
Ren masih memikirkan ramalan yang ia dapat dari mimpi itu, apakah benar ia memiliki 7 suami di masa depan?
Yang benar saja? Di dalam hukum suami istri. Istri itu hanya di bolehkan menikah satu kali dan suami bisa menikah berkali-kali apalagi kalau berasal dari keluarga kerajaan.
Contohnya mempunyai dua permaisuri dan selir.
Tapi Ren hanya gadis biasa, ia juga bukan putri kerajaan hanya gadis dalam ramalan yang membuat masa depan cerah untuk negeri ini.
Kamar terbuka, Ren ingat kalau ia masih tinggal di rumah bordil milik Yuan Jiang. Tapi Jiang juga tidak menyentuhnya lagi beberapa hari ini dan membiarkan Ren tidur di kamar ini sendirian, jika di pikir-pikir apakah Jiang tulus membantunya?
Jiang memasuki kamar dan membawakan sarapan untuk Ren dan meletakannya di meja.
"Terima kasih tuan muda Jiang, kau selalu repot-repot mengantarnya," ujar Ren tersenyum tak enak.
"Tidak apa-apa, lagipula aku memasaknya khusus untukmu. Kau beberapa hari ini terkena demam dan aku telah mendatangkan tabib terbaik dinegeri ini syukurlah kau sembuh dengan baik," ujar Jiang terlihat bersyukur.
"Tuan Jiang, untuk beberapa hari ini terima kasih bantuannya. Aku akan segera pergi sebentar lagi," ujar Ren memakan sarapannya, seperti biasa Jiang membuatkannya bubur untuk sarapan.
"Pergi? Kau akan pergi kemana?" tanya Jiang menatap Ren serius.
"Aku adalah klan Li, aku juga di benci oleh kerajaan dan seluruh kerajaan, aku di buru dan di incar," Ren mengambil pedang emas bercorak burung kenari itu dan menatapnya tersenyum lembut.
Jiang hanya terdiam, memiliki nasib seperti pasti sangat tidak enak. Ia tidak begitu mengerti karena ia di besarkan dengan penuh kasih sayang, memiliki keluarga yang harmonis serta kekayaan yang melimpah. Jadi ia hidup tanpa beban dan hanya memikirkan kebebasan dan gadis cantik saja.
Jiang mengusap tangan Ren lembut tersenyum pahit.
"Kau ingin pergi kemana? Setidaknya aku bisa melihatmu kapan saja," ujar Jiang dengan wajah merona.
Ren melihat tangannya yang di pegang, untuk pertama kalinya Jiang menyentuhnya setulus ini. Ren sedikit merona dan juga tersenyum.
"Ke tempat yang jauh, aku akan kembali dalam setengah tahun dan merebut kembali batu giok itu dari kerajaan Qing," jawab Ren tersenyum.
Jiang tersentak, ternyata Ren mempunyai misi seperti itu untuk membalaskan dendam klannya.
Tidak heran Ren memiliki misi seperti itu, klannya di bantai habis oleh seluruh kerajaan di penjuru dan mengambil paksa batu giok iti dari klan Li karena di anggap melakukan kudeta menjatuhkan tujuh kerajaan.
Dan batu itu berada di tangan kerajaan Qing yang di pimpin oleh Xiaou Zen sekarang yang merupakan sahabat baiknya juga.
Diantara cinta dan persahabatan ia masih bimbang untuk menentukan hatinya, di satu sisi Ren datang untuk menbalaskan dendam dan merebut batu itu.
Di sisi lainnya ia telah bersahabat sejak kecil dengan Zen, bukan seperti sahabat melainkan mirip saudara ia juga tahu bukan Zen yang membantai tapi kaisar terdahulu.
Tapi bagaimanapun ia masih begitu bimbang menimbang kedua hal ini.
"Aku tahu kau mendungkung kaisar Xiaou Zen dia adalah sahabatmu, tapi maaf kali ini aku tidak berpihak denganmu. Aku akan berlatih dan mendapatkan giok itu serta mengambil alih kerajaan," ujar Ren.
