
Tanpa sadar para pengawal Chagoi telah mengepung Villa dan memeriksa satu persatu kamar penginapan.
Gulfan langsung terbang kearah Ren dan memberitahu bahwa Chagoi telah mengetahui lokasi persembunyiannya.
Ternyata pemilik Villa ini telah mengetahui identitas Ren, ketika ia menulis daftar tamu dan menulis nama lengkapnya Li Ren.
Dan mengatakan bahwa Ren menyamar menjadi seorang laki-laki.
"Gawat Ren kita harus kabur dari sini!" ujar Gulfan panik.
"Gulfan bagaimana dengan kekuatanmu?" tanya Ren melihat dari balkon villa kalau villa ini telah di kepung luar dalam oleh para tentara Chagoi.
"Dimana dia? Akan ku penggal dia hidup-hidup, Li Ren keluar kau!" terdengar teriakan Chagoi dari ruanh tamu villa.
"Gawat! Chagoi ada di sini," ujar Ren mulai panik, ia melihat jam dinding ini masih tengah malam sekitar jam 1 malam.
Semua lampu kota kembali berkelip karena mengetahui bahwa kaisar Chagoi telah turun tangan dari istana Xiang.
"Apa ada cara lain Gulfan, mereka telah tahu penyamaranku," ujar Ren panik.
"Ren, serahkan saja padaku. Karena aku menyayangimu maka aku akan melanggar janji ini," ujar Gulfan tersenyum canggung.
"Maksudmu? Janji apa? Kau tidak boleh meninggalkanku!" ujar Ren terlihat hampir menangis.
"Ren, ini permainan yang hanya bisa kau melewatinya. Aku hanya seekor burung kenari emas aku juga telah banyak melanggar janjiku pada dewa," jelas Gulfan.
"Maksudmu?" tanya Ren semakin takut mendengar akan jawaban Gulfan.
"Aku sebenarnya hanya bertugas menyampaikan pesan takdir ini padamu dan setelah aku memberimu pesan ini maka aku akan kembali ke langit," jelas Gulfan.
"Gulfan, kau jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda, sebenarnya aku tidak boleh menggunakan sihirku terlalu banyak bahkan dalam 80% kekuatanku aku selalu memaksanya untuk menyelamatkanmu. Kali ini aku akan memberi pesan terakhir dan aku akan melepaskan kekuatan besar ini," jelas Gulfan lagi, tubuhnya mulaidi selimuti oleh cahaya emas.
"Gulfan, Gulfan, kau tidak boleh meninggalkanku! Gulfan kau tidak boleh!"
Ren terhempas kuat ke dinding ketika hendak mendekati Gulfan.
"Gul... Fan," ujar Ren mencoba untuk menggapai Gulfan, namun kesadarannya mulai hilang dan akhirnya pingsan air matanya sempat jatuh ia menangis.
"Ren maaf jika selama ini aku selalu membuatmu repot, selalu memakan bagianmu, nakal. Tapi mulai sekarang aku akan tetap hadir menjadi petunjuk mimpimu. Terima kasih untuk waktunya dan selamat tinggal, kau adalah wanita kuat aku yakin itu untuk takdirmu di usia 18 tahun, Ren adalah gadis kuat!"
Tetesan bening jatuh dari mata mungil itu, seluruh villa bersinar sangat terang menerangi satu negara ini.
Cahaya emas yang menyilaukan sehingga semua orang tidak tahan melihat kesilauan ini.
"Cahaya apa ini?"
"Terang sekali,"
"Aku yakin asalnya dari kamar atas sana," tunjuk salah seorang prajurit Chagoi.
"Tcih, Li Ren kau tunggu saja!" ujar Chagoi berusaha menembus cahaya itu.
Gulfan menangis sambil mengingat semua memorinya bersama Ren.
Dari saat ia bertemu dengan Ren, hingga merubah kehidupan Ren seperti sekarang.
Saat Ren marah adalah hal paling menyenangkan menjahilinya sampai marah, ketika Ren sedih ia tidak punya kata-kata penghibur untuk menenangkan Ren dan pada waktu itu ia hanya akan duduk dipundak Ren hingga Ren berhenti menangis, saat Ren tertawa itu adalah saat yang paling menyenagkan ketika mendengar gadis ini tertawa, saat Ren tersenyum gadis ini benar-benar cantik seandainya Gulfan adalah manusia tampan. Siapa juga yang tidak tertarik pada Ren.
