The Future Is In The Hands Of The Girl

The Future Is In The Hands Of The Girl
Bunga Persik, Pesona Tuan Muda



Ren masuk ke pusat kota, di situ terlihat ramai sekali bahkan Ren tidak bisa menemukan jalan karena saking ramainya.


Terlihat ada keramaian di sana, para gadis berlarian dengan gembira dan riang kearah sana.


"Wah tuan muda Yuan Jiang,"


"Benarkah dia datang?"


"Aku ingin melihatnya,"


"Mari coba keberuntungan, semoga malam ini bisa berkencan dengan tuan muda Jiang,"


Sorak heboh para gadis, Ren hanya heran melihat para gadis itu kenapa terlihat gembira sekali. Ia juga ingin kesana apakah mungkin ada festival untuk anak perempuan?


Tidak ada cara lain, sepertinya gerbang kota akan terbuka kembali pada sore hari. Jika ia berdiri terus di sini ia pasti akan mati kepanasan dan berdesak-desak dengan orang-orang lalu lalang.


Di sini pusat kota Zheng, dan juga para berkumpulnya pedagang kaki lima yang mencari nafkah.


Pantas saja pada siang hari atau malam pusat ini akan terus ramai, bahkan di seberang sana juga terdapat rumah bordil yang di buka pada malam hari.


Dan kota ini sungguh bersinar pada malam hari.


Ren juga mengikuti para gadis keperkumpulan disana. Kalau tidak salah dengar mereka bersorak tentang tuan muda jing.


Siapa itu?


Setelah hampir sampai, banyak dari gadis-gadis itu berlari sambil menangis meninggalkan kumpulan itu.


Ren heran dan hendak menyapanya lalu menayakan kenapa mereka menangis.


Sudah banyak gadis yang menangis yang berpapasan dengannya di jalan, namun tidak satupun yang berani Ren sapa.


Lalu terlihat gadis cantik bergaun merah berlari sambil menangis, Ren memberanikan diri dan menanyai gadis itu.


"Ano, permisi kenapa anda menangis?" tanya Ren.


"Hiks... Hiks, kau orang aneh kenapa kau memakai tudung dan penutup wajah? Jangan bicara padaku!" ujar gadis itu ketus lalu berlari lagi sambil menangis.


"Heee, orang aneh? Sudah ku duga sebaiknya jangan bertanya lebih baik memeriksanya siapa yang menjahili para gadis-gadis ini?"


Ren berpapasan lagi dengan gadis yang berlari sambik menangis juga merutuk, dia memakai gaun kuning. Ren memberanikan diri llagi untuk bertanya.


"Maaf nona kenapa anda menangis?" tanya Ren.


"Dia hiks... Hiks," tunjuk gadis itu terlihat punggung seorang pria yang tengah di kerumuni dan di lingkari para gadis. Gadis bergaun kuning itu kembali berlari.


Dan Ren yakin kalau pria itulah yang membuli para gadis, tapi anehnya mengapa mereka masih berdiri di sana? Bahkan para rekan mereka sudah di jahili sampai menangis.


Apakah para gadis itu berusaha menyatakan cinta pada pria itu? Apa dia begitu tampan dan populer.


Mentang-mentang dia tampan seenaknya saja mematahkan hati seorang gadis? Benar-benar tidak bisa di biarkan!


Ren berjalan menuju kerumunan itu dan melihat pria seperti apa yang populer itu. Meski dia tampan Re berjanji tidak akan jatuh hati padanya.


"Gadis cantik berkilau seperti bunga persik, menampakan keanggunannya sebagai putri adipati, jika boleh tahu siapakah namamu wahai putri yang secantik bunga persik?"


Semua gadis berteriak mendengar syair dari pria tampan itu. Bunga persik berwarna pink itu di taruh di hiasan rambut gadis berbaju pink.


Tampak gadis yang di tanyai itu malu-malu karena pria tampan itu memilihnya.


"Namaku, Qiao Meng aku pintar menyulam dan memasak serta akhir-akhir ini aku telah belajar menari," jawab gadis itu sambil malu-malu.


Pria itu tersenyum dan menyuruhnya untuk berdiri di sampingnya karena terpilih.


Membuat para gadis lain semakin histeris dan iri.