"Kau_"
Jiang menahan emosinya, ia masih tidak ingin kalau Ren melanjutkan misi seperti itu.
Sungguh Ren akan seperti itu?
"Kenapa, aku memang mempunyai takdir seperti itu!" ujar Ren melepas tangan Jiang darinya. Karena Jiang menggenggam erat tangannya.
"Jika kau benar melakukan itu, kau tahu kan apa yang akan Xiaou Zen lakukan? Dia itu lebih kejam dari raja manapun," jelas Jiang.
"Aku tidak peduli, keluarganya membantai seluruh klan ku dari penjuru aku akan membalas dendam ini!" ujar Ren mengepalkan tangannya.
"Kau, sungguhan ya. Terserah kau saja dalam saat seperti ini aku tidak bisa memihak siapapun aku berharap kau menang kali ini dan membangkitkan kembali klanmu. Pergilah aku akan selalu menunggumu di sini, di negeri ini," ujar Jiang menggulum senyuman pahit ia tak sanggup melihat Ren mengemban misi seperti ini.
Tapi tidak ada juga yang bisa ia bantu untuk Ren, dan berharap agar Ren bisa kembali dengan selamat.
"Terima kasih," ujar Ren tersenyum cerah.
Jiang juga membalas senyuman tulus, suatu hari pasti ada yang dapat ia bantu untuk Ren.
Ren akhirnya memutuskan untuk keluar malam ini, kota sangat ramai pada malam hari sangat indah dan berkelap-kelip.
"Indahnya kota saat malam seperti kota bintang," ujar Ren tak henti-henti mengagumi kota.
Jiang berjalan di sampingnya terus menatapinya, malam ini adalah perpisahan mereka. Jiang berharap suatu saat ia bertemu lagi dengan Ren dan memberinya kalung itu saat ia menyatakan perasaannya.
Ren keluar dengan penutup wajah dan tudung sementara Jiang berusaha mengawalnya dengan baik sampai pintu gerbang.
Setelah sampai di batas kota, pengawal membukakan pintu dan tibalah saat perpisahan dan dalam setengah tahun Jiang pasti akan sangat merindukannya.
"Tuan muda Jiang, di kota ini telah banyak yang terjadi, aku bahagia dapat merayakan ulang tahunku di sini dengan melihat semua cahaya terbang ke langit di menara kerajaan itu aku melihatnya, itu adalah awal tujuanku datang ke kota," tunjuk Ren tampak bangunan megah kerajaan meskipun jauh dari kota tapi letaknya yang tinggi memperlihatkan kemegahan istana itu.
Jiang sedikit terkejut ketika mengetahui tujuan awal Ren hanya melihat lampion itu, ulang tahunya bertepatan dengan tanggal ulang tahun Xiaou Zen.
"Ren berjanjilah untuk kembali, kelak kau akan melihat yang lebih indah dari lampion-lampion itu," ujar Jiang mengenggam erat tangan Ren terlihat seperti sepasang kekasih yang hendak melepas pergi kekasihnya dengan tidak rela.
Ren tersenyum bukan hanya lampion saja, Ren juga bertemu dengan beberapa pria tampan yang awalnya hanya sebuah khayalannya saja.
Ia sering mendengar dongeng ibunya bahwa suatu hari ada seorang pangeran tampan berkuda putih membawa sang putri dari kurungan menara.
Dan saat itu Ren selalu menganggap dirinya sebagai putri yang terkurung di menara hutan dan suatu hari akan ada yang membawanya pergi melihat indahnya dunia luar.
Dari yang kejam, manis, lucu, licik, pemarah dan pendiam. Ia telah di incar dan bertemu dengan beberapa pria yang juga mengincarnya.
Belum lepas dari Zen, Xiu Ye, Chagoi, Mingxue mereka masih mengejar Ren.
"Tuan muda Jiang aku harap pertemuan kita bisa kau lupakan dan jangan pernah menceritakannya kepada kaisar atau jenderal Ye,"
Next