
Ren pun ikut waspada, ada beberapa jejak langkah kaki yang terdengar.
Lu juga bersiap dengan pedang di tangannya, matanya bergulir kesana kemari terlihat seperti orang ahli.
Ren ingin sekali untuk bertanya tapi waktunya tidak tepat, karena beberapa orang mulai menaiki menara.
Apakah itu rombongan kaisar?
"Siapa?" tanya Chao Lu berwaspada.
Samar-samar mulai terlihat ternyata itu adalah ayah dari kaisar Xiaou Zen. Chao Lu yang melihatnya langsung memberi hormat.
Ren yang sadar kakau orang itu punya jabatan penting ia juga ikut hormat.
Mata itu menatap tidak suka, mantan kaisar itu melihat Ren dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dalam hati berkata apakah ini gadis Li? Gadis itu terlalu cantik dan bercahaya di bawah ribuan lampion yang terbang.
"Chao Lu! Apa yang kau lakukan? Bukankah aku menugasmu untuk membunuhnya? Gadis di samping itu kau adalah anggota Li!" tunjuknya dengan amarah.
Ren terkejut apa maksudnya bunuh? Dan apa hubungannya dengan anggota Li? Mungkin saja benar dugaan Ren bahwa ayah dan ibunya mati karena ulah kerajaan ini dan membantai seluruh anggota Li.
Lalu, Chao Lu, Chao Lu? Apa maksudnya ini.
Ribuan lampion berterbangan Lampion Ren dan Lu juga berdampingan dan tertulis sebuah harapan yang mereka tulis.
"Baik laksanakan!" ujar Chao Lu berdiri dan mengalihkan pedangnya terhadap Ren.
Saat itu untuk pertama kalinya Ren melihat begitu berubahnya wajah itu. Wajah yang suram dan menampilkan sorot mata yang haus akan darah untuk malam ini.
Chao Lu perlahan mendekat dan menghadang Ren dengan pedangnya. Ren hanya berusaha mundur dan terus mundur lalu dinding menara sudah menghentikan langkahnya.
Tinggi, tinggi sekali bagaimana caranya ia melompat dari sini? Jika melompat juga akan membuaynya mati dan pedang Lu juga akan menebasnya dan mati.
"Bagus Chao Lu, kau membawa pertunjukan seru malam ini," ujar mantan kaisar Xiaou itu dengan bangga dan tersenyum sinis.
Melihat wajah Ren yang ketakutan setengah mati, pikiran Chao Lu mulai kacau. Dalan hati ia tidak ingin menghabisi Ren.
"Maaf, maaf, padahal kau menganggapku teman. Aku senang mendapat teman tanoa di sadari pekerjaan ini hanyalah sebagai pelarian untuk ku agar bisa membunuh orang-orang yang jahat padaku. Ren larilah, lari!" dalam hati Lu, sambil menutuo matanya takut.
"Lu, apa maksudnya ini? Bukankah kita ini teman?" ujar Ren sambil menatap Lu takut.
"Aku adalah pembunuh bayaran yang bekerja di istana ini, aku yang melenyapkan seluruh keluargamu jadi untuk apa aku menganggapmu teman?"
Mendengar pernyataan itu hati Ren terasa sakit, ia tidak percaya apa yang ia dengar.
Sebuah kata-kata dari Gulfan terlintas bahwa memang benar sejak awal Chao Lu sudah terlihat mencurigakan namun dengan bodohnya ia tetap menganggap Chao Lu orang baik. Bahkan itu adalah teman pertama yang ia dapat selama hidup 16 tahun ini.
Tunggu Chao Lu menutup matanya?
"Chao Lu, aku menganggapmu temanku yang berharga. Aku menghargaimu dan berterima kasih sudah memperlihatkan pemandangan yang menakjubkan ini padaku, tapi kau bilang bahwa kau yang telah melenyapkan seluruh klan ku. Apa salahku padamu Lu?" tanya Ren kali ini bercampur dengan kesal dan kecewa.
Chao Lu membuka matanya terkejut, dan menata mata Ren dengan ketakutan. Ia tak mampu melihat Ren di habisi olehnya.
Tolong Ren larilah!
"Apa yang kau pikirkan cepat habisi dia, aku akan menaikan bayaranmu!" ujar mantan kaisar Xiaou memerintah.
"Aku muak dengan perkataan pertemanan yang kotor itu, maka matilah!"
Chao Lu mengayunkan pedang itu pada Ren dan mengenai tangannya karena Ren melindungi wajahnya yang hampir tertebas pedang.
Bukan hanya mengenai tangannya, ikatan rambut Ren juga terputus terkena tebasannya yang cukup kuat sehingga memotong beberapa helai rambutnya.
Dan rambut Ren tergerai panjang, rambut cokelat keemasan itu.
Darah mengalir dan berserakan di lantai menara itu.
Chao Lu sangat syok ketika melihat darah itu mengalir di tangan Ren.
"Ugh," Ren memegang sikunya yang ternyata bajunya terkoyak di situ dan darah sangat banyak mengalir.
Sementara Gulfan sibuk mencari Ren diantara lampion yang berterbangan di langit itu.
Chao Lu sangat syok dan untuk pertama kalinya ia takut melihat darah. Biasanya ia sangat suka darah tapi jika Ren yang berdarah ia sangat membencinya.
Tidak! Ren bukanlah orang yang penting dalam hidupku.
"Ren!" ucap Lu pelan.
