
Setelah seminggu semenjak kejadian itu berlalu.
Ren mencoba membuka matanya, rasanya seluruh badannya terasa mati rasa terutama di bagian lengan kananya.
Ia meraba tangan kanannya yang ternyata diikat dengan kain kasa, sementara itu ia juga mendengar suara bising setiap hari entah itu mimpi atau bukan dan ia juga melihat seorang pria bangsawan yang selalu menemaninya.
Mungkinkah jiwanya sekarang berada di surga?
"Ukh," Ren meringis merasa sedikit nyeri ketika hendak menggeser badannya.
Terdengar suara kaki yang tergopoh-gopoh menemuinya dan sekarang menatapnya.
Ren membuka matanya perlahan ketika seseorang terasa sedang memanggil-manggil namanya dan juga terdengar sangat khawatir.
Ketika ia membuka mata sepenuhnya ia benar melihat seorang pria bangsawan dan ruangan kamar ini sangat mewah dan tidak familiar. Pria dengan rambut pink panjang yang di kuncir lalu memakai mahkota kerajaan serta mata onix hitam pekat.
"Kau?"
"Kau sudah sadar, syukurlah sudah seminggu kau tertidur dan hanya meringis saat kesakitan aku sangat senang kau membuka matamu," ujar pria tampan itu terlihat senyumannya merekah.
"Si... Siapa?" tanya Ren, rasanya wajah ini sangat familiar seperti pernah melihatnya.
"Maaf kau terkejut ya, saat kau pingsan dan mengeluarkan banyak darah di pesta ulang tahunnya Xiaou Zen. Aku membawamu kekerajaanku kau sekarang berada di kerajaan Kin aku adalah Kaisar Mingxue sepertimu kita pernah bertatap muka sebelumnya," jelasnya dengan tersenyum manis.
Wajah tampan dan seorang kaisar, mungkinkah dia satu sekongkolan dengan kerajaan Qing? Dan berencana membunuhnya seperti Chao Lu?
"Apa maksudmu membawaku kesini? Apa kau ingin membunuhku seperti di kerajaan itu?" tanya Ren dengan menangis, ia mengalihkah wajahnya tak ingin bertatap mata dengan Mingxue.
"Kau aman di sini dan tidak di bunuh, lagipula untuk apa aku mengobatimu jika kau akan mati kehilangan banyak darah? Dalam seminggu kau hanya tertidur itu membuatku sangat khawatir dan menghadirkan seluruh tabib kekerajaanku, namun ada satu tabib yanh akhirnya bisa menyelamatkanmu. Dia adalah Zhong Yu dia adalah tabib dewa," jelas Mingxue sedetail mungkin.
Melihat Ren yang menangis serta mengetahui asal-usul keluarganya ia sedikit sedih. Bahkan kerajaannya di mana ia tinggal akan mengancam membunuhnya.
Dalam seminggu ini Mingxue sudah bekerja keras mencari identitas Ren, yang ternyata dia di asingkan di gunung untuk menyelamatkannya dari masa depan seperti ini.
Tapi takdir tak bisa di ubah, dia malah datang kesini dan menampakan kembali wajahnya selama bertahun-tahun.
"Tinggal di sini kau akan aman," ujar Mingxue menghapus air mata Ren lalu kembali berdiri dari ranjang Ren.
Ren sedikit terkejut mendengar apa yang di ucapkan kaisar ini, tinggal di sini? Maksudnya tinggal di istana ini? Pipinya sedikit merona merah.
Seperti ada yang lupa, ia melihat kesana kemari dan membalik bantal yang ada di ranjang.
Ya Gulfan, burung kecilnya ada di mana?
Melihat itu Mingxue menyadari kalau gadis ini mencari sesuatu.
"Apa kau mencari burung kenari emasmu?" tanya Mingxue.
"Ah iya aku mencarinya apa kaisar Mingxue melihatnya?" tanya Ren.
Tiba-tiba seekor burung kenari emas kecil datang kekamarnya dan segera memeluk pipi Ren.
"Ren, Ren akhirnya kau sadar huhuhu aku takut kau tidak membuka matamu lagi," ujar Gulfan menangis tersedu-sedu.
"Aku baik-baik saja Gulfan," ujar Ren tersenyum manis.
