ayah mengambil mahkota dan sang putra menundukan kepala dan terpakailah mahkota itu.
"Anakku selamat ulang tahun," ujar sang ayah tersenyum lembut.
Xiaou Zen sangat bahagia melihat senyuman itu. Mengingat sudah berapa lama ayahnya tidak tersenyum seperti itu lagi.
Ayah yang kuat, pekerja keras, tidak tahu makam atau siang, ia selalu berada di ruang kerjanya, rapat, dan menyelesaikan tugasnya sebagai kaisar.
Entah berapa lama sejak itu Xiaou Zen jarang melihat ayahnya di istana dan untuk kali terakhirnya ayahnya kembali memperlihatkan senyuman itu.
"Baikah, terima kasih atas partipasi kalian yang telah hadir di sini. Seperti yang kalian saksikan bahwa aku telah menjadi kaisar di kerajaan Qing. Tidak perlu berbasa basi karena mulai sekarang aku yang memimpin dan untuk awal aku akan mengatur tata ulang kerajaan ini," ujar Xiaou Zen berpidato.
Gong kembali berusara keras.
"Hidup Kaisar Xiaou Zen, hidup!"
"Hidup Kaisar Xiaou Zen, hidup!"
"Hidup Kaisar Xiaou Zen, hidup!"
Sorak banzai para hadirin dan semuanya.
Dan tibalah di acara puncak, semua orang mendapat satu lampion dan mulai menerbangkannya.
"Lihat! Lampion itu berterbangan," tunjuk Lu seperti ribuan lampion telah di lepaskan.
"Wah cantiknya,"
"Ayo kita terbangkan juga," ujar Lu yang di balas anggukan oleh Ren dengan mata yang berbinar-binar.
Tap tap tap
Terdengar suara langkah kaki menuju mereka. Membuat Ren dan Lu tidak jadih menerbangkan lampion mereka.
"Hah! Apakah ada yang menaiki menara juga," ujar Lu sedikit waspada yang langsung mengeluarkan pedangnya.
Ren terkejut karena Lu punya benda berbahaya seperti itu.
Tunggu! Chao Lu hanya pelayan biasa kan?
Next