
Gulfan terlihat begitu marah pada Ren, karena menurut Gulfan tindakan Ren sangat ceroboh.
Ren sangat mudah terkelabuhi dan percaya saja dengan wanita Chao Lu itu.
Meskipun begitu Gulfan adalah partner sang dewa, ia merasa tidak beres dengan wanita Lu itu.
Tapi untuk sampai saat ini ia terus bermimpi yang sama, bermimpi masa depan Ren yang akan menghancurkan seluruh dunia.
Sebenarnya siapa Ren ini? Dan tujuan misi ini untuk apa? Misi ini ia masih belum mengingat sepenuhnya dan hubungannya dengan batu giok hijau itu.
"Gulfan lihat ini, jreeeng," ujar Ren dengan tersenyum melihat baju yang imut yang telah ia jahit.
Baju pelayan berwarna hijau muda yang telah ia jahit dan ia kenakan. Gulfan sedikit penasaran apa lagi yang di pikirkan perawan yang satu ini.
"Ini baju pelayan yang mirip wanita itu pakai," ujar Gulfan melihat Ren dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ini untuk Gulfan," Ren juga menunjukan baju imut untuk Gulfan.
"Hei, aku berpikir aku bukanlah wanita dan pita ini apa-apaan ini?"
Gulfan melihat penampilannya memakai baju couple dengan Ren dan sebuah pita yang di jepitkan ke bulu kepalanya.
"Wahhh kau sangat imut," ujar Ren langsung memeluk Gulfan dan menggosokan pipinya.
"Ren aku bisa mati kau memeluk ku erat sekali!"
Ren akhirnya melepaskan Gulfan, Gulfan terengah-engah sangat terlihat kelelahan dan tertekan.
"Kau monster Ren!" ejek Gulfan sedikit menjauh dari Ren. "Jadi apa yang kau rencanakan?"
"Sebenarnya kemarin Lu mengatakan akan membantuku masuk istana, dia menanyakan apakah aku bisa menjahit dan membuat baju. Lalu dia menyarankan untuk membuat baju pelayan kerajaan Qing agar aku bisa membaur dengan orang-orang bangsawan lainnya," jelas Ren.
"Sudah berapa kali ku bilang, ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu kau masih mau menurutinya?' ujar Gulfan kesal melihat Ren yang benar-benar keras kepala.
"Aku mengerti! Tapi tahun ini sangat berarti aku akan berusia 18 tahun dan impianku selama 18 tahun ini hanya ingin melihat cahaya terbang itu lebih dekat maksudku lampion itu,"
Gulfan merasa jadi bersalah dan tidak tega, impian gadis ini sungguh sederhana tapi takdir yang membuatnya harus jauh dari kota kelahirannya.
"Baiklah aku kalah! Aku akan menjagamu, jika wanita itu menyakitimu maka jangan salahkan aku untuk menghancurkannya,"
"Wah burung kecil seperti Gulfan punya kekuatan seperti itu?" ujar Ren dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja, aku ini kan partner dewa," ujar Gulfan membanggakan diri.
"Kau tahu nanti Lu akan membawa kita kepintu rahasi, agar tidak di curigai orang-orang kerajaan, dan saat itu di menara paling atas aku akan melihat lampion itu. Pasti sangat indah,"
Tunjuk Ren mengarah ke menara istana yang tinggi itu.
"Setelah itu aku berjanji untuk kembali dan tidak merepotkanmu lagi," ujar Ren tersenyum.
Gulfan tertegun untuk sementara waktu lalu tersenyum dan mengangguk. Ia benar-benar tidak tega meninggalkan gadis ini dan berharap semoga saja ia mengingat akan takdir dari gadis ini.
Ren mulai berjalan lebih dulu, sekilas terlihat cahaya hijau muda di punggungnya. Gulfan tetkejut dan mengusap-usap matanya apakah ia salah lihat?
Tapi cahaya itu sudah tidak ada lagi, dan Gulfan semakin yakin bahwa Ren benar saja memiliki takdir dewi itu.
