
Setelah menempuh perjalanan selama 2 hari akhirnya Ren sampai ke negeri awan dan mulai mencari nenek yang meramalnya itu.
Ia melihat peta yang di buatkan Gulfan untuknya, ini pasti tidak salah.
"Ah maaf, aku menabrakmu?" ujar Ren tak sengaja menabrak seseorang di jalan.
Karena ia berada di pusat kota yang ramai. Ren membantu orang yang di tabraknya itu, ternyata ada sekeranjang buah yang berserakan. Ren membantu mengutip semua buah itu dan memasukannya ke keranjang buah.
"Terima kasih nak, apa kau mau satu?" tanya wanita yang paruh baya itu.
"Tidak nek," ujar Ren menolak dengan tidak enak.
"Kau sepertinya sangat asing di kota ini, apa kau tidak berasal dari sini?" tanya sang nenek.
"I... Iya benar nek, aku kesini mencari seorang peramal yang mungkin sudah berusia 80 tahunan," jelas Ren.
"Peramal tua?"
Nenek itu cukup terkejut ketika ia dengan jelas melihat wajah muda itu, seorang gadis dengan pakaian yang acak-acakan serta tudung yang ia pakai. Luka-luka akibat perjalanan.
Sepertinya gadis ini sudah banyak melalui kesulitan sampai akhirnya datang kesini.
"Sinilah bantu aku membawa buah ini kerumahku," ujar sang nenek menariknya pergi bersamanya.
"Ta... Tapi nenek," ujar Ren memberontak karena merasa asing.
"Ikuti saja aku, kau akan bertemu dengan peramal itu,"
Akhirnya Ren mengikuti nenek itu pergi kerumahnya yang tidak jauh dari pusat kota.
Setelah memasuki rumah kecil itu, sang nenek menaruh buah itu dan membuatkan Ren teh menyuruhnya menunggu di ruang tamu.
"Ada apa dengan nenek ini? Apa benar aku akan segera bertemu peramal,"
Tak lama wanita paruh baya itu akhirnya keluar dan duduk di seberang Ren.
"Jadi apa yang membuatmu kesini untuk bertemu denganku?" tanya nenek itu.
"Nenek jangan bercanda aku kesini mencari peramal, aku ingin tahu apa itu 7 bukit dan giok emerald. Bagaimana masa depanku nanti?" ujar Ren sedikit terlihat kecewa.
"Aku adalah peramal yang membantu ibumu melahirkan dulu, kau lahir di tengah sinaran bintang-bintang,"
"Ja... Jadi nenek adalah peramal itu, syukurlah aku bertemu denganmu,"
"Jadi kau ingin tahu semua itu?" tanya sang nenek.
"Iya nek,"
"Baiklah, ada masa depan yang kau genggam dan bagaimana seluruh Li terbantai,"
Nenek akhirnya menceritakan apa itu masa depan yang di genggam dan kenapa Ren terpilih.
Ren adalah keturunan Li yang di anugerahi paras yang cantik tetapi nasibnya tidak baik.
Saat peperangan berlangsung waktu itu. Ren lahir dan memiliki ramalan nasib yang berat.
Dia menggenngam 7 kerajaan di tangannya dan satu giok emerald yang kini berada di kerajaan Qing.
Mantan kaisar Xiaou belum tahu cara untuk mengaktifkan kekuatan dari giok itu, karena dia tahu kalau pemilik Giok itu adalah Li dan akhirnya membantai mereka sebelum mendapatkan giok itu.
Karena Li tahu itu seharusnya menjadi milik mereka dan penguasa sebenarnya adalah Li.
Namun semenjak kepemimpinan kaisar ke II maka, keluarga Li di gulingkan dan mengambil giok mereka sebagai tanda pemimpin. Keluarga Li di asingkan sangat jauh dan mengubah sejarah mereka bahwa giok itu adalah milik kerajaan Qing.
Tiga hari Ren lahir ia harus di asingkan dan di besarkan di gunung perbatasan agar nyawanya tidak terancam bahwa Ren memiliki takdir seperti itu.
