
Merasa lelah karena terbaring seharian di kasur. Ren pun berencana untuk keliling istana Kin.
Kerajaan ini terletak di selatan dan menempuh waktu tiga hari dari kerajaan Wing tempat ia tinggal.
Mengingat kejadian kemarin hati Ren terasa sakit, ia mengira jika Chao Lu tulus berteman dengannya tapi ternyata dia adalah pembunuh bayaran kerajaan Qing yang telah menghabisi seluruh klan Li.
Masih tidak bisa di percaya dan ia tidak ingin mempercayainya, tapi Ren ingat satu hal kalau Chao Lu saat menebasnya sambil menutup mata dan sembarangan menebas Ren.
Namun Ren menghalangi tubuhnya dengan tangan dan akhirnya tangannya mendapat dua tebasan, kata tabib Ren mendapat 21 jahitan di masing-masing luka.
Tapi saat itu Chao Lu menutup matanya seperti menyimpan kesedihan dan terlihat kalau dia tidak ingin melukai.
Rasanya tubuhnya sangat ringan, kamar ini sungguh luas di samping terlihat Gulfan yang tertidup pulas.
Ia membuka tirai jendela dan melihat suasana luar yang sepertinya akan sebentar lagikan cerah. Pukul masih menunjukan sekitar jam 4 pagi dan udaranya juga mulai terasa dingin.
Ren pun membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak ada penjaga di depan pintunya.
Dengan santai Ren pun berkeliling istana, mulai dari ruang aula tamu, singgasana raja, dan dapur kerajaan.
Di sana masih terdapat pelayan yang sedang bersiap-siap membuat makanan dan membersihkan.
"Nona Li, kenapa anda keluar dari kamar?" tanya salah satu pelayan melihatnya.
"A... Aku lapar bisa kalian sedikit memberiku makanan?" ujar Ren.
"Coba aku lihat, kami baru selesai membuat kue apa nona Li mau?" tanya pelayan itu.
"Ah aku mau,"
Pelayan itu memberi Ren sepotong kue stroberi dan segelas teh lalu menyuruhnya untuk makan di sini.
"Wah enak sekali," puji Ren melahap potongan kue itu.
"Kalau sudah selesai makan, mohon nona Li kembali kekamar takutnya Kaisar belum memperbolehkanmu berkeliaran," ujar pelayan itu.
"Ah baik,"
Setelah selesai makan Ren berencana untuk kembali ke kamarnya tapi saat perjalanan menuju kamar ia melihat pintu kamarnya terbuka.
Bukankah tadi ia menutupnya?
Ren segera masuk dan terkejut mendapati Mingxue yang sedang berdiri menunggunya.
"Kemana saja? Apa kau tahu kondisimu masih belum sepenuhnya stabil!" ujar Mingxue.
"Maaf kaisar Mingxue, tadi aku hanya sedikit berjalan-jalan sambil memakan kue di dapur kerajaan," ujar Ren.
Mingxue mendekat lalu mengelus rambutnya.
"Kalau kau ingin jalan-jalan aku akan menemanimu," ujar Mingxue.
Mingxue menayadari bahwa Ren adalah aset berharga dari kerajaan, mungkin ia bisa memanfaatkan Ren untuk mengambil giok kerajaan yang sekarang berada di bawah naungan kerajaan Qing.
Tapi untuk mengorbankan Ren ia masih belum tega habisnya gadis ini terlalu manis.
Tapi demi kekuatan kerajaan, wanita nomor dua. Mingxue berpikir pasti masih ada wanita secantik Ren di dunia ini jadi jika mengorbankan salah satunya pasti tidak apa-apa.
"Terima kasih, kaisar sangat baik suatu hari nanti pasti aku akan balas budi," ujar Ren.
Mingxue hanya tersenyum lalu menemani Ren untuk jalan-jalan pagi keluar, menyaksikan matahari pagi yang akan terbit.
Mingxue membawa Ren kesebuah menara kerajaan dimana ia bisa menyaksikan mentari pagi yang akan terbit.
"Wah udara pagi segarnya," ujar Ren langsung berlarian.
"Kau baru saja pulih jangan sampai kau terluka akibat berlarian seperti orang gila," ujar Mingxue berjalan menggandeng Ren.
