The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Menikah



Ren akhirnya di bawa ke kerajaan selatan. Setelah Ren di bersihkan, dan diberi pakaian istana dan dibolehkan untuk tinggal di istana Xiang.


Sejak ia di bawa ke kerajaan Xiang, sang kaisar hanya diam dan tidak berbicara padanya.


Semua orang di dalam istana maupun desanya memakai topeng hewan aneh. Ren sangat tidak terbiasa jika ini adalah tradisi.


"Kaisar membawa seorang wanita pulang bersamanya,"


"Apakah wanita itu akan menjadi permaisurinya kaisar?"


"Entahlah, tapi dia sangat cantik,"


"Ternyata kaisar sangat tampan,"


"Aku iri pada wanita itu,"


Sepanjang jalan Ren hanya mendengar celotehan itu, bahkan saat di perjalanan wajah kaisar Chagoi sangat serius.


Setelah sampai ke istana Chagoi langsung memerintahkan pelayannya untuk membantu keperluan Ren, lallalu pergi begitu saja.


Ada apa dengan pria itu?


Setelah makan dan bersih, Ren mengintip keluar kamar. Soalnya para pelayan itu juga membawa Gulfan katanya untuk di obati.


Tapi Ren sangat khawatir dan tidak bisa menunggu begitu lama.


Ren akhirnya keluar kamar, terlihat semua pengawal istana sangat sibuk siang ini.


Mereka sedang apa?


Ren melihat bangunan luas ini, tidak tahu arah yang ia tuju istana ini sangat luas dimana mereka mengobati Gulfan?


Ren akhirnya keluar dari pintu bagian belakang dan terlihat taman bunga yang begitu indah.


Ren mampir ketaman itu dan melihat istana Xiang dari luar.


Sangat megah dan bernuansa biru.


Sekarang ia berada di kerjaan musuh, kerajaan Xiang dan karajaan Qing seja dahulu sudah bermusuhan bahkan tidak berani lagi saling menyinggung.


Jika kerajaan ini perang lagi karena mengetahui identitasnya, maka Ren penyebabnya.


Karena dua kerajaan ini masih belum berdamai dan masih sering melakukan perang dingin.


Ren kembali masuk ke dalam istana dan berpaspasan dengan salah satu pengawal.


"Nona, jangan berkeliaran jika kaisar tahu bahwa anda berkeliaran pasti kami akan kena hukum," ujar pengawal itu.


"Maaf, aku hanya mencari burungku yang sedang di rawat," jelas Ren.


"Pergilah keruangan arah tangga dua, di sana kediaman medis untuk hewan. Nona bisa menemukannya di sana," tunjuk pengawal itu.


"Terima kasih, ngomong-ngomong kalian terlihat sangat sibuk?" tanya Ren.


"Hah! Nona tidak tahu?" tanya pengawal itu balik.


Ren menggeleng tidak tahu apa yang sedanf di kerjakan mereka.


Di sepanjang istana Ren melihat banyak dekorasi, para pelayan sibuk membawa dan membuat kue.


Apakah ada tamu penting atau pesta kerajaan?


"Nona kaisar akan menikah dalam beberapa hari ini tolong sehatkan tubuh anda," jawab pengawal itu bersemangat.


"Menikah? Wah apakah dengan seorang ratu dari kerajaan mana?" tanya Ren juga ikut bersemangat.


"Heeeeee," pengawal itu langsung bingung inti dari pembicaraan ini.


"No... Nona kaisar hanya menikahi gadis biasa dan latar belakangnya tidak di ketahui," ujar pengawal itu sambil mengelap keringat dinginnya dengan sapu tangan.


"Wah sayang sekali, tapi pasti gadis itu sangat beruntung karena memiliki suami seorang kaisar yang tampan," ujar Ren ikut senang.


"Nona, apakah anda ini bodoh atau memang tidak tahu?" tanya pengawal itu memasang wajah masam menyerah dengan tebak-tebakannya.


"Hee,"


"Nona, peraturannya di kerajaan ini adalah ketika lawan jenis berhasil melihat wajah kami dari topeng maka harus menikah," jelas pengawal itu.


"Ma... Maksudmu?" tanya Ren mulai bingung dan memiliki firasat tidak enak.


"Intinya kaisar akan menikahi nona tidak peduli dengan latar belakang, karena nona telah berhasil melihat wajah tampan kaisar kami sebelum menikah," jelas pengawal itu mulai lelah.


