
Ren kembali ke gunung perbatasan, ia sangat sedih ketika rumah yang satu-satunya tempatnya pulang telah di hancurkan oleh kerajaan.
Ren memasuki puing-puing rumah itu menemukan sesuatu untuk menjadi petunjuknya sebelum ia kembali pergi berkelana ke gunung Shi untuk mencari guru untuk melatihnya berpedang.
Saat ini ia sudah menjadi incaran dari beberapa kerajaan, bahkan ini baru dua bulan yang lalu ia meninggalkan gunung perbatasan pergi melihat kota.
Tapi apa sangka ternyata ia telah menjadi incaran selama ini.
Giok di kerajaan itu milik Li, maka ia harus kembali merebutnya dari Kaisar Zen.
"Mereka semua harus menanggungnya, mereka telah membunuh seluruh keluargaku!"
Di tempat Xiu Ye, mereka masih mencari keberadaan Ren. Sekarang hanya Ren yang bisa menjadi pionnya untuk melawan kerajaan.
"Cih, kau berpikir untuk kabur? Lihat saja sampai keujung dunia akan aku cari!"
Xiu Ye tampak kesal ia mengambil busur dan pedangnya lalu pergi menunggangi kuda sambil di ikuti oleh beberapa pengawal.
Zen masih belum tahu masalah Xiu Ye yang membawa Ren ke kediamannya saat ini Bai Ling masih mengancam Ye. Jika benar Ye menyembunyikan gadis itu. Maka ia harus bertindak demi keamanan Zen.
Di kediaman Zen, Tuan Jiang hari ini berkunjung karena ingin mendiskusikan masalah Ren ini padanya.
Bagi Zen keluarga Li masih merupakan masalah, ternyata pembantaian dulu masih menyisakan gadis itu.
Pertama kali bertemu gadis itu, ia merasakan getaran hebat di dalam hatinya. Ia jarang bisa jatuh cinta pada wanita meski sekarang ia sudah memiliki 9 selir tetapi bangku permaisuri masih kosong.
Jika gadis itu bukm dari Li, kemungkinan posisi permaisuri itu bisa untuknya.
Tapi masa lalu adalah masa lalu, bagaimana dengan masa depan?
Tidak dapatkah mereka berdamai dengan Li?
"Jadi kau ingin membicarakan ini kawan?" tanya Jiang.
"Iya, aku ingin segera menemukan gadis itu dan melakukan damai serta mengganti rugi atas semua kematian keluarganya. Aku rasa mungkin dia tidak akan menyimpan dendam lagi dan tidak mengambil Emerald Giok itu,"
"Apa kau kira gadis itu semudah itu? Saat aku bertemj dengannya aku melihat sebuah tanda yang ada di dadanya seperti berbentuk percikan api," ujar Jiang ia mengingat ketika Ren jatuh dengan baju yang penuh darah saat acara ulang tahun Zen.
"Apa kau mesum? Sampai memperhatikan gadis seperti itu?"
"Hei jangan begitu, aku memang mengakui kalau aku menyukai lekuk tubuh wanita dan curi-curi pandang ketika mereka berpakaian seksi apalagi bagian itu terbuka sedikit,"
"Kau si mesum bodoh, aku malas bicara denganmu," ujar Zen sedikit kesal dengan tingkah Jiang.
"Ah ayolah kawan, maafkan aku. Mari kembali ke topik pembicaraan kita,"
"Aku pikir kau memiliki beberapa mata-mata yang terlatih, apa kau bisa meminta mereka untuk mencari tahu keberadaan gadis itu sekarang?" tanya Zen.
"Hei tunggu dulu, aku masih membicarakan tanda ini. Apa kau yakin dia adalah gadis yang biasa? Kau bisa bertanya pada Xiu Ye karena mungkin saja dia telah melihat tanda itu," ujar Jiang.
"Bagaimana kau tahu, kalau Ye mengetahuinya?"
"Kau tanua saja dia, bukankah dia seorang jenderal? Aku yakin dia bisa menemukan tanda aneh dari gadis itu, meskipun gadis itu aneh, tapi aku menyukainya,"
"Diamlah kau bodoh,"
Yuan Jiang akhirnya juga menuruti kemauan temannya ini membayar beberapa mata-mata berbakat dari seluruh negeri Shen.