Cepat atau lambat Ren harus kembali merebut giok itu dan menjadi dewi yang sebenarnya melalui kekuatan giok yang hanya bersinar ketika di tangan pemilik mereka.
"Jadi begitu? Mereka membantai seluruh keluargaku hanya demi sebuah Giok dan tahta," ujar Ren terdengar nada sedih di antara suara itu.
"Orang tuamu menyembunyikanmu dengan baik mengapa kau pergi kekota nak?" tanya sang nenek tidak percaya.
"Aku adalah anak yang di besarkan jauh dari pengetahuan, ibu dan ayahku tidak pernah kembali semenjak itu. Aku ke kota dan akhirnya membongkar satu persatu dari kejahatan mereka, aku tidak tahan aku ingin mengambil apa yang telah menjadi milik keluargaku," ujar Ren akhirnya air mata itu jatuh.
"Apa pedangmu sangat cantik, apa itu dari partner sang dewa?" tanya nenek itu memperhatikan pedang yang ada di pinggang Ren.
"Kau jangan meremehkanku, karena aku juga merupakan keturunan sang dewi," ujar nenek tersenyum sambil membelai wajah yang rapuh itu.
Dalam setengah tahun Ren bertekad untuk melatih ilmu berpedangnya dan suatu saat melakukan perang dengan kerajaan negerinya sendiri untuk mendapatkan Giok itu.
Ia berpikir apa bisa membunuh kaisar Qing dan mendamaikan 7 negara dari peperangan?
Mengingat kenyataan bahwa ia hanya seorang gadis, ia hanya ingin hidup damai tanpa mengetahui apa itu urusan politik.
Membunuh kaisar Qing lalu mengumumkannya tanpa harus berperang, lagipula bagaimana ia akan berperang ketika ia hanya seorang diri.
Pasti hanya akan pergi membuang nyawa, dan membunuh kaisar secara diam-diam itu ia hanya perlu berhadapan dengan kaisar kan.
Ting...
Pedang Ren di tahan oleh seseorang tiba-tiba.
"Heh?"
"Apa kau pikir dengan begitu kau akan bisa membunuh seseorang?" tanyanya datar.
Ren melihat siapa orang yang berbicara dengannya itu.
Seorang pria tampan dan sangat elegan berdiri di depannya sambil menahan pedangnya.
"Maaf, siapakah anda?" tanya Ren.
"Aku adalah seorang guru yang mulai sekarang akan melatihmu berpedang, ini alamat dojo ku dan datanglah," jelasnya.
"Apa, apa nenek yang memintamu?"
"Tidak! Kurasa aku menemukan yang cocok saja sebagai partner ku," ujar pria itu.
Ren melihat kartu nama dan alamat dojo itu.
Liao Wen adalah nama pria itu dan alamat dojo juga terpampang jelas.
"Liao,"
Ketika Ren menoleh rupanya pra itu menghilang.
"Apa... Apaan itu, misterius sekali. Dia seperti hantu, atau jangan-jangan memang hantu?"
Karena Sudah hampir malam, Ren pun berlari masuk ia seperti ketakutan dengan pria misterius itu.
"Aaaaa,"
"Aaaaa,"
"Ne... Nenek,"
"Rupanya kau, kau hampir membuat jantungku meledak keluar," ujar nenek mengelus dadanya karena terkejut bertabrakan dengan seseorang.
Lampu rumah memang belum hidup jadinya gelap.
"Heheh maaf nenek, kalau begitu aku akan membantumu memasak lalu mandi.
Ren membantu sang nenek membuat makan malam lalu makan malam bersama di sebuah meja kecil.
Tiba-tiba Ren teringat akan masa lalu, dulu ia sering makan bersama dengan kelurganya. Dan sudah berapa lama mereka tak makan bersama?
"Ada apa?" tanya nenek menyadari ekspresi wajah Ren.
"Ti... Tidak nenek," ujar Ren segera memakan makanannya.
"Aku tahu dari matamu, tidak perlu menjelaskannya. Jika kau ingin bercerita aku selalu ada untukmu," ujar sang nenek.
"Terima kasih nenek,"
Ren tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa makan bersama lagi dengan nenek.
Next