
Ren akhirnya melihat bahwa rumahnya telah di bakar habis dan barang-barang peninggalan orang tuannya telah terbakar dengan rumah itu.
Ren hanya terduduk lesu, mengingat betapa kejamnya Zen padanya.
Segitu bencinya kah dia terhadap klan Li?
"Kau lihat kan?" ujar Xiu Ye berjongkok di depan Ren.
Terlihat tetesan air mata jatuh ke pipi Ren, jantung Xiu Ye berdebar ketika melihat betapa lemahnya gadis ini sekarang.
Xiu Ye langsung memeluknya dengan erat, gadis malang yang tidak memiliki satu anggota pun di klannya bahkan orang tuanya jugadi bantak sadis.
Pertama ayahnya yang di bantai dengan klan Li, lalu meracuni ibunya yang menjadi pelayan di istana.
Lalu hanya meninggalkan Ren sendiri.
Melihat gadis itu yang tidak akan berdiri, Xiu Ye menggendongnya menaiki kudanya.
Gadis itu tak bicara sepatah kata pun, airmatanya yang terus mengalir dan wajah yang tanpa ekspresi.
Pastinya gadis ini akan menumbuhkan dendam terhadap Zen.
"Kau mau membawaku kemana? Apa mau membunuhku?" tanya Ren datar.
Posisi duduknya berada di depan Xiu Ye. Xiu Ye memeganginya sambil memegang tali kudanya.
"Kenapa aku harus membunuhmu? Aku akan membawamu tinggal di kediamanku," jelas Xiu Ye mendengar nada keputus asaan gadis itu.
Ren kembali diam sepanjang jalan, ia tidak bisa menangis lagi. Gulfan juga meninggalkannya ia berhasil ke gunung perbatasan tapi tidak berhasil menempati rumahnya dan sekarang malah di bawa oleh seseorang dari kerajaan entah kemana.
"Jangan takut, aku akan melindungimu meski aku akan menjadi buronan nanti, dan meski nyawa taruhannya," ujar Xiu Ye tersenyum.
Saat itu kesan Ren terhadap Xiu Ye adalah orang bodoh. Orang bodoh mana yang rela mengorbankan nyawanya untuk melindunginya.
Apa Ren sedang di bohongi sekarang?
"Lakukan saja sesukamu!" ujar Ren pasrah.
"Baik!" ujarnya sambil tersenyum.
Tak lama sampai di kediaman Xiu Ye, kastil yang luar biasa mewah. Mengingat pangkat Xiu Ye adalah jenderal kerajaan pastinya akan di beri fasilitas yang mewah dari kerajaan.
"Pelayan tolong bantu dia mandi dan mengganti pakaiannya!" perintah Xiu Ye pada para pelayannya.
Para pelayan wanita segera menuntun Ren, dan Ren masih tidak berbicara.
Pelayan membersihkan badan Ren dari kotoran dan lumpur yang menempel ditubuhnya.
"Nona kulitmu sangat cantik sekali," ujar Pelayan itu membuka pembicaraan.
Perasaan canggung, Ren tetap diam dan wajahnya tanpa ekspresi.
Sebenarnya kenapa dengan wanita ini? Kenapa tuan jenderal membawanya kesini?
Itu menjadi pertanyaan bagi pelayan-pelayan itu.
Setelah membersihkan Ren. Para pelayan mendandaninya dengan cantik dan memakaikan dress pink khas bangsawan.
Ren melihat dirinya di kaca, betapa cantiknya ia sekarang. Refleks ia terkejut iabaru sadar sejak kapan iadi dandani dan memakai gaun mewah ini.
Ada apa dengan Xiu Ye ini?
"Heee, apakah ini aku?" tanyanya melihat dirinya di cermin seperti boneka barbie sangat cantik.
"Itu anda nona," ujar Pelayan tertawa pelan.
Ren di tuntun kemeja makan di mana Xiu Ye telah menunggunya.
Terlihat meja megah berlapis emas yang begitu panjang, di penuhi oleh berbagai macam makanan dan makanan pencuci mulut.
Di meja mewah ini dengan banyak makanan hanya mereka berdua yang makan.
Xiu Ye terkejut ketika melihat penampilan Ren yang sangat cantik malam ini bak dewi yang turun dari langit.