Ren terlihat sangat bahagia, meski minggu lalu adalah hal yang bahagia sekaligus mengerikan.
Tapi ia harap untuk hari ini ia akan bahagia dan baik-baik saja.
Tapi ada satu hal yang selalu mengganggu pikirannya, kenapa dengan klan Li? Lalu kenapa kerajaan Qing ingin membunuhnya.
Bisakah ia tanyakan ini pada kaisar Mingxue?
Apa dia tahu ya?
"Iya,"
"Aku ingin menanyakam sesuatu padamu," ujar Ren mengambil nafas dalam-dalam.
"Apa?" tanya Mingxue.
"Kenapa kerajaan Qing membunuh semua anggota Li?" tanya Ren, meski ia tahu jawabannya karena mereka memberontak dan mencuri giok hijau istana.
"Aku kurang tahu, lagipula aku sudah tidak berhubungan baik dengan kerajaan Qing dan Xiaou Zen, tapi yang pasti batu giok itu milik klan Li," jelas Mingxue.
"Milik klan Li?"
"Secara garis berasnya klan Li juga mempunyai kedudukan yang setara dengan kaisar kerajaan Qing, tapi aku juga kurang tahu kenapa klan Li langsung di posisi terendah. Itu sebabnya klan Li memberontak dan mencoba merebut batu itu," jelas Mingxue.
"Batu giok hijau,"
"Sudahlah daripada memikirkan itu, sebaiknya kau tetap fokus menyembuhkan diri dan tinggalah disini sebagai permaisuriku,"
"Apa!"
Ren terkejut ketika Mingxue memintanya menjadi permaisurinya.
"A... Apa maksudmu Kaisar Mingxue kau tahu latar belakangku aku hanya orang asing yang tidak mempunyai kedudukan tinggi,"
"Aku tidak peduli, yang ku inginkan adalah dirimu," ujar Mingxue menekan tubuh Ren ke dinding menara. Lalu mulai mendekatkan wajahnya.
"Tu... Tunggu... Uhmmm,"
Mingxue mencium bibirnya dengan sangat dalam, bahkan Ren sulit untuk bernafas.
Ciuman pertamanya telah di ambil oleh kaisar Mingxue.
Mingxue melepas ciumannya dan sedikit mengambil nafas. Ren yang terlihat ngos-ngosan wajahnya memerah.
"Hah, tunggu... Umhh,"
Minxue memeluknya erat sambil menciumnya untuk beberapa menit akhirnya mentari pagi muncul menyinari mereka berdua.
"Kaisar Mingxue, apa yang kau lakukan?" tanya Ren segera menjauh setelah Mingxue melepasnya.
"Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah menahannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku ingin kau tetap di sisiku,"
Meski pernyataan cinta yang tidak langsung, Ren paham kalau Mingxue mungkin saja telah menyukainya.
"Tapi kaisar Mingxue mohon jaga kesopananmu,"
"Kau yang menggairahkan, siapa saja tidak akan mungkin bisa menahannya," ujar Mingxue memperlihatkan sisi nakalnya.
Mingxue kembali mendekat, lalu menjilat daun telinganya yang membuat Ren langsung gemetar.
"Seluruh tubuhku milik ku," bisiknya yang menggoda.
Ren segera menjauh, merasa tidak aman ia pun langsung lari menara dan lari menuju kamarnya.
Sesampai di kamar, ia ngos-ngosan kelelahan dan langsung merebahkan diri.
Air matanya menetes seketika, berpikir kalau Mingxue bukan laki-laki baik.
Ia kemudian meraba bibirnya yang telah di cium oleh Mingxue dan mengingag kembali bagaimana Mingxue mengatakan kalau seluruh tubuhnya adalah milik Mingxue.
Gulfan yang baru bangun langsung heran melihat Ren yang menangis.
"Ren kenapa menangis? Apa kau merasa sakit?" tanya Gulfan panik berterbangan kesana kemari.
Ren segera menghapus air matanya lalu tersenyum.
"Gulfan aku baik-baik saja, setelah kau bangun aku berencana ingin kabur dari istana ini," ujar Ren.
"Hah, kabur! Apa yang kau katakan Ren kau aman di sini. Kau tahu kerajaan Qing jika menemukanmu kau pasti akan langsung di habisi,"
"Aku tahu, aku ingin kembali ke gunung saja,"
Next.