
Yuan Jiang membawa Ren kedalam salah satu rumah bordil miliknya. Semua orang langsung memberi hormat padanya yang masih memikul Ren masuk ke dalam rumah itu.
"Wah tuan muda apakah kau membawa seorang wanita cantik hari ini?" sambut pelayannya.
"Sepertinya begitu dia lebih cantik dari berlian," jawab Jiang tersenyum.
"Baiklah tuan muda ruangan anda seperti biasa ini kuncunya, nanti kami akan membawakan makanan dan minuman perangsang," ujar pelayan itu.
Ren sudah tidak ada tenaga untuk berontak, sepanjang jalan ia memukul punggung keras pria ini dan malah membuat tangannya sakit.
Sebenarnya tempat apa ini?
Jiang segera memasuki ruangannya lalu menghepaskan Ren ke kasur dan Jiang langsung mengunci pintu.
"A... Apa yang kau lakukan?" tanya Ren segera turun dari ranjang itu.
"Oh ayolah, aku sudah mencarimu kemana-mana dan akhirnya kau datang dengan sendirinya," ujar Jiang melepaskan kancing bajunya yang menampakan dada bidangnya.
Meski begitu Ren tetaplah wanita, oh ayolah siapa yang tidak tahan melihat dada bidang pria yang gagah itu.
Ren langsung mengalihkan pandangannya, berusaha tidak tergoda oleh dada itu. Ia juga telah banyak melihat pemandangan seperti ini dari pria tampan.
Mingxue, Chagoi, Xiu Ye dan sekarang Yuang Jiang.
Benar-benar ketampanan tiada batas.
"A... Apa maksudmu aku tidak mengenalmu," ujar Ren masih menutup wajahnya dengan penutup kain tipis.
Makanan dan minuman sudah tersedia di kamar, matahari juga sudah terbenam.
Yuan Jiang mengambil segelas arak pemicu hasrat, dan meminumnya.
Ia tipe pria yang tidak mudah mabuk ketika meminum arak seperti itu, jadi ia bisa mengontrol kesadarannya.
Krukkk...
Suara perut Ren terdengar jelas, ia masih tetap bertahan berdiri di sudut kamar.
Jiang tertawa mendengar suara perut Ren dan ia tetap fokus makan dan minum.
"Sampai kapan kau akan berdiri di situ, apa mau mati kelaparan?" tanya Jiang.
Wajah Ren memerah karena malu, jika ia membuka penutup wajah ini dan makan di samping Jiang apa yang akan terjadi?
"Kau... Tidak mengenalku kan? Maksudku apa kau akan menghukumku karena menuduhmu dan memenjarakanku pada kaisar?" tanya Ren memberanikan diri.
Yuan Jiang tertawa keras mendengar hal konyol itu, laki-laki seperti apa yang akan memberikan berlian kepada laki-laki lain.
"Tenang saja, kau makanlah dulu. Aku tidak akan berbuat hal aneh padamu," ujar Jiang.
Ren akhirnya duduk di samping Jiang, memakan semua cemilan.
Ia makan tetap dengan penutup kain itu tak ingin melepasnya.
Melihat Ren makan dengan lahap terlihat wajah yang bahagia di balik penutup itu.
Yuan Jiang tidak tahan melihatnya lalu melepas penutup kain itu.
"Heh!"
Ren langsung terkejut karena Jiang tiba-tiba melepas penutup wajahnya.
"Tuan ummm_"
Jiang langsung menciumnya dengan sangat dalam dan membuang penutup wajah itu.
"Ummm,"
Ciuman itu sangat dalam dan penuh gairah, Ren berusaha melepaskan diri namun tenaga Jiang begitu kuat.
Jiang menjatuhkannya ke kasur dan melepas kancing bajunya.
Ren semakin memberontak, Jiang melepas ciumannya dan beralih ke leher Ren dan memberi tanda kepemilikannya.
"Hah!"
Jiang terkejut dan langsung melepaskan Ren. Ren menangis da menutup wajahnya dengan tangannya agar Jiang tidak melihat tangisannya.