Gulfan mengeluarkan seluruh kekuatannya dan meneleport Ren ke perbatasan gunung.
Saat itu pintu kamar terbuka dan Chagoi melihat bahwa tubuh Ren seperti akan di telan oleh cahaya itu.
Chagoi melihat sumber cahaya itu ternyata seekor burung kenari emas tengah mentransfer kekuatannya pada Ren.
Sadar kalau tubuh Ren hendak menghilang bersama burung itu. Chagoi segera menggapai tubuh itu dan_
"Tcih, sialan!" decak Chagoi kesal.
"Mau bermain petak umpat denganku! Hahahha akan ku cari kau sampai keujung dunia sekalipun Li Ren,"
Mata cokelat keemasan itu mengerdip beberapa kali, tetesan-tetesan air membasahi wajahnya.
Ketika mata itu terbuka sepenuhnya ia hanya melihat awan hujan yang membasahinya.
Sambil mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, ia kembali menangis ia telah kehilangan partner yang paling berharga dalam hidupnya.
Ia masih tidur tergeletak di tanah basah tidak berdaya, ia menoleh kesamping melihat sebuah pedang dengan hiasan emas di pegangannya dan sebuah permata cokelat yang berada di tengah pegangan pedang itu.
"Gu... Pedang? Hujan, dingin, ini gunung perbatasan ya," ujar Ren ketika menyadari kalau ia berada di perbatasan gunung.
"Yo, selamat datang kembali,"
Seorang pria langsung berada dekat dengan wajahnya.
Ren langsung terkejut ketika melihat wajah seorang pria yang tak asing berada di atasnya hanya berjarak beberapa centi saja.
"Kau?" ujar Ren dengan mata membelalak.
"Ingat aku?" tanya pria itu.
Sang pria mulai mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir mungil Ren sambil menindihbadannya.
"Humm," Ren terkejut ketika bibirnya di sambar begiti tiba-tiba, ciuman itu sangat dalam sehingga Ren rasanya akan kehabisan nafas.
Ren berusaha mendorong tubuh kekar itu dari atasnya dengan sekuat tenaga.
Dengan cepat tangannya langsung di pegang erat oleh pria itu, lalu melepaskan ciumannya.
"Aku merindukanmu," ujarnya dengan wajah merona sambil tersenyum.
"Jenderal, Xiu... Ye!"
Ren sangat terkejut ketika Xiu Ye sang jenderal kerajaan Qing berada di perbatasan gunung bahkan menemukannya.
Gawat jika ia di bawa keistana untuk di bunuh.
Ren langsung mendorong tubuh Xiu Ye dari tubuhnya dengan sekuat tenaga. Xiu Ye sedikit terdorong dan akhirnya Ren melepaskan diri sambil membawa pedang emasnya.
Ren langsung menghadang Xiu Ye dengan pedangnya.
"Jangan mendekat atau pedang ini akan merobek tubuhmu!" peringatan dari Ren.
"Maaf, aku membuatmu terkejut ya, aku tidak akan membawamu keistana dan tidak akan menyakitimu," ujar Xiu Ye datar sambil mengangkat tangannya menyerah.
"Apa... Apa maksudmu? Kau jangan bohong. Kau, kaisar dan kalian semua ingin membunuhku untuk apa aku harus percaya padamu!" ujar Ren tetap menghadang Xiu Ye dengan pedangnya.
Xiu Ye tetap maju dan Ren terus mundur, seakan tangannya bergetar ketakutan untuk mengayunkan pedangnya.
Dengan sedikit keberanian, Ren langsung mengayunkan pedangnya dan dengan cepat Xiu Ye menangkis pedangnya dan merebut pedang Ren.
Xiu Ye langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku!" ujar Ren memberontak.
"Untuk saat ini hanya aku yang dapat kau percaya, semua peninggalanmu di rumah itu telah terbakar habis oleh tentara kerajaan Qing. Jika kau kesana kau hanya akan mengantarkan nyawamu pada Xiaou Zen," jelas Xiu Ye sambil memeluk Ren.
"Apa!"
Next