Sementara itu di istana Lu juga berpakaian pelayan, dan berharap Ren tidak datang kesini karena ia tidak ingin menyakiti Ren.
Sepuluh, ratusan bahkan sudah tak terhitung ia sudah banyak mengambil nyawa orang-orang.
Dan terkadang nyawa orang yang di ambilnya adalah korban dari keburukan orang-orang sekitar mereka. Seperti Ren bahkan impiannya terlihay tulus dia sepertinya tidak mengincar batu giok itu atau menguasai dunia dan tujuh negara.
Dia hanya gadis polos dengan impian yang sederhana, tapi sejak anggota Li di cap menjadi pemberontak bahkan semuanya di bantai demi keamanan kerajaan.
"Ren apa kau benar-benar akan datang?"
Lu melihat bintang-bintang yang berkelip begitu indah, seluruh kota dan utusan kerajaan datang merayakan ulang tahun dan sekaligus penobatan resmi Kaisar Xiaou Zen.
Ribuan lampion dari seluruh kota telah di siapkan, jamuan, dan dekorasi sudah siap. Malam itu megah sekali.
"Hei pelayan mengapa kau ada di luar pintu gerbang?" tanya prajurit penjaga pintu.
Ren terkejut dan panik tapi cukup mengontrol emosinya.
Sepertinya penyamarannya berhasil. Ia memakai baju pelayan yang di jahitnya sendiri, rambut panjangnya di sanggul bak pelayan dan ia memakai kaca mata seperti gadis cupu.
Sebelum itu Gulfan menggunakan sedikit sihir untuk menata penampilan Ren agar tidak terlalu mencurigakan.
Menutupi wajah cantiknya dengan kaca mata. Itu ide yang bagus ia seperti gadis cupu sekarang.
"Hei sepertinya aku belum pernah melihatmu?" tanya prajurit satu lagi.
Mereka berdua sepanjang hari menjaga pintu gerbang kota dan istana.
"I... Iya aku baru pulang dari kampung halamanku sekitar sebulan yang lalu jadi mungkin kalian tidak mengenalku," ujar Ren berusaha berbohong.
"Ah benarkah? Siapa peduli lagipula kami tidak terlalu ingat wajah semua para pelayan kerajaan. Masuklaj siapkan jamuan karena sebentar lagi acaranya akan di mulai," ujar prajurit itu mempersilahkan Ren untuk masuk.
Sementara Gulfan memantau Ren dari atas memastika keselamatan Ren. Hingga masuk ke istana Gulfan harus ekstra memperhatikan gadis ini.
"Dia berhasil masuk, uh merepotkan sekali. Aku akan istirahat dulu mengumpulkan tenaga," ujar Gulfan memilih tidak masuk istana dan istirahat di atas pohon.
Karena merasa lelah terbang jauh dan menggunakan sihirnya.
"Wahhh, indah sekali kota di malam hari semuanya berkilau. Berkilau," ujar Ren jadi heboh sendiri dan berlarian kesana kemari melihat jajanan dan tamu-tamu yang indah berjalan menuju istana.
"Wah, mereka sangat elegan sekali apa itu tamu dari kerajaan lain?"
Tatapan Ren langsung teralih ke seorang pria berwajah tampan yang memiliki surai rambut pink yang di kuncirnya serta memakai mahkota lambang kerajaan lain.
Merasa di tatap pria itu kembali menatap Ren dengan wajah datar.
Ren segera mengalihkan perhatiannya. "Sial aku menatapnya membuatnya risih, tapi dia tampan sekali," ujar Ren dalam hati memegang dadanya yang berdegup kencang serta wajah yang memerah.
Ia kembali berjalan dan menjauhi pria dari kerajaan lain itu dengan cepat.
"Ada apa Kaisar Minxue?" tanya pengawalnya, merasa Mingxue sedang memperhatikan sesuatu.
"Tidak! Ayo jalan aku sudah tidak tahan bertemu dengan Kaisar Xioau Zen yang akan di lantik pada ulang tahunnya," ujar kaisar itu bernama Mingxue.
"Baik,"
Next