Ren duduk berseberangan dengan Xiu Ye, ia akan menanyakan sebenarnya apa mau Xiu Ye dan kenapa dia mau melindungi dirinya.
"Malam ini kau sangat cantik," puji Ye.
"Terima kasih," jawab Ren singkat.
Penampilannya malam ini memakai gaun pink ala bangsawan kerajaan China, rambut cokelatnya di hias dengan pernak pernik jepitan, aksesoris kalung dan gelang dan memakai sepatu pink.
Tentu saja penampilan Ren sangat bersinar malam ini, membuat mata Ye tidak mau berpaling darinya.
Xiu Ye terus-terusan melihat Ren yang makan dengan lahap, merasa sadar kalau sedang di tatap.
Ren mengelap bibirnya, mungkin saja cara makannya tidak anggun.
"Maaf, kenapa kau terus melihatku jenderal Xiu Ye?" tanya Ren merasa tidak enak dan risih.
"Maaf, kau sangat cantik dan seharian ini kau baru memanggil namaku," ujar Ye tersenyum.
"Kau adalah jenderal tersangar yang pernah ku lihat, bagaimana kau bisa berubah secepat ini dan mengaku kalau kau merindukanku," ujar Ren ketus.
"Aku memang jenderal tapi kata hatiku aku harus melindungimu, sejak kau dibawa pergi oleh kaisar Mingxue aku terus mengejarmu hingga ke istana tetangga dan mendengar kabar kalau kau jatuh dari tebing perbatasan selatan, aku sangat sedih waktu mendengar kabar itu," jelas Ye terlihat ekspresi murungdi wajahnya seperti mengingat hal yang menyedihkan.
"Sedih?" tanya Ren bingung, kenapa dia harus sedih?
Padahal dia adalah orang kerajaan Qing dan seorang jenderal mungkin saja tangannya juga menghabisi anggota Li tanpa sisa membunuh ayah dan ibunya.
"Kau hanya ingin membunuhku kan, jujur saja kau pasti ingin membunuhku kan!" teriak Ren sambil memukul meja berdiri dan menatap Ye tajam.
Ye menatap Ren dengan serius sambil tetap tenang menghabiskan sisa makanannya.
"Beri aku pedang, aku akan memenggal kepalamu dan kepala kalian semua. Jangan berpura-pura baik padaku padahal kau adalah jenderal terkejam di kerajaan Qing kau kira aku percaya dengan itu kau ingin melindungiku sebut saja kalau kau ingin membunuhku!" ujar Ren kesal.
Para pengawal langsung memegangi Ren yang terlihat sudah mengamuk.
"Nona tenanglah!" ujar pengawal yang memeganginya.
"Lepaskan aku!" ujar Ren berusaha memberontak.
Ye memukul meja dan juga ikut berdiri membuat keadaan semakin memanas.
"Kau pikir aku yang menghabisi seluruh kuargamu? Aku tidak tahu menahu tentang itu. Pada saat itu aku sedang ikut berperang di perbatasan selatan dan orang-orang dari kerajaan selatan berhasil menerobos masuk ke wilayah Qing," Jelas Ye sambil mengambil nafas panjang.
"Orang-orang Li lah yang berkhianat mereka bekerja sama dengan orang-orang selatan untuk merebut giok hijau di dalam istana. Ketika mendapatkannya klan Li jug mengkhianati orang-orang selatan sehingga menjadi perang besar," jelas Ye.
Ren berusaha mencerna semua penjelasan dari Ye fakta sebenarnya klannya. Klan yang berhak atas batu giok hijau itu.
"Syarat untuk damai dengan kerajaan selatan adalah membantai seluruh klan Li dan tidak membiarkan siapapun dari kerajaan mereka yang melewati batas wilayah, aku tahu kau tidak akan percaya jadi aku ingin kau mempercayai satu hal kalau aku ingin benar-benar melindungimu satu-satunya tangan yang berhak atas giok itu," jelas Ye.
Pengawal melepaskan Ren yang masih mencerna semua perkataanYe.
"Sudah malam istirahatlah, kau pasti lelah seharian ini tinggalah sementara waktu di sini," ujar Ye berlalu meninggalkannya di meja makan.
Next