Ren langsung terkejut mendengarnya tak percaya dengan peraturan ini. Makanya terasa aneh saat di sepanjang jalan tadi semuanya memakai topeng kecuali orang tua dan yang sudah bersuami istri.


Makanya kaisar Chagoi saat di hutan memakai topeng karena belum menikah.


Dan yang melihat wajah tampannya itu adalah ia.


Wajah Ren langsung memerah dan langsung berlari tak percaya.


Tadi rasanya seperti mimpi, saat masih di tebing lalu memanjat dan tiba kehutan seberang selatan lalu ada seorang pria yang menunggangi kuda tak terkendali lalu hampir menabraknya.


Dan ia akan menikah?


Tidak bisa di percaya. Jika itu benaran terjadi saat kaisar Chagoi mengetahui identitasnnya.


Maka pernikahannya sekaligus kematiannya.


Konyol sekali.


Ren berlari dan tak sengaja menabrak Chagoi, Ren terkejut bahwa yang ia tabrak adalah Chagoi.


Chagoi berdiri dengan gagah di depannya, badannya sangat kekar dan keras ia menatap Ren dengan bingung.


"Kenapa kau berlari? Ada yang mengejarmu?" tanya Chagoi.


" Ti... Tidak," ujar Ren gugup gemetar di depan Chagoi.


"Istirahatlah jaga kesehatanmu beberapa hari lagi kita akan melangsungkan pernikahan, sebelum itu kita harus mengunjungi rumahmu," jelas Chagoi.


"Mengunjungi... Rumah?" tanya Ren terkejut.


"Yah, kita harus minta persetujuan orang tuamu. Kau mengatakan kalau kau tidak mengingat rumahmu karena terjatuh kejurang,"


Ren ingat saat Chagoi ingin mengantarnya pulang dan Ren akhirnya membuat alasan kalau ia tidak ingat dimana rumahnya.


Dan akhirnya Chagoi membawanya pulangke istana dan akhirnya terjebak menikah dengannya.


"Maka cepatlah pulih dan ingat agar kita bisa melangsungkan pernikahan secepatnya," ujar Chagoi berlalu pergi.


Ren masih tidak percaya apa yang telah ia dengar, terjebak di sini menikah.


Ini tidak boleh terjadi, ia harus secepatnya pergi dari sini setelah menemukan Gulfan.


"Aku akan di nikahi, oleh pria tampan itu. Tidak ini mimpi,"


Ren masih menunggu di kamarnya berharap Gulfan datang menemuinya.


Matahari terbenam dan berganti menjadi malam, semua orang masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


Jika Chagoi tahu identitasnya maka Chagoi akan membunuhnya, bukan saja dari klan Li tapi sebagai penduduk kerajaan Qing.


Ren menatap jendela melihat langit malam yang tak berbintang bahkan udara dinginnya mulai terasa menembus ketulang.


Sebuah lengan kekar tiba-tiba memeluknya dengan erat.


Ren terkejut dan hendak berbalik melihat pria yang memeluknya tidak sopan dan ingin sekali menamparnya.


"Siapa? Lepaskan aku," ujar Ren memberontak ingin berbalik.


"Baumu harum sekali, berbeda dengan pelacur-pelacur yang ku temui di rumah bordil bahkan wanita di negeri ini. Siapa kau yang berani melihat wajahku?"ujar pria itu dengan suara berat di telinga Ren.


"Ka... Kaisar Chagoi, tolong lepaskan saya. Saya tidak tahu apa yang kau maksud!" ujar Ren semakin memberontak dan pelukan itu juga semakin erat memeluk perut rampingnya.


Tubuh Ren bergetar karena menahan geli karena Chagoi menjilat telinganya.


"Ah," desah Ren.


"Kau sensitif sekali ya, sepertinya masih belum tersentuh. Tubuh seindah batu giok ini aku beruntung," ujarnya menjilati leher jenjang Ren.


"Kaisar Chagoi ah, hentikan kau tidak sopan begini!" ujar Ren masih memberontak.


"Sebentar lagi kau akan jadi permaisuriku jadi aku bebas melakukan apa saja dengan tubuhmu," ujar Chagoi membalik badan Ren lalu menciumnya.


"Ummm,"


Mata Ren terbelalak, dan terpaksa melakukan ciuman paksa itu. Mulutnya terasa kalau Chagoi ******* habis dan sangat dalam sehingga susah membuatnya bernafas.


Next