Sementara Ren masih mencari alat-alata yang bisa ia bawa ke negeri Awan.
Ia harus mencari seorang nenek yang membantu ibunya melahirkan dulu, bagaimana ia terlahir dan ramalan apa saja yang memenuhi hidupnya.
Ren menemukan sebuah kalung yang berlambang bunga persik itu, Ren ingat kalau itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya dan Ren senang bahwa kalung itu juga tidak ikut terbakar bersama rumahnya.
"Sebenarnya apa yang di maksud ramalan itu, bagaimana aku terlahir dengan nasib seperti itu?
Xiu Ye kembali kekediamannya dengan hati yang penuh kekesalan. Ia akhirnya kehilangan gadis itu, gadis yang ingin ia peralat untuk memblaskan dendam kepada keluarga Zen.
Ia harus cari cara untuk menemukan gadis itu.
"Bagaimana?" tanya Xiu Ye kepada mata-matanya yang juga bertugas menyelidiki Ren.
Dia merupakan mata-mata Yuan Jiang tetapi juga ahli informan kepada Xiu Ye.
"Terakhir kali aku menemukan jejak nona kecil ada di gunung perbatasan,"
"Gunung perbatasan, bukankah itu tempat tinggalnya?" tajya Xiu Ye.
"Benar tuan, tetapi setelah itu aku tidak menemukan jejaknya lagi. Ia seperti hilang di telan bumi, semacam sihir yang melindunginya," jelasnya.
"Sihir?"
"Sihir semacam itu sangat langka di negeri ini, itu adalah kalung bunga persik,"
"Bunga persik? Sebenarnya siapa gadis kecil ini?"
Di kastil XiangXiang Chagoi sangat kesal karena akhirnya membuat kesepakatan bersama Zen untuk mencari wanita ini.
Oke untuk sementara perang dingin telah di tunda, sampai gadis itu di temukan dan di tukarkan dengan kerajaan Selatan XiangXiang maka berdamailah dua kerajaan ini.
Semenjak Ren tak sengaja melihat wajahnya dari topeng, ia tidak bisa lagi memakai topeng karena telah di lihat oleh wanita yang akan di nikahinya.
Tapi siapa sangka dia berasal dari negeri Shen dan merupakan klan penghianat.
Ia tidak akan pernah lupa bagaiamana tentara dari Li menyiksa ibu dan ayahnya hingga mati, serta menggulingkan raja mereka sendiri.
Mereka benar-benar marga yang tercela. Tapi gadis ini...
"Cari, jangan kembali sampau kalian menemukannya hidup atau mati!" perintah Chagoi kepada beberapa pengawalnya.
"Baik kaisar,"
Di kediaman Yuan Jiang, ia juga telah mendapat informasi tentang bunga persik ini.
"Heheheh bunga persik ya, bagaimana kalau kita meminum ramuan khusus agar bisa menemukan jejaknya?" ujar Jiang kepada mata-matanya itu.
"Bagaimana menurutmu?" tanya mata-mata itu.
"Tunggu! Aku pikir nona kecil ini pasti kembali. Untuk apa repot-repot mencarinya,"
"Ternyata kau cukup cerdas,"
"Tentu saja, dia akan kembali demi giok emerald itu. Itu adalah punya mereka dan raja sebenarnya, gadis ini cukup malang aku yakin beberapa kerajaan pasti telah mengincarnya aku hanya memberinya istirahat dan menanti kejutan yang sebenarnya,"
"Sangat sayang sekali keluarga mereka di tuduh dn di bantai,"
"Itu bukan urusan kita, yang aku pedulikan hanya gadis itu," ujar Jiang memegang sebuah kalung mutiara yang masih belum ia berikan pada Ren.
"Ku pikir kau akan cuek saja dengan masalah ini, apa dia menarik perhatianmu?" tanya mata-mata itu.
"Entahlah, banyak gadis yang ku temui ku rasa dia yang paling unik,"
Next