
Dalam beberapa hari Ren terus di dalam kamar, karena sebenarnya Mingxue juga mengincar dirinya.
Setelah Gulfan ingat akan misinya, Ren terkejut mendengarnya.
'Masa depan ditangannya? 7 kerajaan bersamanya?'
"Gulfan kau yang benar saja?" tanya Ren terkejut.
"Ini ingatanku, aku tidak mungkin salah itu sebabnya dewa menyuruhku untuk membantumu, dalam enam bulan saat gerhana matahari 1000 tahun, batu itu sudah ada di tanganmu," ujar Gulfan.
Karena tahu Ren akan melarikan diri akhirnya ia di kurung di dalam kamar dan di perketat penjagaannya.
"Tcih dasar Kaisar mesum," decak Ren melihat pintu kamar kembali tertutup ketika pelayan datang mengantar makanannya.
Bahkan sebagian banyakRen tak mau menyentuh makanan itu, meski ia kelaparan.
"Ren makanlah dulu, aku akan memikirkan cara untuk keluar dari sini. Masalahnya tabib dewa itu mengetahuiku dan memasang penangkal sihir," ujar Gulfan asyik mengunyah makanannya.
"Makanan ini apa tidak di kasih racun?" tanya Ren menatap makanan yang super mewah.
"Kau lihat aku selalu memakannya, aku tidak mati karena makan ini. Jika kau tidak makan maka kaulah yang akan mati," ejek Gulfan.
Yang di katakan Gulfan benar, belum saatnya ia menyia-nyiakan nyawanya kepada orang-orang serakah ini.
Bagaimana pun sebelum gerhana matahari datanh dalam enam bulan ia harus merebut batu giok hijau itu.
Lalu menyatukan tujuh kerajaan agar tidak ada lagi bentrok dan peperangan yang mengakibatkan dunia ini hancur.
Ren akhirnya mengambil sedikit makanan dan memakannya untuk mengganjal rasa laparnya.
Ketika malam hari telah tiba, Ren merasa kalau penjaga di luar sedang sibuk, bahkan seharian ini Mingxue belum mengunjunginya.
Ia membuka pintu jendela yang ternyata agak tinggi jika melompat.
"Ren apa kau sudah gila? Apa kau ingin melompat dari ketinggian ini?" tanya Gulfan khawatir.
"Gulfan aku punya ide bagus, jika di kamar ini sihirmu tidak bisa di gunakan apa bisa kau gunakan sedikit sihir di luar istana?" tanya Ren merasa ada ide bagus yang muncul dari kepalanya.
"Ah kau benar Ren. Hebat Ren!" ujar Gulfan memberi jempol kepada Ren, karena mendapatkan ide dari Ren.
Gulfan keluar istana melalui pintu jendela dan menggunakan sihir untuk membuat semua orang tertidur.
Suara yang tadi bising sekarang sudah hening, para penjaga, prajurit, pelayan mungkin saja Kaisar juga ikut tertidur.
"Ren sudah aman," ujar Gulfan.
Ren mengikat sebuah kain selimut dan gorden memanjangkannya kebawah sebagai tali lompatan untuk turun dari kamar ini.
Tentu saja pintu kamar juga di kunci meski semua orang tertidur.
"Berhasil,"
Mingxue yang menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kerajaannya lalu memanggil tabib dewa Zhong Yu.
Yang langsung tahu ini adalah ulah siburung kecil.
"Dia itu burung kenari emas sebagai partner dewa, dan tujuannya kesini membantu nona Li. Kau harus minum ini agar terhindar dari gas sihir ini," ujar sang tabib memberi segelas ramuan.
Dengan kesal Mingxue langsung mendeguk dengan cepat lalu pergi berjalan cepat menuju kamar Ren.
Alangkah terkejutnya melihat para penjagannya telah di buat tertidur.
"Mereka semua akan tertidur sampai besok pagi," jelas Zhong Yu memeriksa seluruh pekerja istana.
Ketika di bukanya pintu kamar, jendela telah terbuka dan Ren telah hilang.
"Tcih, wanita ini benar-benar membuatku kesal,"
Mingxue kesal dan segera menyusul Ren berharap semoga saja wanita itu belum terlalu jauh.
Tabib dewa Zhong Yu juga ikut karena yang tersisa dari kerajaannya hanya ia dan Mingxue.