"Apa yang kau lakukan hanya menggoresnya saja, penggal dia sekarang juga!" perintah itu terdengat sangat menggema.
Gulfan terkejut ketika melihat dari atas bahwa Ren di kepung dan sikunya...
Apa itu darah?
Terlihat Chao Lu memegangi pedangnya dan menghadang Ren.
"Gawat Ren!"
Gulgan segera terbang kearah Ren. Namun ia sadar kalau untuk satu malam ini ia tidak bisa menggunakan sihir karena tadi telah terpakai untuk Ren berdandan menjadi pelayan.
"Chao Lu, aku tidak ingin membencimu, dan sampai kapanpun aku tidak akan membencimu. Aku tidak marah karena kau telah mengaku menghabisi kekuargaku, sebenarnya aku sedikit dendam, tapi_"
Ren mencoba mendekati Lu sambil menggulurkan tangannya yang terluka itu.
"Tapi kau mempunyai senyum yang tulus, selama kau bersamaku, kau mencoba untuk menebus rasa bersalahmu padaku dan kau juga mewujudkan impianku yang konyol ini," ujar Ren sambil tersenyum.
"Aku tidak mau punya teman, aku tidak menganggapmu teman dan selama ini aku selalu sendiri dan di siksa aku akan membunuh dan bertahan!" ujar Lu melampiaskan amarahnya dan tetap mencoba menghalangi Ren mendekatinya.
Dalam hati Chao Lu sangat ingin Ren meloloskan diri dari sini? Apa dia bodoh?
"Sendiri itu tidak enak, aku kesepian tanpa ada yang menjagaku lagi. Ayo ulurkan tanganmu dan bertemanlah denganku. Aku akan memperkenalkan diri sekali lagi aku Li Ren, siapa namamu?" ujar Ren tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Sendiri itu tidak enak dan menyakitkan!
Terlintas pikiran masa lalu Chao Lu, yang hidupnya penuh dengan siksaan, dan berlangsung setiap hari.
Sendiri, di pukuli, di tendang, sakit, sakit sekali. Tolong, tolong, tolong beritahu aku siapapun jadilah temanku!
Lu ingin menjulurkan tangannya setelah sedikit pikirannya terasa agak tenang.
"Bodoh! Cepat habisi dia!"
Kembali mendengar perintah, Lu panik dan langsung menebaskan kembali pedangnya mengenai bahu Ren sehingga bajunya yang menutupi bahu juga terkoyak.
Ren mendapat luka parah di salah satu lengan kanannya, yang mana siku dan bahunya mendapat tebasan.
Gulfan segera datang dan mematuk-matuk wajah Lu dan si kakek tua yang sedari tadi terlihat bersenang-senang melihat drama ini.
"Ren kau terluka,"
Dengan kesal Gulfan terus mematuk-matuk mereka merusak kosentrasi mereka terhadap Ren.
Ren terlihat menahan kesakitan, darahnya terlalu banyak mengalir.
"Ren larilah lebih dulu keluar dari menara ini aku akan mengunci mereka di sini, kekuatan ku belum terkumpul aku tidak bisa menggunakan sihir," ujar Gulfan menyuruh Ren untuk bertahan dan menyelamatkan diri dari sini.
Darahnya begitu banyak, Ren segera berlari pergi kebawah dengan kekuatan yang tersisa.
Ia tidak tahu arah yang membawanya keluar dari pintu istana, dan bangunan istana ini sangat besar.
Kesadarannya di ambang batas, darahnya mengalir di sepanjang jalan yang ia lewati.
ia menuruni tangga yang begitu banyak dan sepertinya menara itu sudah jauh darinya.
Ruangan ini sangat terang dan tanpa sadar Ren menabrak seorang prajurit yang bertugas.
"Pelayan, kenapa kau ada di sini?" tanya prajurit itu sebelum akhirnya sadar melihat luka di tangan Ren.
Kaca mata yang sedari tadi terpakai, akhirnya terjatuh karena tidak terpasang dengan benar.
"Cantik sekali,"
Prajurit itu terpesona. Ren hanya menampilkan wajah datar dengan kondisi yang mengerikan.
"Hei kau baik-baik saja, aku akan memanggik tabib tunggu di sini," ujarnya lalu pergi.
Dengan perasaan takut Ren langsung berlari tanpa pikir panjang saat ia menuruni tangga ia pun terjatuh tepat di hadapan seluruh hadirin di ruang aula peresmian kaisar Xiaou Zen.
"Heh!"
"Kenapa apa?"
"Pelayan istana?"
Melihat kerumunan itu Ren sangat panik ia terjatuh dari sepuluh anak tangga yang menuju aula.
Ia mencoba berdiri namun kesadarannya di ambang batas.
"Gadis ini?"
Ren melihat seorang kaisar ikut mengerumuninya.
"Hah!"
Terlihat juga penasihatnya juga terkejut melihat Ren dengan kondisi yang mengerikan. Bukan itu saja ada jenderal, tuan muda dan kaisar dari negara sebelah mendatanginya.
Dengan sedikitnya kekuatannya ia tetap gigih berusaha berdiri, ia harus cepat melarikan diri dari mereka semua.
Tapi tangannya begitu perih.
"Oi jangan paksakan dirimu untuk berdiri," ujar Kaisar Xiaou Zen juga ikut panik mendapat kejutan seperti ini.
Tak tahan lagi akhirnya Ren pingsan.
"Oi, bertahanlah!"
"Ren, Ren!"
Next