The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Takdir Cinta



Semenjak Gulfan pergi dan tinggal di kediaman Ye. Ren merasa kalau hari-harinya terasa sepi meski Ye terus menggodanya ia masih belum terlalu percaya dengan Ye dan bahkan masih sering menghindarinya.


Ketika Ye pulang dari tugasnya di kerajaan, Ren selalu mengurung dirinya di kamar dan tidak akan keluar sebelum Ye pergi.


Ye pun sering bingung dengan tingkah Ren akhir-akhir ini, merasa kalau dirinya tidak dianggap ada oleh Ren.


Ia juga sering menanyakan keadaan Ren dan aktivitas apa saja yang dia lakukan seharian ketika ia sedang bertugas.


"Nona Ren selalu melakukan aktivitas normal seperti sarapan pagi, makan siang dan makan malamnya agak terlalu cepat sejam sebelum anda pulang bahkan Nona Ren selalu belajar berpedang dengan kepala pelatih Su," jelas pengawal gerbangnya tentang jadwal Ren sehari-hari.


Ini sudah berlalu seminggu, tetap saja sikap Ren ketus dan dingin padanya.


Mungkin apakah ia jarang memberi Ren perhatian? Atau mungkin Ren ingin pergi berjalan-jalan kekota?


Ye pun berpikir untuk membuat rencana besok.


Karena masalah dengan kerajaan Xiang sudah selesai. Meski kerajaan Xiang menolak untuk membantah mereka tetap memburu Ren.


Setelah makan dan mandi, Ye ingin menyampari Ren di kamarnya.


Ye mengetuk pintu kamar Ren.


Tak lama Ren keluar dengan wajah cemberutnya. Ye yakin kalau dia sedang tidur nyenyak, bahkan wajah mengantuk dengan rambut acakannya saja tetap membuatnya imut.


Bagaimana bisa Ye mengorbankan gadis seimut ini?


"Je... Jendral Ye," ujar Ren terkejut, lalu sadar akan penampilannya yang acakan bahkan memakai dress tidur yang memperlihatkan belah dadanya.


Refleks mata Ye langsung tertuju pada dress tidur seksi Ren.


Dress putih panjang sampai mata kaki dan memperlihatkan tangan, leher, punggung dan dadanya.


Sejak kapan di kastil ada dress yang menggoda seperti ini.


Wajah Ren langsung memerah ketika ia lupa memakai jubah untuk menutupi lekuk tubuhnya, malah Ye terus memandanginya.


Ye juga hanya mengetuk pintu dan tidak memanggilnya, Ren mengira kalau itu adalah pelayan wanita yang menjaga pintu kamarnya. Ternyata seorang monster yang berdiri di depannya.


"Bajumu?" ujar Ye masih tak berpaling melihat dress seksi itu.


"Hueee maaf, aku tidak sopan_" Ketika Ren hendak balik ke dalam kamar ia langsung di tarik kedalam pelukan Ye. "Hah!"


Ye memeluknya dari belakang, dua lengan kekarnya memegangi perut ramping Ren dan kepalanya bersandar di pundak Ren.


"Baumu wangi sekali," bisiknya ke telinga Ren.


"Heh!" Seluruh badan Ren bergetar, wajahnya merah padam dan juga menahan malu karena mereka melakukannya di depan pintu kamar yang terbuka.


Cup...


Ye memberikan tanda kepemilikannya di leher Ren.


Tubuh Ren mengejang karena geli dan juga sambil memberontak melepaskan diri dari Ye.


"Maaf tuan jenderal bisa lepaskan saya! Jika tidak ada urusan penting bisakah saya kembali tidur?" ujar Ren dengan nada agak marah.


"Kau ingin tidur ya? Baiklah, aku akan membuatmu tidur nyenyak malam ini," Ye langsung menggendong tubuh mungil Ren kedalam kamar lalu mengunci pintu.


Ren di lepaskan dari gendongan itu. Ren segera berlari ke seluruh penjuru kamar.


Karena merasa bahaya kalau ia terperangkap di dalam kamar bersama monster.


"Tuan Jenderal mohon jaga kesopanan anda, kau tidak melakukannya padaku kan?" tanya Ren mulai ketakutan.


Ye hanya tersenyum sinis lalu menarik Ren kekasur dan langsung menindih tubuhnya.


"Kyahh,"


Ren melihat dengan dekat tubuh Ye yang kekar dengan penutup baju tidur yang memperlihatkan dada bidangnya.