"Ren... Li Ren, Jadi seperti itu ya senyumannya, tunggu apa dia mengerti bahasa peliharaannya?" tanya Mingxue dalam hati melihat tingkah aneh Ren dengan burung itu.
"Kenapa kaisar Mingxue menatapku seperti itu?" tanya Ren bingung ketika melihat Mingxue menatapnya aneh.
"Tidak, aku hanya berpikir kau sangat menyayangi peliharaanmu bahkan sampai mengerti bahsanya hehehe," ujarnya sambil malu-malu.
"Jahat kau Ren!" ujar Gulfan kesal.
Melihat suasanannya sudah cukup heboh lalu datanglah seorang tabib dewa tampan dengan kulit putih pucat bahkan sampai kealis matanya. Ia juga memakai pakian putih yang di hiasi oleh bunga violet, matanya berwarna biru aqua seperti manusia fantasy saja.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya tabib itu.
"Wah cantik sekali," ujar Ren dalam hati ketika melihat tabib dewa itu.
"Dia adalah tabib bergelar dewa Zhong Yu," ujar Mingxue memperkenalkan.
"Aku sudah lebih baik sekarang, terima kasih sudah mengobatiku," ujar Ren sedikit tersipu malu melihay keindahan tabib itu.
"Tidak apa-apa akhirnya kau juga selamat dari masa kritismu,"
"Kritis?"
Apakah separah itu? Tapi Ren sedikit mengingat lengannya terkena dua tebasan pedang dari Chao Lu, siku dan bahunya sehingga bagian lengan bajunya robek.
Lalu ia terjatuh dari lantai dua dan berakhir di depan tamu dan Kaisar Xiaou Zen.
Lalu sekarang ia memakai baju piyama dress berwarna putih, dan artinya bajunya telah di ganti.
Berpikir positif mungkin pelayan kerajaan ini mengganti pakaiannya, atau jangan-jangan kaisar ini?
Ia menjadi salah tingkah sendiri sambil memegangi mukanya yang merah padam.
Mingxue dengan peka mengecek suhu badan Ren meraba keningnya karena melihat wajah Ren yang memerah.
"Tidak demam," ujarnya juga meraba keningnya merasakan suhu badannya yang sama dengan Ren.
"Ba... Baju?" ujar Ren memegang erat lengan sang kaisar.
Menyadari Ren memakai piyama dress pasti itu membuatnya berpikiran lain tentang tubuhnya.
"Aku masih belum melihat tubuhmu," ujar Mingxue yang berhasil di hadiahi tamparan kecil dari Ren.
"Dasar mesum! Enyahlah!" ujar Ren langsung menarik selimutnya menutupi seluruh badannya.
"Hei Ren tenanglah, pria ini orang baik," ujar Gulfan berbisik pada Ren.
"Aku tidak mesum pelayanku yang mengganti pakaianmu, pakaian di tubuhmu sudah robek dan berlumuran darah," jelas Mingxue.
"Nona Ren, tidak baik kau marah-marah seperti ini sebaiknya kau istirahat sedikit lagi karena ini sudah menjelang malam," ujar Zong Yu menyudahi.
"Jika kau butuh sesuatu pelayanku ada di depan pintu kamarmu," ujar Mingxue berjalan keluar kamar bersama dengan Zhong Yu.
"Huh! Aku sangat bersyukur Ren kau masih bisa hidup, jika tidak pasti dewa itu akan memarahiku," ujar Gulfan masih ingin memeluk Ren.
"Gulfan kau sedikit gemuk, apa kau senang selama aku tertidur? Atau kau malah di perbudak?" tanya Ren.
"Tenti saja aki senang di sini, mereka semua memberiku makanan dengan baik di sini apa kau tahu, bahkan mereka membuatkan segunung kue untuk ku," ujar Gulfan terlihat senang.
"Syukurlah mereka tidak dendam kepada kita,"
"Sepertinya begitu, bahkan Kaisar Mingxue memutus hubungannya dengan karajaan Qing, itu semua demi mu Ren,"
Mendengar itu Ren sedikit terkejut, bahkan saat perjamuan di pesta ulang tahun, Xiaou Zen menyambutnya dengan meriah bahkan memanggilnya sahabat.
Next