Ren lari memasuki sebuah hutan, ia menemukan jalan buntu di mana di depannya adalah jurang.
"Gulfan bagaimana ini?" tanya Ren panik.
"Li Ren kau tidak bisa kabur dariku!"
Ren sangat panik ketika mendengar suara Mingxue yang menggema di seluruh hutan.
"Ren, kita harus lompat," ujar Gulfan.
"Apa? Apa kau gila, tadi kau menyuruhku tidak menyerah akan hidup lalu sekarang kau suruh ku lompat lalu mati?" ujar Ren tak percaya aoa yang telah di dengarnya.
"Aku ini punya sihir, tapi aku tidak bisa mengangkatmu terbang bersamaku. Kau tidak akan mati ayo lompat!" tegas Gulfan.
"Sebegitu inginkah kau ingin mati!"
Tiba-tiba Mingxue telah muncul di depannya sambil tersenyum sinis di temani oleh tabib dewa itu.
"Nona Li, sebaiknya anda pulang karena akan aman di dalam istana dan tubuhmu masih belum terlalu pulih," pinta Zhong Yu.
"Kau menyuruhku keistana itu, lalu mmengurungku dan akhirnya mengorbankan ku untuk mendapat giok itu. Bagus sekali idemu Kaisar Mingxue,"
Mendengar itu Mingxue tidak bisa berkata apa-apa karena tujuannya memang benar seperti itu.
"Kau, tahu darimana?" tanya Mingxue balik.
"Kau tidak perlu tahu, aku lebih baik mati melompat kejurang ini daripada harus di korbankan olehmu," tunjuk Ren kesal pada Mingxue.
"Sebenarnya kau tidak akan mati selama ada aku," ejek Gulfan.
"Hoo, nyalimu besar juga silahkan saja kau lompat dan matilah!"
"Baik!"
Ren melihay dengan ngeri bahwa begitu dalamnya jurang itu, apa benar ia bisa mempercayai Gulfan sekarang?
"Hei, Gulfan sekarang nyawaku ku serahkan padamu," ujar Ren mempersiapkan mentalnya.
Sementara Mingxue dan Zhong Yu hanya melihat dengan senang hati, berpikir bahwa Ren tidak akan berani melompat.
"Apa kau siap? Jika tidak ayo kembali kepelukanku," ujar Mingxue merentangkan kedua tangannya.
"Tidak sudi! Aku terlahir untuk berani dan selalu siap apapun keadaannya,"
"Lompat Ren," ujar Gulfan.
Ren menghembuskan nafas panjang, lalu memasang kuda-kudanya untuk terjun bebas.
"Jangan-jangan!" Mingxue yang benaran panik segera mengejar Ren lalu hampir meraih tangannya dan_
Sorot matanya langsung berubah takut, panik dan tidak percaya. Ren menjatuhkan dirinya ke jurang.
Zhong Yu tidak habis pikir ternyata wanita itu memiliki akal yang pendek.
Tapi benarkah Ren mati jika jatuh dari jurang itu?
Selama ada burung itu, Ren pasti selamat. Karena tampaknya sebelum jatuh Ren tampak mempeecayakan hidupnya pada burung itu.
"Di... Dia jatuh,"
Mingxue dengan panik tanpa sadar juga ingin melompat menyusul Ren.
Tapi Zhonh Yu segera memeganginya dan menengkannya.
"Mingxue sadarkan dirimu, kau tidam boleh jatuh demi wanita itu," ujar Zhong Yu.
"Ta... Tapi dia jatuh lalu mati,"
"Itu tidak benar, lagipula dia hanya persembahan yang akan kau korbankan,"
"Itu benar, tapi aku juga tidak bisa menghentikan hati ini bahwa aku juga mencintainya,"
Mendengar itu Zhong Yu langsung terkejut. Mencintai gadis itu.
Jangan bercanda!
"Sekarang kita harus kembali ke kerajaan dan meminta prajurit untuk mencarinya, aku yakin dia tidak akan mati semudah itu karena burung itu bersamanya," jelas Zhong Yu.
"Kau benar, aku tidak akan menyerah begitu saja,"
Mereka berdua pun kembali ke istana dan segera menyusun rencana untuk mencari Ren.
Next