Sekarang ia ada di posisi bawah menatap Ye dengan tatapan belas kasihan.


Ye tersenyum sinis mendekatkan wajahnya ke arah Ren.


"Untuk beberapa hal kenapa kau menghindariku sampai sekarang?" tanya Ye memilih melepaskan Ren.


Ren langsung mundur beberapbeberapa langkah mengambil selimutnya dan menyelimuti dirinya sambil ketakutan.


"Jangan takut aku tidak seganas yang kau kira," ujar Ye duduk di tepi ranjang Ren.


"Untuk beberapa hal kau jangan menyentuhku, aku tidak menghindarimu hanya saja aku lebih suka mengurung diri dan berlatih agar aku kuat dan membalas dendam pada Xiaou Zen!" ujar Ren menunjuk Ye.


"Balas dendam? Apa kau tidak takut nyawamu terancam? Kerajaan selatan mengincarmu, kerajaan tetangga Kin juga mencarimu dan di wilayaj sendiri masih menjadi buronan yang harus mati! Kau bisa melakukannya sendiri?" tanya Ye menatap Ren dengan senyuman sinisnya.


Ren baru sadar bahwa benar saja saat kejadian yang telah terjadi maka Ren akan menjadi buronan dari tiga kerajaan ini.


Nyawanya dalam bahaya bukan mati di tangan satu orang saja tapi dari tujuh kerajaan.


Membayangkannya Ren merasa ingin menghilang dan menyesal, seharusnya ia tidak meninggalkan perbatasan gunung. Seharusnya begitu kenapa ia keluar dari gunung hanya karena ingin melihat lampu terbang itu?


Air matanya tiba-tiba menetes, membayangkan takdirnya sekarang. Bagaimana cara mendapatkan giok itu dan membuat tujuh kerajaan damai di tangannya.


Ia hanya manusia biasa bukan dewa.


Ye melihat seorang gadis yang rapuh di depannya, hasrat untuk menghiburnya meningkat.


Bagaimana pun ia tidak suka jika tetesan itu jatuh dari matanya.


Ye menarik Ren dari selimutnya dan memeluknya erat.


Sebentar Ren berontak tapi pelukan Ye lebih erat.


"Menangislah sampai kau berhenti menangis aku akan memelukmu," bisik Ye.


Entah mengapa pelukan ini terasa sangat hangat dan Ren juga tidak ingin melepaskan diri dari pelukan ini.


Ye mengelus punggung Ren dengan lembut agar gadis itu tenang ia merasa kalau bahunya basah karena Ren menangis.


Pelukan itu sungguh hangat dan perlahan kedua mata cokelat keemasan itu pun tertutup.


Ye merasa kalau Ren sudah tenang dan nafasnya mulai teratur ternyata gadis itu tertidur di pelukannya.


Ye menidurkan gadis itu dan menyelimutinya. Ye menghapus sisa air mata gadis itu membuat hati Ye juga ikut sakit ketika melihat gadis ini rapuh.


"Dia tertidur, terlihat seperti boneka," gumam Ye menatap Ren tidur dengan lelap.


Bagaimana ia bisa berhenti mencintai gadis ini, sejak pandangan pertama ia sudah jatuh cinta dengan gadis ini sejak pertemuan yang tak terduga itu.


Mengorbankannya?


Bagiaman itu bisa ia lupakan?


Apakah demi sebuah pembalasan ia juga ingin memperalat Ren untuk mendapatkan giok hijau itu.


"Ren jika itu benar terjadi pada suatu hari, apa kau akan lebih membenciku daripada ini?"


Ye mengecup kening gadis itu, lalu pergi meninggalkan Ren.


Ye keluar dari kamar Ren dan menutup pintunya. Dua pelayan wanita masih menjaga pintu kamar dan langsung memberi hormat pada Ye.


"Lihat mereka seperti pasangan yang baru menikah ya," gosip dua pelayan itu setelah melihat Ye pergi.


"Kau benar, tapi aku dengar nona itu dari klan Li,"


"Maksudmu klan yang berkhianat itu, seluruh klannya sudah di bantai bukan?"


"Iya,"


"Kasian sekali padahal mereka serasi,"


Bisik-bisik dua pelayan itu, sekilas Ye mendengarnya dan hanya menghebuskan nafas kasar atas takdir cinta yang menimpanya sekarang.


Next