"Selanjutnya pasti aku akan terpilih,"


"Ahh iri sekali dia terpilih,"


"Padahal aku lebih cantik daripada dia aku sudah menghabiskan waktu berdandan dan memilih gaun hampir 5 jam,"


Mendengar itu Ren tidak percaya, sebegitu ingin di pilihnya mereka berdandan bahkan tidak ingat waktu.


Gadis-gadis kaya memang sangat menakjubkan.


"Hei kau! Jangan kau pikir dirimu itu sangat tampan sehingga kau seenaknya saja membuli perasaan mereka!" tunjuk Ren.


Semua gadis melirik Ren dengan tatapan bingung dan jijik. Mereka menganggap bahwa Ren tidak tahu sopan santun.


"Hei kau gadis kecil kau kira kau berbicara dengan siapa?"


"Dasar tidak tahu malu!"


"Hei aku kesini ingin menyelamatkan kalia dari pria sok tampan ini," ujar Ren.


"Sok tampan? Tapi aku memang tampan!"


Pria itu membalikan badan dan melihat siapa gadis yang menyorakinya tadi.


Alangkah terkejutnya Ren ketika melihat wajah tidak asing itu. Ren mengenal pria itu bahkan juga pernah bertemu disini.


Tunggu! Jadi tuan muda Yuan Jing itu dia?


Ren jadi malu sendiri karena telah menyorakinya. Kalau tidak salah dia juga ada di pesta ulang tahun kaisar hari itu.


Mereka berdua pasti ada hubungan, dan waktu itu Ren juga pernah tertangkap oleh kaisar Zen dan bertemu dia lagi.


Kaisar Zen pernah menyebutnya sebagai sahabat lamanya.


Ren sadar jika Yuan Jing bisa saja menangkapnya di sini dan menyerahkannya ke kerajaan untuk di eksekusi.


"Oya, gadis bertudung hari itu kah?" ujar Jing mengembangkan kipasnya berjalan mendekati Ren.


"Hukum dia tuan muda jing,"


"Gadis kecil yang tidak tahu malu!"


Komentar yang menyakitkan di lontarkan oleh mulut tajam para gadis ini.


Padahal niatnya tadi hanya menolong para gadis ini, ternyata ia telah masuk ke kandang serigala.


Ren mundur sedikit bersiap untuk melarikan diri. Gadis-gadis itu menarik Ren lalu melemparkannya pada Yuan Jing.


"Mau lari kemana gadis kecil, tuan muda Jing aku menangkapnya!" ujar gadis itu melemparnya kearah Yuan Jing.


"Ahh,"


Ren langsung di tangkap ke pelukan oleh Yuan Jiang.


"Maaf menunggu lama tuan putri," bisiknya ke telinga Ren dengan nada yang menggoda.


Refleks Ren langsung melepaskan diri dari Jiang wajahnya merona merah serta seluruh tubuhnya bergetar.


Di tengah-tengah kerumunan, Ren telah terperangkap bersama Jiang.


"Baiklah gadis-gadis, waktu permainan telah habis malam ini aku akan menghabiskan waktu dengan tuan putriku," ujar Jiang merangkul Ren.


"Lalu aku bagaimana Tuan muda Jiang?" tanya Qiaou Meng yeng telah terpilih tadi.


"Maaf ya gadis imut, lain kali kita bermain lagi. Ambil ini dan pergilah," ujar Jiang memberikan sebuah pita berwarna pink pada Meng dengan motif bunga persik.


"Ah tuan muda Jiang baik sekali, aku akan menunggumu dan menjaga barang ini dengan baik,"


"Jual lah itu bisa membayar biaya rumah sakit ibumu,"


"Sekali lagi terima kasih tuan muda Jiang," ujar Qiao Meng pergi.


Merasa semua kerumunan telah bubar hanya tinggal Ren dan Jiang yang masih merangkulnya.


"Maaf tuan muds Jiang, bisakah saya pergi juga?" ujar Ren.


"Tidak! Kau adalah wanita terpilih di sini yang berani menantangku," ujar Jiang lalu mengangkat tubuh Ren pada pundaknya.


"Kyaa, tuan muda Jiang kemana kau akan membawaku? Lepaskan aku!" ujar Ren berusaha memberontak.


Next