Jiang memegang kepala merasa pusing, dan melihat gadis itu menangis di depannya.
Apa yang ia lakukan, ini pasti efek dari arak ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong jangan benci aku!" ujar Jiang turun dari ranjang dan membenarkan bajunya.
Ia mengambil kipasnya lalu pergi meninggalkan Ren yang masih menangis di kamar.
Sekarang pasti gadis itu sangat benci terhadapnya, tidak! Sejak pertama kali bertemu mungkin gadis itu juga sudah membencinya.
Membawanya secara paksa kesini dan melakukan hal yang tidak senonoh terhadapnya.
Jiang pergi keluar pergi dari rumah bordil untuk mencari angin malam sekejap ia mengambil kalung yang ia beli saat pertama kali bertemu Ren dan berniat untuk memberikannya ketika bertemu lsaat
Tapi apa yang telah ia lakukan? Kepalanya terasa sangat pusing malam ini.
Ren masih tidak bisa melupakan apa yang telah Jiang lakukan padanya.
"Lagi dan lagi bibirku di cium, apa mereka begitu sangat menginginkan aku? Aku lelah hidup di takdir yang seperti ini," ujar Ren bercermin di depan kaca.
Tiba-tiba ruang kamar berubah seperti alam lain.
"Heh! Dimana?" ujar Ren bingung melihat dirinya melayang di angkasa. Bukan kah ia tadi masih di dalam kamar?
"Yo gadis kecil," sapa seorang nenek.
Ren kebingungan melihat nenek itu duduk dengan tenang dan dirinya sambil melayang.
"Si... Siapa kau?" tanya Ren.
"Kau sudah menjadi gadis cantik ya, aku adalah nenek peramal yang membantu persalinan ibumu. Tak di sangka kau terjebak dengan takdir menyedihkan ini," ujar nenek itu membelai wajah Ren.
"Nenek bagaimana bisa aku punya takdir seperti ini, aku tidak ingin hidup seperti ini,"
"Ketahuilah nak, kau memiliki tanggung jawab atas masa depan dunia ini. Mereka yang mengincarmu sangat tergila-gila terhadap kecantikanmu untuk itu kau bisa berteman dengan mereka mulailah berteman dan hidup damai dengan para suami mu di masa depan!"
"Heh!"
Ren langsung terkejut dan seperti orang bodoh mendengar kata-kata nenek peramal ini. Para suami?
Yang benar saja, seorang wanita mempunyai banyak suami?
"Aku bercanda, heheheh. Kau tahu para lelaki yang mengejarmu itu mempunyai masa kelam tersendiri, dan tak ingin itu terulang hanya dengan mengendalikan batu giok itu kau bisa menaklukan takdirmu," jelas nenek itu.
"Batu giok itu berada di istana Qing, aku tidak mungkin bisa mendapatkannya kan?"
"Ya memang benar, tapi batu giok itu hanya akan menjadi berwarna ketika di tanganmu. Saat ini batu giok itu hanya menjadi batu biasa. Mantan kaisar Xiaou menginginkan darahmu agar batu giok itu bersinar dan menunjukan keagungannya makanya dia sangat berambisi membantai seluruh klan Li," jelas nenek itu.
"Da... Darah,"
"Hanya darah suci yang bisa membangkitkan kekuatan batu giok, dan itu milik mu,"
"Bagaimana aku bisa mendapatkannya?" tanya Ren.
"Entahlah itu hanya kau yang bisa menemukan caranya,"
Tak lama Ren kembali kesuasana kamar ia langsung tertidur tanpa mendapat jawaban dari nenek peramal itu pintu kamarpun terbuka Yuan Jiang memasuki kamar dan melihat Ren tertidur di atas lantai.
Jiang tersenyum, ia mengangkat tubuh Ren ke kasur dan menidurkannya ia mengecup kening Ren lalu menyelimutinya untuk menghangatkan tubuhnya.
Sementara Jiang tidur di sofa dan juga segera menutup matanya.
Ia berharal gadis itu tak lebih membencinya lagi. Besok ia akan bicara baik-baik dengan Ren.
Next